THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 95 "Naira & Kiara" The Best Brother


__ADS_3

Kandungan Rania mulai membesar, dan tinggal menunggu masa-masa kelahiran sang buah hati tercinta. Dio selalu siaga menemani istrinya. Dia juga memutuskan untuk bekerja dari rumah, karena takut jika istrinya tiba-tiba akan melahirkan. Meskipun ada Arsyad dan Annisa yang selalu menemani Rania, Dio tidak mau sedetikpun meninggalkan Rania.


Rania akhir-akhir ini merasakan aneh pada kandungannya. Sudah satu minggu ini dia jarang merasakan gerakan sang buah hati yang masih ada dalam perutnya. Hanya merasakan sebentar, dan itu pun jarang.


“Sayang, HPL ku sebentar lagi, aku merasa aneh dengan bayiku, kok jarang bergerak, ya? Aku merasakan sudah hampir seminggu ini,” ucap Rania pada Dio yang sedang sibuk dengan laptopnya.


“Kenapa kamu tidak bilang, sayang? Kita harus ke dokter sekarang,” ucap Dio yang langsung mematikan laptopnya.


“Sekarang?” tanya Rania.


“Iya lah sekarang. Ayo kamu siap-siap,” jawab Dio sambil mengajak Rania bersiap-siap.


“Iya, aku siap-siap.” Rania berganti baju,dan Dio menata baju-baju Rania ke dalam tas. Menyiapkan barangkali Rania akan melahirkan sekarang.


“Ayo sayang, kamu sudah siap?” tanya Dio.


“Sudah, kok kamu bawa tas pakaian?” tanya Rania.


“Sudah ayo berangkat, kita jaga-jaga saja,” jawab Dio.


Dio sedikit was-was istrinya berbicara seperti itu. Dia sangat khawatir ada apa-apa dengan bayi yang di kandung Rania.


“Dari tadi bayi kita bergerak tidak?” tanya Dio dengan cemas.


“Tadi gerak tapi tidak seperti pas kemarin-kemarin, seminggu yang lalu aktif sekali, sayang,” jawab Rania.


Entah kenapa Dio merasa sangat khawatir sekali dengan kandungan Rania. Dia juga tidak mengerti, tidak seperti biasanya dia merasakan sangat khawatir dan sepanik ini.


“Kamu merasakan apa dari kemarin?” tanya Dio lagi.


“Tidak merasakan apa-apa. Paling kemarin kan gatal-gatal di perut saja dan di sekujur tubuhku juga. Kata bunda hal seperti ini sudah biasa di alami ibu hamil yang usianya sudah memasuki bulan ke 7 samapi 9, itu saja sih yang aku rasakan,” jawab Rania.


“Sayang, kamu sepertinya panik sekali?” ucap Rania.


“Bagaimana aku tidak panik, kamu bilang seperti itu. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita, sayang,” ucap Dio.


“Jangan khawatir semua akan baik-baik saja,” ucap Rania yang berusaha menenangkan suaminya.


Rania sebenarnya merasakan hal yang sama seperti suaminya. Bahkan dia lebih khawatir, tapi dia berusaha tenang, dan berdoa, semoga bayi yang di dalam kandungannya tidak terjadi apa-apa.


^^


Dio dan Rania menemui dokter Bianka, beruntung Dokter Bianka masih berada di rumah sakit. Rania dengan segera melakukan konsultasi pada Dokter Bianka. Dokter Bianka memeriksa kandungan Rania, dan melakukan USG.


“Sudah berapa lama Bu Rania merasakan hal seperti ini?” tanya Dokter Bianka.


“Hampir satu minggu ini, Dok,” jawab Rania.


“Silakan duduk, Pak, Bu.” Dokter Bianka sepertinya akan mengatakan sesuatu yang sangat serius. Terlihat dari raut wajah Dokter Bianka, kalau kandungan Rania tidak baik-baik saja.


“Ibu merasakan gejala apa sebelum merasakan tidak ada pergerakan janin di kandungan ibu? Semisal mual, atau gatal di sekitar perut dan bagian tibuh lainnya, dan muncul ruam di sekitar perut atau di daerah lainnya?” tanya Dokter Bianka.


“Tidak mual dan tidak ada ruam, Dok. Hanya, saya merasakan gatal di perut yang amat sangat gatal, dan di sekujur tubuhku. Memang dari usia 28 minggu saya sudah merasakan gatal di bagian perut, tapi gatal biasa, tidak seperti kemarin,” jawab Rania.


