
Arsyad bahagia sekali, akhirnya mimpinya terwujud untuk memiliki anak perempuan yang sangat lucu dan cantik. Arsyad memandangi istrinya yang sedang memberikan Asi pada Najwa. Arsyad mendekati istrinya, dia duduk di samping istrinya dan membelai pipi Najwa.
"Cantik, seperti umminya."ucap Arsyad yang masih saja memandangi Najwa.
"Abahnya juga tampan, ya anaknya harus cantik dong, iya kan sayang."ucap Almira sambil membelai kepala Najwa.
"Terima kasih sayang, sudah menyempurnakan kebahagiaan ku."Arsyad mencium kening istrinya.
"Sama-sama, mas." Najwa melirik ke arah Abah dan Umminya, dia menghentikan meminum Asi Almira. Arsyad melihat putrinya yang lucu, dia langsung menggendongnya dan membawa Najwa ke luar dari kamarnya.
"Ayo, ikut Abah, biar ummi beres-beres tempat tidurmu." Arsyad menggendong Najwa keluar, Almira melihat suaminya yang sayang sekali dengan putrinya, dia mengembangkan senyumnya sambil menata ranjang Najwa dan melitap selimut Najwa.
Andini dari tadi sibuk di dapur, dia memasak sayur untuk menantunya. Setiap hari dia mengunjungi rumah Almira, kadang bergantian dengan Ummi Rahma, tapi karena Ummi Rahma harus menemani Abah Fajri ke luar kota, jadi hari ini tidak bisa menemani Almira di rumahnya.
Arsyad menuju teras rumahnya sambil menggendong Najwa, Andini melihat putranya dari kejauhan, dia bahagia sekali, anak sulungnya sudah mempunyai keturunan, dan sebentar lagi anak bungsunya juga akan memiliki bayi. Sebenarnya dia selalu memikirkan Shita, anak perempuan semata wayangnya yang sampai saat ini belum hamil juga. Usia pernikahannya yang hampir satu tahun, tapi belum di beri keturunan. Shita juga tidak pernah memikirkan terlalu dalam soal dia belum memiliki keturunan, dia percaya suatu saat nanti pasti Allah akan memberikan keturunan padanya.
Andini menata makan siang untuk Almira dan Arsyad di meja makan. Seminggu setelah Najwa lahir, Rico selalu sibuk di kantor menggantikan Arsyad yang belum juga ke kantor karena masih ingin menemani istri dan anaknya di rumah. Dia hanya bekerja di rumah, setiap pulang kantor Rico atau Arsyil menyerahkan file pada Arsyad.
Andini keluar menghampiri Arsyad yang masih mengajak bicara Najwa. Arsyad lagi-lagi mencium pipi Najwa yang begitu menggemaskan.
"Najwa, ikut Oma ya, Abah dan Ummi biar makan siang dulu."Andini meminta Najwa dari gendongan Arsyad.
"Kita makan bersama, ibu. Biar Najwa nanti di taruh di kereta dorongnya. Masa iya, aku dan Mira makan, sementara ibu menggendong Najwa. Ibu sudah lelah memasak. Bu, lain kali biar Mba Tini saja yang memasak, jangan ibu. Arsyad tidakau ibu lelah."tutur Arsyad.
"Ibu tidak lelah, Syad. Ya sudah ibu ambil kereta dorong Najwa." Andini mengambil kereta dorong Najwa di ruang tengah. Almira terlihat keluar dari kamarnya dan menyapa mertua yang sangat dia sayangi.
"Ibu sudah makan siang?"tanya Mira.
"Belum, kita makan bersama, ibu mau bawa kereta dorong Najwa, biar Najwa ditidurkan di sini saja."ucap Andini.
"Ibu, terima kasih, ibu pasti lelah, nanti jangan masak lagi ya Bu, biar Mba Tini yang memasak. Itu sudah tugasnya. Ibu di sini saja menemani Mira. Mira tidak mau ibu capek."ucap Mira sambil berjalan di samping ibu mertuanya menuju ke teras rumahnya.
