
Semua sudah berkumpul di restoran. Leon dan Arsyad sebenarnya dari dulu ingin menjodohkan Arkan dengan Thalia, tapi mereka belajar dari kejadian Dio dulu. Mereka tidak ingin kejadian Dio dan Rania terulang kembali pada anak-anak mereka. Jadi, mereka berharap sesuatu yang baik saja untuk anak-anaknya, jika memang Arkan dan Thalia berjodoh, impian Leon dan Arsyad untuk menjodohkan mereka tidak sia-sia.
“Cie...kalian benar pacaran nih?” ledek Tita.
“Anak kecil tahu apa, sih!” tukas Thalia.
“Awas, jangan ciuman nanti hamil,” ucap Tita sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Semua tertawa mendengar Tita berkata seperti itu. Arsyad semakin gemas dengan gadis belia yang duduk di sampingnya itu. Arsyad mengusap rambut Tita yang berwarna kecoklatan itu dan mencubit pipinya.
“Kata siapa kalau ciuman bisa hamil?” tanya Arsyad.
“Kak Arkan?” jawab Tita dengan lugunya.
Leon di buat tertawa oleh anak bungsunya itu, apalagi Rere dan Annisa. gemas sekali Annisa dengan Tita saat ini. Dia benar-benar lugu sekali.
“Benar, Kak Arkan bicara seperti itu?” tanya Annisa.
“Iya benar. Kata Kak Thalia juga iya, Kak Thalia membenarkan apa yang di katakan Kak Arkan kemarin,” jawab Tita.
“Tit, makanya kamu masih kecil jangan punya pacar. Kak Arkan memang pacaran sama kakak kamu, tapi Kak Arkan tidak menciumnya. Nanti bisa hamil,” ucap Arkan.
“Iya Tita percaya,” jawab Tita dengan wajah yang menggemaskan sembari mengunyah makanannya.
Leon tidak bisa menahan tawanya. Akhirnya dia tertawa melihat putrinya yang menggemaskan itu.
“Papah kenapa tertawa?” tanya Tita.
“Kamu lucu, Sayang. Jadi benar ini Kak Arkan yang bilang?” jawab Leon sambil bertanya pada Tita.
“Benar lah, masa aku bohong,” jawab Tita.
“Iya, Arkan bilang gitu. Kan dia sudah dapat katanya, dari kelas 5 SD. Ya, aku bilang saja, kalau sudah dapat, jangan mau di cium pacarnya nanti hamil. Benar, kan?” jawab Arkan.
“Arkan...Akran...kamu ada-ada saja,” ucap Rere dengan mengusap kepala Arkan.
Annisa tidak menyangka Arkan akan berkata seperti itu pada Tita yang kesannya menakuti Tita. Padahal itu semua harus dijelaskan dengan gamblang, dengan pengertian yang baik dan benar. Tapi, ada benarnya juga sekarang Arkan berkata seperti itu, toh nanti juga Tita akan tahu bagaimana sebenarnya, karena di sekolahan juga akan mendapat pelajaran biologi tentang reproduksi remaja.
^^
Di meja lain, Angel, Vanya, Sisil, dan Lily masih menikmati makan malam. mereka sedang merayakan ulang tahun Angel. Tidak seperti biasanya kalau ulang tahun Angel merayakan dan mengadakan pesta di rumahnya. Semua teman sekelasnya dia undang. Namun, kali ini, dia hanya merayakan dengan sahabat dekatnya saja.
“Lo kenapa gak bikin pesta meriah seperti dulu lagi, Njel?” tanya Lily.
“Gue sayang sama duit gue. Mending gini aja kita berempat ngerayain bareng. Mau kalian makan sepuasnya gue gak masalah. Gue lagi prihatin, gue lagi ngumpulin modal buat buka salon,” jawab Angel.
“Lo masih kepengen buka salon, Njel?” tanya Vanya setengah tidak percaya.
“Ya, gue udah mantap, dan mau kuliah ambil jurusan yang sejalur dengan bakat gue. Gue pengen jadi MUA terkenal, Nya” jawab Angel.
__ADS_1
“Tumben otak lo mikir nyampe ke situ, Njel. Biasanya lo mikirnya Cuma hura-hura saja?” ucap Sisil.
“Gue sadar, setelah gue lihat Arkan. Dia anaknya pengusaha kaya raya, bahkan hartanya mungkin tidak akan habis sampai 7 turunan. Tapi, dia mampu meluangkan waktunya untuk meneruskan usaha yang di tinggalkan mendiang suami bundanya dulu,” jawab Angel.