“Mohon maaf, saya harus menjelaskan ini, gatal yang di rasakan Ibu Rania adalah Gejala ICP (Intrahepatic Cholestasis of Pregnancy ) yakni, kelainan hati yang berpotensi serius selama kehamilan. Dalam kondisi ini, asam empedu tidak mengalir dengan baik dan terbentuk di tubuh ibu hamil. ICP menghambat aliran asam empedu yang merupakan racun bagi janin dari organ hati ke hati serta usus,” jelas Dokter Bianka.


“Lalu bayiku?” tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.


“Mohon maaf, Bu. Salah satu bayi kembar ibu, sudah meninggal karena serangan jantung. Hal itu terjadi karena ia terkena racun secara tidak sengaja oleh tingkat keasaman tinggi yang ada di tubuh ibu, dan itu di sebabkam karena ICP tadi yang saya jelaskan,” jawab Dokter Bianka.


Rania menangis memeluk suaminya. Harapannya pudar untuk memiliki anak kembar, kini salah satu janinnya sudah meninggal karena keteledoran dirinya yang mungkin kurang mematuhunpola hidup sehat.


“Anakku, Dio..” tangis Rania semakin pecah di pelukan suaminya.


“Ibu, Bu Rania yang tenang, tolong jangan seperti ini. Kita harus melakukan tindakan secara langsung, untuk menyelamatkan Janin yang satunya,” ucap Dokter Bianka.


“Lalu bagaimana, Dok?” tanya Dio dengan memeluk istrinya.

__ADS_1


“Kami harus segera melakukan tindakan Operasi Caesar. Bisa untuk normal, tapi kemungkinan besar bisa lama proses induksinya. Jadi, saya sarankan untuk melakukan Operasi Ceasar. Karena bayi satunya sudah sedikit lemah,” jelas Dokter.


“Lakukan yang terbaik untuk anakku, Dok. Aku rela menukar nyawaku untuk bayiku,” ucap Rania dengan berlinang air mata.


“Sayang, jangan bicara seperti itu, anak kita pasti baik-baik. Ikhlaskan yang sudah tidak ada, kamu harus kuat, oke,” ucap Dio dengan mencium Rania.


Dio memeluk istrinya. Memberikan ketenangan pada istrinya yang sedang meratapi rasa kehilangan.


“Maafkan aku, Dio, aku tidak bisa menjaga anak kita,” ucap Rania.


“Sudah jangan berpikiran yang macam-macam. Ini sudah kehendaknya,” jawab Dio.


^^


Rania sudah di bawa ke ruang operasi. Rasa khawatir dan kepanikan Dio semakin bertambah. Dia ingin sekali melihat Rania baik-baik saja, jika memang tidak bisa di selamatkan semua bayi yang ada di perut Rania, bagi Dio yang terutama Rania selamat. Namun, Dio masih sangat berharap buah hatinya selamat, meski hanya satu yang bisa selamat.


Dio duduk di lantai di depan ruang operasi dengan bersandarkan dinding. Mulut dio tidak berhenti merapal Doa, hingga dia lupa tidak memberitahukan keluarganya kalau Rania akan menjalani Operasi Caesar.


Ponsel Dio berdering, dia mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya. Dio mengangkat panggilan dari Abahnya.


“Hallo, Nak. Kamu di mana? Kok rumahmu sepi?” tanya Arsyad.


“Dio di rumah sakit, Abah,” jawabnya dengan suara parau.


“Di rumah sakit?”


“Iya, Rania akan melahirkan,” jawabnya.


Dio menaruh ponselnya di saku celananya lagi setelah selesai menerima telepon dari abahnya. Dio masih duduk terdiam dengan lagi-lagi menyeka air matanya. Hal bahagia yang ia rasakan kemarin akan memiliki anak kembar, kini sudah musnah. Hanya Rasa takut yang menyelimuti dia sekarang. Istrinya sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam ruang operasi.  Ya, Rania sedang berjuang untuk satu bayinya yang masih bisa di selamatkan.


Arsyad, Annisa, dan Rico datang ke rumah sakit. Dia terkejut saat tahu Rania berada di ruang Operasi. Arsyad dari kemarin melihat Rania baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia berada di ruang operasi.


“Dio....” Annisa mendekati anaknya yang sedang kalut dengan mata yang sembab.


