
Rania melajukan mobilnya menuju kantor setelah meredakan emosinya terlebih dahulu. Setelah sampai di kantor, dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Sejenak Rania menenangkan dirinya lagi, dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang berada di atas meja. Rania benar-benar sakit sekali hatinya. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukan pukul 09.30. Rania beranjak dari meja kerjanya. Dia berjalan menuju kamar toilet yang ada di ruangan kerjanya.
Rania mengambil air wudhu. Seperti biasa dia tidak pernah meninggalkan sholat Dhuha nya. Bahkan di ruangan Rania terdapat tempat khusus untuk sholat. Karena sehari-hari Rania ada di kantor, jadi ruangan Rania di desain senyaman mungkin dan fasilitas di ruangan Rania juga lengkap. Termasuk ruangan untuk sholat dan istirahat.
^^^^^
Dengan wajah penuh amarah Dio meninggalkan rumah setelah mendapat kabar dari Najwa kalau Rania baru saja datang ke butiknya. Dio tidak mengerti kenapa Rania ikut campur soal urusan dirinya dengan Najwa. Padahal Dio berkali-kali bilang pada Rania jangan pernah mengurusi masalah pribadinya dengan Najwa.
"Maksud dia apa? Menemui Najwa tadi pagi. Mau kamu melarang ku dengan Najwa aku akan tetap mencintai Najwa, Rania," gumam Dio dengan melajukan mobilnya ke kantor Rania.
Sesampainya di kantor Rania, Dio bergegas masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruangan Rania.
"Selamat pagi, apa Rania ada?" tanya Dio pada Astrid, asisten pribadi Rania.
"Maaf apa bapak sudah ada janji dengan Mba Rani?" tanya Astrid.
"Bilang saja suaminya yang datang," ucap Dio.
"Oh, iya. Sebentar saya panggilkan," ucap Astrid.
Astrid masuk ke dalam ruangan Rania, Rania tidak ada di dalam ruangannya. Astrid tau ini jam 10 pasti Rania sedang sholat Dhuha. Astrid akhirnya keluar dan menyuruh Dio masuk di ruangan Rania.
"Pak, silakan masuk, Mba Rania sedang sholat sepertinya, tunggu di dalam saja," ucap Astrid sambil mempersilakan Dio menunggu di sofa. Astrid keluar lagi melanjutkan pekerjaannya.
Dio duduk dengan mata yang dari tadi mengamati setiap sudut ruangan Rania yang luas. Ruangan yang tertata rapi dan elegant. Dio tidak menyangka di sela-sela pekerjaannya Rania menyempatkan sholat Dhuha. Seperti saat ini, Rania sedang sholat, dan dia menunggunya di sofa.
Rania sudah selesai sholat, dia mengenakan jilbabnya lagi, dan tanpa memoles make-up lagi di wajahnya. Rania keluar dari ruangan pribadinya. Dia sedikit terkejut melihta Dio yang ada di ruangannya.
"Dio, kamu di sini?" tanya Rania dengan mengerutkan keningnya.
"Iya, aku ingin bicara penting dengan kamu," ucap Dio.
"Iya sebentar," ucap Rania sambil mengambil sepatunya menujunke sofa.
"Ada apa Dio?" tanya Rania.
"Ran, kamu tadi ke butik Najwa?" tanya Dio.
"Iya, apa Najwa memberitahu mu?" jawab Rania seraya bertanya pada Dio.
"Iya, untuk apa kamu ke sana? Kamu sengaja mau menjauhkan aku dengan Najwa?" tanya Dio dengan tayapan sengit pada Rania.
"Bukan seperti itu. Aku hanya kasihan dengan Najwa. Dio, kalau kalian benar-benar saling mencintai, kenapa kamu menikahi aku? Kenapa kamu tidak menikahi Najwa saja? Miris sekali rasanya melihat hubungan kamu dengan Najwa, apalagi kamu sudah terlalu jauh. Bilang dengan bunda dan abah, nikahi Najwa. Kalian bisa menikah, Dio," tutur Ranai dengan tegas dengan menahan rasa sakit di dadanya.
"Dio, aku wanita, Najwa juga wanita, kita sama-sama sakit jika kamu seperti itu. Maafkan aku, aku memang mencintaimu, Dio. Tapi jika kamu menyakiti Najwa sahabatku, aku juga sakit. Aku mohon, jangan rusak Najwa, kalau kamu mencintainya, jangan lakukan hal yang membuat Najwa menderita seumur hidupnya. Apalagi kamu sudah menikah," ujar Rania.
