THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 106


__ADS_3

Rumah Annisa ramai di padati oleh orang yang bertakziah, Jenazah kedua orang tua Annisa sudah berada di rumah. Annisa duduk di depan jenazah orang tuanya. Dia berusaha tegar menghadapi semuanya.


"Mah, Pah, Annisa Ikhlas, bahagia di surga. Allah maha mengetahui, papah dan mamah orang baik. Papah dan mamah tidak sakit lagi, Annisa sayang mamah dan papah, Annisa ikhlas, terima kasih untuk semuanya Pah, Mah, Annisa beruntung sekali memiliki orang tua seperti kalian." Annisa terisak dengan di peluk Andini dia depan kedua jenazah orangtuanya. Annisa mencium jenazah orang tuanya secara bergantian sebelum jenazah di kafani.


Jenazah orang tua Annisa sudah selesai di kafani, semua keluarga ikut menyolatkan jenazah Papah Rizal, Nisa juga ikut serta menyolatkan jenazah kedua orang tuannya secara bergantian. Jenazah orang tua Nisa sudah siap untuk di makamkan, Annisa ikut ke pemakaman, walaupun Arsyil tidak memperbolehkannya.


"Aku ingin melihat Papah dan Mamah terakhir kalinya, Syil. Ijinkan aku ikut."Annisa memohon pada suaminya.


"Iya, boleh ikut, tapi jangan menangis, ayo kita ke mobil Kak Arsyad." Arsyil mengajak istrinya masuk ke dalam mobil Kak Arsyad.


Annisa masih saja menangis di pelukan suaminya, dia menyandarkan kepalanya di bahu Arsyil. Arsyil merasakan kesedihan istrinya, dia berkali-kali ikut meneteskan air matanya.


"Pah, mah, aku janji, aku akan menjaga putri semata wayang kalian, aku janji mah, pah, lihatlah putrimu, dia berusaha tegar menghadapi semua ini, dia berusaha menghentikan tangisannya agar kalian bahagia di surga. Maafkan Arsyil belum bisa membahagiakan papah dan mamah."gumam Arsyil, dia berkali-kali menyeka air mata yang keluar di sudut matanya


"Syil."panggil Nisa.


"Iya Nisa."sautnya.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, selain kamu. Aku tidak punya orang tua lagi, Syil. Kenapa semua tidak adil, baru saja aku menuai bahagia, kenapa Tuhan mengambil mereka. Dua orang yang sangat aku cintai sebelum mengenalmu."ucap Nisa dengan suara seraknya.


"Sayang, kamu punya aku, punya Ibu, Papah, dan dua kakak, kamu tidak sendirian, Nisa. Untuk apa ada aku, jika kamu merasa sendirian. Ikhlaskan mamah dan papah, ini semua sudah kehendakNya, sayang."Arsyil mencoba menenangkan istrinya, dia berkali-kali mencium puncak kepala istrinya.


"Nisa, jangan merasa sendirian, kamu punya Kak Shita, punya Kak Mira, Kak Arsyad, Ibu dan papah. Kami semua keluarga kamu, Nisa. Jangan bersedih lagi, ikhlaskan mamah dan papah, mereka sudah bahagia, sudah tidak merasakan sakit lagi." Almira juga mencoba memberikan kekuatan pada Annisa.


Arsyad hanya terdiam melihat adik iparnya yang baru saja berbahagia, kini harus kehilangan ke dua orang tuanya sekaligus.


"Nisa, aku yakin kamu wanita yang kuat, aku tau siapa kamu, Nisa."gumam Arsyad dalam hatinya.


Mobil Arsyad berhenti di belakang mobil Rico dan Andini, mereka sudah sampai di pemakaman. Banyak pelayat yang ikut mengantarkan jenazah kedua orang tua Annisa di peristirahatan terakhirnya. Annisa keluar dari mobilnya, Andini langsung merangkul menantunya dan memapah Annisa berjalan menuju pemakaman orangtuanya.


Arsyil dan Arsyad ikut turun ke liang lahat untuk membantu mengebumikan jenazah Papah Rizal, Arsyil mengadzani jenazah Papah Rizal, setelah selesai mengebumikan jenazah Papah Rizal, mereka bergantian mengebumikan jenazah Mamah Dewi.


Dua gundukan bukti cinta sejati orang tua Nisa sudah tertata rapi, semua pelayat menabur bunga di atas makam kedua orang tua Nisa. Nisa masih duduk di depan makam kedua orang tuanya. Dia terdiam dan berdoa untuk ke dua orang tuanya.


