THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 47 "Merasakan Nyaman"


__ADS_3

Arsyad beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka agar tidka kelihatan sembab. Annisa masih merasakan apa yang tadi Arsyad lakukan. Sentuhan Arsyad masih terasa di bagian tubuh Annisa, dan tanda kepimilikan yang di buat Arsyad juga terlihat di dada Annisa.


"Haruskah seperti ini. Aku hanya merasakan tanpa menyalurkan hasrat ini? Ya Allah sembuhkan lah suamiku, angkat penyakitnya, hanya engkau yang mampu menyembuhkan segala penyakit, ampuni dosa suamiku yang sengaja meninggalkan kewajibannya untuk ku, karena aku ikhlas, dengan perbuatan suamiku kemarin,"batin Annisa.


Rasanya sakit sekali, sesak sekali dada Annisa saat dia harus melakukannya dengan Arsyad dan hanya di sentuh saja, tidak sampai pada pelepasan. Tapi semua itu dia lakukan demi kesembuhan suaminya. Annisa hanya bisa menahannya hingga suaminya benar-benar sembuh.


Annisa sudah terlebih dahulu di meja makan, Arsyad sedang memanggil anak-anak di kamar nya untuk makan malam. Annisa sibuk menata piring dan gelas di atas meja makan. Mba Lina hanya memasarkan saja, dan setelah memasak dia pulang karena ada kerabatnya yang berkunjung di rumahnya. Rico melihat menantunya sedang menuangkan air putih di gelas, dia mendekatinya dan duduk di salah satu kursi.


"Malam, pah," sapa Annisa.


"Malam, mana Arsyad dan anak-anak?"tanya Rico.


"Kak Arsyad sedang memanggil anak-anak, pah." Annisa masih sibuk mengambilkan nasi untuk Papah mertuanya, suami, dan anak-anaknya.


"Bagaimana Arsyad, sudah ada perkembangan?"tanya Rico.


"Maksud papah perkembangan?" Annisa balik bertanya.


"Ya kamu tau lah, apa yang sedang Arsyad alami, papah lihat kalian sudah mulai akrab lagi, pasti sudah mencoba melakukan….."ucapan Rico terhenti karena Annisa memotongnya.


"Melakukan apa papah?"tanya Annisa.


"Ah, kamu masa tidak tau, Nis." Rico memang suka meledek menantunya yang satu ini, tidak saat dulu dengan Arsyil dan sekarang dengan Arsyad, dia memang suka meledek Annisa. Sama seperti dengan Shita. Rico memang menganggap Annisa lebih dari menantu, dia sudah menganggap Annisa anak perempuannya sendiri.


"Ah, papah selalu seperti itu, kepo,"ucap Annisa dengan wajah memerah.


"Kamu sudah bilang Arsyad kalau Leon mau ke sini?"tanya Rico.


"Sudah, pah,"jawabnya.


"Lalu bagaimana reaksinya? Kalau Leon di sini, cobalah buat Arsyad cemburu. Jika dia cemburu, berarti dia sudah bisa mencintaimu,"usul Rico.


"Pah, bagaimana aku mau melakukan percobaan biar Kak Arsyad cemburu, aku baru bilang Leon mau ke sini saja wajahnya sudah sulit di terjemahk,"ucap Annisa.


"Sulit di terjemahkan bagaimana?"tanya Rico.


"Ya seperti itu, pah. Entah dia cemburu atau bagaimana bisa tidak tau,"ucap Annisa.


Tak lama kemudian suara rame terdengar dari arah kar anak-anak. Mereka berebut ingin di gendong abahnya. Dan mereka akhirnya melakukan hompimpah siapa yang menang dia yang di gendong dari depan pintu kamar sampai ke ruang makan.


"Aku yang gendong, aku Abah!" seru mereka saat berebut ingi di gendong Arsyad.


"Jangan berebut, kemarin kan Abah sudah gendong Raffi, sekarang berarti Dio,"ucap Arsyad.


"Abah, Shifa dong, Shifa juga jarang di gendong,"pinta Shifa.


"Apalagi Najwa,"sahut Najwa.


"Ya sudah, kalian hompimpah, nanti yang menang papah gendong, deh,"ucap Arsyad. Akhirnya mereka menuruti apa yang Arsyad suruh.


