
Shita tidak bisa menahan emosinya, dia berjalan ke arah Annisa yang masih duduk di bawah. Shita menarik tubuh Annisa hingga Annisa berdiri di depan Shita.
"Plak….!!!" Shita melayangkan tamparan di pipi Annisa. Annisa hanya diam, Annisa tau Shita sangat marah dan tidak terkontrol emosinya.
"Shita!" Seru Vino.
"Ini semua gara-gara kamu! Belum puas kamu membuat Arsyil meninggal, sekarang Kak Arsyad, kenapa kamu selalu membuat saudaraku menderita, hah!" Shita mengguncangkan tubuh Annisa dan murka pada Annisa. Annisa hanya bisa menangis.
"Apa salahnya suami melindungi istrinya Mba Shita, terlebih Bu Annisa sedang…." ucapan Kevin terpotong karena Annisa mengisyaratkan agar tidak cerita soal kehamilannya.
"Jangan ikut campur!" tukas Shita.
"Kak, ini semua musibah, ini kecelakaan, aku tidak tau ini semua akan terjadi,"ucap Annisa dengan sesegukan.
"Musibah? Kecelakaan? Ini semua di sengaja, dan seharusnya kamu yang di dalam sana, bukan kakak ku!" kelekar Shita dengan begitu murka dengan Annisa.
"Shita, sudah! Tidak ada gunanya kamu seperti itu, semua sudah terjadi," ucap Rico.
"Papah bilang tidak ada gunanya? Jelas ini semua salah Annisa, pah! Andra kekasih nya meninggal, orang tuanya, Arsyil, dan sekarang kakak! Kamu kejam Annisa." Shita mendaratkan satu tamparan lagi pada Annisa.
"Tante!" teriak Dio dan Shifa, juga Najwa dan Raffi yang baru saja datang ke ruang sakit.
"Dio, Shifa, Najwa, Raffi," ucap Annisa sambil memeluk mereka.
"Bunda, kenapa Abah?"tanya Najwa.
"Abah tidak apa-apa sayang, Abah pasti sembuh." Annisa memeluk Najwa dan Raffi.
Shita menarik Najwa dan Raffi untuk menjauhi Annisa. Najwa dan Raffi bingung, dan bertanya-tanya, kenapa tantenya kasar memperlakukan Annisa seperti itu.
"Jangan dekati dia, kalau kalian tidak ingin seperti Abah kalian!" tukas Shita.
"Kalian tau, Abah kalian seperti ini karena dia, dan harusnya bunda kalian yang berada di sana, bukan abahnya Najwa dan Raffi,"tukas Shita.
"Kak, Shita. Tolong jangan seperti ini, semua sedih, semua terluka melihat Kak Arsyad seperti ini. Ini murni kecelakaan, kak," ucap Annisa.
"Bunda, apa benar yang di katakan Tante Shita?"tanya Najwa.
"Tidak sayang, ini semua murni kecelakaan," ucap Annisa.
"Abah kamu menolong Bunda, saat bunda akan di tabrak seseorang, dan Abah yang tertabrak,"jelas Annisa pada Najwa dan Raffi.
"Bunda jahat!" teriak Najwa sambil berlari memeluk Rico.
"Shita, kamu tidak seharusnya seperti itu, jangan memperkeruh keadaan," ucap Rayhan.
"Iya sayang, ini semua musibah,"imbuh Vino.
"Tidak, ini semua salah dia, pergi! Pergi…kalian!" Shita mengusir Annisa.
"Aku tidak akan pergi, Kak Arsyad suami ku!"tukas Annisa.
"Pergi, Annisa! pergi dari sini!" Shita mendorong tubh Annisa, beruntung ada Rayhan yang di belakangnya dan menangkap tubuh Annisa
"Nisa, kamu pulang dulu, ganti pakaianmu, tenangkan dirimu, nanti kamu ke sini lagi,"tutur Rayhan.
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku akan menunggu Kak Arsyad sadar,"ucap Annisa yang masih di peluk Dio dan Shifa.
Dio memeluk bundanya, dia menenangkan bundanya, hatinya sangat kecewa dengan semua orang yang menyalahkan bundanya. Tapi, Dio hanya bisa diam, mencerna setiap perkataan orang-orang di sekitarnya. Dio mengusap air mata bundanya dan kakak perempuannya, yang sama-sama menangis. Annisa tak peduli dengan baju yang ia pakai, baju yang masih ada bercak darah Arsyad tadi.