“Doakan Rania, Bun.” Hanya itu saja kata yang terucap dari mulut Dio. Lalu dia terdiam dan menunduk lagi.


“Kenapa Rania harus menjalani operasi, Dio?” tanya Annisa.


“Rania dan bayinya kenapa, nak?” tanya Annisa, dia juga ikut menangis dan memeluk putranya yang sedang kalut itu.


“Bayi Rania tidak bisa di selamatkan satu bunda. Sudah meninggal di dalam kandungan, sejak seminggu yang lalu. Dan, bayi yang satu kedaannya juga lemah, jadi Rania harus menjalani operasi Caesar,” jawab Dio.


Dio menjelaskan apa yang terjadi pada Rania. Annisa tidak menyangka akan terjadi ini pada menantunya. Annisa duduk di samping Dio, tak peduli ia duduk di lantai kotor atau bersih. Annia tahu bagaimana rasanya kehilangan bayi. Yang masih berbentuk gumpalan darah saja membuat menyesal, apalagi ini sudah menjadi bayi.


“Ya Allah, selamatkan menantuku, jika Engkau berkehendak, selamatkan juga cucuku yang satunya,” gumam Annisa dengan memeluk Dio.


Rico melihat Dio kali ini benar-benar rapuh. Dia tahu rasanya menunggu di depan ruang Operasi saat istrinya akan melahirkan. Dia ingat dulu saat Andini berjuang untuk melahirkan Arsyad.


Lampu indikator ruang operasi sudah padam, itu menandakan proses operasi selesai. Para tim medis keluar. Dio langsung mendekati Dokter yang menangani Rania.


“Dok bagaimana istri saya?” tanya Dio.


“Operasi berjalan dengan lancar, Ibu Rania belum sadarkan diri. Tapi, maaf, salah satu bayi ibu Rania benar-benar sudah meninggal. Dan, satu bayinya lagi sedang menjalani perawatan, karena keadaannya sangat lemah,” jawab Dokter tersebut.


“Terima kasih, Dok.”


“Jenazah Bayi Bu Rania dan Bapak sudah selesai di mandikan suster, silakan jika bapak ingin melihatnya.”


Dio dan lainnya mengikuti Dokter untuk melihat Bayinya yang tidak bisa dio selamatkan. Dio masuk ke dalam ruang pemulasaraan bersama Annisa, Rico, dan Arsyad. Bayi mungil yang sudah tidak bernyawa tertutup kain putih. Dio membukanya dan mencium bayi perempuan yang sungguh cantik sekali seperti Rania.


“Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Allah sayang kamu, Nak. Ayah ikhlas. Kamu tabungan ayah dan ibu di surga. Ayah akan menyayangi saudara kembarmu. Biarlah dia menemani hari-hari ibu dan ayah di sini. Kamu sudah tenang, surga adalah tempatmu, sayang. Ayah ikhlas.” Dio mencium anaknya yang sudah tertidur pulas dan tenang.


Rasanya dunianya runtuh, harapan memiliki anak kembar sudah musnah. Tapi, dia masih memiliki satu anak lagi, yang sedang dalam masa perawatan.


Dio mengadzani dan mengiqomahi anaknya yang sudah meninggal. Dengan tegar dia mencoba kuat menghadapi semua ini.


“Naira. Ya, nama yang cantik untuk kamu, Nak. Seperti rupamu yang cantik, kamu bidadari surga ibu dan ayah. Ayah sayang kamu,” ucap Dio di telinga kanan Naira. Bayi yang sudah tidak bernyawa itu.

__ADS_1


Semua tidak bisa menahan tangisnya melihat Dio yang mencoba tegar menghadapi semua ini. Rico memeluk cucunya yang sedang lemah itu. Dia tahu bahgaimana yang Dio rasakan saat ini.


“Ikhlaskan, Nak.”


“Iya, Opa.”


“Sudah, kamu yang sabar. Masih ada Rania dan satu bayimu yang harus kamu jaga,” ucap Arsayd.


“Iya abah.”


“Biar kami yang mengurus pemakaman Naira. Kamu temani Rania dan Bayimu yang masih dalam masa perawatan,”


“Iya, Dio akan di sini. Menemani Rania, dan Kiara.” Dio memberikan nama bayinya yang masih bisa bertahan dengan nama Kiara.


