
Di rumah sakit, seseorang pria terus memandangi wanita yang begitu dicintainya, wanita yang menjadi bagian dari hidupnya, walau dia tak pernah mendapatkan hati serta cinta dari wanita tersebut, dia tidak menyerah, kesabaran yang sudah membuahkan hasil kini kandas, karena wanita tersebut harus terbaring di ruang ICU karena koma selama 2 bulan.
Reno, suami Naila yang sudah sabar merawat Naila sakit selama berbulan-bulan, dia tau kalau wanita itu tak mencintainya, iya, Naila hanya mencintai satu pria, yaitu Arsyad. Tapi, Reno tak kan pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Naila, hingga suatu hari, Naila bisa mencintai Reno dengan tulus, mereka hidup bahagia sebelum Naila di vonis kanker otak. Naila mengalami koma selama 2 bulan. Kebahagiaan yang hanya kurang lebih 2 Minggu Reno dapatkan saat hidup bersama Naila, kini berubah menjadi cobaan yang amat menyesakan dada.
Reno selalu setia menemani istri tercintanya, dia tau, Naila masih menyimpan cinta untuk Arsyad. Hingga suatu hari, saat mengemasi lemari pakaian Naila, dia menemukan buku harian Naila, semua curahan hatinya Naila tulis dalam buku harian itu. Reno membaca lembar demi lembar buku harian istrinya. Sungguh menyesakan dada saat membacanya, cinta yang tak terbalas bertahun-tahun yang membuat dia menutup hati untuk semua pria. Hingga suatu hari, dia di paksa orang tuanya untuk menikah dengan Reno, anak dari sahabat ayah Naila.
Mungkin bagi Reno, Naila adalah sosok wanita yang setia, mencintai hanya satu pria dalam hidupnya. Walaupun Naila mengungkapkan rasa cinta nya untuk Reno, tapi bagi Reno cinta Naila tetap untuk Arsyad.
"Nai, bangunlah, mau sampai kapan kamu seperti ini? Bangunlah, Nai, jika kamu bangun, aku janji, aku akan mempertemukan mu dengan Arsyad. Jika aku bisa meminta Arsyad untuk menikahimu, aku rela melepasmu, Nai. Please….jangan seperti ini, bangun, sayang." Reno berkata lirih di telinga istrinya. Tatapan mata Reno sangat sendu, tersirat kepedihan dalam tatapan Reno
"Aku harus bisa menemui Arsyad, ini jalan satu-satunya agar Naila sembuh, dan jika memang tidak bisa di sembuhkan, biarkan di sisa akhir hidupnya dia di temani Arsyad. Aku ikhlas."gumam Reno dalam hati.
Reno tak peduli, walau Arsyad sudah menikah, asalkan Naila bisa sembuh, Reno menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Arsyad. Dia ingin sekali mempertemukan Arsyad dengan Naila, hanya itu, cara agar Naila terbangun dari komanya.
********
Perut Almira sudah mulai membuncit, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-5. Hari semuanya berkumpul di rumah Rico, seperti biasa kalau weekend mereka menghabiskan waktu di rumah Rico. Rasa hangat menyelimuti keluarga Rico. Andini semakin perhatian dengan dua menantunya yang sedang hamil, apalagi dengan Annisa, semenjak hamil dia sama sekali tidak makan nasi, setiap kali makan nasi, pasti langsung mual. Dia hanya memakan buah dan sayuran saja, kadang dia memaksa makan roti dan meminum susu hamil. Shita yang melihat Ibunya perhatian sekali dengan saudara iparnya, kadang dia merasa cemburu. Iya, Shita belum juga hamil hingga sekarang.
"Ibu…." Shita bergelayut manja dengan ibunya yang sedang mengupaskan apel untuk Annisa.
"Iya, sayang."sautnya.
"Bu, kalau Shita hamil, ibu juga akan perhatian dengan Shita kan? Seperti ibu perhatian sekali dengan Nisa dan Kak Mira."ucap Shita dengan memeluk ibunya dari samping.
"Sayang, kok bilang seperti itu? Kamu tidak hamil pun ibu akan selalu memperhatikan mu, Shita. Jangan seperti itu, ibu bertemu dengan Nisa dan Mira kan satu Minggu sekali."ucap Andini.
"Bu, Shita kapan hamil ya? Sampai sekarang Shita belum juga hamil."ucap Shita yang menyiratkan kesedihannya.
"Sabar sayang, pasti kamu hamil kok. Jangan terlalu di pikirkan, nanti kamu setetes sendiri."ujar Andini.