"Tenang di surga, mah, pah. Annisa janji akan menuruti apa yang papah dan mamah ucapkan pada Nisa, akan selalu Nisa ingat semua pesan mamah dan papah. Love you mah, pah." Annisa berucap dalam hatinya, dia mencium Nisan kedua orang tuanya.


Semua pelayat sudah meninggalkan pemakaman, begitupun Nisa dan keluarga Arsyil. Mereka kembali ke rumah Nisa.


Nisa mengurung diri di dalam kamarnya, dia berusaha tegar dan tabah mengahadapi semuanya, tapi dada Annisa sesak sekali merasakan semuanya, Annisa memandangi foto kedua orang tuanya dan menciumnya.


Arsyil masuk ke dalam kamar, dia masih melihat istrinya meringkuk memeluk foto mamah dan Papahnya.


"Sayang, makan dulu, kamu belum makan dari tadi sore, dan siang pun kamu hanya sedikit saja." Arsyil mengajak istrinya untuk makan.


"Aku tidak lapar, aku haus sekali, Syil. Bisa minta tolong ambilkan aku air putih, kepalaku juga pusing sekali."pinta Annisa.


"Sebentar aku ambilkan, tapi janji, kamu harus makan." Annisa hanya menganggukan kepalanya, Arsyil ke dapur mengambilkan makanan untuk Nisa dan buah pir yang sudah Arsyil kupas. Arsyil menuju ke kamar Nisa, dia berpapasan dengan Arsyad, kakaknya.


"Nisa sudah mau makan?"tanya Arsyad


"Sudah kak, ini aku mau menyuapinya."ucap Arsyil


"Temani istrimu dulu, biar tamu pengajian kami yang mengurusnya."ujar Arsyad.


"Iya kak, terima kasih."


"Yang tabah, dengan semua ini, kamu tidak menjadi suami untuk Annisa saja, kamu juga harus menjadi orang tua untuk Annisa."ucap Arsyad.


"Itu pasti kak." Arsyil meninggalkan Arsyad, dia masuk ke dalam kamarnya. Sementara Arsyad masih terdiam, dalam hati kecilnya dia memikirkan Annisa, walau bagaimanapun dulu dia sangat mencintai Nisa, meskipun rasa cinta itu sudah hilang, tapi rasa kasih dan sayang untuk Nisa masih ada dalam hati Arsyad.


"Nisa, semoga kamu bisa melewati semua ini. Kamu harus kuat, Nisa."gumam Arsyad dalam hatinya, dia keluar menuju ruang tengah yang sudah di padati oleh jamaah pengajian yang akan mengirim doa untuk almarhum dan almarhumah orang tua Nisa.


Sementara Arsyik dan Nisa masih di kamarnya, Annisa dari tadi memuntahkan makanan yang Arsyil suapi, baru saja 2 suap, dia langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanan nya. Perutnya ingin sekali makan, tapi mulutnya tidak bisa menerima makanan.


"Syil, mual sekali rasanya, padahal aku ingin sekali makan."keluh Nisa pada Suaminya.

__ADS_1


"Sudah jangan di paksa, duduklah, makan buah ini, semoga bisa masuk ke dalam perut, tidak di muntahan kembali." Arsyil memberikan sepotong buah pir pada Annisa. Dia langsung memakannya, dan menghabiskan satu buah pir yang Arsyil kupas kan tadi.


"Mau lagi?" Arsyil menawarkan buah pada Annisa.


"Iya, aku mau, tapi apel saja sama anggur."pinta Nisa.


"Baiklah, tunggu di sini." Arsyil beranjak keluar dari kamarnya, dia mengambil buah yang Annisa inginkan.


Arsyil kembali ke kamarnya, dia kembali menyuapi buah pada Annisa. Annisa menghabiskannya lagi. Setelah itu dia meminum segelas air putih.


*****


Sudah tujuh hari kepergian orang tua Annisa, Annisa sudah mulai sedikit demi sedikit menerima semuanya, dia sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian orang tuanya. Malam ini malam terakhir pengajian di rumah Annisa.


"Syil, sepi ya, nanti hanya ada kita sampai 40 hari meninggalnya mamah dan papah."ucap Nisa pada suaminya.


"Ada aku, jangan merasa kesepian." Arsyil mengacak rambut istrinya dan mencium kening istrinya. Dia mengajak Annisa keluar dari kamarnya untuk mengikuti pengajian.