Hari semakin petang, Dokter yang menangani Arsyad belum juga keluar dari ICU. Annisa masih duduk di lantai dengan memeluk ke dua anaknya. Najwa dari tadi tak mendekati Annisa. Dia terpengaruh oleh kata-kata Shita. Rico juga masih saja mendiami Annisa. Bukan karena terpengaruh oleh Shita, dia belum bisa berpikir jernih, dan masih cemas dengan keadaan Arsyad yang masih belum juga selesai di tangani oleh dokter.
"Keluarga saudara Arsyad Alfarizi," panggil dokter.
Semua berdiri mendekati Dokter tersebut, Annisa dengan gontai mendekati Dokter juga. Dia menyeka air matanya yang terus berjatuhan.
"Bagaimana suami saya, Dok?"tanya Annisa.
"Suami ibu sudah melewati masa kritisnya, tapi beliau belum sadarkan diri, dan mengalami koma," jelas dokter.
Bagai tersambar petir semua yang mendengarnya. Najwa dan Raffi menangis di pelukan opanya. Dia berlari ke arah Annisa dan mendorong tubuh Annisa agar pergi meninggalkan ruang sakit
"Tante Nisa jahat! Pergi dari sini!" teriak Najwa.
"Sayang, maafkan bunda, ini semua kecelakaan, nak," ucap Annisa yang mencoba menenangkan Najwa.
"Pergi!" teriak Najwa sekali lagi.
"Kak Najwa, ini semua bukan salah bunda, ini murni kecelakaan, kak. Jangan seperti itu, bunda juga ingin menemani Abah," tutur Shifa
"Jangan sebut Abah, dia hanya abahku! Kalian pergi!" Najwa semakin teriak histeris, Rico menarik Najwa dan memeluknya.
"Kalian pulanglah, ini semua demi kebaikan, papah mohon, jangan usik kehidupan kami lagi." ucapan Rico membuat Annisa semakin yakin, kalau Annisa tidak lagi di perbolehkan melihat suaminya.
"Iya, Nisa akan pergi, tapi sebelum Nisa pergi, izinkan Annisa melihat suami Annisa, pah," pinta Annisa.
Dengan langkah gontai Annisa memasuki ruangan suaminya bersama dua anaknya. Annisa memandangi suaminya yang terbaring lemah di atas pembaringan. Dengan penunjang kehidupan terpasang di seluruh tubuh suaminya.
"Kak Arsyad. Maafkan Annisa, kakak bodoh, kenapa tidak membiarkan Annisa yang seperti ini. Maafkan Annisa, kak. Annisa tau, semua sedang kecewa dengan Annisa. Annisa tidak tau harus bagaimana, selain menuruti apa kata papah. Kak, sembuhlah, kita pasti akan bersama lagi, dengan anak kita, yang sekarang ada di dalam perut Annisa. Kak, bertahanlah, demi kami,"ucap Annisa lirih di telinga suaminya.
"Bunda….bunda hamil?"tanya Dio.
Annisa hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk kedua anaknya. Mereka adalah penguat Annisa di saat terpuruk seperti ini.
"Bunda mohon, jangan katakan kepada siapapun, kalau bunda hamil, bunda tau, mereka kecewa dengan bunda. Kalian bisa merahasiakan semua ini, kan?" ucap Annisa pada kedua anaknya.
"Tapi bunda," ucap Shifa.
"Nak, bunda mohon, kita pulang ke rumah ayah, ya,"pinta Annisa.
"Bunda, tapi Abah,"ucap Dio.
"Abah akan baik-baik saja dengan mereka, sayang,"ucap Annisa.
Shita masuk ke dalam dan menyuruh Annisa cepat-cepat keluar dari ruangan Arsyad.
"Pergilah, Kak Arsyad akan lebih baik bersama kita, jangan pernah kembali ke rumah kakak,"tukas Shita.
"Tante, tolong jangan seperti ini, Abah juga butuh bunda,"ucap Dio.
"Tidak, Kak Arsyad tidak butuh dia, dia butuh sembuh dan jauh dari wanita berbahaya ini!" tukas Annisa.
