
Arsyad berpamitan dengan Papah Rico untuk mengantar anak-anak sekolah, seperti yang kemarin di bicarakan dengan istrinya, hari ini Arsyad dan Annisa tidak ke kantor. Mereka akan menghabiskan waktu berdua di rumah hingga sore hari. Entahlah, tiba-tiba Annisa ingin sekali sehari tidak ke kantor bersama Arsyad untuk di rumah saja.
"Kalian berarti tidak ke kantor?" tanya Papah Rico.
"Tidak pah, ada yang harus kita bicarakan hari ini," jawab Arsyad.
"Oh, kalian tapi tidak bertengkar, kan?" tanya Papah Rico.
"Tidak lah pah, kita hanya jngi Quality Time bersama sehari, setelah berbulan-bulan kita hanya bisa berkumpul waktu weekend saja, dan itu bersama dengan yang lain, tidak berdua saja," jawab Arsyad.
"Oh, ya sudah, kalian hati-hati,"ucap Rico.
"Iya, pah,"
Annisa dan Arsyad berangkat mengantar anak-anak sekolah, kali ini Arsyad tidak mengemudikan mobil, dia di belakang duduk bersama Najwa dan Raffi. Annisa juga bersama kedua anaknya.
Setelah mengantar Anak-anak ke sekolah, mereka langsung kembali ke rumah. Kevin dan Jordy kali ini bisa istirahat hingga sore, karena tak ada pekerjaan lagi sebelum mereka mengantar tuannya ke dokter kandungan.
"Pak Arsyad tidak ke kantor?"tanya Kevin.
"Tidak, aku ingin berdua saja di rumah dengan Annisa. ada sesuatu yang harus kami bicarakan di rumah, tapi nanti sore kami mau ke dokter kandungan," jawab Arsyad.
"Oke, berarti kami bisa sehari istirahat, Bu Annisa hamil?"tanya Kevin.
"Belum tau, baru mau periksa, nanti sore, Vin," jawab Annisa.
Hari ini Annisa sangat bahagia, bisa sehari bersama suaminya, yang biasanya sibuk di kantor, bergutu juga Arsyad, dia juga menikmati sekali sehari dengan istrinya di rumah tanpa ada yang mengganggu.
^^^^^
Annisa terbangun dari tidur siangnya, dia melihat Arsyad masih tertidur pulas di sampingnya. Annisa menaikan selimutnya lagi yang menutupi tubuh polosnya itu. Ya, Arsyad dan Annisa hari ini menghabiskan waktu di ranjang tanpa ada yang mengganggunya. Annisa mengusap pipi suaminya dan mencium lembut bibirnya. Arsyad mengerjapkan matanya dan tersenyum menatap Annisa dengan tatapan sayu.
"Ada apa? Mau lagi?"tanya Arsyad dengan tersenyum nakal dan tangannya mulai menyentuh bagian sensitif di tubuh Annisa.
"Kakak, geli, ah….kakak mau lagi?"tanya Annisa dengan menahan rasa geli yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya karena jari Arsyad memilin sesuatu yang ia sukai.
"Ya, kakak ingin lagi, apalagi kamu masih seperti ini di depan kakak, lekuk tubuh indahmu menjadi candu untukku, Annisa," ucap Arsyad dengan mengecup bibir Annisa.
Sentuhan bibir Arsyad yang lembut, ditambah gerakan lembut jari jemari Arsyad membuat Annisa tak bisa menahan gejolak yang ada pada dirinya. Arsyad menarik tubuh Annisa ke atasnya. Entah kenapa Arsyad suka sekali dengan posisi seperti ini, dia semakin candu dengan permainan Annisa di atas tubuhnya.
"Kakak suka seperti ini?"tanya Annisa.
"Kakak suka sekali, kamu pandai sekali bermain seperti ini, sayang. Ayo lakukanlah dengan perlahan." Arsyad menuntunnya dengan pelan, dan Annisa perlahan memainkan gerakan yang Arsyad sukai.
"Hmmmpp….kamu memang luar biasa Annisa, jangan berhenti sayang," rancau Arsyad saat istrinya dengan perlahan bermain di pangkuannya.