Hari demi hari Annisa lalui, dia mencoba melawan badai yang ada di hatinya, dia memulai aktifitasnya kembali, dia sudah kembali mengurus butiknya agar tidak jenuh di rumah sendirian. Arsyil selalu mendampingi istrinya kemampuan dia pergi, dan Arsyil mencoba mengurus perusahaan Alm. Papah Rizal dengan di bantu asisten pribadi Alam. Papah Rizal.


Siang ini Arsyil dan Nisa akan pindah ke rumah Arsyil. Setelah 40 hari orang tua Annisa meninggal, Annisa dan Arsyil mengurus kepindahannya ke rumahnya, dia akan berpindah ke rumah Arsyil. Annisa membereskan semua barang-barang yang akan di bawanya ke rumah barunya. Dia membersihkan rumah orang tuanya terlebih dahulu karena akan di kosongkan, Arsyil menutup semua barang-barang di rumah orang tua Nisa dengan kain tipis berwarna biru muda, agar semua barang tidak terkena debu dan tidak begitu sulit saat nanti akan di bersihkan.


Mereka sudah selesai mengemasi barang-barang nya. Annisa membawa kopernya keluar rumah, begitu juga Arsyil. Arsyil memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil, dia meminjam mobi milik Shita untuk membawa barang-barang nya yang akan di bawa ke rumah Arsyil.


Annisa memandang rumah orang tuanya, dia menghela nafasnya. Dia mengunci pintu rumahnya.


"Yakin kamu mau pindah ke rumah kita?"tanya Arsyil meyakinkan istrinya kembali.


"Iya, Syil. Kita punya hidup yang baru, kita memiliki masa depan bersama, bukankan yang hidup pasti akan mati? Kita juga pasti akan mengalaminya, Syil. Aku ikhlas menerima ini semua."ucap Nisa.


"Ya sudah ayo kita berangkat."ajak Arsyi pada Annisa. Arsyil menggndeng tangan istrinya menuju ke mobil.


Mereka sudah sampai di rmahnya, Arsyil menurunkan semua kopernya dari mobil dan membawanya ke dalam rumah. Annisa masuk ke dalam kamar dan menata semua pakaiannya ke dalam lemari. Arsyil membuatkan teh hangat untuk Annisa, dia meletakan tehnya di atas meja yang ada di dalam kamar dan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang


"Teh hangatnya di minum dulu, sudah nanti aku yang menyelesaikan menata pakaiannya, ayo minumlah mumpung masih hangat." Arsyil mengajak istrinya untuk meminum teh buatannya.


"Aku ingin melon."pinta Nisa.


"Melon? Aku akan membelikannya sebentar."ucap Arsyil.


"Yah lama Syil kalau nunggu beli. Yang ada saja deh."


"Ya sudah sebentar aku ambilkan apel yang tadi di bawa dari rumah kamu." Arsyil mengambilkan buah untuk istrinya di kulkas, dia merasakan akhir-akhir ini istrinya jarang sekali makan nasi, kalau makan nasi pasti di muntahan lagi.


"Apa dia hamil, aku lihat setelah menstruasi kemarin, sampai sekarang ini dia belum menstruasi lagi."gumam Arsyad dalam hati. Arsyil membawakan buah ke dalam kamar, Annisa masih menunggunya, dia terlihat duduk di tepi ranjang. Arsyil memberikan buah dan menyuapi istrinya hingga habis.


Malam hari Annisa menyiapkan makan malam, dia memasak seadanya untuk suaminya, dia menatakan nasi di piring untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri. Annisa mencoba memakan makanannya, belum selesai dia menelan makanannya, dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanan nya.


"Huek…." Annisa memuntahkan semua isi yang ada di perutnya.


"Kenapa setiap kali memakan nasi seperti ini, pasti muntah."gumam Annisa dalam hati. Arsyil menyusul istrinya yang masih di kamar mandi. Dia memijit tengkuk Annisa dan memapah Annisa untuk duduk di kursi makan.


"Minum teh hangat nya." Arsyil memberikan teh hangat untuk Annisa.


"Nis, kamu sudah datang bulan?"tanya Arsyil.


"Bulan ini belum, Syil."jawab Nisa.


"Apa kamu hamil? Dari kemarin aku lihat, kalau kamu makan nasi pasti di muntahkan lagi."ucap Arsyil.


"Apa iya aku hamil?"tanya Nisa pada Arsyil.


