
Rania menghela napas panjang, saat Dio terus memaksa dia menyanyikan sebuah lagu untuknya.
"Bisa tidak, gak usah maksa gitu?" Rania berkata pada Dio dengan kesal, karena Dio semakin memperlambat laju mobilnya, hanya karena Rania tidak mau bernyanyi.
"Aku mau maksa kamu," ucap Dio dengan tegas.
"Ih, aku gak mau Dio," tolak Rania.
"Harus mau!" paksa Dio.
"Nanti malam ya, jangan sekarang," pinta Rania.
"Ih … apaan sih. Aku maunya sekarang."
"Gak mau ah, aku turun saja lah, kalau kamu maksa."
"Eh … iya iya, aku gak maksa. Sudah jangan cemberut." Dio menarik tangan Rania.
"Gitu dong, maksa banget sih."
Rania semakin kesal di buat oleh Dio. Tapi, Rania menikmati saat ini, berada di samping Dio dengan keadaan Dio sudah kembali seperti dulu. Namun, dia tidak bisa lebih dekat lagi dengan Dio. Dia sudah memutuskan akan bertunangan dengan Evan, dia tidak bisa menolaknya lagi, karena dari dulu dia selalu menolak Evan.
^^^
Ainun tidak bisa menolak permintaan Opa Wisnu untuk segera meresmikan hubungannya dengan Habibi. Padahal Ainun masih belum siap. Bukan belum siap untuk bertunangan dengan Habibi atau menikah dengan Habibi, melainkan dia belum siap untuk pulang ke Indonesia. Dia belum berani pulang ke Indonesia untuk menemui keluarganya.
Ainun hanya bungkam, saat di tanya Erlangga, papah dari Habibi dan Opa Wisnu perihal mengapa dia belum siap untuk pulang ke Indonesia. Namun, Erlangga dan Opa Wisnu terus mendesak Ainun untuk berkata jujur.
"Ainun, Om tanya sama kamu, kenapa tidak di jawab? Jujur saja, kamu ada masalah apa dengan keluargamu?" tanya Erlangga lagi.
"Ainun, cerita pada kami. Kami tahu, Habibi sangat mencintaimu, jadi Opa minta, jangan ada yang kamu tutup-tutupi dari kami semua," tutur Opa Wisnu.
"Boleh Ainun mengatakan yang sejujurnya? Jika nanti Opa dan Om tidak bisa menerima Ainun untuk Habibi, Ainun terima. Karena memang ini apa adanya Ainun," ucap Ainun dengan suara yang sedikit bergetar.
"Katakan saja, Nak. Opa dan Om Erlangga akan mendengarkan apa kejujuran kamu," ucap Opa Wisnu.
Ainun semakin gugup, detak jantungnya semakin tidak karuan, badan Ainun gemetar dan keringat dingin bermunculan di telapak tangan Ainun.
"Ada aku di sini, katakanlah dengan Opa dan papah." Habibi menggenggam tangan Ainun, dan mencoba menenangkan gejolak hati Ainun saat ini.
"Iya akan aku jelaskan semuanya, Habibi, tanpa aku tutup-tutupi," ucap Ainun.
Ainun menarik napasnya dalam-dalam, dia mencoba sedikit demi sedikit menjelaskan pada Wisnu dan Erlangga. Habibi memegangi tangan Ainun yang sedikit gemetar. Dengan kekuatan dari Habibi, akhirnya Ainun menceritakan semuanya.
"Ainun, semua orang memiliki masa lalu yang kelam. Sudah yang lalu biarlah berlalu, Habibi sekarang adalah masa depanmu. Om akan bantu kamu bicara dengan orang tuamu, Nak," ucap Erlangga setelah Ainun mengungkapkan semuanya.
"Jangan sedih lagi. Berdamailah dengan masa lalu, dan bukalah lembaran baru, Ainun. Kamu harus bahagia. Dan, opa yakin Habibi bisa membahagiakan kamu," imbuh Wisnu
"Sudah jangan menangis, kamu jangan khawatir, orang tua kamu pasti akan memaafkanmu, Nak," ucap Erlangga.
"Iya, om. Maafkan Ainun yang sudah seperti ini, yang tidak bisa menjaga diri Ainun layaknya seorang wanita yang baik," ucap Ainun.
