THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 33 The Best Brother


__ADS_3

Dio tidak menyangka, Rania yang di anggapnya wanita manja tidak bisa apa-apa dan dengan lelaki manapun mau. Namun, ternyata Rania jauh sekali dari pemikirannya.


"Dia mau mencuci? Dan kenapa saat aku bahas Yohan, wajahnya menjadi takut seperti itu?" gumam Dio.


Dio menghabiskan kopinya, setelah dari tadi di teras belakang berdebat dengan Najwa lewat chat. Dan akhirnya Dio dan Najwa memutuskan untuk tidak bertemu dan mengakhiri hubungannya. Entah Dio akan bertahan lama tidak berhubungan lagi dengan Najwa, atau bagaimana Dio tidak tahu. Karena Najwa adalah hidupnya.


"Apa kau harus mencoba menerima Rania?" ucap Dio lirih sambil masuk ke dalam rumahnya lagi.


Dio memastikan Rania sudah tidur atau belum. Dia membuka kamar Rania. Dio melihat Rania yang sudah tertidur pulas, dan tubuhnya tertutup selimut tebal.


"Ran, maafkan aku. Aku tidak bisa mencintaimu, aku hanya mencintai Najwa. Aku tidak peduli, aku akan tetap menjalani hubungan ini dengan Najwa, Ran." Dio berkata lirih sambil menutup pintu kamar Rania.


^^^


Keesokan harinya, Dio bangun lebih awal dari Rania. Dia sebenarnya ingin menyiapkan sarapan untuk Rania walau hanya sekadar roti selai dan susu saja. Namun, tidak menyangka di meja makan sudah ada tudung saji yang menutupi makanan di meja makan.


"Rania bangun jam berapa? Jam 5 sudah selesai masak?" gumam Dio.


Dio berjalan menuju ke kamar Rania. Namun, saat akan mengetuk pintu kamar Rania, Rania tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.


"Eh, Dio. Kebetulan sudah bangun, aku mau ke kamarmu," ucap Rania.


"Kamu, emmm … itu baju?" tanya Dio dengan bingung melihat Rania mendorong box berisi tumpukan baju milik Dio yang sudah tertata rapi.


"Ini baju kamu, sudah selesai aku setrika. Aku permisi ke kamar kamu mau menata baju kamu," ucaap Rania.


"Tunggu, Ran." Dio menghentikan langkah Rania yang akan ke kamarnya.


"Ada apa Dio?" tanya Rania.


"Sini aku bawakan, kamu itu bandel sekali, di bilangin istirahat, malah masak, nyetrika. Biar tangan kamu sembuh dulu. Dan, kamu tidak usah ke kantor hari ini," ucap Dio sambil mengambil alih box yang berisikan baju Dio.


"Tidak usah cerewet, aku tidak apa-apa, sudah sembuh," ucap Rania.


"Sudah aku yang bawa box nya saja." Dio mengambil alih box yang akan di dorong Rania.

__ADS_1


"Dasar orang aneh, paling besok dia mulai kumat lagi marah-marahnya. Biarin saja, mumpung lagi baik hati aku kerjain saja dia," gumam Rania.


"Terima kasih, Dio." Rania menata baju milik Dio.


Dio menatap punggung istrinya yang sedang menata baju miliknya. Dia tidak menyangka istri yang ia sia-siakan itu menjalankan kewajiban di dalam rumah tangga.


"Kasihan dia, aku di titipkan Om Reno anak perempuannya malah aku sia-siakan. Tapi, kenapa aku tidak bisa mencintai Rania?" gumam Dio.


"Hai … melamun saja, pagi-pagi jangan melamun!" tukas Rania setelah selesai menata baju-baju. Dia merebahkan tubuhnya di samping Dio yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Masih sakit tanganmu?" tanya Dio.


"Sedikit, obat oles nya semalam di mana? Aku mau pakai lagi, mendingan sih pakai itu," jawab Rania seraya meminta obat oles yang semalam Dio beli di apotek.


"Ada di kotak obat. Kalau uratnya gak aku benerin ya masih bengkak," jawab Dio.


"Salah sendiri kasar. Jadi laki-laki kok kasar, nanti kalau punya anak pasti tempramental kamu," ucap Rania.