"Tunggu di sini, aku akan ambil sesuatu." Arsyil ke kamarnya mengambilkan Testpack yang dia dapat dari kado temannya kemarin.


"Coba di test pakai ini." Arsyil memberikan Testpack pada Nisa.

__ADS_1


"Aku tidak bisa caranya, sayang."


"Nisa sayang, itu kan ada petunjuk pemakaiannya, coba kamu ikuti petunjuk pemakaian nya. Ayo kita ke kamar." Arsyil mengajak istrinya ke kamar, lalu menyuruhnya ke kamar mandi untuk test urine.


Annisa mencoba mencelupkan Testpack ke dalam wadah yang berisi urine nya. Dia menunggu selama kurang lebih 30 detik dan mengangkat testpack nya. Annisa melihat hasilnya, dan dia melihat dua garis merah ada di testpack. Iya, benar dia positif hamil. Dua garis terlihat jelas pada testpack tersebut. Annisa keluar dari kamar mandi, dia berjalan cepat menuju suaminya. Dia memeluk suaminya dan mencium pipi suaminya berkali-kali, Arsyil di buat bingung oleh istrinya yang seperti itu.


"Nisa, bagaimana hasilnya, kenapa kamu seperti ini?"tanya Arsyil.


"Sayang, selamat, kamu akan menjadi ayah." Annisa menunjukan hasil tes urine nya.


"Benar sayang? Aku akan menjadi ayah, dan kamu akan menjadi ibu. Selamat sayang." Arsyil mengangkat tubuh istrinya dan mencium kening,pipi dan bibir istrinya.


"Baik-baik di perut bunda ya anak ayah. Jangan nakal sama bunda, mau makan nasi ya? Kasihan bunda jarang makan nasi." Arsyil berjongkok di depan perut Nisa, dia mengusap perut Nisa dan menciumnya.


"Iya Ayah, adek tidak nakal kok." Annisa membelai kepala suaminya yang masih di depan perutnya.


"Besok pagi kita ke dokter ya sayang, memastikan anak kita sehat tidak dan sudah berusia berapa Minggu."ucap Arsyil


"Iya sayang."ucap Nisa, wajah Nisa seketika berubah menjadi murung, dia mengingat kedua orang tuanya kembali.


"Kamu kenapa, sayang?"tanya Arsyil.


"Aku ingat papah, ingat mamah. Saat seperti ini, mereka tidak melihat dan tidak ada di sampingku."ucapnya.


"Mereka di sana juga bahagia, sayang. Mereka bahagia melihat kita bahagia. Sudah jangan bersedih, kasihan anak kita. Ayo lanjutkan makan malamnya, makan buah saja tidak apa-apa yang penting perut kamu ke isi." Arsyil menenangkan istrinya dan mengajak Annisa untuk kembali ke meja makan.


Keesokan harinya, Arsyil mengantar Annisa ke dokter sebelum berangkat ke kantor, dia langsung mendaftarkan Annisa pada perawat yang menjaga di sebuah klinik bersalin. Tak lama kemudian nama Annisa di panggil oleh seorang perawat, Annisa masuk ke dalam ruang dokter dan dia menunjukan hasil tes urine nya semalam.


"Hasilnya positif ini, Bu. Coba saya periksa lebih lanjut lagi." Dokter memeriksa Annisa secara detail.


"Usia kandungannya sudah 5 Minggu. Janinnya sehat dan berkembang, jaga pola makan nya ya Bu, perbanyak makan sayur dan buah. Saya akan berikan Vitamin dan anti mual untuk ibu." Dokter itu memberikan resep pada Annisa.


"Terima kasih dok."ucap Nisa dan Arsyil.


Arsyil dan Nisa menebus obat di ruang farmasi sebelum pulang, setelah itu, Arsyil mengantar Nisa pulang ke ruang, tapi Annisa tidak mau pulang ke rumah, dia ingin ikut Arsyil ke kantornya. Arsyil menuruti permintaan istrinya. Pagi ini dia ke kantor dengan membawa istrinya. Dia juga mengajarkan Annisa tentang perusahaannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


"Thor kok Arsyil dan Nisa terus yang di bahas?"


"Iya, karena masih mengupas tuntas Arsyil dan Nisa."


"Kapan Almira dan Arsyad atau Vino dan Nisa?"

__ADS_1


"Tenang saja, masih banyak part tentang mereka."


tenang pemirsah....bab selanjutnya akan ada kejutan menarik lagi kok...


__ADS_2