THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 7 "Tidak Bisa Melepasmu" The Best Brother


__ADS_3

Dio melajukan mobilnya pergi dari hotel di mana Rania menemui Kliennya. Sebenarnya hari ini dia harus pergi dengan Najwa. Namun, Dio tidak bisa membantah perintah abahnya pagi ini. Dan dia harus menuruti semua yang di perintahkan abahnya, termasuk mengantar Rania.


Dio menghubungi Najwa, menanyakan di mana dia sekarang. Dio benar-benar merasa bersalah, karena dia sudah membuat janji dengan Najwa dari kemarin. Dio sudah berjanji akan mengantar Najwa ke panti asuhan. Seperti biasa, dia ada kelas mendongeng di sana. Itu sudah bagian dari kegiatan Najwa sehari-harinya.


Dio melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke panti asuhan di mana Najwa berada. Najwa sebelumnya sudah membalas pesan Dio kalau dia sudah berada di panti asuhan. Jadi, Dio segera melajukan mobilnya ke panti asuhan.


"Menyusahkan saja hari ini," gumam Dio sambil menambah laju kecepatan mobilnya.


Beruntung jalanan hari ini sedikit lega, tidak padat seperti biasanya. Jadi dia bisa leluasa melajukan mobilnya dengan cepat. Tak butuh waktu lama, Dio sampai di depan panti asuhan yang diberitahukan Najwa.


Dio keluar dari mobilnya, dia berjalan ke arah segerombolan anak kecil yang sedang duduk melingkar, dan di tengah-tengahnya ada wanita cantik yang sedang memperagakan boneka tangan, lalu mendongeng dengan lembut dan anggun. Siapa lagi kalau bukan Najwa, kekasih hatinya. Kakak sepupu yang kini telah menjadi kekasihnya.


Dio berjalan perlahan mendekati segerombolan anak kecil yang sedang antusias mendengar Najwa mendongeng. Dio duduk di bangku yang tak jauh dari Najwa. Dia memandangi dari kejauhan, dan mendengarkan Najwa yang asik mendongeng. Sesekali Najwa melihat ke arahnya dan melempar senyuman manis untuknya.


"Begitu indah sekali ciptaan-Mu, Tuhan. Apa aku bisa memilikinya? Sungguh aku mencintainya," gumam Dio sambil memerhatikan Najwa dari jauh.


Najwa sudah selesai mendongeng, anak-anak berhamburan untuk bermain di taman, mereka bermain apa yang mereka suka. Najwa berjalan menuju bangku di mana Dio sedang duduk di sana. Dia berjalan kearah Dio dengan begitu anggun. Wanita dengan tutur kata yang lembut dan anggun itu kini menautkan hatinya dengan adik sepupunya sendiri.


"Dio, kamu kok bisa ke sini?" tanya Najwa sambil duduk di sebelah Dio.


"Apa pun untuk kamu aku bisa, sayang," ucap Dio, dengan menggenggam tangan Najwa.


"Dasar, siang-siang sudah gombal kamu." Najwa berkata dengan mencubit tangan Dio yang kini sedang menggenggam tangannya.


"Aku tidak gombal, ini kenyataan, sayang." Dio mencium tangan Najwa. Itu sudah menjadi kebiasaannya, mencium tangan atau kening Najwa saat bertemu. Walaupun itu berada di luar.


"Lalu Rania?" tanya Najwa.


"Sudah sampai di hotel. Aku ke sini, mau apa di sana," jawab Dio dengan ketus.


"Jangan seperti itu, bagaimanapun dia …"


"Stop! Jangan di teruskan. Aku tau kamu mau bilang apa," ucap Dio yang menghentikan kata-kata Najwa.


"Dio, tidak mungkin kita melawan kata Abah, kamu juga tidak bisa, kan?" ucap Najwa.


"Aku juga tidak tahu, aku harus mengatakan sekarang, kalau aku ingin menikahi mu, Najwa. Aku tidak bisa, semakin mengulur waktu, semakin Abah mendekatkan aku dengan Rania. Aku tidak bisa itu." Dio mengeluarkan isi di dalam hatinya.


Dia memang ingin sekali berbicara dengan Abahnya mengenai Najwa. Tapi, entah kenapa abahnya selalu saja menghindar saat Dio akan membicarakan soal Najwa.


"Kamu yang sabar, abah masih ada proyek baru katanya, dan sekarang juga abah sibuk dengan restoran barunya. Entah kenapa sekarang abah sedang semangat membuka bisnis kuliner dengan tante Shita," ucap Najwa memberi pengertian pada Dio.


"Tapi, sayang, aku juga harus cepat menyampaikan ini semua, pokoknya pulang nanti kita bicara sama Abah dan bunda. Itu harus." Dio menegaskan pada Najwa agar menyampaikan semuanya pada Abah dan bundanya.