"Yeay….Shifa menang, Shifa yang di gendong, Abah…!" seru Shifa kegirangan.


"Ayo, naik ke punggung Abah,"titah Arsyad.


"Yah, kita kalah,"ucap Dio.


"Ya sudah, kalian hompimpah lagi, nanti siapa yang menang besok giliran di gendong Abah, oke,"ucap Arsyad.


Mereka melakukan homoimpah lagi, dan besok adalah gilira Dio, setah itu Najwa dan terakhir Raffi. Shifa sangat senang di gendong abahnya dari depan pintu kamarnya hingga ke meja makan.


"Berat sekali kamu, Shifa." Arsyad berkata sambil pura-pura terengah-engah napasnya.


"Shifa tidak gendutan, Abah. Berat badan Shifa masih utuh, masa berat,"ucap Shifa.


"Berat sekali kamu, sama seperti bunda,"ucapnya.


"Cie,kapan abah gendong bunda?"tanya Shifa.


"Emm tadi,"jawab Arsyad.


"Kapan? Kok Shifa gak lihat?" tanya Shifa lagi.

__ADS_1


"Tadi waktu di pantai,"jawab Arsyad.


"Cie, udah akur,"ucapnya.


Arsyad sudah berada di ruang makan, dia menurunkan Shifa dari gendongannya. Arsyad duduk di kursinya dan meminum air putih karena merasa haus sekali.


"Shifa, kamu sudah berat, kasihan Abah, jadi capek gitu,"ujar Annisa.


"Badan Shifa sama bunda kan gede bunda, Abah saja bisa gendong Bunda,"ucap Shifa.


"Kapan Abah gendong bunda, kaya kamu pernah lihat,"ucap Annisa.


"Katanya tadi pas di pantai,"ucap Shifa.


"Dari mana kamu tau?"tanya Annisa.


"Dari Abah,"jawabnya.


"Sudah, ayo makanlah, setelah itu kalian lanjutkan bikin tugas sekolah kalian" tutur Arsyad.


"Oh, iya kak Shifa, kak Najwa, kalian dapat salam dari Rania, kalian ingat tidak waktu di villa kalian tersesat dan di tolong Rania." Dio menyampaikan salam Rania untuk Najwa dan Shifa.


"Iya, aku masih ingat,"ucap Najwa.


"Kakak juga masih ingat, kok kamu bisa bertemu dengan Rania?"tanya Shifa


"Rania teman sekelasku, apa Abah dan bunda tidak cerita? Saat pertama masuk sekolah, bunda dan Abah kan bertemu,"ucap Dio.


"Ah iya, Abah lupa mau bilang pada kalian,"ucap Arsyad.


"Bunda juga lupa, ya sudah kalian makan dulu, ayo habiskan makananmu dulu,"tutur Annisa.


^^^^^^


Malam semakin larut, Annisa dan Arsyad belum bisa tidur. Seperti biasa, Arsyad menyudahi permainannya dengan Annisa, yang berakhir kekecewaan lagi. Dalam hati Annisa sungguh ingin berontak, tapi melihat suaminya menderita seperti itu, dia sangat merasa iba dan rasa sayang pada Arsyad semakin bertambah.


"Kak, aku ke kamar Dio sebentar boleh?"pamit Annisa.


"Ya sudah yuk, ke kamar anak-anak,"ajak Annisa.


Annisa masuk ke kamar Shifa terlebih dahulu, dia mencium keninga anak perempuannya. Annisa melihat laptop milik Shifa yang masih terbuka, dia menghidupkannya dan membuka-buka file milik anaknya. Sekarang Annisa jadi lebih ketat karena anak-anaknya sudah beranjak dewasa.


Dia melihat begitu banyak puisi yang Shifa tulis, Shifa juga menuliskan cerita pendek banyak sekali di filenya. Annisa mematikan laptop, dia menemukan selembar kertas di atas meja belajar Shifa. Annisa membaca tulisan yang ada di kertas itu.


"Budhe, Najwa kangen sama budhe, ingin belajar menulis lagi dengan budhe. Oh iya budhe, Abah sama bunda sekarang sudah akur, budhe bahagia di surga ya? Shifa selalu merindukan budhe." Begitu isi coretan Shifa di selembar kertas di atas meja belajarnya.


