THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 85


__ADS_3

Annisa pagi-pagi sekali sudah bangun, dia sudah membuatkan teh untuk semua orang yang ada di rumah calon mertuanya. Arsyil yang tidak sengaja melihat wanita yang di cintainya sedang sibuk di dapur, dia menghampirinya, Arsyil langsung memeluk Annisa dari belakang.


"Pagi calon istriku sayang."Arsyil memeluk Annisa dan menenggelamkan kepalanya di tengkuk Nisa.


"Pagi calon suamiku, jangan seperti ini Syil, nanti ada papah lho."


"Biarin saja, mereka masih di kamar semua sayang."


"Iya Syil aku tahu. Bantuin aku bikin roti bakar, yuk Syil."


"Siap sayang"


Mereka berdua sibuk di dapur untuk menyiapkan teh dan roti bakar. Arsyil sibuk mengoles mentega dan selai pada roti. Setelah siap semua Annisa memanggang rotinya pada pemanggang roti.


"Ingin rasanya cepat-cepat menikah denganmu Nis." ucap Arsyil sambil mencuci tangannya yang terkena mentega dan selai.


"Sabar, Syil. Pasti kita menikah kok."jawab Nisa.


"Oh ya sepulang dari pantai kita langsung ke Bengkel ya, aku habis merenovasi ruang tamu, coba nanti kamu lihat, apa yang kurang, nanti biar di perbaiki lagi."


"Okey, aku juga kangen bengkel lama tidak ke bengkel kamu." ujar Nisa.


"Sama aku tidak?"tanya Arsyil sambil menatap mata Nisa dalam-dalam.


"Kalau sama kamu, itu sudah pasti sayang."jawab Nisa sambil sibuk menata roti yang sudah matang di piring saji.


"Ayo bawa rotinya, aku bawa tehnya ke meja makan. Aku akan panggil kak Shita, sepertinya tadi dia sedang mandi."ucap Nisa sambil membawa nampan yang berisi beberapa cangkir teh.


Annisa meletakan teh di meja makan, dia langsung bergegas memanggil Shita untuk menikmati roti dan teh sebelum ke pantai. Dan, Arsyil juga masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Andini dan Rico keluar dari kamar, dia melihat roti dan teh di meja makan.


"Siapa yang membuat teh dan roti bakar sepagi ini ya pah?"tanya Andini pada Rico.


"Papah tidak tahu Bu." jawabnya.


Arsyil sudah selesai berganti baju, dia keluar dari kamarnya. Arsyil melihat kedua orang tuanya sudah berada di meja makan. Arsyil mendekatinya dan duduk di sebelah Rico.


"Pagi pah, Bu."


"Pagi, Syil. Ini yang buat teh dan roti bakar siapa Syil?"tanya Andini.


"Oh, tadi aku dan Annisa yang buat, ayo Bu, pah di cicipi. Nanti kan kita sarapan di pantai saja Bu sekalian. Jadi, aku dan Nisa membuat ini, untuk isi perut dulu, biar gak masuk angin kena angin laut di pagi hari."jelas Arsyil.


"Bisa saja kamu Syil kalau bicara."sahut Papah Rico sambil menikmati teh dan rotinya.


"Benar kan pah?"


"Iya benar, dan teh ini juga benar-benar nikmat, hampir sama dengan buatan ibumu, nak. Coba cicipi saja."ujar Rico.


"Benarkah?" tanya Arsyil


"Iya, cicipi saja."ucap Papah Rico.


Arsyil meminum tehnya, iya benar rasa tehnya hampir sama dengan buatan ibunya. Arsyil tidak menyangka kalau Annisa bisa membuat teh senikmat ini.


"Iya benar kata papah."gumam Arsyil dalam hati sambil tersenyum meminum tehnya.


"Benar kan, papah tidak bohong?"tanya Rico.


"Iya pah."


"Mana Vino?"tanya Andini.


"Kak Vino sedang mandi bu, paling sebentar lagi keluar kamar. Kak Arsyad dan Kak Mira juga belum keluar."ujar Arsyil.