"Ibu tidak lelah, tidak apa-apa memasak untuk menantu dan anak ibu."ucap Andini
"Tuh, pasti jawabannya sama, tidak ibu, tidak ummi, sama saja seperti itu, kalau Mira melarang untuk memasak."tukas Mira.
Andini hanya tersenyum melihat menantunya seperti itu, bagi Andini tidak masalah melakukan itu semua, toh untuk anaknya. Dan, Almira juga kan butuh asupan makanan yang benar-benar sehat agar ASI nya lancar. Andini sangat sayang dengan menantu-menantunya, tidak Almira, Annisa dan Vino, Andini menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
******
Hari sudah semakin sore, Rico dan Arsyil pulang dari kantornya dan mampir ke rumah Arsyad. Seperti biasa, Rico menjemput Andini dan Arsyil memberikan berkas-berkas kantor untuk Arsyad. Dia juga sangat merindukan keponakannya, padahal setiap sore dia selalu mampir ke rumah Arsyad, tapi dia selalu merindukan Najwa yang lucu. Mobil Rico melaju terlebih dahul ke rumah Arsyad, dan disusul mobil Arsyil di belakangnya, sebenarnya mobil yang di pakai Arsyil itu milik Andini, dari pada tidak terpakai, jadi di pakai Arsyil sementara sebelum dia membeli mobil barunya. Tapi, Andini selalu melarang Arsyil untuk membeli mobil agar mobil Andini tidak nganggur di rumah.
Rico sampai sudah sampai di rumah Arsyad, dan disusul Arsyil di belakangnya, mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah Arsyad. Mereka langsung masuk ke dalam, di dalam hanya ada asisten rumah tangga Almira yang sedang membersihkan ruang tamu. Rico bertanya pada asisten tersebut, di mana Arsyad, Almira dan Andini. Dia bilang mereka sedang di kamar Almira. Rico dan Arsyil langsung menuju kamar Almira. Rico mengetuk pintu yang setengah terbuka, dan Almira mempersilahkan Papah mertuanya masuk dan adik iparnya. Arsyad masih memakaikan popok Najwa, dia begitu telaten sekali, bahkan dia juga sudah bisa memandikan Najwa.
Arsyil mendekati kakaknya yang sedang sibuk memakaikan popok Najwa, dia kagum dengan kakaknya bisa melakukan itu semua.
"Kak, Arsyil ajari dong, mandiin bayi, kan sebentar lagi Annisa akan melahirkan, apalagi bayi Annisa kembar."ucap Arsyil yang membuat mereka kaget oleh ucapannya.
"Kembar?"ucap mereka bersama.
"Iya, kemarin malam baru saja Arsyil dan Annisa pergi ke Dokter Iren untuk melakukan USG. Dan, hasilnya benar-benar janin kembar. Tapi, aku tidak tanya jenis kelaminnya apa, biarlah itu kejutan, yang penting kan kami sudah tau bahwa janin Annisa kembar dan sehat semua serta normal."tutur Arsyil.
"Wah…wah…kita mau punya cucu kembar, Bu. Selamat Syil, jago kamu buatnya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."ucap Rico.
"Papah bisa saja. Itu rezeki Arsyil dan Nisa pah, dan itu amanah yang sangat berharga buat Arsyil dan Nisa."ucap Arsyil.
"Pantas perut Annisa gede sekali, sama seperti aku yang mau melahirkan kemarin, padahal kan usianya baru mau masuk bulan ke-7."ucap Mira sambil mengambil bedak baby untuk mengoleskan di wajah putrinya.
"Iya, kak. Malah aku mengira kakak yang akan dapat Baby Twins, kan kakak makannya kuat, apa-apa masuk semua, sedang Annisa, sampai sekarang saja dia jarang makan nasi dan bahkan tidak pernah. Hanya makan buah, roti dan susu saja."tutur Arsyil.