"Jangan menambah beban Abah dulu, Abah dan bunda sedang repot menyiapkan pernikahan Shifa juga, Dio. Nanti setelah Shifa menikah, kita bicara," ujar Najwa.


"Baiklah, aku nurut sama kamu," ucap Dio.


"Kamu lihat, akhir-akhir ini, Abah dan bunda terlalu memaksa aku dan kamu, tapi dengan Raffi, Arkan, dan Shifa, mereka biasa saja, kenapa hanya dengan aku dan kamu saja? Kenapa aku yang di paksa seperti ini, Najwa?" Dio bertanya pada Najwa, perihal abahnya yang sikapnya akhir-akhir ini berbeda, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Ya, aku juga merasakan itu, Dio. Abah dan bunda seakan tahu kita memiliki hubungan khusus," jawab Najwa.


"Tapi, menurutku, karena mungkin Abah sedang terlalu sibuk dengan pernikahan Shifa. Dari kemarin kan masih berdebat soal tempat untuk resepsi pernikahan Shifa. Shifa maunya di ballroom hotel, sedang Abah dan bunda ingin di rumah, toh rumah luas sekali, mau menampung orang banyak juga bisa. Semua kan tergantung WO nya, bagus atau tidak, bisa atau tidak menyulap rumah Abah jadi megah," ujar Najwa.


"Bisa jadi seperti itu," ucap Dio.


"Makanya kamu yang sabar, jangan menambah beban pikiran abah dan bunda dulu, kasihan mereka. Sedang sibuk dengan pernikahan Shifa yang apa-apa serba mendadak." Najwa mencoba memberi pengertian pada Dio.


Najwa berpamitan pada pengurus panti dan anak-anak panti untuk pulang. Karena hari ini Najwa harus ke rumah singgah untuk anak-anak penderita kanker. Dia juga akan mengisi dongeng di sana. Itu semua karena permintaan temannya, yang menjadi dokter.


"Dio, aku mau ke rumah singgah menemui Wulan," ucap Najwa.


"Aku antar, ya?"tanya Dio.


"Aku bawa mobil Dio," jawab Najwa.


"Ya sudah, aku mengikuti di belakang mobilmu," ucap Dio.


"Sayang, lalu Rania?" tanya Najwa.


"Biarlah, tidak usah memikirkan dia. Aku jadi merasa bersalah pada kamu, tidak jadi mengantar kamu," ucap Dio.


"Sudah jangan bahas itu, ayo berangkat," ajak Najwa.


Najwa masuk ke dalam mobilnya. Dia ingin sekali mengakhiri semua dengan Dio. Tapi, hatinya yang tidak bisa menerimanya. Dia ingin hubungannya dengan Dio bisa sampai ke pernikahan. Tapi, itu semua tidak mungkin, tidak mungkin Dio dan dirinya bisa menikah. Mungkin saja bisa, kalau abah dan bundanya tidak menikah.


"Aku pusing memikirkan hubunganku dengan Dio ke depannya. Jika aku akhiri, sakit sekali rasanya hati ini. Aku tidak bisa mencintai pria lain selain dia," gumam Najwa.


Najwa sampai di depan rumah singgah milik Wulan. Teman semasa SMA yang kini sudah menjadi Dokter. Wulan tahu kalau Najwa pandai mendongeng, dan dia ingin Najwa mendongeng di rumah singgahnya untuk menghibur dan memberi support untuk anak-anak yang harus melawan penyakit ganas itu.


"Ayo sayang, kita masuk," ajak Najwa.


Dio masuk ke dalam rumah singgah bersama Najwa, dia menemani Najwa yang sedang mendongeng dengan anak-anak di rumah singgah. Mereka sangat bahagia mendengarkan Najwa mendongeng. Dio tau padahal hati Najwa saat ini benar-benar kalut sekali. Tapi, di depan anak-anak dia mampu mengurai senyuman manisnya, dan berpura-pura bahagia di depan mereka semua.


"Najwa, senyuman itu tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu, saat pertama aku melihat senyuman manis mu itu," gumam Dio sambil memerhatikan Najwa.


Najwa sudah selesai mendongeng, dia bermain sebentar dengan anak-anak yang berada di rumah singgah. Najwa sangat trenyuh dengan mereka semua. Mereka benar-benar semangat sekali untuk tetap bertahan dari rasa sakitnya. Tetap semangat untuk hidup dan melawan penyakitnya.


"Ya Allah, mereka adalah anak-anak hebat. Mampu menyembunyikan rasa sakitnya dengan tertawa riang, demi membuat orang tua mereka tetap tegar menghadapi dirinya digerogoti oleh penyakit yang ganas itu. Sedang aku? Aku lemah saat ini, hanya karena seorang pria. Aku merasa malu sekali di hadapan-Mu Ya Allah, dan aku malu, di hadapan mereka yang masih bisa tersenyum karena sakit yang tidak mereka tahu, bisa sembuh atau tidak," gumam Najwa sambil menatap mereka dengan tatapan sendu.