"Jangan berkata seperti itu, semua manusia pasti ada sisi buruknya dan masa lalu yang kelam. Tidak hanya kamu, Nuri, Kiki, Om Elang, bahkan Opa juga memiliki masa lalu. Kamu jangan menangis, nanti kita temui sama-sama keluarga kamu," tutur Opa Wisnu.
"Iya opa, terima kasih." Ainun masih menundukkan kepalanya di hadapan Erlangga dan Wisnu.
"Sudah jangan menangis, nanti cantikmu hilang," ucap Habibi sambil merangkul Ainun.
"Hmm …. kamu mesra-mesraan di hadapan kami," ucap Erlangga.
"Eh maaf, makanya papah nikah lagi, opa juga," ujar Habibi.
"Kalau opa sudah biasa, sekarang giliran yang muda. Tapi, mungkin papahmu, yang harus menikah lagi," ujar Wisnu.
"Tidak, aku maunya kalian menikah, dan kasih papah cucu secepatnya. Bagi papah tidak ada wanita sesempurna mamah mu, Ki, mamah mu itu segalanya buat papah," ucap Erlangga.
"Lalu dulu Tante Mela?" tanya Habibi.
"Sudah itu masa lalu, jangan di bahas," jawab Erlangga.
"Mela mantanmu dulu? Yang pengacara terkenal dan cantik itu?" tanya Wisnu.
"Iya, opa, tuh papah, gak kasihan sama mamah, jalan sama Tante Mela."
"Husssh … sudah, itu dulu, sudah ya, sudah…." ucap Erlangga dengan gugup.
"Ya, seperti yang tadi opa katakan, bahwa setiap manusia pasti ada sisi buruknya dan masa lalu yang mungkin buruk atau menyakitkan," ujar Wisnu.
Ainun merasa sangat lega, karena semua keluarga Habibi bisa menerimanya dengan baik. Mereka melanjutkan bercerita dan merencanakan kapan Ainun akan pulang ke Indonesia.
"Jadi kapan kamu akan pulang dan mempertemukan kami dengan keluargamu, nak?" tanya Erlangga.
"Nanti, Om. Ainun masih belum siap, beri waktu Ainun," jawab Ainun.
"Oke, supaya kamu bisa menyesuaikan diri dengan Habibi dulu," ucap Erlangga.
"Iya, om," jawab Ainun.
"Kamu mau jadi menantuku, panggil aku papah," pinta Erlangga.
"Iya, om. Eh…papah," ucap Ainun dengan gugup.
"Bagaimana, kalau kamu pulang ke Indonesia awal tahun depan saja?" tanya Wisnu.
"Emmm…baiklah," jawab Ainun.
"Opa, apa tidak kelamaan?" tanya Habibi.
"Awal tahun sebentar lagi, paling beberapa bulan lagi, kok. Jadi, opa itu mau menemui teman opa dulu, ya sekalian saja, biar tidak bolak-balik," jawab Wisnu.
"Teman apa siapa, pah?" tanya Erlangga.
__ADS_1
"Teman papah, dia seusia papah, seorang pengusaha, kami akrab karena dulu istrinya adalah pasien papah, tapi sudah puluhan tahun papah tidak mengerti kabar beliau, dan kemarin baru saja beliau menghubungi papah lagi," jawab Wisnu.
"Oke, kalau begitu, kita ke pulang ke Indonesia awal tahun saja," ucap Erlangga.
"Bagaimana Ainun?" tanya Erlangga.
"Emm…Ainun nurut papah dan opa saja," jawab Ainun.
"Oke, kamu juga persiapkan mental kamu, sayang. Biar ketemu keluarga kamu, kamu tidak takut lagi," ucap Habibi.
"Iya, aku juga butuh waktu untuk itu," jawab Ainun.
Semua sudah di tentukan, Ainun akan pulang ke Indonesia menemui keluarganya setelah pergantian tahun. Ainun tidak bisa memungkiri, kalau dia memang mencintai Habibi. Tapi, masa lalu bersama Dio masih bersemayam dalam dirinya. Dia selalu mengingat apa yang ia lakukan dengan Dio dulu. Sekuat tenaga Ainun ingin melupakannya, tapi hanya sia-sia belaka.