"Namanya orang hamil itu beda-beda, Syil. Dulu waktu ibu hamil Kak Arsyad, ibu tidak ngidam apa-apa, Alhamdulillah tidak merepotkan papahmu, dia mengerti, papahnya itu tidak mencintai ibunya, jadi tenang dalam perut ibu, tidak menginginkan macam-macam. Lalu hamil Shita, ibu malah sudah mulai manja sama papahmu, dan waktu hamil kamu, bangun dari tempat tidur saja sudah langsung mabok dan muntah-muntah."tutur Andini, Rico yang mendengar kalimat pertama Andini, dia hanya terdiam, dia mengingat bagaimana dia memperlakukan Andini saat Andini hamil Arsyad. Dia merasakan kembali betapa menderitanya Andini saat itu. Tanpa Andini sadari, perkataannya tadi membuat hati Rico tersayat-sayat. Sakit rasanya jika mengingat itu semua, mengingat bagaimana pedihnya Andini saat itu, yang di anggapnya hanya rahim pengganti Adinda.
Rico hanya terdiam menatap Andini yang sibuk mengajak bicara dengan Najwa. Tak terasa air mata Rico muncul di sudut matanya, dia langsung menyekanya sebelum air mata itu jatuh. Rico mencium Najwa, dia duduk di depan Andini dan memandang Andini dalam-dalam.
"Cucu opa cantik sekali ini, nanti kamu akan mempunyai adek lho, adeknya kembar, semoga saja cewek dan cowok ya." Rico mengajak Najwa berbicara dan mencium pipi Najwa.
"Ibu, sudah sore, kita pulang yuk. Ibu pasti lelah."ajak Rico dengan nada yang lembut.
"Oke, Oma dan Opa pulang dulu ya, besok Oma tidak ke sini, Oma kangen sama Tante Nisa, ingin di rumah Tante Nisa dulu, boleh kan Opa?"ucap Andini.
"Boleh, asal Oma tidak kelelahan." Rico membelai pipi istrinya di depan anaknya.
"Cie…pacaran."goda Arsyil. Arsyad hanya tersenyum melihatnya, dia tau apa yang papahnya rasakan, karena saat ibunya berkata seperti itu, dia melihat raut wajah papahnya yang berubah sangat sedih sekali, dan dia melihat papahnya mengusap air mata di sudut matanya.
"Ibu besok mau ke rumah Arsyil?"tanya Arsyil.
"Iya, ibu kangen dengan Nisa. Besok kan Ummi ke sini. Jadi Mira ada Ummi yang menemani."ucap Andini.
"Oke, tapi ibu jangan sampai kelelahan ya, jangan memasak jika ibu lelah, ada bibi, biar bibi yang memasak. Tolong beritahu Nisa juga, agar tidak terforsir oleh pekerjaan kantor papahnya."ucap Arsyil.
"Apa dia masih bekerja?"tanya Almira.
"Iya kak, bandel sekali kalau di suruh diam, katanya jenuh, kadang dia juga mencuri waktu untuk ke kantor saat aku di kantor papah, dia semua yang menyelesaikan pekerjaan di kantor papah Rizal."tutur Arsyil.
"Nanti ibu bilang dengan Annisa, kalau mau bekerja nunggu anaknya lahir dulu."ucapnya Andini.
"Ayo pah pulang, papah pasti capek sekali, dan kamu Syil, cepatlah pulang, istrimu di rumah sendirian sedang hamil tua."imbuh Andini.
"Iya, Bu, sebentar aku ingin cium Najwa lagi."ucap Arsyil.
"Om ganteng pulang dulu ya, kamu sehat-sehat ya sayang, jangan rewel, kasihan ummi dan Abah. Oke..." Arsyil menciumi pipi keponakannya yang lucu. Lalu dia pamit kepada Arsyad dan Almira untuk pulang.