"Kalau Arsyad sama Almira kan sedang sibuk bikin cucu buat kita, ya kan Bu?"tanya Rico dengan tersenyum.


"Iya pah, kan mereka pengantin baru. Memangnya ibu, pengantin baru di anggurin saja."jawab Andini sambil melirik Rico.


"Ibu, kok ingat-ingat itu lagi sih, sudah lah Bu."

__ADS_1


"Kan kenyataannya papah."


"Iya,,iya,, papah ngalah deh kalau soal ini. Tapi, jangan bahas lagi ya Bu."


"Iya."jawab Andini singkat.


"Ibu, papah kok jadi uring-uringan seperti anak muda saja."ujar Arsyil.


"Tuh ibu yang mulai."jawab Rico


"Ihhh... kan papah yang mulai." jawab Andini yang tidak mau kalah.


"Tuh kan, gitu terus." Arsyil menghembuskan nafasnya kesal.


Vino keluar dari kamar Arsyil, dia langsung bergabung di meja makan dengan Rico dan Andini juga Arsyil. Nisa dan Shita juga keluar dari kamarnya. Mereka sudah berkumpul semua sambil menikmati teh dan roti bakar buatan Nisa. Tinggal Arsyad dan Almira yang belum keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian Arsyad dan Almira keluar dari kamarnya.


Arsyad melihat semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan sedang menikmati teh dan roti.


"Pagi semua, maaf telat, kalian sudah kumpul semua ternyata." ucap Arsyad sambil menarik kursi untuk duduk Mira dan dirinya. Dia langsung mengambil teh untuk Istrinya dan untuk Arsyad sendiri.


"Pagi, Syad. Yah, maklum pengantin baru betah lama-lama di kamar. Iya kan Bu?"jawab Rico dan bertanya pada Andini


"Iya pah, biar cepat kita menimang cucu."ujar Andini.


"Do'akan saja papah, ibu."ucap Arsyad.


"Itu pasti Syad."jawab Andini.


Arsyad meminum tehnya, dia merasa kangen sekali dengan teh buatan ibunya, dia tidak tahu kalau teh itu buatan Annisa. Lega rasanya bisa meminum teh buatan ibunya yang sudah seminggu ini dia tak menikmatinya.


"Ibu, Arsyad seminggu tak menikmati teh buatan ibu, akhirnya ketemu juga dengan teh buatan ibu."Andini dan Rico saling menatap dan tersenyum saat Arsyad berkata seperti itu.


"Bukan ibu yang buat teh ini Syad." ucap Rico dan Andini bersama.


"Lalu?"tanya Arsyad.


"Annisa kak yang buat, tadi aku dan Annisa yang membuat teh dan roti ini. Tapi, aku cuma bantuin dia ngolesin mentega dan selai saja pada rotinya."jelas Arsyil.


"Benarkah Nisa, ini teh buatan mu?"tanya Arsyad.


Arsyad terdiam sejenak, dia meminum tehnya lagi.


"Rasanya benar-benar sama dengan teh buatan ibu. Tidak salah Arsyil begitu mencintainya dan tak mau melepaskannya."gumam Arsyad dalam hati.


"Aku malu, seminggu ini aku benar-benar tak melayani suami dengan baik. Bahkan aku tidak pernah membuatkan teh atau kopi untuknya. Sedangkan Annisa, dia belum jadi istri Arsyil saja sudah pandai menarik hati Arsyil dengan secangkir teh. Dan, aku tahu, pasti Arsyad juga sedang memuji Annisa. Aku tahu dia sangat mencintai Annisa, walaupun dia bilang sudah menghapus semua cintanya untuk Nisa. Tapi, tidak mungkin secepat itu rasa itu hilang, pasti masih ada sedikit sisa perasaan untuknya."ucap Mira dalam hati sambil mengunyah Roti bakar di mulutnya.