"Kamu tidak perlu menasehatiku seperti itu. Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah ikut campur pada hubunganku dengan Najwa. Mau aku dan Najwa seperti apa, itu bukan urusan kamu. Apa kamu mengerti, Rania!" Dio semakin murka dengan Rania. Rania hanya menunduk dan diam.
"Dan ingat satu lagi! Aku tidak akan pernah mencerikanmu, dan tidak akan pernah mencintaimu, Rania! Aku juga tidak sudi untuk menyentuhmu!" ucap Dio dengan kasar sambil menunjukan jari telunjuknya di depan wajah Rania.
Rania menunduk dan merasakan air matanya sudah berada di pelupuk matanya. Namun, dia langsung menyeka air matanya yang hendak menetes pipi.
Memang percuma saja menasehati orang yang sedang tertutup oleh kata cinta. Rania tidak menyangka, dulu Dio yang selalu taat pada Agama, sehingga Rania memperdalam agama agar lebih baik lagi, tapi sekarang Dio menjadi laki-laki yang liar bahkan kasar. Kata-kata kasar selalu terdengar dari mulut Dio.
"Ya sudah, mulai hari ini aku terserah kamu, dan aku harap, kamu bisa memikirkan lagi kata-kataku. Aku hanya minta, jangan sakiti Najwa. Wanita itu lemah Dio, sekali tersakit, seumur hidupnya sakit itu akan terbawa," ucap Rania.
Dio hanya terdiam dan beranjak dari tempat duduknya untuk keluar dari kantor Rania. Tanpa berpamitan pada Rania, Dio keluar dari ruangan Rania.
Rania masih duduk terpaku. Dia tidak tau harus bagaimana mencegah Dio dan Najwa agar tidak lebih dalam hubungannya. Rania menyeka air matanya yang jatuh membasahi pilu saat Dio pergi dari ruangannya. Rania menangis hingga sesegukan. Dia merasakan sakit yang begitu hebat di hatinya, hingga merasa sesak sekali dadanya.
Rania mendengar ponselnya berbunya. Annisa menelepon Rania, entah apa yang akan Annisa bicarakan saat itu. Sebelum Rania mengangkat telepon Annisa, Rania mengatur emosinya dulu agars stabil dan menyeka air matanya. Lalu mangangkat telepon Annisa.
__ADS_1
"Hallo bunda, Assalamualaikum," ucap Rania.
"Wa'alaikumusalam. Suaramu kok serak, Nak?" tanya Annisa dari balik teleponnya.
"Iya bunda, tadi Rania habis tersedak. Ada apa bunda?" tanya Rania.
"Kamu ada acara nanti malam?"
"Tidak bunda,"
"Nanti malam kamu sama Dio ke rumah, ya? Kita makan malam bersama, nanti bunda hubungi Dio,"
"Baik bunda, nanti Rania bilang sama Dio, soalnya Rania di kantor,"
"Kamu pengantin baru sudah ngantor saja,"
"Pekerjaan Rania sudah 5 hari terbengkalai, Bunda. Jadi Rania harus ke kantor,"
"Oke, kamu hati-hati, nanti malam bunda tunggu,"
"Siap bunda,"
Rania mengakhiri telepon dari Annisa. Rania mencoba melupakan kata-kata Dio yang menyakitkan tadi. Dia kembali dengan pekerjaannya.
"Aku tidak boleh kalah dengan semua ini. Aku harus bisa mendapatkan hati Dio lagi. Karena dia suamiku," gumam Rania.
Rania mulai sibuk dengan pekerjaannya lagi. Tak lama kemudai terdengar bunyi notifikasi pesan dari ponsel Rania. Rania melihat siapa yang mengirim pesan. Tertera nama Dio di layar ponsel Rania. Iya Dio yang mengirim pesan pada Rania. Rania membuka dan membaca pesan dari Dio.
"Jangan pulang terlalu sore, bunda mengajak kita makan malam. Dan, ingat jangan sampai bunda curiga tentang hubungan kita." ~Dio.
Rania mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia membalas pesan Dio dengan singkat, padat, dan jelas.
"Iya." ~Rania.
"Jangan cuma jawab Iya saja." ~Dio.
"Kamu maunya aku jawab Tidak?" ~Rania.
Rania membalas dengan setengah kesal pada Dio. Dia meletakan ponselnya lagi di meje. Dia mengambil ponselnya lagi yang baru ia letakan di meja karean Dio membalasnya lagi.
"Jawab yang benar, kek. Sama suami tidak ada sopan santunnya!" ~Dio.