"Ayo Bu pulang."ajak Rico. Andini beranjak dari tempat tidur Almira, dia kembali mencium cucunya dan berpamitan dengan Arsyad juga Almira.
Arsyil melajukan mobilnya terlebih dahulu. Karena dia sudah ingin bertemu Istrinya. Rico berjalan sambil merangkul pinggang Andini, dia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Andini masuk ke dalam mobil. Rico masuk ke dalam mobilnya, dia memandangi istrinya dan langsung mencium lembut pipinya.
"Papah, genit ih…sudah punya cucu juga seperti itu."ucap Andini sambil mencubit mesra pipi Rico.
"Makan malam di luar ya Bu nanti malam."ajak Rico.
__ADS_1
"Oke. Kita pulang dulu, kasih tau Shita kita akan pergi kencan. Dan, papah mandi dulu, biar lebih fresh."tutur Andini.
Rico tersenyum, dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke dalam kamarnya, Andini melepaskan jas Rico dan dasi Rico, lalu menaruhnya di tempat semula. Rico langsung menarik Andini keperluannya. Dia memeluk erat Andini dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.
"Mas, lepaskan, aku tidak bisa bernafas."ucap Andini.
"Coba ulangi lagi, tadi kamu memanggilku dengan sebutan apa?"tanya Rico menggoda istrinya.
"Mas."jawab Andini singkat.
"Pintar sekali istriku, jika di hadapan anak-anaknya kamu memanggil aku papah, jika sendiri kamu memanggil aku dengan sebutan yang dulu, yaitu mas." Rico mengecup bibir Andini dengan lembut.
"Sayang, maafkan aku ya, dulu aku menyia-nyiakan mu, saat kamu hamil Arsyad, dan aku sedikitpun tak pernah menganggapmu. Maafkan aku, sayang. Aku janji, hingga akhir hidup ku, hingga nafas terakhir ku, aku akan selalu mencintaimu." Rico kembali memeluk erat istrinya
"Mas, kamu kenapa bicara seperti itu, maafkan aku, aku tadi bilang seperti itu saat di rumah Almira. Bukan maksudku mengingatkan mu dengan masa dulu, mas. Maafkan aku."ucap Andini sambil menenggelamkan wajahnya di dada Rico.
"Iya tidak apa-apa, memang itu kenyataannya. Sudah jangan menangis, ayo mandi, sebentar lagi Maghrib, aku rindu mandi bersama."ucap Rico.
"Sudah tua, jangan seperti itu."ucap Andini sambil mencubit pelan perut suaminya.
"Biarin saja, tua-tua gini juga masih tampan, iya kan? Ayolah mandi bersamaku, sayang." Rico merengek kepada istrinya.
"Ya sudah, sebentar aku ambil handuk dan baju mandi." Andini bergegas mengambil handuknya dan baku mandinya. Mereka mandi bersama. Rico merasakan seperti muda lagi, dia menggosok punggung Andini, dan sesekali dia memeluknya. Ada kehangatan kembali dalam hubungan mereka. Setelah selesai, Andini langsung membersihkan sisa-sisa air dengan handuknya dan memakai baju mandinya, begitupun Rico.
*****
Shita menata makan malam di meja makan, dia dibantu oleh suaminya. Rico dan Andini sudah siap untuk makan malam di luar, mereka berpamitan dengan Shita yang sudah berada di meja makan untuk makan malam.
"Shita, Vino, Papah sama Ibu akan kencan dulu, kami mau makan malam di luar."ucap Papah Rico.
"Hmm…ya sudahlah, papah, ibu, nikmati kencan kalian, Vino dan Shita juga mau pacaran dulu."ucap Vino.
"Oke. Papah dan ibu berangkat. Buatkan cucu untuk papah, Vino."ucap Rico dengan berjalan keluar.
"Siap pah."ucap Vino setengah teriak.