Suasana menjadi hening seketika saat Arsyad dan Mira terdiam. Arsyil tahu kakak nya masih menyimpan rasa untuk calon istrinya.


"Aku tahu kak, apa yang sedang kakak pikirkan sekarang. Iya, kakak belum sepenuhnya melupakan Nisa, walaupun sudah ada Kak Mira di samping kakak."gumam Arsyil dalam hati.


Shita memandangi wajah kakaknya dan adiknya, juga memandangi wajah kakak ipar dan calon adik iparnya secara bergantian. Shita tahu apa yang mereka rasakan.


"Kak Arsyad, sudah dong kak, kakak sudah ada Kak Mira, kenapa masih seperti itu kalau berbicara mengenai Annisa."gumam Nisa dalam hati.


"Ehem....kok pada diam, ayo kita berangkat, sudah jam 7 lebih tuh."ucap Vino yang mengagetkan semuanya.


"Oh, iya yuk berangkat, Ibu dan Papah ikut mobil Kak Vino ya bareng sama Shita" ujar Shita.


"Kaka Arsyad sama Kak Mira juga Arsyil dan Nisa ya, pakai mobil kakak."ucap Shita.


"Oke."jawan Arsyad singkat.


"Syil, kita mau ke bengkel kan nanti? Pakai sepeda motor saja ya?"ajak Nisa.


"Baiklah, yakin mau pakai sepeda motor? Panas lho nanti kalau siang."ujar Arsyil.


"Iya lah yakin, Syil, kita kan kemana-mana sukanya pakai sepeda motor. Jadi pingin touring lagi."ucap Nisa.


"Nanti cari waktu yang tepat ya."jawab Arsyil sambil mengacak rambut Annisa.


"Oke, ayo berangkat. Ayo kak Shita, sudah siap semua kan?"tanya Nisa.

__ADS_1


"Sudah, yuk berangkat."jawab Shita.


Mereka semua berangkat ke pantai. Andini dan Rico ikut mobil Vino, Arsyil mengambil motornya di garasi dan juga Arsyad, dia mengambil mobilnya di garasi. Almira rasanya malas untuk pergi ke pantai, melihat Arsyad yang masih saja diam semenjak kejadian ngeteh tadi.


"Aku sadar, mungkin Arsyad terpaksa menikahiku dan mencintaiku."gumam Almira sambil duduk di kursi teras sambil menunggu Arsyad mengambil mobilnya. Annisa yang melihat Mira terdiam saja dari tadi dia mendekatinya.


"Kak, itu Kak Arsyad sudah siap. Aku berangkat dulu ya kak."ucap Annisa sambil memakai helm.


"Oh iya Nisa. kalian hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut."jawab Mira.


"Oke kak siap."


Mira masih saja duduk memegang flatshoes nya. Dia dari tadi hanya diam saja, dia tak berani menyapa suaminya yang masih terdiam saja. Arsyad melihat Almira yang masih duduk dan menatap ke sembarang arah dia mendekatinya dan mengambil flatshoes yang masih di pegang Mira.


"Ayo berangkat, semua sudah berangkat, tinggal kita berdua yang belum berangkat Sayang." ucap Arsyad sambil berjongkok memakaikan flatshoes Almira.


"Oh iya mas."jawabnya


"Aku bisa pakai sendiri Mas."ucap Mira.


"Aku tahu. Tapi, kamu gak pakai-pakai malah melamun saja dari tadi. Kenapa diam saja dari tadi?"tanya Arsyad.


"Tidak apa-apa mas. Ayo berangkat."ajak Mira


Arsyad dan Almira masuk ke dalam mobilnya, Arsyad sebenarnya tahu kalau Mira sedang tidak enak hati. Karena, dia tidak sengaja memuji teh buatan Annisa, Arsyad memang tidak tahu kalau itu teh buatan Annisa. Dia tahunya teh itu buatan ibunya.


"Aku tahu Mira, kamu sedang tak enak hati dengan ku. Maafkan aku, aku sungguh tak sengaja memuji teh buatan Annisa, aku tidak tahu itu Annisa yang buat. Karena, teh itu rasanya mirip sekali dengan teh buatan ibu."gumam Arsyad dalam hati.