“Dari mana lo tahu itu bengkel milik mendiang suaminya bundanya Arkan dulu?” tanya Vanya.
“Gue tanya-tanya sama Thalia. Kemarin waktu ujian kenaikan kelas, dia menginap di rumahnya kakaknya Arkan. Gue main ke sana, kan ada taman bacanya, itu juga gak sengaja, gue nganterin sepupu gue ke sana cari buku referensi. Ketemu deh sama Thalia, ngobrol di sana, sama istrinya kakaknya Arkan juga,” jawab Angel.
Setelah kejadian itu, membuat semua geng Angel berubah. Ya, satu persatu mereka sadar akan pentingnya masa depan. Dan, itu semua karena Arkan dan Thalia. Mereka juga malu pada Thalia, yang meskipun dia lama di luar negeri, tapi dia masih menjaga tata krama dan sopan santun, tidak seperti mereka yang sikapnya tidak sewajarnya anak seusia dia.
“Tuh mereka,” tunjuk Angel ke arah meja Arkan dan keluarganya yang juga sedang makan malam di restoran yang sama.
“Kan, apa aku bilang, pasti mereka akan seperti itu, makanya sudah, aku diam dan mundur, toh aku juga yang salah,” ucap Lily.
“Sabar, Ly. Kamu pasti dapat yang terbaik dari Sandi bahkan Arkan,” ucap Sisil dengan mengusap bahu Lily.
“Tapi aku sudah enggak per....”
“Jangan seperti itu, kita semua sama saja. Apa salahnya kita memperbaiki diri. Kalau kita memperbaiki diri kita, pasti Tuhan ngasih kita yang terbaik, kok.” Angel menukas kata-kata Lily.
“Tuh dengar Angel, sudah kamu jangan sedih gini. Mau kamu dengan Arkan pun, mereka sepertinya akan menjodohkan. Enggak mungkin keluarga mereka akan menikahkan anak mereka dengan orang biasa- biasa saja, pasti yang punya titel dan jabatan. Kakanya Arkan yang perempuan juga ada yang bersuami Dokter, itu lho pemilik rumah sakit S itu, itu suami kakanya Arkan,” ucap Vanya.
“Ya jelas lah, masa mau sama orang biasa saja. Sudah kita bahas lainnya, makanan kita jangan di anggurin lama,” ujar Sisil.
^^
“Aku kira aku ke Bali bakalan tidak sebahagia ini, tidak ku bayangkan, aku menikmati indahnya sunset dengan kamu,” ucap Thalia.
“Makanya jangan sok gak mau ikut, nyesel kalau gak ikut. Mau kapan lagi coba, menikmati momen seperti ini,” jawab Arkan.
“Iya juga sih,” ucapnya sambil membenarkan rambutnya yang terkena embusan angin.
“Kamu ke sini berapa kali?” tanya Thalia.
“Baru kali ini, aku jarang ikut liburan. Kemarin saja, Tante Shita mengajak ke sini aku tidak mau,” jawab Arkan.
“Aku malah bosan ke sini. Mamah selalu ke sini kalau mengajak liburan. Pasti tujuannya pantai. Padahal aku ingin liburan ke Jogja. Katanya malamnya di sana lebih asik,” ucap Thalia.
“Tapi sekarang bosan tidak?” tanya Arkan.
“Sedikit, mungkin kalau tidak ada kamu, aku tidak ikut,” jawab Thalia.
Arkan memandang wajah Thalia yang terbias oleh sisa-sisa cahaya senja yang masih meyapa. Thalia memang terlihat begitu manis sekali, meski tanpa make up yang menempel di wajahnya.
^^
Raffi duduk di teras rumah dengan memangku Kiara. Sore ini Dio dan Rania ke rumah Raffi, seperti biasa mereka sering makan malam bersama, apalagi Kiara sangat suka main di tempat Raffi, terlebih jika ada Arkan dan Thalia.
“Tuh lihat perut Budhe sudah besar, kan? Nanti Kiara bisa main sama dedek yang ada di perut budhe,” ucap Raffi dengan mengusap-usap perut Alina yang sudah membuncit. Kiara hanya menganggukkan kepalanya dan menikmati biskuit yang Alina berikan.
__ADS_1
“Gimana enggak gini pipinya kamu, Nak. Ngunyah terus, sehat ya sayang.” Dio mengusap pipi Kiara dan menciumnya.