Vino dan Shita menghabiskan makan malamnya, setelah selesai makan malam, dia duduk bersantai di ruang tamu sambil menikmati teh hijaunya.
"Kak, pengen martabak manis rasa coklat keju."pinta Shita.
"Kamu belum kenyang tadi makan begitu banyak?"tanya Vino. Shita hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Mau sekarang?"tanya Vino lagi.
"Iya, masa tahun depan, kak."jawab Shita dengan wajah memelas.
"Ya sudah, aku ambil dompet dulu di kamar."ucap Vino.
"Ikut."pinta Shita.
"Ayo, ikut tinggal ikut saja kok."ucap Vino.
"Ayo sini gendong." Vino sudah siap membopong tubuh istrinya, tapi Shita tidak mau.
"Bukan seperti ini, aku ingin di gendong di depan."rengek Shita kembali.
"Oke, kemarilah, sayangku yang cantik sekali." Shita naik ke atas kursi dan dia langsung memeluk suaminya dan naik ke pinggang suaminya.
"Seperti ini?"tanya Vino. Shita hanya menganggukkan kepalanya dan memandang wajah Vino. Dia dengan cepat mencium bibir suaminya dalam-dalam. Vino membalas ciuman dari istrinya, mereka berjalan ke kamar dengan tidak melepas ciumannya.
Ciuman mereka semakin memanas, Vino menutup pintu kamarnya dengan menggunakan kakinya secara perlahan. Dia menyandarkan tubuh Shita pada daun Pintu, dan memperdalam ciumannya hingga terdengar kecapan dari mulut mereka. Vino semakin memanas karena ulah istrinya. Dia membawa istrinya ke atas tempat tidur dan merebahkan Shita di atas tempat tidurnya. Vino kembali melanjutkan aksinya, tangannya mulai menyusup ke dalam baju Shita dan menanggalkan baju istrinya satu persatu. Sudah tidak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Vino menghujam istrinya, Shita sangat menikmati permainan kali ini. Terlebih dia yang memulainya lebih dulu. Shita mengimbangi setiap gerakan yang Vino berikan, hingga mulutnya tak henti melenguh dan menyebut nama suaminya saat dirinya melakukan pelepasan. Berkali-kali Shita melepaskan hasratnya, namun Vino belum juga melepaskan nya. Dan, akhirnya dengan Vino melepaskan hasratnya. Mereka melenguh bersama dan saling menyebut namanya.
Vino tidur di samping Shita, dia mengusap dahi Shita yang penuh dengan peluh.
"Sebenarnya, kamu ingin martabak manis rasa cokalt keju atau ingin membuatku gila seperti ini, sayang?"tanya Vino sambil mengusap pipi istrinya.
"Aku ingin martabak manis rasa coklat keju dan ingin seperti ini denganmu, sayang."ucapnya dengan suara yang masih terengah-engah.
"Lalu, jadi tidak beli martabaknya?"tanya Vino. Shita menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin lagi, sayang. Beli martabaknya besok saja."ucapnya.
"Yakin? Tidak capek?" Vino terheran serangan istrinya. Tidak biasanya Shita meminta terlebih dahulu. Malam ini dia benar-benar Agresif, hingga Vino kewalahan sendiri.
"Tidak, aku sangat menikmatinya, sayang."goda Shita dengan berbisik di telinga Vino yang membuat Vino ingin melakukannya lagi. Vino kembali mencumbui istrinya. Mereka melakukannya hingga berkali-kali sampai larut malam.
Vino tidur dengan memeluk istrinya. Mereka sudah sangat kelelahan karena sudah melakukan permainan di ranjang berkali-kali. Vino mengusap perut istrinya yang tanpa menggunakan pakaian. Iya, mereka tidur tanpa menggunakan pakaian, hanya di tutupi dengan selimut tebal saja.
"Perut Shita kok agak keras dan buncit?"batin Vino.