"Kak….." ucap Annisa dengan lembut di telinga Arsyad.
"Iya sayang, kamu lelah?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Tidak, aku sangat menikmatinya, kakak bagaimana? Nyaman tidak?"ucapan Annisa semakin parau dan semakin serak karena dia semakin menikmati gerakannya di tambah hentakan kecil dari Arsyad yang membuat dirinya memekik lirih.
Arsyad semakin suka dengan erangan Annisa yang semakin keras terdengar di telinga Arsyad. Arsyad semakin merasakan cengkraman dari Annisa, dan tak butuh waktu lama, mereka melakukan pelepasan bersama.
"Annisa….hmmppp…" Arsyad melepaskannya dengan penuh kenikmatan, begitu juga Annisa.
Meraka mengatur kembali napas mereka, Annisa masih berada di pangkuan Arsyad. Dia menatap lembut wajah suaminya yang di penuhi peluh di keningnya. Annisa mengusapnya dan memberi kecupan lembut di bibir Arsyad. Arsyad mengangkat pelan tubuh istrinya, tapi Annisa masih tidak mau beranjak dari pangkuan Arsyad.
"Kakak, nanti, aku masih ingin seperti ini,"ucap Annisa dengan manja.
"Nis, jangan di cengkram terus, udah ih…kamu nakal," ucap Arsyad sambil menarik hidung Annisa.
"Biar lepas sendiri, Annisa masih mau seperti ini,"
lembut.
Mereka akhirnya melakukan lagi hingga berkali-kali. Entah berapa kali mereka melakukan kegiatan favorit mereka di ranjangnya. Tak ada kata lelah bagi mereka.
^^^^^
Annisa dan Arsyad sudah bersiap untuk pergi ke dokter Iren. Mereka berangkat dengan diantar oleh Kevin. Arsyad tak lepas memeluk istrinya saat berada di dalam mobilnya. Annisa begitu heran, tak seperti biasanya Arsyad seperti ini, ingin dekat dengan Annisa, dan bermanja seperti ini.
"Nis," panggil Arsyad.
"Iya kak, ada apa?"tanya Annisa.
"Kamu cantik sekali,"ucap Arsyad tanpa peduli ada Kevin di dalam mobil.
"Kakak tidak tau, kalau kakak jauh dari kamu, apa jadinya hidup kakak." Tiba-tiba Arsyad berkata seperti itu.
"Kenapa bilang seperti itu?" tanya Annisa.
"Ya, takut saja suatu saat kakak jauh dari kamu, apa kakak bisa bernapas tanpamu?"
"Kak, jangan bilang melow gini." Mata Annisa berkaca-kaca mendengar pernyataan dari suaminya itu.
"Justru Annisa yang takut kakak pergi." Annisa mengeratkan pelukannya pada suaminya.
Sesampainya di tempat praktik dokter Iren, mereka turun dan Arsyad mengkonfirmasi lagi pendaftaran Arsyad kemarin. Mereka menunggu di ruang tunggu sebelum naman Annisa di panggil. Tak menunggu waktu lama, asisten Dokter Iren memanggil nama Annisa.
Annisa dan Arsyad masuk ke dalam ruangan Dokter Iren. Mereka duduk di depan Dokter Iren. Seketika Dokter Iren sedikit kaget, Arsyad membawa wanita selain Almira.
"Pak Arsyad, ini?"tanya Dokter Iren pada Arsyad dengan bingung.
"Ini istriku, Dok. Annisa,"ucap Arsyad.
"Lalu, ibu Almira?"tanya Dokter Iren yang tidak tahu kalau Almira sudah meninggal.
"Almira, sudah wafat 2 tahun yang lalu, Dok," jawab Arsyad.
__ADS_1
"Innalillahi Wainnailaihirojiun, maaf saya tidak tahu, pak. Maaf Bu Annisa,"ucap Dokter Iren.
"Tidak apa-apa, Dok,"
"Oh, iya, ada keluhan apa Bu Annisa?"tanya Dokter Iren.