__ADS_1
"Tante jahat!" pekik Shifa dengan menahan tangisannya.
"Bunda, kita pulang, jangan jadi pengemis di sini," ucap Dio.
"Pulanglah, tinggalkan rumah Kak Arsyad!" titah Shita.
"Aku yakin, suatu saat Kak Arsyad akan kembali lagi, menemuiku, walaupun sekarang aku terpisah dengan Kak Arsyad, maafkan Annisa, kak. Annisa hanya tidak ingin berseteru dengan semuanya yang sedang emosi dengan keadaan ini," gumam Annisa.
Annisa keluar bersama Dio dan Shifa dari ruangan Arsyad. Dia berjalan menemui papah mertuanya. Papah mertua yang selalu menyayanginya, tapi kali ini Rico benar-benar marah dengan Annisa. Entah marah karena emosi sesaat, atau selamanya. Annisa tidak tau harus bagaimana, selain dia pulang dan meninggalkan Arsyad bersama keluarganya.
"Pah, Annisa mohon, Annisa masih ingin di sini, Annisa ingin menemani suami Annisa." Annisa memohon pada Rico yang dari tadi acuh dengan Annisa.
"Pergilah, Arsyad akan baik-baik saja tanpa kamu," titah Rico.
"Pah, Annisa istri Kak Arsyad. Annisa berhak di sini," ucap Annisa.
"Tidak, pergilah, jangan pernah kembali,"
"Papah, Annisa mohon,"
"Om Rico, jangan seperti itu, Arsyad juga membutuhkan Annisa, om," ujar Rayhan.
"Iya, pah, Arsyad membutuhkan Annisa," imbuh Vino.
"Tidak, Arsyad akan baik-baik saja di sini,"tukas Rico.
"Opa, opa tega memisahkan bunda dengan Abah, sedang opa sendiri yang menyuruh kami memaksa bunda menikah dengan Abah,"ucap Dio yang akhirnya berani berkata pada Rico.
"Itu kesalahan opa menikahkan bunda mu dengan abahnya Najwa, seharusnya tidak,"ucap Rico tanpa merasakan sakit hati Annisa.
"Papah, setelah kami bisa mencintai, papah tega memisahkan kami?"ucap Annisa.
"Ini semua untuk Arsyad. Aku tidak mau anak laki-lakiku tiada lagi karena kamu," tukas Rico.
Annisa hanya diam, dia hanya bisa menangis di hadapan mertuanya yang sedang di landa emosi.
"Opa, apa opa tidak memikirkan perasaan bunda?"
"Dio, sudah, ayo kita pulang, sayang," ajak Annisa.
Dengan berat hati Annisa melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah sakit. Annisa lagi-lagi menyeka air matanya yang berjatuhan. Dio memegang erat tangan bundanya. Dia tau apa yang di rasakan bundanya saat ini, semua keluarga Arsyad mengusirnya, dan tidak ada yang membela Annisa.
"Kevin, antar kan kami ke rumah untuk mengemasi semau bajuku, dan setelah itu antar kami ke rumah kami," ucap Annisa.
"Bu jangan terbawa emosi juga, saya tau, Pak Rico orang baik, beliau sedang terbawa emosi, ibu sebaiknya bilang dengan Pak Rico, kalau ibu sedang hamil." Kevin menyarankan seperti itu pada Annisa
"Percuma menjelaskan semua saat keadaan mereka seperti itu, Kevin," ucap Annisa.
"Bunda, Dio akan ikut bunda, ke mana pun bunda pergi,"ucap Dio.
"Shifa juga, bunda mungkin semua sedang emosi, nanti juga opa dan tante Shita tidak akan marah lagi, bunda pasti kembali dengan Abah. Bunda yang kuat, apalagi ada Adek di perut bunda. Shifa dan Dio akan menemani bunda." Shifa menangkan hati bundanya.
Hanya Dio dan Shifa yang membuat Annisa sedikit tegar untuk menghadapi semua ini. Mereka yang bisa memberi kekuatan pada Annisa di saat dia harus berpisah dengan suaminya. Annisa tidak ingin membuat keributan di tengah-tengah keluarga suaminya yang sedang di landa emosi.
"Kak, maafkan aku,"gumam Annisa dalam hati.
__ADS_1