"Siapa juga yang mau punya anak dari kamu, nyentuh saja ogah," kilah Dio.


"Dih … siapa juga yang mau sama kamu. Ya, kali aja kamu menemukan wanita yang lebih sempurna, tentunya yang kamu cintai juga. Lalu menikah dan punya anak. Aku ingatkan saja, jangan kasar sama anak," ucap Rania.


"Oh, ya. Tumben sekali kamu bangun pagi-pagi?" tanya Rania sebelum keluar dari kamar Dio.


"Pengen aja sih," jawabnya.


Rania meninggalkan kamar Dio. Dia mengambil obat oles di kotak obat. Rania duduk di meja makan menyiapkan sarapan untuk Dio dan dirinya. Dio memang tidak mau menyentuh Rania. Tapi, Rania bersyukur karena Dio mau menyapanya setiap hari. Meski Dio kadang galak dan kadang bersikap biasa pada Rania.


Rania merasa jika Dio habis bertemu Najwa, sikapnya berubah sangat kejam sekali. Tapi saat dia lupa soal Najwa, Dio akan bersikap baik dengan Rania. Seperti saat ini, sikap Dio dari semalam dia baik dengan Rania.


"Kapan aku mendapatkan kebahagiaan bersama kamu, Dio. Aku mencintaimu, Dio. Tapi, itu tidak mungkin. Karena kamu mencintai wanita lain. Sebesar apapun cintaku padamu, kamu tidak akan pernah mencintaiku, Dio." ucap Rania lirih sambil memejamkan matanya.


"Mencintai siapa?" Dio tiba-tiba muncul di belakang Rania yang sedang berkata lirih di depan meja makan.


"Ehh … kamu sejak kapan di sini?" tanya Rania gugup dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Ditanya malah balik tanya," ucap Dio.


"Mencintai siapa?" tanya Dio lagi.


"Sudah jangan bahas itu, sarapan dulu," jawab Rania.


Dio tidak membahas lagi apa yang dikatakan Rania tadi. Dia jelas mendengar Rania mengakan mencintai dirinya. Jelas sekali Dio mendengarnya.


"Sedalam itukah kamu mencintaiku, Ran? Maafkan aku, aku tidak bisa membalas cintamu, cintaku bukan untukmu sekarang, Ran. Hati ini milik najwa, dan selamanya milik Najwa," gumam Dio dalam hati sambil melihat Rania yang sedang menikmati sarapannya.


Seusai sarapan, Rania bergegas masuk ke kamarnya. Dia mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kantor. Sebenarnya masih sakit sekali tangan yang terkirlir karena ulah Dio semalam. Namun, Rania tahan, karena dia akan menemui klien hari ini.


Rania keluar darin kamarnya. Dia berpamitan dengan Dio untuk berangkat ke kantor. Rania mencium tangan Dio. Walau bagaimanapun, Dio adalah suaminya, dia harus menghargai di sebagai suami, walaupu Dio tidak mencintai dirinya


"Rania …." panggil Dio yang membuat Rania menghentikan langkahnya.


"Ada apa Dio?" tanya Rania.


"Aku antar, tangan kamu masih sakit, kamu mau menemui klien, kan?" jawab Dio sembari bertanya


"Iya, aku mau menemui klien, kok kamu tahu?" tanya Najwa


"Aku antar," ucap Dio.


"Aku bisa sendiri, Dio,"


"Tidak aku antar kamu!" tukas Dio.


Mau tidak mau Rania menuruti apa kata Dio. Dia di antar Dio ke hotel untuk menemui klien sebelum ke kantor.


"Dio, kalau jemput jangan sampai Maghrib, ya? Aku ini sebentar kok," ucap Rania.


"Iya, bawel," ucap Dio.


"Aku akan menemanimu, sampai kamu selelsai meeting dnegan kliennya.

__ADS_1


Rania masuk ke sebuah restoran yang ada di hotel. Dia menemui kliennya yang sudah menunggu dirinya. Rania sesekali melihat Dio yang memang menunggunya saat menjelaskan pada Kliennya.


"Dia tidak pulang? Syukurlah kalau begitu. Semoga saja setiap hari seperti ini terus," gumam Rania


__ADS_2