
Arsyad yang mendengarkan cerita Mira dia sangat iba pada Mira. Tak terasa airmata Arsyad ikut menetes.
"Ingin sekali aku memeluknya dan meredakan tangisnya. Mira....begitu banyak luka yang tertoreh di hatimu. Aku janji Mira aku akan menyembuhkan lukamu itu. Aku tak peduli kamu tak suci lagi. Aku akan selalu menjagamu Mira. Aku janji."ucap Arsyad dalam hati.
"Syad. Aku sudah cerita semua tanpa ada yang kurang. Jika kamu masih ingin melanjutkan niatmu mengkhitbahku aku akan menunggu kedatangan keluarga kamu nanti malam. Jika tidak aku akan terima keputusanmu Syad." jelas Mira.
"Aku akan menikahimu Mira. Aku tak peduli sepahit dan seburuk apa masalalumu Mira. Ijinkan aku mengkhitbahmu malam ini."ucap Arsyad.
"Syad, aku tak pantas untukmu. Masih banyak wanita yang lebih baik dari ku Arsyad."ucap Mira dengan suara serak.
"Mira, aku tak akan merubah keputusanku, aku akan tetap ke rumahmu bersama keluargaku nanti malam. Aku tahu ini menyakitkan untukmu, izinkan aku menyembuhkan lukamu yang lama kamu pendam sendiri Mira."jelas Arsyad.
"Syad, carilah wanita yang lain, aku tak pantas untukmu."
"Mira, tolong jangan berkata seperti itu. Aku akan tetap menikahimu Mira. Itu keputusanku. Ayo pulanglah ke rumah abah, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja Mira. Izinkan aku Mira untuk menikahimu." Arsyad kembali meyakinkan Mira. Dan, akhirnya Mira menerima Arsyad untuk mengkhitbahnya nanti malam.
"Aku tunggu kamu di rumah Syad."
"Iya Mira, pulanglah, tunggu aku dengan orang tuaku datang ke rumahmu. Jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja Mira. Terima kasih kamu sudah jujur semua denganku. Aku pamit ke kantor lagi. Jaga dirimu baik-baik Mira. Aku tak mau melihat kamu menangis lagi."jelas Arsyad sambil berlalu pergi meninggalkan rumah Mira.
Mira mengantar Arsyad hingga ke teras rumah nya.
"Hati-hati Syad."ucap Mira yang bejalan di belakang Arsyad.
"Iya Mira, aku balik ke kantor dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Arsyad berjalan ke arah mobilnya, dia juga pamit dengan Pak Afif dulu sebelum pulang. Hati Arsyad sangat sakit mendengar pengakuan Mira. Bukan sakit karena Mira tak suci lagi. Tapi, karena dia merasakan apa yang Mira rasakan.
"Mira, wanita sebaik kamu ternyata memiliki masalalu yang amat menyakitkan, aku janji Mira, akan menjagamu sampai akhir hidupku. Aku akan menggantikan rasa sakitmu dengan kebahagian. Aku janji Mira, aku janji."lirih Arsyad sambil mengemudikan mobilnya menuju ke kantor.
Sesmpainya di kantor Arsyad melihat Arsyil yang baru pulang dari makan siang bersama Nisa. Iya, Nisa mampir ke kantor Arsyad terlebih dahulu. Arsyil terlihat melingkarkan tangannya di lengan Nisa. Mereka terlihat romantis sekali. Arsyad yang melihatnya hanya tersenyum dan menyapanya.
"Kalian dari mana?"tanya Arsyad.
"Habis makan siang kak. Kakak baru pulang?"jawab Arsyil dan bertanya pada kakaknya.
"Iya ini baru saja sampai. Kakak ke dalam dulu ya Syil. Mari Nisa."ucap Arsyad.
Arsyad kembali ke ruangannya, dan duduk di kursi. Dia memegang erat kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Malam ini semua keluarga sudah berkumpul di rumah Rico, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Abah Fajri.
"Sudah tak ada yang tertinggal?"ucap Rico memastikan kembali.
"Sudah siap semua pah."jawab Andini istrinya.
"Ya sudah ayo berangkat. Syad cincin untuk Mira sudah kamu bawa?"tanya Rico pada putranya.
"Sudah pah, ayo berangkat."ajak Arsyad.
Mereka memasuki mobilnya masing-masing, dan berangkat menuju rumah Abah Fajri.
*****
Di rumah Abah Fajri
__ADS_1
Almira masih terlihat gelisah menunggu keluarga Arsyad datang ke rumahnya. Tak ada orang lain yang di undang Abah, hanya Kakak Abah, Pakde Fahmi dan istrinya Budhe Artha.
Ummi Rahma anak semata wayang, jadi dia tak memiliki saudara kandung. Hanya saudara abah yang datang bersama istri dan dua anaknya.
Almira terlihat cemas sekali, terlihat dari sorot matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Mira, kamu baik-baik saja, nak?"tanya Abah.
"Iya bah, Mira baik-baik saja."jawabnya.
"Ponakan Pakdhe yang cantik, jangan khawatir, nak. Pasti akan baik-baik saja."ucap Pakdhe Fahmi.
"Iya pakdhe."jawabnya.