"Shita, kami pasti sebentar hamil, jangan menyerah, berdo'a dan selalu berdo'a pasti Allah akan memudahkan semuanya. Percayalah. Jangan bersedih, sini pegang keponakanmu di perut kakak. Semoga menular di perutmu." Almira menyuruh Shita duduk di sampingnya dan menuntun tangannya untuk memegang perut Mira.
"Keponakan Tante, sehat-sehat ya sayang, di perut Ummi."ucap Shita sambil mengusap lembut perut Mira
"Dan ini, keponakan Budhe, emmm apa Bibi ya? Budhe saja ya, baik-baik di perut bundamu, nak. Jangan nakal ya." Shita bergantian mengusap perut Annisa. Andini yang melihat Shita yang sangat menginginkan anak, dia merasa sedih, dia takut jika kejadian dalam hidupnya terulang pada Anaknya.
"Iya Tante, Tante juga, semoga cepet ada dedeknya di perut Tante, biar kita bisa bermain bersama."ucap Mira dengan nada seperti anak kecil. Andini sangat bahagia, anak dan menantunya sangat akrab dan saling menyayangi.
Rico dan dua anak lelakinya juga Vino, mereka sedang berkumpul di teras belakang, seperti biasa saat berkumpul, mereka membicarakan soal perusahaannya. Rico melihat Arsyad anak sulungnya tidak seperti biasanya. Dia sangat gelisah tidak seperti biasanya.
"Vin, kamu tau Naila kan?"tanya Arsyad.
"Sudah lah, Syad. Jangan bahas Naila lagi."saut Papah Rico.
"Pah, Almira masih mencari di mana Naila sekarang, aku takut pah, jika Mira bertemu dengan Naila, pasti dia akan menyalahkan dirinya lagi."ucap Arsyad.
"Iya tau, Syad. Kenapa Naila?"tanya Vino.
"Dia sudah ikut suaminya, tapi tidak tau di mana, dan Almira ingin sekali menemuinya, dia menyuruh Pak Afif dan lainnya untuk mencari keberadaan Naila." jelas Arsyad.
"Kenapa Almira ingin sekali menemuinya?"tanya Vino lagi.
"Dia, merasa bersalah sekali dengan Naila, kamu tau kan Naila dulu bagaimana dengan aku?"
"Iya, Naila sangat mencintaimu, aku kan sering baca surat mu dari Naila."
"Ya karena itu, Naila menikah pun tidak mencintai suaminya, tidak tau sekarang."ucap Arsyad, sebenarnya dia takut sekali, jika Mira bertemu dengan Naila, dia menyuruhnya menikah dengan Naila.
"Aku takut Vin, takut sekali, kamu tau kan Istri ku seperti apa? Aku takut dia menyuruhku menikah lagi, jika tau keadaan Naila seperti apa."imbuh Arsyad.
__ADS_1
"Almira tidak seperti itu, percayalah pada papah.saut Rico.
Arsyad hanya terdiam, dia sangat resah, setiap kali bersama istrinya, yang di bahas adalah Naila. Almira selalu saja menanyakan Arsyad sudah menemukan keberadaan Naila atau belum. Semala dua bulan, sebenarnya Arsyad tidak mencari keberadaan Naila, Arsyad mengira Almira sudah lupa, tapi ternyata Almira menyalakannya kembali.
Arsyad mencoba melupakan apa yang Mira inginkan, dia hanya terdiam kalau istrinya bertanya tentang Naila lagi
******
Pagi hari di rumah Almira, Arsyad sudah bersiap pergi ke kantornya, Almira mengantarkan suaminya ke depan rumah, saat mereka di depan rumah, seorang laki-laki datang ke rumahnya, dan bertanya pada Arsyad kalau dia mencari seseorang yang bernama Arsyad Alfarizi.
Arsyad langsung mempersilahkan masuk laki-laki tersebut, Almira juga membuatkan secangkir teh untuk tamunya tersebut yang datang di pagi hari.
Laki-laki itu memperkenalkan diri pada Arsyad dan Almira. Lalu menceritakan maksud kedatangan nya pada Arsyad dan Almira. Iya, Reno datang sendiri menemui Arsyad dan Almira, setelah dia mengetahui alamat Arsyad yang di beritahukan orang kepercayaannya.
"Mohon maaf sebelumnya, kalian mengenal Naila?"tanya laki-laki tersebut yang membuat Almira melebarkan matanya.
"Iya, Naila sahabatku, di mana dia sekarang, pak?"ucap Mira.
"Datanglah ke rumah sakit S yang berada di kota Y. Kalian akan tau bagaimana istriku sekarang."ucap Reno.
"Suami?"tanya Mira dengan tidak percaya.
