THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 84 "Jangan Pernah Takut" The Best Brother


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Najwa dan Akmal bersiap untuk pulang ke Indonesia hari ini. mereka terpaksa pulang berdua dulu. Karena, opa dan papahnya masih ada pekerjaan, jadi tiga hari lagi beliau baru bisa menyusul Akmal dan Najwa ke Indonesia.


“Kamu sudah siap, sayang?” tanya Opa wisnu pada Najwa.


“Iya, Najwa sudah siap, Opa. Opa janji tiga hari lagi harus menemui abah,” jawab Najwa.


“Itu pasti, sayang. Kamu jangan khawatir, opa dan papah akan menyusul kamu,” ucap Opa Wisnu.


“Satu pesan opa, kamu jangan pernah takut untuk melangkah ke depan. Jadikan masa lalu kelam mu sebagai pelajaran berharga untuk hidupmu. Dan, raihlah masa depanmu bersama Akmal. Jangan pernah takut. Kamu wanita kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua. Dan, opa yakin, abah kamu akan memaafkan kamu,” tutur Opa Wisnu.


“Iya, Opa. Terima kasih, opa sudah menyayangi Najwa seperti cucu opa sendiri,” ucap Najwa sambil memeluk Opa Wisnu.


“Dan, ingat Najwa. Kamu harus membuang rasa sesak kamu. Jangan larut dalam penyesalan. Bukan saatnya kamu larut dalam penyesalan. Ini saatnya kamu bangkit dan memulai hidup barumu,” sambung Nuri yang ada di belakang mereka.


“Iya, Nur. Terima kasih, kamu sudah mau menjadi pendengar setiaku. Membawaku ke sini, dan bertemu orang-orang baik,” ucap Najwa.


Nuri memeluk Najwa, dia orang yang selalu memberi Najwa semangat untuk bisa melupakan masa lalu kelamnya. Nuri juga selalu ada ketika Najwa ingin bercerita dan bertukar pikir dengannya.


^^^


Najwa dan Akmal sudah berada di dalam pesawat. Akmal tahu, kalau Najwa masih agak sedikit takut untuk bertemu dengan keluarganya. Tapi, sebisa mungkin Akmal harus menjadi penenang untuk Najwa.


“Sayang, jangan takut, ada aku. Kamu pasti bisa melalui ini,” ucap Akmal.


“Iya, sayang. Aku hanya bingung saja mau ketemu dengan Abah. Aku malu,” ucapnya.


“Malu kenapa?” tanya Akmal.


“Aku banyak sekali berbuat dosa dan menyakiti hati abah,” jawab Najwa.


Akmal hanya diam saja mendengar penuturan Najwa. Dia tahu rasanya menjadi Najwa bagaimana. Dia juga pernah mengalaminya sendiri, membohongi papahnya, mengecewakan papah dan mamahnya, membuat malu keluarganya karena masalah dengan seorang wanita. Tapi, beruntung, semua keluarganya masih care dengan dirinya. Dia benar-benar di beri dorongan dan semangat lagi oleh keluarganya untuk bangkit dan menjalani hidupnya dengan baik lagi.


“Ainun,” panggil Habibi.


“Iya, Habibi,” jawab Ainun.


“Semua orang memiliki dosa, sayang. Tergantung kitanya sendiri, mau larut ke dalam dosa itu, atau mau bangkit, meminta ampun, bertaubat, dan melakukan hal-hal yang lebih baik lagi. Kalau kamu masih seperti ini, kamu akan semakin menyesali hidupmu. Harusnya hidupmu indah, tapi kamu masih berada dalam kungkungan penyesalan dan dosa yang seharusnya kamu lupakan. Sekarang kamu sudah bertaubat, tapi kamu masih ingat itu. Itu sama saja tidak ada gunanya kamu melakukan kebaikan, karena kamu mengingat itu,” ujar Habibi.

__ADS_1


“Boleh mengingat dosa kita, asal itu untuk pelajaran kita. Menyesali boleh, tapi jangan terlalu larut. Karena semakin kamu larut ke dalam penyesalan, semakin kamu jatuh, dan tidak bisa menikmati kehidupan baru kamu yang indah,” imbuh Habibi.


“Mulai sekarang, lupakan semua. Kita jalan ke depan bersama, tanpa menoleh ke belakang,” ucap Habibi dengan tegas.


“Iya, sayang. Terima kasih, kamu sudah mau mengerti aku dan mau membantuku melupakan masa laluku,” ucap Ainun.


“Berjanjilah pada dirimu sendiri, sayang. Untuk melupakan semuanya dan meraih masa depanmu yang indah,” ucap Habibi.


Ainun menyandarkan kepalamya di dada Habibi. Dia merasa hidupnya sempurna berada di samping laki-laki yang sempurna seperti Habibi.


^^^^^


Semua sudah berkumpul di rumah Arsyad siang ini, untuk menyambut kedatangan seseorang yang di rindukan selama satu tahun. Ya, siapa lagi kalau tidak menanti kedatangan Najwa dari Budapest.


Annisa sudah menyiapkan masakan kesukaan Najwa, dia juga menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan putrinya yang sudah lama ia rindukan. Arsyad juga sibuk membantu Annisa menyiapkan semua itu, dari membuatkan kue hingga ia membantu Annisa memasak makanan kesukaann Najwa.