Annisa menjelaskan semua pada Dokter Iren, dan Dokter Iren menyuruh Annisa tes urine terlebih dahulu. Annisa masuk ke dalam toilet membawa cawan kecil yang di berikan Dokter Iren. Annisa keluar dari toilet dengan membawa cawan berisi urine nya.
Dokter Iren mencelupkan testpack ke dalam cawan berisi urine milik Annisa. Tak butuh waktu lama, dua garis terlihat di alat test kehamilan.
"Bu Annisa, hasil di sini menunjukan ibu Positif hamil, mari berbaring di sini, saya akan melihat berapa usia kandungan ibu dan janinnya berkembang atau tidak," ucap Dokter Iren.
Arsyad bahagia sekali mendengar pernyataan Dokter Iren, yang menyatakan istrinya hamil.
"Selamat sayang, kamu hamil." Arsyad memeluk istrinya dan menghujani wajah Annisa dengan ciuman di depan dokter Iren.
Dokter Iren memeriksa kandungan Annisa. Kandungan Annisa memasuki Minggu ke-10. Dan, kandungan Annisa sehat-sehat saja tidak lemah.
"Kandungan ibu sudah 10 Minggu, janinnya berkembang, jangan kecapean ya, Bu. Nanti saya akan memberi vitamin untuk ibu,"ucap Dokter Iren.
Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan Dokter Iren dan Arsyad mengambil obat di loket farmasi. Annisa dan Arsyad keluar dari Rumah Bersalin Dokter Iren dengan senyum bahagia. Mereka kembali masuk ke dalam mobilnya. Arsyad memeluk Annisa yang duduk di sebelahnya. Arsyad berbahagia karena akan mendapatkan keturunan dai rahim istrinya yang sangat ia cintai.
"Kevin, bisa mampir ke kedai pizza yang berada di jalan X? Aku ingin sekali makan pizza," pinta Arsyad.
"Kak, dilivery saja deh, kalau beli nunggunya lama, aku sudah ingin pulang," imbuh Annisa.
"Iya Pak Arsyad, pasti ramai, lagian kan dekat dengan rumah." Kevin pun menyarankan seperti itu.
"Vin, saya ingin beli, bukan dilevery, jadi antarkan saya ke kedai itu,"pinta Arsyad.
"Kakak tumben suka pizza? Biasanya aku makan pizza sama anak-anak kakak tidak ikut makan?" tanya Annisa dengan heran.
"Gak tau Nis, aku ingin sekali makan pizza, dan aku ingin beli sendiri," jawab Arsyad.
"Ya sudah Nisa temani kakak beli pizza, atau mau makan di tempat saja?" tanya Annisa.
"Oke, kita makan pizza di sana, kamu juga ikut Kevin," ucap Arsyad.
"Baik, pak," jawab Kevin.
Mereka sampai di depan kedai pizza, beruntung tidak seramai yang Annisa bayangkan, karena setiap hari kedai itu ramai pengunjung. Mereka turun dan masuk ke dalam lalu memesan pizza yang Arsyad inginkan. Kevin masih di dalam mobil, mencari tempat parkir. Karena di depan kedai sudah agak penuh, Kevin memarkirkan mobilnya agak jauh dari kedai pizza.
Arsyad memesan dua pizza, satu untuk dirinya dan satu untuk Annisa dan Kevin. Entah kenapa Arsyad yang tadinya tidak begitu suka dengan pizza, sekarang memesan satu untuk dirinya sendiri.
"Kakak bener pesan 2?" tanya Annisa.
"Iya, kakak ingin makan ini kok," jawab Arsyad.
"Yang ngidam suaminya, nih," timpal Kevin.
__ADS_1
"Hmm…bakalan minta makan pizza setiap hari nih," imbuh Annisa.
Mereka menikmati pizza yang Arsyad pesan tadi. Ini semua di luar dugaan Annisa. Suaminya begitu lahap sekali makan pizza. Tidak seperti biasa, yang kadang makan satu potong saja barengan dengan Annisa. Kali ini 1 porsi mau habis di makan sendiri. Annisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suaminya dengan lahap makan pizza.