"Iya saya suami Naila. Anda tau, nyonya Almira, karena memendam rasa cinta pada suamimu, Naila menjadi seperti ini. Apalagi setelah dia tau, sahabat karibnya lah yang menikah dengan Arsyad."ucap Reno penuh dengan penekanan.
"Kenapa anda bawa-bawa kami? Semua manusia memiliki perasaan. Iya, perasaan cinta yang amat dalam, tapi tergantung bagaimana orang itu menyikapinya, jika hanya karena sebuah perasaan yang di miliki Naila terhadapku menjadi bencana besar pada keluarga kalian, itu bukan salahku. Itu salah orang tersebut yang tidak bisa mengontrol perasaan nya. Bukankah seperti itu, tuan Reno yang terhormat."balas Arsyad dengan penuh penekanan juga.
"Iya benar kata Anda, tuan Arsyad. Aku hanya mau kalian melihat keadaan istriku sekarang, sempatkanlah menjenguknya, aku tidak kuat melihat dia yang seperti saat ini. Mungkin jika mendengar kalian berbicara dia mau membuka matanya dan bangun dari komanya yang sudah dua bulan lebih."jelas Reno.
"Naila koma?" Almira bertanya dan menangis, mendengar sahabat nya mengalami koma selama dua bulan.
"Iya, dia koma, dia di vonis Dokter mengindap kanker otak, keadaannya semakin buruk, dan menyebabkan koma, seperti sekarang ini. Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Jalan satu-satunya mempertemukan Naila dengan, eemm maaf Nyonya Almira, satu-satunya cara mempertemukan Naila dengan Arsyad."ucap Reno
"Aku mohon maaf, dan aku mohon bantuan kalian, jenguklah dia, ajaklah dia bicara, aku hanya ingin melihat dia sadar dari komanya, jika Allah berkehendak lain, aku ikhlas. Tolonglah istriku, dia membutuhkan kalian." Reno memohon pada Arsyad dan Almira.
"Sayang, kamu sedang hamil, itu jauh sekali sayang, dan pastinya tidak cukup waktu sehari."ucap Arsyad.
"Kita bisa menyewa hotel di sana untuk beberapa hari. Aku ingin bertemu Naila, tidak atau dengan mas, aku akan tetap pergi ke sana."ucap Mira.
"Sayang, kita pikirkan lagi. Terima kasih, Pak Reno sudah mau datang dan memberitahukan keadaan Naila. Insya Allah kita akan ke sana menjenguk istri Pak Reno."ucap Arsyad hanya untuk sekedar memberi rasa tenang pada Istrinya. Padahal dalam hati kecil Arsyad, dia tak mau menemui Naila. Tidak dan tidak pernah mau bertemu dengannya.
"Besok kita akan ke sana, berikan alamatnya rumah sakitnya saja, Pak Reno."imbuh Arsyad.
Reno memberikan alamat rumah sakit di mana Naila di rawat, dia langsung berpamitan pulang karena Naila hanya di jaga oleh perawat di rumah sakit.
Arsyad masih terdiam di kursi tamu setelah Reno meninggalkan rumahnya. Dia tidak menyangka masalahnya akan menjadi sekeruh ini. Arsyad sebenarnya tidak ingin sekali bertemu Naila, namun Almira memaksanya untuk menjenguk Naila.
"Aku tidak mau, Almira diliputi rasa bersalah lagi, aku tau dalam hati istriku, dia merasa bersalah menikah denganku dan membuat sahabatnya menjadi seperti itu."gumam Arsyad.
Almira hanya terdiam, duduk di samping suaminya, dia membuka cadarnya, tatapan matanya menatap kesegala arah dengan tatapan kosong penuh penyesalan. Dia masih memikirkan keadaan sahabatnya yang tadi baru saja di ceritakan suami Naila. Almira semakin merasa bersalah dengan Naila, dia sudah membuat sahabatnya menjadi seperti ini. Almira tak sadar air matanya keluar dari mata indahnya, dia sesekali menyeka air matanya yang sudah lepas dari sudut matanya.
"Nai, andai saja waktu bisa di putar kembali, aku memilih tidak untuk menikah dengan Arsyad. Kenapa kamu seperti itu, Nai. Aku mengkhawatirkan mu, Naila, jika kamu belum bersuami, aku rela membagi suamiku untukmu, asal kamu sembuh dari sakitmu."gumam Almira.
Arsyad yang melihat istrinya menangis, dia memeluk Almira dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Mas."panggil Almira lirih.
"Iya, sayang."sautnya.