Rico juga merasa sangat bahagia, karena hari ini cucu pertama sekaligus cucu kesayangannya itu akan pulang. Dia dari tadi tak henti-hentinya menayakan Najwa lewat sebuah pesan singkat yang ia kirimkan pada Najwa.


“Opa,” panggil Raffi.


“Iya, Raf, ada apa?” tanya Rico.


“Iya, benar Raf. Hari ini opa juga bahagia sekali, Najwa mau pulang. Cucu kesayangan opa mau pulang. Peri kecil opa mau pulang,” ucap Rico dengan meneteskan buliran air mata di pipinya yang mulai terlihat berkeriput.


“Iya, peri kecil opa yang dari dulu selalu semangat mengahdapi ujian dari kecil, hingga sekarang dia juga di uji dengan begitu hebat. Peri kecil yang selalu menyembunyikan sedihnya, saat merawat umminya sakit. Dia mampu tersenyum di sela-sela sedihnya melihat umminya yang lemah kala itu. Itu semua ia lakukan agar umminya tersenyum. Sungguh opa sangat merindukan Peri kecil opa,” ucap Rico sambil mengingat semua kejadian dulu, saat Najwa kecil.


“Peri kecil opa akan pulang hari ini. Opa jangan sedih, pasti Kak Najwa tidak akan pergi lagi. Jika ia pergi lagi, itu karena sudah tugas dia, dan tugas Kak Akmal. Karena Kak Akmal harus menyelesaikan tugasnya di sana 1 tahunan lagi,” ucap Raffi.


“Jadi, nanti kakakmu akan ke Budapest lagi?” tanya Rico.


“Iya, kemarin waktu aku di sana dan mengobrol dengan Kak Akmal, katanya mereka akan kembali ke sana lagi, setelah menikah. Mungkin satu tahun lagi mereka tinggal di sana,” jawab Raffi.


“Opa kira Akmal akan menetap di sini lagi,” ucap Rico.


“Iya, pasti menetap di sini lagi, cuma ya nanti, setelah tugas di sana selesai. Kemarin sih, mereka bilang seperti itu,” ucap Raffi.


^^^

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di Indonesia. Mereka di jemput sopir pribadi Habibi di Bandara. Mereka langsung menuju ke rumah Arsyad. Ada sedikit rasa gugup pada diri Najwa saat di perjalanan dari bandara menuju ke rumah abahnya.


Mereka sampai di depan rumah mewah milik Arsyad. Mobil mereka memasuki halaman rumah Arsyad yang sangat luas. Rumah yang sangat di rindukan Najwa, rumah yang menjadi saksi perjalanan hidupnya mengarungi dunia remajanya, hingga terjerat cinta yang salah dengan saudara sepupunya sendiri.


Sebenarnya dia masih takut untuk keluar dari mobil. Namun, Habibi meyakinkan dia agar Dia mau turun dan menemui keluarganya yang sudah menunggu di teras.


“Ayo sayang,” ajak Habibi.


“Tapi, aku....” jawab Ainun dengan gugup dan takut.


“Jangan takut, ada aku yang akan mendampingimu. Itu abah sudah menunggumu, pasti abah sangat merindkanmu, Ainun,” ucap Habibi.


“Iya, baiklah aku akan turun, tapi dampingi aku,” pinta Ainun.


“Itu pasti sayang,” ucap Habibi.


Mereka turun dari mobilnya. Ainun di gandeng oleh Habibi untuk menemui abah dan lainnya yang sudah menunggunya di teras rumahnya.


“Assalamualaiku,” ucap Najwa dan Akmal.


“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka.


Arsyad langsung memeluk Najwa, dia mencium Najwa, meleburkan rindunya. Tapi, Najwa langsung bersujud di depan abahnya.


“Maafkan Najwa, abah.” Najwa bersujud di kaki Abahnya. Tapi, Arsyad langsung membangunkan tubuh Najwa.


“Jangan seperti ini, nak. Abah sudah memaafkanmu. Abah yang seharusnya minta maaf. Maafkan abah juga, nak. Maafkan abah.” Arsyad dan Najwa tak henti-hentinya mengucpakan kata maaf.


Arsyad memeluk Najwa, mencium pipinya. Rasanya rindunya sudah melebur, dan dia tidak ingin mengakhiri pelukannya pada putrinya yang satu tahun ia rindukan kepulangannya.


“Najwa,” panggil Rico dengan berlinang air mata.


“Opa.” Najwa memeluk opanya. Dia meminta maaf pada opanya. Rasanya semangat Rico hidup kembali melihat peri kecilnya pulang dan kini berada di pelukannya.


“Bunda... maafkan Najwa.” Najwa memeluk Annisa dan melepas rindunya pada bundanya.


“Sudah sayang, jangan menangis, bunda sudah memaafkan kamu. Kita sudah berkumpul lagi, jangan pergi lagi, jangan siksa bunda, jangan buat bunda sedih dan merindukan kamu, nak.” Air mata Annisa tak terbendung. Dia menangis dan memeluk kembali Najwa.

__ADS_1


Suasana haru dan bahagia menyelimuti keluarga Alfarizi saat ini. Semua bahagia dengan kembalinya Najwa di rumah.


__ADS_2