"Ya Allah, sampai kapan aku seperti ini, selalu di hantui apa yang aku lakukan dengan Dio. Aku ingin bahagia bersama Habibi. Aku mencintainya, tapi aku selalu ingat perbuatanku dengan Dio. Bagaimana aku menghilangkan ini semua Ya Allah," gumam Ainun.
°°°
Dio pagi ini ke kantor Rania. Pemandangan tidak mengenakan di mata Dio terlihat jelas. Rania sedang bersama Evan, di sofa yang berada di depan ruangan Rania. Terlihat mereka sedang menikmati kue yang mungkin Evan sengaja membawakannya untuk Rania.
Dio memang selalu datang ke kantor Rania akhir-akhir ini. Dan, sekarang dia harus melihat pemandangan seperti itu di depan matanya.
"Ehemm .…" Dio berdehem di depan mereka, Rania terlihat sedang di suapi kue yang di bawa Evan.
"Eh, Dio. Kapan datang?" tanya Rania.
"Baru saja? Mana Astrid?" tanya Dio.
"Kenapa tanya Astrid, sih?" gumam Rania dalam hati. Raut wajah yang tadi sudah senang sekali berubah masam karena Dio menanyakan keberadaan Astrid sekretarisnya, yang menurut Rania memiliki body yang seksi.
"Astrid sedang di pantry," jawab Rania dengan agak berat.
"Oh, iya. Ini dokumen yang harus kamu tanda tangani." Dio duduk di samping Evan. Evan hanya diam saja melihat Dio yang sepertinya cemburu melihat dirinya bersama Rania.
"Van, aku mau lagi kuenya," pinta Rania.
"Ini." Evan memberikannya.
"Suapi dong," pinta Rania.
"Hmmm … maunya di suapi terus," ucap Evan.
"Ih makan kue sendirian, bagi kenapa sih?" ucap Dio sambil mengambil kue yang ada di box.
"Tinggal ambil aja kok," ucap Rania.
"Ya sudah, terima kasih, aku mau menyusul Astrid ke pantry dulu," ucap Dio sambil melangkahkan kakinya ke pantry yang berada di sebelah ruangan Rania.
Rania semakin kesal dengan Dio. Dia menghentikan mengunyah kuenya yang masih ada di dalam mulutnya. Rasanya tenggorokannya mulai tidak bisa menelan kue yang disuapi Evan tadi. Sesak sekali rasanya mau menelan kue yang masih berada di dalam mulutnya.
"Ke sini mau nemuin Astrid aja? Nyebelin dia lama-lama. Aku kok jadi cemburu gini sih! Ingat Rania, kamu mau bertunangan dengan Evan. Mau sampai kapan kamu menyakiti diri kamu sendiri? Slow Ran, kamu harus bisa tenang, oke. Mana Rania dulu, yang selalu tidak peduli saat Dio bersama Najwa? Kamu jangan cengeng Rania." Rania berkata dalam hati dan menguatkan hatinya.
Evan tahu, Rania cemburu karena Dio mencari Astrid, apalagi Dio langsung menyusul Astrid ke pantry. Evan juga melihat mata Rania tidak beralih dari pintu pantry yang masih tertutup dan belum menampakkan Dio dan Astrid keluar.
"Bentar Van, aku mau ambil air putih, kamu dari tadi nyuapi aja, gak ambilin air minum," ucap Rania sambil berjalan menuju pantry.
Pikiran Rania sudah ke mana-mana, mengingat Dio dan Astrid belum keluar dari pantry.
"Oke, aku tahu kamu masih mencintai Dio. Tapi aku akan membuatku mencintaiku, dan bertekuk lutut di hadapanku, Rania. Aku akan menggunakan segala cara agar kamu bisa kumiliki," ucap Evan dengan lirih.
Evan masih duduk di sofa, dia sedang memikirkan segala cara agar Rania jatuh ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Ran, aku terpaksa akan menggunakan cara ini," ucap Evan dengan lirih.
Dio masih menunggu Astrid membuatkan kopi untuk Dio. Dio berdiri di samping Astrid sambil bersedekap dan bersandar meja.
"Apa Evan selalu ke sini?" tanya Dio.
"Iya, Pak," jawab Astrid dengan gugup.
Jantung Astrid berdegub sangat cepat, karena Dio dari tadi melihat cara dia membuat kopi.