Semua keluarga Mira menunggu kedatangan keluarga Arsyad. Tak lama kemudian, keluarga Arsyad tiba di rumah Mira. Mereka di sambut hangat oleh keluarga Abah Fajri dan mempersilahkan duduk di tempat yang telah di sediakan. Acaranya sangat sederhana, hanya di hadiri keluarga saja. Almira duduk di tengah-tengah abah dan ummi nya. Arsyad pun duduk di tengah-tengah orang tuanya. Abah Fajri membuka acaranya.
"Bagaimana Arsyad, apa kamu benar-benar ingin mengkhitbah anak saya satu-satunya ini yaitu Almira dan akan menikahinya dengan menerima segala kekurangan yang Almira miliki?"tanya Abah Fajri
"Abah, saya akan menerima Mira apa adanya, apapun keadaan Mira dan apapun kekurangan Mira."jawabnya.
"Baiklah, silahkan abah serahkan pada Almira, apa dia siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga denganmu."
"Iya Abah."ucapnya.
"Bismillahirrohmanirrohim..Almira Binti Fajri, bersediakah engkau menjadi istriku?"ucap Arsyad dengan lancar kepada Mira di hadapan keluarga mereka berdua.
"Bismillahirrohmanirrohim...saya bersedia Arsyad."jawab Mira.
"Alhamdulillah."ucap mereka bersama dengan bahagia.
Andini memasangkan cincin di jari manis Mira dan mencium kening Mira.
"Selamat sayang, terima kasih sudah menerima anak ibu."
"Iya ibu sama-sama" Almira memeluk erat Andini.
"Mohon maaf semuanya, kalau boleh, Arsyad ingin menikah dengan Mira dua minggu lagi. Masih bisa kan menyiapkan berkas-berkas untuk menikah mulai dari besok?" Arsyad meminta mempercepat pernikahannya yang membuat semua keluarga tercengang.
"Bisa Arsyad. Memang lebih cepat lebih baik, jangan menunda waktu. Iya kan Mas Fahmi."tanya Abah Fajri pada kakaknya.
"Iya benar kata Abah. Almira apa kamu siap?"tanya Pakdhe Fahmi.
"Almira siap pakhde."jawabnya.
"Kalau kamu siap, bukalah cadarmu, nak. Arsyad calon suamimu berhak melihat wajahmu." Pakde Fahmi menyuruh Almira membuka Cadarnya agar Arsyad dan keluarganya tahu.
"Tapi pakdhe."
"Mira, dia calon suami mu dan keluarga baru mu nanti. Mereka berhak melihat wajahmu, nak."
"Iya Pakdhe baiklah. Almira menurut dengan pakdhe."
Almira perlahan membuka cadarnya dan memperlihatkan wajah ayunya yang natural tanpa make up.
"Subhanallah.....benarkah dia calo istriku Ya Allah, begitu indahnya wanita yang akan menjadi istriku ini."gumam Arsyad dalam hati.
Dia masih memandang Almira hingga Almira menutup lagi cadarnya.
__ADS_1
"Astagfirullah...."ucap Arsyad dalam hatinya karena menatap wajah Almira terlalu dalam.
Semua keluarga Arsyad terpukau dengan ayunya wajah Mira yang alami.
"Kak Mira cantik sekali."gumam Annisa dalam hati. Semua memuji kecantikan Almira dalam hatinya. Acara pun selesai, akhirnya mereka telah menetukan tanggal pernikahan Almira dan Arsyad. Iya, pernikahannya akan di lakukan dua minggu lagi. Semua keluarga Rico menikmati jamuan yang sudah di siapkan oleh keluarga Pak Fajri. Mereka semua terlihat bahagia sekali, Arsyad pun sangat bahagia sekali karena Almira menerimanya. Dia mengambilkan makanan untuk Almira dan mengajaknya makan bersama.
"Wah....Calon pengantin makannya dua piring."ledek Ray pada Arsyad yang melihat Arsyad membawa dua piring nasi dan lauknya.
"Ini buat calon istriku."ucapnya
dengan tersenyum bahagia.
Semua yang melihat juga sangat bahagia terlebih orang tua mereka. Arsyad berjalan ke arah Almira yang sedang berbincang dengan Shita dan Annisa.
"Mira, ayo makan dulu, ini sudah aku ambilkan."ucap Arsyad yang tiba-tiba sudah ada di belakang Mira.
"Terima kasih Syad." Mira menerima makanan yang di bawakan Arsyad.
"Ehemmmm....aku gak mau ganggu orang yang sedang bahagia ah...ayo Nis kita makan saja."ajak Shita.
Nisa hanya tersenyum dan berjalan di belakang Shita
"Syad, kamu serius akan menikahiku dua minggu lagi?"tanya Mira.
"Iya serius Mira. Aku tak bisa menunggu lama-lama. Aku takut kamu berubah fikiran dan pergi meninggalkan aku."jawabnya.
"Kamu bisa saja Syad."
"Ya barangkali saja kamu seperti itu. Besok kita cari gaun pengantin untuk kamu ya?"ajak Arsyad.
"Besok?" Mira bertanya meyakinkan Arsyad.
"Iya besok Mira, masa tahun depan."jawabnya.
"Ya sudah besok kita cari di butik Nisa bagaimana?"
"Boleh."jawab Arsyad singkat sambil tersenyum.
Setelah menikmati jamuan dari keluarga Abah Fajri dan mengobrol cukup lama, akhirnya Keluarga Arsyad pamit untuk pulang karena sudah terlalu malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥
__ADS_1