Mira membuka cadarnya, dia menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Dia terdiam melihat ke arah jendela.


"Mas."sapa Mira tanpa melihat Arsyad, dia masih fokus melihat jalan dari balik jendela mobil.


"Iya sayang ada apa?"tanya Arsyad.


"Maafkan aku ya mas, selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu."ucap Mira, dan dia masih saja belum menatap suaminya.


Arsyad menepikan mobilnya dan memegang wajah Mira agar menghadap dengannya.


"Kamu bilang apa tadi sayang?"tanya Arsyad.


"Maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, aku tak bisa membuatkan teh untukmu, membuatkan kopi atau menyiapkan sarapan untukmu. Bahkan, aku tak bisa memasak sama sekali. Istri macam apa aku ini Mas, Sedangkan Annisa, dia belum menjadi istri Arsyil saja sudah bisa melakukan itu semua. Pantas kamu dulu mencin......."Arsyad menghentikan ucapan Mira, dia mengecup mesra bibir Mira.


"Jangan diteruskan sayang, aku tahu kamu dari tadi memikirkan itu. Maafkan aku Sayang, sungguh aku tak tahu kalau teh itu buatan Annisa, aku mengira itu buatan ibu. Sungguh aku tidak tahu sayang. Kamu diam karena ini kan?" Arsyad masih menatap mata Mira dalam-dalam. Mira menatap mata Arsyad dengan tatapan sendu di matanya. Mata Almira sudah berkaca-kaca.


"Jangan menangis, aku menikah denganmu, untuk menjadi istriku Sayang, bukan untuk menjadi pembantuku. Aku tahu kamu tidak bisa memasak, tidak bisa membuatkan teh atau kopi. aku tahu itu semua sayang, aku tak menuntutmu harus bisa semuanya. Karena setiap orang itu beda-beda sayang, aku menerima kamu apa adanya. Aku tak peduli kamu tak bisa itu semua. Yang aku butuhkan, kamu terus berada di sampingku selamanya. Please....jangan menangis."Arsyad mendekap Almira dan menenggelamkan wajah Almira di dadanya.


"Mas, kamu tidak terpaksa menikahiku kan? kamu tidak terpaksa untuk mencintaiku?"tanya Mira dalam Isak tangisnya.


"Kenapa bertanya seperti itu. Aku sama sekali tidak terpaksa sayang. Sungguh aku benar-benar menginginkan kamu untuk menjadi istriku. Aku tidak terpaksa menikahimu dan tidak terpaksa untuk mencintaimu."jelas Arsyad.


"Sudah jangan menangis lagi, senyum dong sayang, habis dari pantai, kita keruang Abah untuk menata baju-baju kita. Jadi kan mau pindah ke rumahmu?"tanya Arsyad sambil menyeka air mata Almira.


"Iya mas. Ayo berangkat, nanti kita ditunggu ibu dan lainnya."ujar Mira sambil tersenyum.


"Nah, seperti itu dong sayang tersenyum." Arsyad kembali melajukan mobilnya menuju pantai menyusul keluarganya.


Sesampainya di pantai dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Vino. Ternyata mereka belum masuk ke area pantai dan masih menunggu Arsyad dan Almira. Mereka menunggu cukup lama juga. Karena, tadi di jalan ada drama dulu antara Arsyad dan Almira. Mereka menikmati pemandangan di sekitar pantai dan bermain air di tepi pantai. Annisa, Shita dan Mira bermain pasir di tepi pantai. Almira terliahat bahagia sekali, sesekali Arsyad mencuri foto Almira yang sedang bermain pasir bersama Shita dan Nisa.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


Maaf Author lama Up nya, karena masih banyak sekali pekerjaan yang lainnya. Terima kasih ya yang sudah mau setia menunggu kelanjutan ceritanya.


Jangan lupa like dan vote nya dong.


__ADS_2