"Apa aku harus sopan dengan suami seperti anda, Tuan Dio Alfarizi yang terhormat? Sikap anda ke istri saja kasar, tapi dengan wanita lain kamu bisa semanis madu." ~Rania.
"Aku bilang jangan bawa dia jika kita masih bicara." ~Dio.
"Sudah, jangan mengganggu aku kerja! Aku akan pulang sebelum jam 3." ~Rania.
Rania geram dengan sikap Dio. Baru 2 hari saja seperti ini, apalagi harus seumur hidup dengan Dio. Rania mematinkan ponselnya agar Dio tidak mengganggunya lagi.
^^^^^
Dio yang kala itu sedang berada di villanya yang tak jauh dari kota. Dio membeli Vila itu karena untuk menghabiskan hari bersama Najwa saat bertemu dengan Najwa. Vila itu di beli Dio saat sehari sebelum menikah. Ya, kemarin malam saat Dio marah-marah dengan Rania, dia baru saja dari Vilanya bersama Najwa.
Dio melempar ponselnya ke tempat tidur. Dia merasa geram karena Rania menonaktifkan ponselnya. Entah kenapa dia bisa semarah itu Rania tidak membalas pesannya dan mematikan ponselnya. Padalah dari tadi Najwa juga tidak membalas pesan dia. Tapi kenapa Dio marah sekali Rania mbalas pesannya dengan balasan yang singkat.
"Dasar wanita aneh, bertukar pesan saja mengajaknya ribut. Apa tidak bisa membalas yang lebih sopan sedikit? Masa cuma Iya saja. Entah itu, Iya Dio, Iya aku tidak pulang terlambat. Jawabnya Iya saja. Sudah ponselnya mati lagi," ucap Dio dengan kesal yang sedang berbaring di kamar vilanya .
^^^^^
Pukul 13.30 Rania sudah berada di rumahnya. Mobil Dio belum ada di halaman rumahnya. Jadi tidak mungkin Dio ada di dalam. Beruntung dia membawa kunci serep. Setelah semalam berdebat dengan Dio, dia membagi kunci nya, jadi Dio memegang satu dan dirinya memegang satu.
__ADS_1
"Paling sedang dengan Najwa. Aku mau cuek. Biarin saja, dosa di tanggung mereka. Yang penting aku sudah menasehati dia. Dan entahlah dengan pernikahan ini. Mau sampai kapan aku akan hidup seperti ini. Menutupi dukaku pada bunda, Abah, opa, ibu, dan ayah. Aku yakin Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Ayah selalu mengajariku seperti itu. Kunci utama adalah sabar," ucap Rania lirih.
Dia memasuki kamar Dio. Rania melihat kamar Dio yang berantakan. Baju-baju kotornya bertebaran di lantai. Rania memungutinya dan membawanya ke belakang lalu memasukan ke dalam mesin cuci. Rania kembali ke kamar Dio dan menata tempat tidur Dio. Setelah selesai, Rania melihat laptop Dio yang masih terbuka dan menyala.
"Laptop masih menyala malah di tinggal pergi," ucap Rania dengan lirih.
Rania mematikan laptopnya. Rania membulatkan matanya saat melihat foto-foto Dio dan Najwa yang berada di dokumen laptop milik Dio. Karena dokumen itu masih terbuka, jadi Rania melihatnya.
"Ya Allah, Najwa, Dio … apa kalian sudah melakukan sejauh itu? Aku tidak menyangka kalian …" Rania tidak jadi mematikan laptop milik Dio. Dia berlari keluar dari kamar Dio dengan berlinang air mata.
Rania bersimpuh di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya kala itu setelah melihat foto-foto Dio dan Najwa. Dia tidak menyangka suaminya yang menurut dia adalah pria paling baik, tapi ternyata suaminya bisa sebuta itu karena cinta. Dan, Rania tidak menyangka, wanita seperti Najwa juga bisa buta karena cinta.
"Ya Allah, aku harus bagaimana? Apa aku harus bilang pada bunda dan Abah tentang semua ini? Aku bisa bertahan jika hanya karena Dio yang tidak mencintaiku. Tapi, kalau untuk masalah ini. Aku benar-benar menyerah. Aku tidak mau mereka semakin terjerumus dalam kemaksiatan. Najwa sahabatku, dan Dio, dia pria yang aku cintai. Jika seperti ini kenyataannya aku lebih memilih tidak menikah dengan Dio, dan hanya mencintai Dio dalam diamku. Itu sudah lebih dari cukup," gumam Rania. Rania menghapus air matanya. Dia menyelesaikan cuciannjya dan menjemurnya di halaman belakang rumahnya.
