
Arsyad duduk di samping Annisa. Annisa masih saja memikirkan apa yang di bicarakan Arsyad dengan Dio tadi. Karena Dio cepat berubah pikiran untuk ikut kembali ke rumah Arsyad. Arsyad mengusap perut istrinya yang semakin membesar. Dai mencium perut Annisa dengan sayang. Hatinya seakan hancur, karena dia berjanji dengan Dio hanya sebulan saja menemani Annisa. Dan semua tidak tahu, kalau dai berjanji seperti itu. Hanya m Dio dan dirinya yang tahu.
"Annisa, kamu mau kan, tinggal di rumah kita lagi?"tanya Arsyad.
"Apa tidak di rumah mamah saja?" pinta Annisa.
"Aku ingin kita kembali ke rumah kita, Nis. Aku mohon." Arsyad memohon pada Annisa agar dia mau pindah ke rumahnya lagi.
"Baiklah, aku akan mengemasi barang-barangku dulu di rumah mamah," ucap Annisa.
"Terima kasih, Nis. Kamu sudah mau kembali lagi. Aku tahu semua butuh waktu untuk kamu, agar bisa memaafkan papah dan Shita," tutur Arsyad.
"Lupakan masalah itu, aku bisa memaafkannya. Aku tidak mau ada permusuhan dalam keluarga ini, kak," ucap Annisa.
"Iya, kami bisa. Tapi, entah untuk Dio," ujar Arsyad.
"Nanti juga Dio akan mengerti, kak," ucap Annisa.
"Ya, semoga saja, dan semoga saja, dia memaafkan papah dan Shita, secepatnya, agar bulan depan…." Arsyad menghentikan kata-katanya.
"Bulan depan apa?"tanya Annisa penasaran.
"Agar bulan depan kita sudah hidup rukun lagu dengan adanaya buah hati kita, Annisa," jawab Arsyad.
"Aku kira apa," ucap dengan lirih.
"Tidak apa-apa, sini peluk." Arsyad menarik tubuh Annisa dan memeluknya.
Arsyad mengusap kepala Annisa. Dia tidak tau harus bagaimana lagi, yang terpenting adalah dia bisa menemani Annisa hingga Annisa melahirkan. Untuk masalah Dio, nanti dia akan membicarakannya lagi.
"Maaf, Nis. Aku tidak bisa cerita ini dulu pada kamu. Bukan aku ingin berbohong, tapi ini demi kebaikan kamu dan anak kamu yang masih ada di perut. Semoga Dio bisa mengerti keadaan ini," gumam Arsyad.
"Aku tahu, pasti kakak lagi menyembunyikan sesuatu. Tidak tau apa yang kakak sembunyikan dari aku. Aku tidak peduli itu, yang aku inginkan adalah kakak sekarang ada di sampingku," gumam Annisa.
Dio sudah siap untuk berangkat ke rumah Arsyad. Rere dari tadi terus menasehati Dio di kamarnya agar dia bisa menerima keadaan ini, dan bisa sedikit membuat bundanya bahagia.
"Dio, sayang. Tante tau, kamu masih sangat marah dengan opa dan tantemu itu, tapi kamu juga harus tau, bunda dan abah sama-sama saling membutuhkan. Tolong kesampingkan egomu dulu, nak," tutur Rere.
"Dio tidam tau, Tante, rasanya Dio masih sakit hati sekali kalau mengingat ucapan opa, Tante Shita, dan Najwa," ucap Dio.
"Tante tau itu, nak. Sudah lah, kamu pendam itu, kalau kamu belum bisa memaafkan, itu terserah kamu, apa kamu tega memisahkan Abah dan Bunda? Dengan keadaan bunda memiliki bayi, dan itu masih sangat membutuhkan abah," ucap Rere.
Dio kaget Rere bisa tahu soal pembicaraan dia dan abahnya tadi. Dio terdiam sejenak seusai menata bajunya.
__ADS_1
"Tante dengar apa yang dibicarakan Dio tadi?" tanya Dio.
"Iya, Tante dengar semua. Tapi, itu terserah kamu, mau bagaimana," ucap Rere.
"Ayo keluar, itu Shifa dan Bunda sudah menunggu," ajak Rere.
Mereka kembali ke rumah orang tua Annisa. Di sana sudah terlihat mobil Kevin, ada Najwa dan Raffi juga. Dio dan Shifa turun dari mobil bersama Annisa dan Arsyad.
"Abah…! Abah sudah bisa jalan?" Najwa dan Raffi berlari ke arah Arsyad dan memeluknya.
"Sudah, nak. Kamu sudah sampai dari tadi?"tanya Arsyad.
"Baru 15 menit, Abah," jawab Najwa.
Najwa melihat Annisa yang semakin kurus dan melihat Dio yang manatapnya dengan tatapan tajam.
"Bunda…" Najwa berlutut di depan Annisa tapi Annisa langsung mengangkat tubuh Najwa.
"Najwa, bangun, nak," ucap Annisa sambil memandangi wajah Najwa.
"Maafkan Najwa bunda, maafkan Najwa." Najwa mencium tangan Annisa berkali-kali.
Annisa memeluk Najwa dan menciumi wajah Najwa. Annisa sedikitpun tidak membenci keponakan sekaligus anak sambungnya itu. Karena dari dulu, Najwa adalah keponakannya yang paling ia sayangi.
"Terima kasih, bunda." Najwa kembali memeluk Annisa dan mengusap perut Annisa yang membuncit.