"Astrid, bukan seperti itu takarannya, sini aku ajari takaran untuk membuat kopi agar nikmat," ucap Dio.
"Baiklah." Astrid menyerahkan bubuk kopi yang ada di wadah kotak pada Dio.
Dio mengajari Astrid membuat kopi. Astrid sudah bisa menormalkan detak jantung yang tadi tidak beraturan detaknya.
"Ini Pak Dio, coba cicipi kopinya." Astrid memberikan kopi yang ia buat pada Dio.
"Awww … Astrid, kamu gimana sih, panas!" Astrid tidak sengaja menumpahkan kopi di kemeja Dio karena tadi kakinya terbentur kursi, jadi dia jatuh di depan Dio dan kopi yang ia bawa tumpah sedikit di kemeja Dio.
"Ma-maaf Pak Dio," ucap Astrid dengan gugup dan takut.
"Sudah tidak apa-apa, bisa minta tolong ambilkan Tissue?" pinta Dio.
"Iya, pak." Astrid mengambil tissue dan mengelap kemeja Dio.
Jarak Dio dan Astrid sangat dekat, Dio melihat ada bayangan seseorang di pintu yang akan masuk ke dalam pantry. Dio tahu, kalau itu Rania. Tangan Dio sengaja memegang pinggang Astrid, saat Astrid membersihkan bekas kopi di kemejanya. Astrid semakin risih, tapi dia membiarkannya, karena memang Astrid ada sedikit perasaan pada Dio. Apalagi, dia sering komunikasi dengan Dio dan sering keluar bersama sekedar untuk makan siang.
Rania masuk ke dalam pantry untuk mengambil air putih dan memastikan sedang apa Dio dengan sekretarisnya itu. Rasanya sesak sekali dada Rania melihat Dio sedekat itu dengan Astrid. Dia harus menahan air mata yang akan keluar dari sudut matanya.
"Ehemm … enak ya berduaan, makanya lama di sini," ucap Rania yang membuyarkan aktivitas Astrid yang sedang membersihkan kopi yang tumpah di kemeja Dio.
"Emm … Mba Rani, maaf tadi saya tidak sengaja menumpahkan…."
"Iya, sudah santai saja," ucap Rania sambil mengambil air putih.
Rania duduk di kursi dan langsung meneguk habis air putih yang ia ambil. Rania terdiam sejenak, hingga rasa sesak di dadanya sedikit terkikis oleh air putih yang ia teguk tadi.
"Astrid, aku ada meeting jam berapa, tolong cek email yang masuk, dan segera laporkan padaku," titah Rania.
__ADS_1
"Iya, Bu." Astrid segera keluar dari pantry. Astrid merasa tidak enak dengan Rania. Walau bagaimana pun, dia tetap salah, di saat jam kerja malah seperti itu dengan Dio. Dan hanyut dengan kedatangan Dio tadi.
"Kalau mau berduaan cari tempat lain jangan di kantorku," ucap Rania dengan ketus.
"Siapa yang berduaan, tadi dia menumpahkan kopi di bajuku," ucap Dio.
"Apa tidak bisa di bersihkan sendiri?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca dan marah dengan Dio. Rania juga berbicara dengan intonasi yang tinggi.
"Kamu kenapa, sih? Kok jadi marah?" tanya Dio.
"Ya jelas lah marah, kamu harusnya tidak seperti itu di sini," ucap Rania.
Dio mendekati Rania dan duduk di sampingnya. Dia menggenggam tangan Rania yang sedang bergejolak hatinya.
"Kamu kenapa? Sedang PMS? Atau cemburu?" ledek Dio dengan mencubit pipi Rania.
"Apaan sih!" tukas Rania.
"Jangan ngambek, tuh kasihan Evan di luar sendirian. Jangan cemberut. Maaf, demi Allah aku tidak ngapa-ngapain di sini dengan Astrid, dia hanya membersihkan ini, Rania. Jangan marah dong, aku minta maaf. Nanti malam aku traktir es krim deh. Kita jalan-jalan, mau nonton, mau ke mall, atau mau ke mana? Jangan marah dong, Ran." Dio membujuk Rania agar tidak marah lagi.