Annisa melipat kertas itu, dan membawanya keluar dari kamar Shifa. Annisa bergantian masuk ke kamar Dio. Dio tmsudah tertidur pulas sekali, wajahnya mirip sekali dengan Arsyil. Annisa mendekatinya, dan mencium kening Dio.


"Syil, anak-anak kita sudah beranjak dewasa. Lihatlah, Dio sama sepertimu, dari cara bicaranya, dari wajah dan semuanya, sama dengan kamu, hingga dia pandai menggombal sama seperti kamu,"ucap Annisa lirih.


Annisa melihat meja belajar Dio yang masih berantakan, dia berniat mengemasi buku-buku Dio yang berantakan, tapi dia malah menemukan sepucuk surat dari penggemar Dio di sekolahannya.


"Hai Dio, kamu orangnya asik ya kalau di ajak ngobrol, aku suka berteman dengan kamu. Dio, kamu kok akrab sekali dengan Rania, apa dia pacar kamu? (By Shiela)" Itu isi surat dari penggemar Dio di sekolahannya yang bernama Sheila.


"Rania teman kakakku, jadi wajar aku berteman akrab dengannya, orang tua kami juga saling mengenal. Itu saja, kalau Rania mau jadi pacarku, dari kemarin aku sudah jadian Sheila." Dio sudah menulis balasan surat untuk Sheila.


Annisa menggelengkan kepalanya, Dio benar-benar seperti ayahnya, dari sejak SMP Arsyil juga sama sering mendapat surat dari penggemarnya. Dan itu masih Arsyil simpan hingga dia menikah dengan Annisa. Ternyata banyak juga surat-surat Dio di kotak surat. Dan yang mengejutkan, dia sudah sering berbalas surat dengan Rania.


"Haduh, kalau sudah gini repot saya, mesti bilang sama abahanya ini, biar dia dapat pencerahan dari Abahnya, aku takut, sekarang banyak remaja yang hilang kendali. Apalagi sudah seperti ini, dia sudah main surat-suratan dengan cewek." Annisa membawa kotak yang berisi surat-surat Dio dengan Rania keluar. Annisa menunggu Arsyad keluar dari kamar Najwa di ruang tengah sambil meneruskan membaca surat-surat Dio.


Sementara Arsyad masih berada di kamar Najwa, dia menatap lekat wajah Najwa yang mirip dengan Almira, tidak mirip lagi, malah sangta mirio sekali. Arsyad mencium kening Najwa, dia melihat Najwa memeluk sebuah bingkai foto di dadanya. Arsyad mengambilnya, dia melihat siapa yang ada di bingkai foto itu. Annisa dan Almira, Najwa memeluk foto Almira dan Annisa. Foto itu adalah foto dulu saat mereka masih hamil muda. Almira hamil Najwa dan Annisa hamil Si kembar.


"Dia sangat menyayangi dua wanita ini, Abah juga janji, sayang, akan menyayangi bunda dan mencintai bunda,"ucap Arsyad sambil mencium kening Najwa dan keluar menuju kamar Raffi.


Arsyad memeluk anak lelakinya. Dia benar-benar sayang sekali dengan Raffi. Dia jarang dekat dengan dirinya dari dulu, tapi sekarang Arsyad sangat dekat dengan Raffi.


"Jagoan Abah sudah gede, sebentar lagi masuk SMP, apapun yang kamu cita-cita kan Abah mendukung, maaf Abah sering berdebat kalau kamu ingin menjadi pesepakbola. Sekarang Abah akan menuruti, jika kamu ingin menjadi pemain bola, tetaplah jaga sholatmu, walau nanti kamu menjadi pemain bola, Abah sangat menyayangimu,"ucap Arsyad sambil mencium kening Raffi.


Arsyad keluar dari kamar Raffi, dia akan menuju ka kamarnya. Namun, langkahnya terhenti karena melihat Annisa yang sedang duduk di ruang tengah dengan papah Rico. Mereka sedang sibuk membaca surat-surat cinta monyet Dio.


"Dia seperti ayahnya, perlu di jaga ketat Dio, Nis, kalian jangan sampai lengah,"ucap Rico.