Arsyad mengabari Raffi dan lainnya untuk mempersiapkan pemakaman Naira. Semua yang di rumah tidak menyangka kalau anak Rania tidak bisa di selamatkan.


Rania sudah di pindahkan ke ruang perawatan, tapi dia belum juga sadar. Dio hanya di temani oleh Akmal yang hari ini baru saja pulang dari rumah sakit. Dia sekalian ingin melihat kondisi Rania.


“Bagaimana Rania, Dio?” tanya Akmal.


“Dia belum sadar,” jawab Dio dengan menatap istrinya yang masih memejamkan matanya.


“Aku turut berduka cita. Semoga Rania bisa tabah menghadapi ini semua. Aku sudah memeriksa Kiara. Dia baik-baik saja, dia bayi yang kuat, sama seperti ibunya. Tapi, Kiara masih berada di inkubator,” ucap Akmal.


“Kamu sudah melihat Kiara?” tanya Dio.


“Ya, aku kenal dengan Dokter anak di sini, jadi aku ingin memastikan kondisi keponakanku sendiri bagaimana,” ucap Akmal.


“Aku akan memberikan perawatan yang terbaik untuk keponakanku. Aku sendiri yang akan menangani,” imbuh Akmal.


“Terima kasih,” ucap Dio.


Rania menegerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang ada di ruangnnya. Dia memanggil suaminya dengan suara lirih nyaris tak terdengar.


“Dio....”


“Kamu sudah sadar, sayang?” Dio mendekati Rania. Dan, Akmal langsung memanggil Dokter yang menangani Rania.


“Bagaimana anak kita?” tanya Rania.


“Kamu yang tenang dulu, ya? Biar Dokter memeriksamu dulu, sayang,” awab Dio.


Kondisi Rania baik, hanya belum begitu stabil. Emosinya juga bisa terkontrol, karena dia sudah tahu, jika bayinya kemungkinan besar tidak bisa selamat semua.


“Bagaimana anak kita, Dio?” tanya Rania seusai dokter memeriksanya.


“Anak kita selamat, dan satunya, dia sudah di bawa pulang abah, bunda, dan oap untuk di makamkan. Kamu yang sabar ya, sayang.”


“Maafkan aku, Dio. Aku tidak bisa menjaga anak kita.”


“Jangan seperti itu. ini sudah kehendaknya. Yang penting, Kiara anak kita satunya, kembaran Naira, dia selamat, dia sehat. Tapi, dia masih dalam perawatan, dan di dalam inkubator. Nanti besok baru kita bisa melihatnya.” Dio mencoba tersenyum walaupun getir yang ia rasakan, tapi dia harus tetap kuat di depan istrinya.


Beruntung Kiara bisa diselamatkan. Rania masih bisa lega, walaupun pupus harapannya memiliki bayi kembar.


^^^


Sudah satu minggu Rania berada di rumah sakit. Hari ini dia sudah di perbolehkan pulang. Kiara juga sudah tampak sehat. Rania dan Dio bersyukur, meski Naira tidak bisa di selamatkan, setidaknya ada Kiara yang menjadi pelipur laranya kehilangan Naira.


“Ibu akan selalu menjagamu, nak. Jadilah wanita yang hebat. Ibu sayang kamu.” Rania mencium pipi Kiara.


“Ayo, hari ini Kiara akan pulang ke rumah. Jangan rewel ya, sayang. Kiara harus sehat. Harus bisa jadi anak yang hebat. Sini gendong ayah, kasihan ibu, perutnya masih sakit.” Dio mengambil Kiara dari pangkuan Rania.


Betapa bahagianya mereka, meski Tuhan berkehendak lain, Naira harus pergi untuk selama-lamanya. Namun, Dio dan Rania masih bersyukur, karena dia masih bisa menimang Kiara.


Annisa dan Arsyad datang untuk menjemput Rania pulang dari rumah sakit. Dia langsung mengambil Kiara dari gendongan Dio.


“Yah, oma. Kan Kiara baru iku ayah, masa diambil gitu aja,” ucap Dio.

__ADS_1


“Kan oma pengen gendong juga, sayang. Ayo kita pulang. Oma sudah siapkan semua untuk Kiara di rumah.”


Annisa menggendong cucunya. Rania duduk di kursi roda dan di dorong oleh suster. Arsyad dan Dio membawa perlengkapan Rania, dan berjalan di samping Annisa yang sedang menggendong bayi mungil Dio dan Rania.


__ADS_2