Najwa pamit dengan Wulan dan anak-anak yang ada di rumah singgah itu. Jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Dan, Dio masih saja mengajak Najwa bicara di dalam mobil Najwa.


"Sayang," panggil Dio.


"Iya, ada apa?" tanya Najwa.


"Malas sekali aku mau jemput Rania," jawabnya.


"Jangan seperti itu, jangan memandang Rania, pandanglah Abah dan Om Reno, Sayang. Ini sudah jam 3 tidak mungkin Rania belum selesai," tutur Najwa.

__ADS_1


"Najwa, aku tidak bisa jika mereka menjodohkan aku," ucap Dio.


"Dio, aku bisa apa kalau memang nanti kenyataannya seperti itu," ujar Najwa.


"Aku tidak bisa, Sayang. Please … kita pergi dari sini, kita menikah, dengan atau tanpa restu dari orang tua kita," ucap Dio.


"Dio, aku tidak bisa melawan Abah, aku tidak bisa itu, Dio," ucap Najwa.


"Please … aku tidak mau, ada wanita lain selain kamu, Najwa."


"Lalu bagaimana dengan aku? Aku juga seperti itu, tapi kalau sudah jalannya aku bisa apa, Dio," ucap Najwa.


Dio mengusap lembut pipi Najwa, dia menatap dalam wajah Najwa. Mereka saling berpandangan dengan tatapan sendu. Dio benar-benar tidak ingin ada wanita lain selain Najwa, begitu pula sebaliknya. Najwa juga tidak mau ada pria lain selain Dio. Dio mencium bibir Najwa dengan lembut dan dalam. Lidah mereka beradu merasakan setiap embusan napas mereka yang semakin terdengar jelas di telinga mereka. Begitu juga kecapan lembut dari tautan bibir mereka menggema di dalam mobil. Dio yang tidak bisa menahan nafsunya itu, membuat Najwa sedikit terperanjat karena Dio berhasil melepas satu persatu kancing baju Najwa dan tangannya berhasil masuk ke dalam bajunya, dan menyentuh apa yang seharusnya tidak Dio sentuh.


"Dio hentikan ini!" Najwa menepiskan tangan Dio agak kasar yang sudah menyusup ke dalam baju Najwa dan menyentuh bagian sensitif Najwa dengan memainkan jarinya.


"Maaf, maafkan aku, aku tidak bisa seperti ini terus Najwa. Aku tidak bisa," ucap Dio dengan suara serak.


Dio tidak tahu, kenapa kendalinya bisa lepas begitu saja, saat dia bersama Najwa dan saat mereka membahas soal perjodohan dirinya dengan Rania. Dia seperti ingin memiliki Najwa seutuhnya sebelum dia benar-benar di jodohkan dengan Rania.


"Tidak seharusnya kamu melakukan ini, Dio! Keluar!" Najwa mengusir Dio keluar dari mobilnya dengan berderai air mata.


Tangis Najwa semakin pecah, dia benar-benar takut tidak bisa melepaskan Dio untuk wanita lain jika seperti ini terus.


"Najwa, jangan menangis, maafkan aku, jangan menangis." Dio memeluk Najwa. Najwa hanya bisa menangis di pelukan Dio hingga sesegukkan.


"Dio, aku tidak bisa, aku tidak bisa seperti ini terus, semakin kamu seperti itu, semakin aku tak bisa melepas mu dengan wanita lain," ucap Najwa dengan terisak dan sesegukkan.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mencintai wanita lain dan memiliki wanita lain kecuali kamu, Najwa. Aku janji," ucap Dio dengan tegas.


"Meski Abah dan bunda memaksamu menikah dengan Rania?"vtanya Najwa.


"Iya, aku akan tetap mencintaimu." Dio mengeratkan pelukannya pada Najwa dan menenangkan Najwa.


"Maafkan perlakuanku tadi, Najwa," ucap Dio.


Najwa hanya mengangguk dalam dekapan Dio dan di iringi Isak tangisnya.


"Dio, aku tidak bisa melawan Abah, apapun nanti keputusan Abah, aku terima," gumam Najwa.


"Dio, sudah hampir jam 4 kamu tidak menjemput Rania?" tanya Najwa.


"Huh … menyusahkan sekali dia," ucap Dio dengan kesal.


"Sudah sana jemput Rania, pasti dia menunggumu," titah Najwa.


"Iya, kamu jangan menangis, aku mencintaimu. Nanti malam tunggulah aku di taman belakang, aku ingin bicara," ucap Dio.


"Iya aku akan temuu kamu nanti malam, kamu hati-hati, jangan ngebut. Love you too," ucap Najwa.

__ADS_1


Dio mencium kening dan bibir Najwa sebelum keluar dari mobil Najwa dan berpindah ke mobilnya untuk menjemput Rania.


__ADS_2