Najwa melihta Dio yang dari tadi menatap dia dengan tatapan dingin dan penuh amarah. Najwa memberanikan diri mendekati Dio untk meminta maaf.
"Dio, aku minta maaf," ucap Najwa dengan menjulurkan tangannya.
"Iya." Dio seperti terpaksa menjabat tangan Najwa.
"Dio ke dalam," pamit Dio dengan suara dingin.
"Maafkan Dio ya, nak. Nanti bunda akan membujuknya," tutur Annisa.
Najwa dan Shifa memang sudah biasa saja. Mereka juga sudah satu kelas lagi dan duduk sebangku lagi di sekolahnya. Memang Dio yang masih sangat marah dengan Najwa, Rico, dan Shita. Annisa tidak mengerti kenapa putranya bisa seperti itu. Keras sekali hatinya, padahal Annisa selalu menebak dia seperti Arsyil yang tidak pernah marah atau memendam dendam.
"Ya Allah, bagaimana caranya mencairkan hati Dio? Aku tau dia sangat marah, lembutkanlah hati Dio, Ya Allah," gumam Annisa.
Arsyad yang tahu Annisa sedang bingung dengan sikap Dio. Arsyad merangkul Annisa dan mengajak Annisa masuk ke dalam rumah.
Annisa menyiapkan bajunya di dalam koper. Arsyad hanya duduk dan melihat Annisa di bantu oleh Shifa dan Najwa. Najwa dan Shifa sudah terlihat akrab.
__ADS_1
"Najwa, bisa ikut bunda keluar sebentar?" Annisa meminta Najwa ikut keluar sebentar.
Annisa mau mengajak berbicara dengan Najwa dan Dio yang masih saling diam. Dia tidak ingin anak-anaknya saling dia dan memiliki dendam
"Iya, bunda," jawab Najwa.
Najwa mengekoro Annisa yang keluar dari kamarnya. Annisa memanggil Dio yang sedang duduk di depan Televisi.
"Dio… bisa ke sini sebentar?" Annisa memanggil Dio yang sedang duduk terdiam sendirian.
"Ada apa bunda?" tanya Dio.
"Sini bunda mau bicara sama kamu, nak," ucap Annisa.
"Kenapa ada dia?" Dio bergumam dalam hatinya dan menatap tajam pada Najwa.
"Bunda mau bicara dengan kalian, ayo kita bicara di teras belakang saja," ajak Annisa.
Mereka duduk di gazebo yang ada di taman belakang rumah Annisa. Annisa duduk di antara Dio dan Najwa. Annisa menarik napasnya dengan berat sebelum berbicara pada mereka.
"Dio, Najwa, bunda membawa kalian ke sini, karena bunda tidak ingin kalian bermusuhan. Bunda tau, Najwa sudah menyakiti hati kamu, Dio. Bahkan bunda dan Shifa juga merasakan sakit hati saat itu. Tapi, apa salahnya kita memaafkan Dio," tutur Annisa.
"Dio sudah memaafkan bunda, jadi bunda memanggil Dio hanya mau bilang ini? Kalau iya, mending Dio masuk lagi," tukas Dio.
"Dio, Najwa sudah minta maaf, kenapa kamu seperti ini. Bunda tidak pernah mengajari kami seperti ini, nak," ucap Annisa.
"Memang bunda tidak mengajari, tapi hati ini masih belum bisa melepaskan rasa sakit bunda. Maaf." Dio masuk ke dalam rumah lagi meninggalkan Najwa dan Annisa.
"Dio…! Bunda belum selesai bicara…! Dio…!" Annisa teriak hingga ia mengeluarkan air mata karena hati Dio begitu keras sekali.
"Bunda…sudah bunda…biarkan Dio menyelesaikan sakit hatinya. Najwa tidak apa-apa, bunda. Yang penting bunda memaafkan Najwa, dan Najwa bisa memeluk bunda lagi. Bisa melihat bunda tersenyum lagi besama Abah." Najwa memeluk Annisa dengan sayang dan menenangkan hati Annisa yang di buat marah oleh Dio.
Annisa mengusap lembut kepala Najwa. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bicara dengan Dio.
"Maafkan Dio ya, sayang. Pasti seiring berjalannya waktu, Dio akan memaafkanmu," ucap Annisa.
"Iya bunda," jawab Najwa dengan menyeka air matanya.
Najwa memang salah dalam hal ini. Iya, semua ini berawal dari keegoisannya. Dia benar-benar merasa bersalah sekali dengan Dio.
"Dio, kamu boleh egois, kamu boleh marah sama aku. Tapi, aku mohon, izinkan bunda dan abah bahagia. Jika hadir ku di sini membuat salah satu dari keluarga ini sakit hati, aku akan pergi, Dio." Najwa bergumam dalam hatinya.
Najwa berniat jika Dio masih tetap diam pada dirinya, Najwa akan keluar dari rumah. Dia tidak ingin membuat orang sakit hati lagi karena melihat dirinya.
__ADS_1
"Iya, semua anak pasti marah, kalau orang tuanya disakiti orang lain, apalagi keluarganya sendiri. Aku tidak menyalahkan Dio yang membenciku, karena ini bermula dari aku. Bunda, Abah, Shifa, dan Raffi, maaf jika nanti aku akan pergi dari rumah. Maaf ini sudah keputusan Najwa. Kerena Najwa ingin bunda dan abah bahagia," gumam Najwa