"Aku gak marah, maksudku, jangan seperti itu di sini. Kamu boleh berduaan dengan Astrid di mana pun kamu mau. Mau keluar jalan, mau ke mana, tapi jangan di sini, ini kantor, Dio." Rania menutupi rasa cemburunya dengan beralasan seperti itu.
"Oke, maaf. Demi Allah aku tidak ada apa-apa dengan Astrid, Ran," ucap Dio lagi meyakinkan.
"Sudah keluar yuk, aku gak enak sama calon suamimu," ajak Dio keluar.
Dio keluar terlebih dahulu dari pantry dan duduk di depan Astrid. Dia tidak peduli ada Evan yang masih terduduk di sofa. Dio menyibukan dirinya dengan melihat dokumen-dokumen yang sedang dikerjakan Astrid. Dia juga sedikit memberi arahan pada Astrid.
Rania kembali duduk di sofa dengan memerhatikan Dio yang semakin akrab dengan Astrid. Ya, Dio menjadi akrab dengan Astrid karena dia yang mulai. Berawal dari Astrid sering bolak balik dari kantor Rania ke kantor Dio atau kantor mendiang ayah Rania untuk mengantarkan dokumen atau keperluan lainnya. Jadi mereka tidak salah kalau sampai seakrab itu.
"Astrid, aku pamit pulang. Nanti antar saja dokumennya kalau sudah selesai, aku ada di kantorku, kalau mau menemui aku, kamu hubungi aku dulu," pamit Dio.
"Siap, pak. Sekali lagi maaf untuk kopi yang tumpah tadi," ucap Astrid.
"Santai saja, sudah aku pamit," ucap Dio.
Dio beranjak dari tempat duduknya, dia juga pamit denga Rania dan Evan sebelum kembali ke kantornya.
"Ran, aku pamit. Sudah siang, jangan pacaran terus, kapan kamu kerjanya?" ucap Dio.
"Iya, ini mau kerja," jawab Rania.
"Oh ya, Ran. Apa kamu sudah menghubungi pamanmu?" tanya Dio.
"Sudah, tapi paman banyak pekerjaan, jadi 2 bulan atau 3 bulan lagi baru bisa paman pulang ke sini," jawab Rania.
"Baguslah kalau begitu, semakin cepat semakin baik. Perusahaan ayah, bukan butuh aku saja, paman kamu juga harus ikut andil, karena paman kamu masih ada hubungan saudara dengan ayah. Ingat, perusahaan papahmu, harus berada di tangan orang yang tepat, aku rasa paman Bagas dan anaknya, Denis bisa menghandle perushaan ayahmu," ujar Dio.
"Iya, kita bahas nanti kalau Paman datang," jawab Rania.
"Oke aku pamit," ucap Dio.
Rania hanya menganggukkan kepalanya saja. Evan terlihat sedikit gusar dengan kata-kata Dio, yang akan mengalihkan perusahaan ayahnya Rania pada pamannya Rania.
"Aku tidak akan bisa membiarkan semua ini terjadi, secepat mungkin aku harus menjalankan rencanaku untuk mendapatkan Rania dan semua yang Rania punya," gumam Evan.
Guratan kemarahan terlihta jelas di wajah Evan. Ternyata Frans sudah berhasil mencuci otak anak laki-lakinya itu untuk menguasai semua aset milik Rania. Rania semakin tahu, kalau Evan hanya menginginkan perusahaannya saja, karena baru saja Dio berkata seperti itu, wajah Evan berubah seperti orang yang akan kehilangan sesuatu atau barang berharganya.
"Benar kata opa dan Abah, aku harus hati-hati dengan keluarga Evan yang licik. Aku harus menemui Opa dan Abah, untuk membicarakan semua ini, juga menemui Dio. Ya, aku harus menemui mereka secepatnya," gumam Rania.
Evan langsung pamit pada Rania. Dia juga butuh berbicara dengan papahnya mengenai apa yang dio katakan tadi. Rania merasa semakin curiga dengan Evan. Dia juga tidak tinggal diam. Dia langsung menghubungi Dio, dan sepulang dari kantor ingin bertemu dengan Dio di restoran yang biasa ia bertemu.
°°°°°
Sore harinya Dio menjemput Rania agar pulang bersama, meski Rania membawa mobil sendiri. Dio sudah berada di dalam ruangan Rania dan menunggu Rania selesai sholat Ashar.