Sudah hampir jam 4 sore Dio belum juga pulang. Dia mengambil ponselnya. Rania baru sadar kalau ponselnya mati. Dia menghidupkan ponselnya. Banyak sekali pesan dari Dio yang masuk, yang isinya melanjutkan perdebatan tadi siang.
"Sopan sekali ya, kamu. Jangan sok hebat kamu, Ran!" ~Dio.
"Ponselmu rusak, hah? Kenapa mati?" ~Dio.
"Dasar istri tidak punya sopan-santun." ~Dio.
"Awas kalau kamu pulang terlambat, dan awas kalau mengadu dengan orang tuamu atau dengan bunda dan Abah." ~Dio.
Rania mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran suaminya saat ini. Kadang dia bicara baik, kadang ketus, marah-marah, mengancam. Rania semakin di buat bingung dengan suaminya. Dia menghindari perdebatan dengan mematikan ponsel, tapi Dio malah semarah itu dengan dirinya.
"Tidak usah mengancam! Aku sudah pulang dari jam 2. Kamu ke mana? Masih kencan dengan wanita simpananmu? Yang tidak punya sopan santun dan tata Krama itu kamu, tuan Dio yang terhormat." ~Rania.
Rania kesal sekali dengan sikap Dio yang seperti itu. Rania melihat ponselnya yang berbunyi. Dio membalas pesan Rania.
"Aku sedang di jalan. Aku bilang tidak usah bawa-bawa dia!" ~Dio.
"Cepat pulang, atau aku ke sana sendiri, lalu bilang kamu sedang berkencan dengan wanita lain?" ~Rania.
Rania mengancam Dio yang di dalam balasan pesannya. Rania meletakan ponselnya. Dia mengambil bathrobenya dan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Dia lupa mengambil baju gantinya dari kamar Dio. Dia terpaksa masuk ke kamar Dio dengan menggunakan bathrobenya.
Rania melihat Dio sudah berada di kamarnya dan sudah terlihta dengan pakaiannya. Rania masuk begitu saja ke kamar Dio untuk mengambil bajunya.
"Ketok pintu dulu, kek. Main nylonong," ucap Dio.
"Jangan banyak protes, aku tidak mau berdebat!" tukas Rania.
Rania mengambil bajunya dengan menggunakan bathrobenya. Dia menggunakan Bathrobe panjang yang menutupi hingga mata kakinya. Dio melihat Rania yang membelakanginya karena sedang mengambil pakaiannya.
"Dia lama di luar negeri, tapi dia tidak seperti mereka yang berada di sana. Dia masih terlihat sopan dan anggun. Bathrobe saja dia memilih yang panjang. Selama hampir 3 hari di rumah, aku tidak pernah melihat Rania memakai pakaian lengan pendek," gumam Dio sambil menatap punggung Rania.
Rania membalikan tubuhnya, dia melihat Dio yang masih menatap dirinya.
"Ada apa kamu lihat-lihat. Awas kelilipan paku matanya!" tukas Rania sambil berjalan ke luar dari kamar Dio.
"Huh … dasar perempuan galak!" umpat Dio.
"Mending galak dari pada diam tapi menghanyutkan!" timpal Rania sambil menutup pintu kamar Dio dengan keras.
Dio hanya menggeleng-gelengakan kepalanya saja, melihat Rania yang seperti itu. Sungguh ini di luar dugaan Dio. Dio selalu menganggap Rania wanita manja, dia gonta-ganti laki-laki, dan dipikiran Dio, Rania adalah wanita yang liar. Namun, itu semua salah. Rania wanita yang dingin, angkuh, dan galak sekali menurut Dio.
"Kamu sebenarnya wanita seperti apa, Ran? Aku benar-benar tidak mengerti, ternyata sikapmu di luar dugaanku," gumam Dio.
Dio dan Rania sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah abahnya. Mereka sudah berada di dalam mobil Dio. Dio melajukan mobilnya dan memutar musik di dalam mobil. Lagu milik Sheila On 7 "Bila Kau Tak Di Sampingku" mengingatkan Rania saat dulu masih berada di bangku SMP dan lagu itu memiliki kenangan tersendiri untuk Dio dan Rania. Entah kenapa Dio memutar lagu itu lagi. Rania langsung mematikannya. Dia tidak mau mengenang masa itu, yang tidak akan terulang lagi.
"Kenapa di matiin?" tanya Dio.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Rania.