"Sayang, kamu sudah telat datang bilang?"tanya Vino pada Shita.
"Sepertinya kamu lama sekali tidak beli pembalut."imbuh Vino.
"Iya, sudah dua bulan lebih aku tidak datang bulan."ucap Shita dengan santainya.
"Apa kamu merasa sering mual, pusing, atau cepat lelah?"tanya Vino.
"Tidak, kenapa bertanya seperti itu, sayang?"tanya Shita sambil membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan suaminya.
"Aku merasakan perut kamu bagian bawah agak keras dan sedikit membuncit. Kamu tidak coba tes urine, sayang. Kali saja kamu hamil."ucap Vino.
"Aku malas, nanti di PHP in sama testpacknya."ucap Shita
"Jangan seperti itu, besok di tes ya, aku yakin kamu hamil, sayang."ucap Vino meyakinkan istrinya.
"Baiklah, tapi kalau tidak positif, jangan marah ya."ucap Shita dengan memelas.
"Tidak, berarti kalau negatif, belum rezeki kita, sayang. Dan kita harus lebih rajin lagi buat dedeknya, seperti tadi kamu agresif sekali, aku sampai kewalahan."ucap Vino sambil menggoda istrinya. Shita malu dengan apa yang di katakan Vino. Memang malam ini dia merasa libidonya memuncak. Dan rasanya ingin lagi dan lagi melakukannya.
__ADS_1
"Kenapa malah ngumpet seperti ini, coba lihat wajahmu yang bersemu." Vino kembali menggoda istrinya.
"Kak, aku juga tidak tau, aku ingin sekali melakukannya berkali-kali. Dan ingin terus."ucap Shita dengan malu.
"Makanya besok di tes ya, kalau positif berarti benar, karena orang hamil tingkat libidonya sangat tinggi, sayang."tutur Vino.
"Benarkah? Ya sudah besok aku akan tes pagi-pagi setelah bangun tidur."ucap Shita dengan semangat.
"Ya sudah tidurlah, pakai bajumu, nanti masuk angin." Vino memerintahkan Istrinya memakai baju, namun Shita tidak mau. Akhirnya mereka tidur hanya di selimuti dengan selimut tebal saja.
*****
Pagi hari, Shita bangun lebih awal, dia mengambil testpacknya di lemari meja riasnya. Dia segera mengambil cawan yang sudah dia siapkan di atas meja riasnya. Dia bergegas pergi ke kamar mandi. Dia mengambil urinenya ke dalam cawan dan mencelupkan alat yang panjangnya tidak lebih dari jari telunjuknya. Setelah kurang lebih tiga puluh detik, dia mengangkat dari cawan dan melihat hasilnya. Garis merah pekat terlihat pada alat itu, dan hanya satu garis saja. Hasil yang membuat Shita sangat kecewa sekali, dia menangis melihat hasil yang terlihat di testpack itu. Dia menaruh testpack itu ke sembarang tempat.
"Iya kan, kecewa lagi? Tau seperti ini, aku tak akan melakukan tes ini lagi. Maaf kak, aku mengecewakanmu lagi." Shita menghapus air matanya, dia membuang testpacknya ke dalam tong sampah yang ada di kamar mandinya. Dia keluar dan melihat suaminya yang sudah menunggu hasil tesnya.
Vino melihat wajah Shita yang sembab dan matanya memerah seperti habis menangis. Dia mendekati istrinya dan mengusap lembut kepalanya.
"Kamu menangis?"tanya Vino.
"Kak, maafkan aku, hasilnya negatif lagi."ucap Shita sambil terisak.
"Sudah tidak apa-apa. Mana hasilnya aku ingin lihat."pinta Vino.
"Buat apa, sudah aku buang."ucap nya.
"Kok di buang?" Vino masuk ke kamar mandi dan mencari testpack yang di buang oleh Shita di tong sampah.