__ADS_1


"Iya, pah. Semakin mereka dewasa, semakin besar tanggungjawabku untuk menjaga mereka,"ucap Annisa.


Arsyad mendekati mereka, dia penasaran, papah dan istrinya sedang berbicara apa yang kelihatannya serius.


"Papah, Annisa, sedang apa di sini?"tanya Arsyad.


"Kebetulan kamu sudah keluar dari kamar Najwa, sini sebentar, ada yang ingin kami tunjukan,"ucap Rico.


"Apa, pah?"tanya Arsyad penasaran.


"Ini baca." Rico menunjukan semua surat milik Dio.


Arsyad membaca semua surat yang ada di kotak surat Dio. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan berpikir sejenak. Dia flashback ke masa lalu saat membaca semua surat dari ceweknya Arsyil.


"Kenapa sama seperti Arsyil dia, kelas 2 SMP sudah bisa surat-suratan sama cewek, kalian jangan khawatir, aku akan menasehatinya, dia pasti mengerti, kamu jangan khawatir, Nis,"ucap Arsyad.


"Zamannya Arsyil remaja dengan Dio remaja beda, kak. Itu yang aku takutkan," ucap Annisa.


"Iya memang, tapi aku yakin, Dio anak baik, dia tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri,"ucap Arsyad.


"Percayalah dengan suamimu, Nis. Dia pasti bisa menasehati Dio secara baik-baik. Seperti dulu dia menasehati Arsyil. Bahkan Arsyil dulu lebih nurut dengan Arsyad di bandingkan dengan papah, ya mungkin karena papah menasehatinya dengan keras tidak lembut seperti Arsyad. Jadi, kamu jangan khawatir, Arsyad pasti bisa meluluhkan hati Dio. Kalian istirahat sana, sudah malam,"ucap Rico.


Annisa menuruti apa kata papah mertuanya. Annisa dan Arsyad kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Rico.


Annisa meletakan kotak surat Dio di meja riasnya, dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dia masih memikirkan soal Dio, yang semakin dewasa semakin bisa merayu cewek.


"Annisa, sudah tidurlah, pasti Dio akan mengerti kalau nanti aku nasehati, dia anak yang baik, percayalah padaku, sini tidurlah,"ucap Arsyad.


Annisa merebahkan dirinya di samping Arsyad, dia langsung memeluk suaminya dengan erat. Rasa khawatir dengan Dio seketika hilang saat dia berada di pelukan suaminya dan mencium aroma wangi tubuh suaminya.


"Kak, aku takut saja, Dio tidak bisa mengendalikan diri,"ucapan itu terlontar dari mulut Annisa.


"Dio pasti tidak seperti itu, aku tau Dio, sudah ini urusan kakak, tidurlah, jangan menangis, semua akan baik-baik saja,"ucap Arsyad yang mencoba menenangkan istrinya.


"Iya, kak." Annisa menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad. Dia merasakan nyaman sekali di pelukan suaminya, seakan beban pikirannya hilang.


"Entah mengapa, lelaki di sampingku ini bisa menenangkan hati ku yang gundah. Kak, apa aku sudah mulai mencintai, kakak?" Annisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Annisa, kamu selalu membuatku nyaman sekali, aku semakin takut kamu pergi dariku, apalagi Minggu depan Leon akan ke sini, aku takut kamu kembali dengannya saat keadaanku seperti ini, apa aku mulai mencintaimu, Annisa?" Arsyad memeluk erat istrinya dan batinnya mengeluarkan beberapa pertanyaan.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


jangan lupa like nya ya, biar semangat up-nya ini, nanti author up nya banyakin deh, vote nya juga ya...


budayakan like setelah/sebelum membaca sayangkuh....😘😘😘😘


maaf author dari kemaren banyak maunya sama kalian, kalian juga mau kan, author up-nya maksimal?


author udah rajin up lho dari kemarin, tapi kalian jarang like, kan author syedih...🥺🥺🥺🥺


author up dua bab dulu, dua bab nyusul belakangan, ini lagi proses revisi, tenang saja, author gak lari dari janji kok. kalau udah 600 like bakal kasih up 4 part


dan kali ini tembusin like 600 lagi ya, per part yang author kasih hari ini. besok akan up banya lagi..oke...


makasih banyak readerku tersayang...😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2