"Kamu sudah sholat, Dio?" tanya Rania setelah selesai sholat.
"Sudah, tadi sebelum ke sini," jawab Dio.
"Aku bilang, tidak usah menjemputku, Dio. Aku kan bawa mobil," ucap Rania.
"Sudah, kamu pulang dengan aku, biar mobil kamu tinggal di sini dulu, besok aku jemput kamu ke kantor," ucap Dio.
Mereka berangkat menuju ke restoran, tapi Rania tidak mau, dia ingin ke caffe milik Rana. Dia memilih ke caffe karena ingin bercerita panjang lebar dengan Dio. Dia juga butuh tempat yang nyaman buat membicarakan hal itu. Dan, Dio menuruti apa yang Rania mau.
^^^
Mereka sudah berada di AR Cafe. Yang sekarang sudah memiliki beberapa anak cabang. Rana seperti ibunya, dia dengan kerja kerasnya berhasil menambah beberapa anak cabang AR Cafe. Gadis cantik yang mirip sekali dengan Andini, Oma nya, kini menekuni bisnis Cafe peninggalan Omanya. Beberapa potret dahulu terpajang di dinding cafe. Foto keluarga besar Alfarizi dengan cucu-cucunya terpampang jelas di dinding.
Menurut Rana, cafe ini adalah cafe yang sangat bersejarah, jadi sebisa mungkin dia mengelola dan merawat dengan baik yang Omanya tinggalkan. Shita sering sekali cerita kehidupan Omanya dulu. Betapa kagetnya Rana saat tahu Omanya istri kedua opanya. Tapi, semua berbuah manis karena keluarga Alfarizi adalah keluarga yang sangat harmonis.
Rania menceritakan apa yang tadi ia lihat di wajah evan saat Dio dan dirinya membicarakan soal perusahaan ayahnya. Dio semakin curiga dengan Evan.
"Yang aku takutkan kamu, Ran. Aku yakin dia akan mengincarmu dulu, setelah itu, dia mencari celah untuk mengusik perusahaan ayah," ucap Dio.
"Aku juga berpikir seperti itu. Aku sudah terlanjur mengiyakan untuk bertunangan dengan dia, Dio. Aku harus bagaimana?" tanya Rania.
"Kalau masalah ini, tanyakan pada hatimu sendiri. Jangan melakukan hal bodoh lagi karena kamu tidak enak hati pada orang yang sudah baik dengan kamu. Seperti kemarin pernikahan kita. Jangan sampai kamu jatuh kedua kali, Ran. Boleh kamu menikah lagi, tapi ingat, harus dengan orang yang kamu cintai, dan dia mencintaimu dengan tulus tanpa embel-embel yang lain," tutur Dio.
"Iya juga, sih. Lalu aku harus bagaimana untuk menghindari Evan?" tanya Rania.
"Jangan terlalu menghindari, kamu biasa saja, kamu harus cari celah, dan saat dia macam-macam, kamu boleh hubungi aku. Kalau misal ini, dia mau menjebak kamu atau bagaimana. Bukan aku suudzon dengan Evan. Namanya orang ingin lebih, pasti dia licik, pokoknya kamu kasih tau aku, kalau misal kamu merasa Evan sudah melakukan hal yang mencurigakan," jelas Dio.
"Oke," jawab Rania.
"Jangan bodoh lagi karena cinta, cukup dengan aku kamu terluka, dan jika kamu mengizinkan, aku ingin menyembuhkan lukamu dulu, Rania," ucap Dio. Entah kenapa dia tiba-tiba mengucapkan kata itu.
"Maksud kamu?" tanya Rania.
"Gak ada maksud, sudah jangan bahas ini," ucap Dio.
__ADS_1
"Ya sudah," ucap Rania.
Mereka berdua melanjutkan mengobrolnya. Rana juga turut bergabung dengan mereka. Rana memang sangat cantik, dia tumbuh menjadi wanita yang cantik, namun wajah menggemaskannya masih terlihat. Anak bungsu Shita dan Vino sudah hampir lulus kuliah, dia sibuk dengan bisnis cafenya dan hingga sekarang masih sendiri belum memiliki kekasih, yang terkadang di ledekin Dio, Raffi, Farrel, dan Arkan. Karena dia berparas cantik tapi belum memiliki pacar.