Rania dan Dio memang menjaga Kiara sebaik mungkin. Dia tidak mau Kiara sampai kenapa-napa. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk Kiara. Habibi juga sering memantau kesehatan Kiara. Tapi, setelah tahu Kiara baik-baik saja, dia jarang ke rumah Dio. Paling kalau dia kangen dengan Kiara saja dia ke rumah Dio.
“Kamu lihat perbedaan Kak Najwa sekarang? Aku semakin curiga, semenjak Fattah berkata seperti itu. Dia juga jarang ikut kumpul kalau kita sedang kumpul di rumah Opa,” ucap Raffi.
“Iya kemarin saja dia bilang dia sibuk, untuk soal ucapan Fattah, kita kan belum tahu itu benar apa tidak,” jawab Alina.
“Mungkin sibuk beneran, Raf. Seperti tidak tahu Najwa saja. Kita dulu di Budapest lama saja waktu liburan, dia malah sibuk kerja,” ucap Dio.
“Iya juga sih, padahal aku ingin mengajak Kak Najwa bicara baik-baik, tapi menghindar terus Kak Najwanya. Ditambah abah sering tanya padaku, aku bingung, aku mau jawab apa, karena semua belum pasti, aku hanya jawab Kak Najwa sibuk saja,” jawab Raffi.
“Aku sama Kak Shifa juga sebenarnya ingin tanya-tanya soal apa yang di katakan Fattah. Sudah lah kita lihat perkembangannya saja. benar atau tidak semua yang di katakan Fattah,” ujar Dio.
“Dan, satu lagi, jangan cerita pada abah soal apa yang dikatakan fattah kemarin. Kamu tahu, kan? Kalau abah sudah memikirkan Najwa seperti apa?” imbuhnya.
“Iyalah tidak, aku tidak bicara sama abah. Paling kalau abah dan bunda tanya soal Kak Najwa, aku jawab mungkin sibuk. Gitu saja lah, aku takut abah drop lagi kalau mikir Kak Najwa,” ucap Raffi.
“Kalau benar apa yang dikatakan Fattah seperti itu, berarti Akmal benar-benar ingin melihat kemurkaan kita,” imbuh Raffi.
“Jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tanya dulu benar atau tidaknya. Kalian harus cari tahu itu,” tutur Rania.
“Benar, jangan gunakan emosi saat menyelesaikan suatu masalah,” imbuh Alina.
Semenjak abahnya selalu bertanya Najwa, Raffi sangat penasaran ada apa sebenarnya dengan Kakaknya saat ini. Semua itu karena dia juga merasakan keanehan pada kakanya.
“Tumben adik-adiknya Kak Alin tidak ke sini?” tanya Rania.
“Siapa?” tanya Alina.
“Tita sama Thalia,” jawab Rania.
“Tita sedang ikut papahnya ke Surabaya, dan Thalia sedang studi tour,” jawab Alina.
“Mereka masih kecil sudah pacaran. Aku khawatir kalau meerka sampai melakukan hal yang semestinya tidak ia lakukan. Aku takut anak abah akan ada yang mengecewakan abah dan bunda lagi. Ya, cukup aku saja yang benar-benar mengecewakan Abah dan bunda saat itu,” ucap Dio.
“Sudah jangan mengingat itu lagi. Semua sudah baik-baik saja. Aku yakin Arkan dan Thalia tidak seperti itu. Apalagi dia sibuk sekali, mana mungkin mikir jalan berdua sama Thalia. Kalau Arkan yang mementingkan jalan dan senang-senang dengan pacar, tidak mungkin Lily memutuskan dia. Lily mutusin Arkan katanya karena Arkan sibuk di bengkel, tidak sama dengan cowok-cowok temannya yang lain,” ujar Raffi.
“Iya juga, tapi namanya hati, Raf. Enggak tahu juga, kan?” sambung Dio.
“Tenang, kita di sini itu tempat penitipan Thalia,” ucap Alin.
“Maksud Kak Alin?” tanya Rania.
“Arkan selalu menitipkan Thalia di sini soalnya, kalau dia sedang di bengkel,” jawab Alina.
“Dasar bocah nakal!” ucap Dio.
Memang Arkan kalau mengantar Thalia ke rumah Alina selalu bilang pada Alina, kalau dia titip Thalia sebentar. Dio yang selalu merasa khawatir dengan adik laki-lakinya setelah mendengar kalau adiknya itu sudah berpacaran. Dia takut, kalau adiknya tidak bisa mengontrol emosinya seperti dia dulu.
__ADS_1