Dia mengambil testpack yang sudah di buang istrinya dan melihat hasilnya. Mata Vino melebar melihat apa yang ada di testpack itu. Dua garis merah menunjukan kalau Shita benar-benar hamil. Vino sangat bahagia, tebakan dia benar, karena dia melihat perubahan istrinya sangat drastis, dari pola makan, raut wajah, perubahan bentuk tubuhnya dan satu lagi, dia selalu bergairah saat melakukan permainan di atas ranjang.
"Benar tebakanku, kalau Shita hamil. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan Do'aku. Akhirnya aku akan memiliki anak, aku akan menjadi seorang ayah."ucap Vino lirih, dia meneteskan air mata bahagianya. Dia langsung menyeka air matanya dan bergegas keluar membawa testpack yang di buang istrinya.
Vino keluar dari kamar mandi, dia masih melihat istrinya yang menangis karena dia tak kunjung hamil juga. Vino mendekati istrinya dan memeluknya dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Vino.
"Jangan menangis, untuk apa ditangisi? Toh kamu memang hamil."ucap Vino. Shita kaget dengan apa yang diucapkan suaminya. Shita memandang wajah Vino yang tersenyum bahagia.
"Makanya, kalau sedang tes urine, jangan buru-buru, lihat dulu berapa menit. Ini hasilnya dua garis kan?" Vino memberikan testpack pada istrinya yang tadi dibuang di tong sampah.
Mata Shita membulat sempurna melihat hasil testpack itu, dia tidak percaya jika hasilnya positif hamil.
"Kak, ini tidak bohong kan? Kak kok bisa jadi dua garis? Kakak bohong ya, ini pasti digaris kakak pakai pena merah."ucap Shita
"Huss…sembarangan kamu kalau bilang, apa kamu lihat tadi aku ke kamar mandi bawa pulpen merah? Tidak kan?"tanya Vino. Shita menggelengkan kepalanya.
"Ini beneran kamu positif Jamila ,sayang. Selamat, kamu akan menjadi ibu, dan aku akan menjadi ayah." Vino mencium perut istrinya. Shita menangis bahagia. Hampir satu tahun penantian, akhirnya Shita hamil.
"Ya Allah terima kasih, aku diberi kesempatan untuk merasakan menjadi seorang ibu."ucap Shita lirih. Vino memeluk erat istrinya. Dan mencium pipi Shita tanpa henti.
"Ayo, kita beritahu ibu dan papah, kalau kamu hamil."ajak Vino.
Mereka keluar dari kamarnya menuju teras belakang, di mana Andini dan Rico sedang menikmati teh di pagi hari. Rico melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Shita dan Vino.
"Kalian bahagia sekali pagi ini, ada apa?"tanya Rico.
"Pah, Vino kabulkan permintaan papah semalam. Hari ini, Vino akan kabulkan."ucap Vino dengan senyum bahagia. Dia mendekati Rico yang sedang duduk. Dan memperlihatkan testpack hasil dari tes urine Shita.
"Ini testpack? Ini, Shita hamil?"tanya Rico dengan nada bingung dan bahagia.
"Iya pah, Shita hamil."ucap Vino. Rico memeluk menantunya erat. Dia bahagia sekali mendengar putrinya hamil.
"Selamat Shita, Vino, Shita sayang, kamu akan menjadi seorang ibu, dan kamu Vino, kamu akan menjadi seorang ayah."ucap Andini sambil memeluk putrinya.
Mereka sangat bahagia sekali, Shita telah hamil, Andini dan Rico akan mendapat cucu lagi.
Untuk memastikannya, setelah selesai sarapan, Vino mengajak Shita ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, agar mereka tau berapa umur kandungan Shita dan janinnya berkembang atau tidak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
Untuk menebus keterlambatan up nya, Author kasih panjang nih up nya...semoga semakin suka ceritanya..
jangan lupa Like dan komentarnya ye.... eehh Vote nya juga dong...☺️😅😁😘
__ADS_1