"Mas, andai saja waktu itu aku tau laki-laki yang Naila cintai itu kamu, aku tidak akan menikah denganmu."ucap Mira lirih
__ADS_1
"Sayang, kenapa bicara seperti itu, jangan bicara seperti itu lagi. Lagiyan kalaupun aku tak menikah denganmu aku juga tidak mau menikah dengan Naila."ucap Arsyad.
"Mas, kalau dia belum bersuami apa kamu mau menik….."ucapan Mira terhenti saat jari telunjuk Arsyad memegang bibirnya.
"Ssstt…jangan bicara seperti itu, please…aku tidak mau menikah lagi, walaupun nantinya kamu terlebih dulu di panggil Tuhan, aku tidak akan menikah lagi. Itu janjiku. Jangan bicara seperti itu lagi. Aku mohon, sayang. Ini sudah garis Tuhan, Naila harus seperti itu." Arsyad menyeka air mata istrinya dan mencium kelopak matanya.
"Jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja, iya besok pagi kita berangkat menjenguk Naila, pesan hotel sekarang saja yang dekat dengan rumah sakit. Kamu juga harus banyak istirahat, sayang. Ingat ada anak kita di dalam kandungan mu." Arsyad mencoba menenangkan istrinya, dia memeluk Almira dengan erat. Dia sangat mencintai istrinya melebihi apapun.
"Aku tidak mau, Mira. Kamu wanita satu-satunya untuk ku, tidak ada yang lain yang bisa menggantikan kamu di hidupku. Bahkan saat Tuhan harus memisahkan kita, dan mengambil kamu terlebih dahulu, aku tak akan mencari wanita lagi."gumam Arsyad sambil memeluk erat istrinya.
Saat istrinya sudah tenang, Arsyad langsung pergi ke kantor, dia terlambat masuk ke kantor, Ray dan Arsyil sudah dari tadi menunggunya, begitu juga dengan papahnya, Rico.
Wajah Arsyad terlihat sangat kalut, dia semakin takut Almira menyuruhnya menikah dengan Naila.
"Kamu kesiangan lagu, Syad."sapa Rico.
"Pah, maaf, bisa kita bicara sebentar."pinta Arsyad. Arsyad mengajak papahnya ke Caffe yang berada di kantornya. Mereka memesan kopi hitam dan mulai membicarakan apa yang Arsyad ingin bicarakan.
"Ada apa? Ada masalah dengan Istrimu?"tanya Rico.
"Pah, mungkin papah dulu merasakan betapa sakitnya saat mamah Dinda menyuruh papah menikah lagi."ucap Arsyad.
"Maksudmu?"tanya Rico semakin bingung.
"Arsyad merasakannya, pah. Baru saja, suami Naila mendatangi rumah kami, dan memberitahu pada kami, kalau dia koma sudah dua bulan, papah tau Almira bicara apa dengan Arsyad? Almira bilang jika Naila belum bersuami, Almira menyuruh Arsyad menikah lagi dengan Naila. Hati Arsyad sakit pah mendengar itu. Untuk mencintai Mira Arsyad butuh waktu cukup lama, apalagi membagi hati."ucap Arsyad.
"Nak, dengarkan papah, dia hanya emosi sesaat, dalam hati Almira tidak seperti itu, dia sangat mencintaimu, percaya pada papah, dia mungkin hanya sedikit menyesalinya. Sudah, tenangkan hatimu, papah tau yang kamu rasakan. Kamu lelaki yang hebat, Arsyad."Rico menggenggam tangan Anak sulungnya, dia berusaha memberi kekuatan untuk hati putra nya.
"Besok beberapa hari, Arsyad izin tidak berangkat ke kantor, Almira minta menjenguk Naila, pah."ucap Arsyad.
"Iya, jenguklah Naila, jika istrimu merajuk seperti tadi, jangan bentak dia sedikitpun. Dia hanya merasa kasihan saja terhadap sahabatnya. Jaga emosimu, jaga istrimu juga, dia sedang mengandung anakmu."ucap Rico.
"Iya pah, terima kasih, papah memang terbaik."ucap Arsyad.
"Sudah, habiskan kopimu, kita masih banyak pekerjaan."ucap Rico.
Mereka kembali masuk ke dalam kantor dan masuk ke ruangannya masing-masing. Arsyad sudah mulai tenang, dia sudah membicarakan apa yang memberatkan hatinya pada Papahnya. Sementara Rico, dia masih memikirkan Arsyad dan Almira.
"Arsyad benar-benar mencintai istrinya, hanya karena Almira berkata begitu saja, dia sudah ketakutan sekali. Semoga rumah tangga kalian baik-baik saja hingga ajal menjemput kalian, nak."gumam Rico dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️