
Rania masuk ke dalam kamar Kiara dan Naira. Dia masih melihat keranjang bayi yang ia siapkan untuk bayi kembarnya. Ya, Rania dan Dio sudah tahu kalau anak kembarnya perempuan. Mereka sudah mendesain kamar bayi dengan warna serba biru muda. Rania suka sekali dengan warna biru muda, jadi dia mendesain kamar anaknya dengan warna biru muda. Rania melihat lemari baju yang lucu untuk kedua bayinya. Dia hanya bisa menyeka air matanya saat melihat semua. Dia mencium pipi Kiara yang masih dalam gendongannya.
“Tumbuhlah menjadi gadis yang kuat, Nak. Ibu sayang kamu.” Rania mencium Kiara yang mungil.
Dio memeluk Rania dari belakang yang masih meratapi keadaannya. Rania tidak pernah menyangka akan di tinggalkan orang-orang yang ia sayangi, ibu, ayah, dan Naira, pergi meninggalkannya.
“Jangan menangis, kasihan Kiara, Kiara butuh kita. Kita harus menjadi orang tua yang kuat, sayang,” ucap Dio.
“Iya, sayang,” ucap Rania dengan menyeka air matanya.
“Sudah, kita tidak boleh lemah. Kita jaga Kiara bersama, kita harus memberikan yang terbaik untuk Kiara,” ucap Dio.
Rania meletakkan Kiara di ranjang bayinya. Dia melihat bayi mungilnya yang sudah berusia 2 bulan sudah tertidur pulas. Dan, selama dua bulan, Rania dan Dio tinggal di rumah Annisa. Arsyad dan Annisa tidak mau Rania dan Dio tinggal di rumahnya dulu. Mereka ingin menjaga Rania yang emosinya belum stabil karena kepergian Naira. Jadi, Arsyad memutuskan menyuruh Rania tinggal di rumahnya selama dua bulan dan menunggu keadaan Rania stabil lagi.
“Dio, aku takut Kiara kenapa-napa, dia sering demam dari kemarin,” ucap Rania.
“Tidak apa-apa, Akmal bilang tidak apa-apa, kok. Sudah kamu jangan khawatir. Kiara pasti baik-baik saja. Dia anak yang sehat dan kuat,” ucap Dio.
Kiara tak lepas dari pantauan Akmal semenjak berada di rumah Arsyad. Akmal selalu menyempatkan menjenguk keponakannya yang lucu itu dan melihat keadaannya. Pasalnya, Kiara lahir juga tidak normal, dan kembarannya meninggal di dalam kandungan.
“Aku hanya takut saja, Dio.”
“Ran, jangan takut, Kiara tidak apa-apa.”
Dio mencoba menenangkan hati istrinya yang gundah itu. Wajar jika Rania khawatir pada Kiara, memang kesehatan Kiara selama 2 bulan ini sedikit menurun, beruntung ada Akmal yang selalu memantau kesehatan keponakannya.
^^^^^
Kiara sudah berusia 5 bulan. Dia tumbuh menjadi bayi yang sangat aktif sekali. Dia menjadi rebutan bagi siapa saja yang ingin menggendongnya. Shifa baru saja melahirkan bayi laki-laki. Rico benar-benar bahagia sekali melihat cucu-cucunya sudah memiliki momongan, dan bayinya sehat semua. Hanya Najwa yang sampai sekarang belum hamil, padahal Alina yang baru menikah saja sudah hamil, dan usia kandungannya sudah masuk minggu ke-4.
“Najwa, Akmal di mana? Kok tidak ikut ke sini?” tanya Rico.
“Ehm...dia sedang pergi seminar, opa,” jawabnya.
Rico hanya menganggukkan kepalanya saja dengan merangkul cucu pertamanya itu.
“Kapan mau punya anak? Adikmu saja mau punya anak?” tanya Rico.
“Nanti opa, mungkin Allah belum mempercayakan Najwa dan Akmal untuk memiliki momongan,” jawab Najwa.
“Opa sudah tua, kamu cucu pertama opa, opa ingin kamu bahagia, nak,” ucap Rico.
“Doakan saja yang terbaik untuk Najwa opa,” ucap Najwa.
“Itu pasti, sayang,” jawab Rico.
Rico memang sudah sakit-sakitan. Dia sering drop dan keluar masuk rumah sakit. Setelah kepergian Bayu 1 bulan yang lalu, Rico semakin menurun kesehatannya. Dia juga sering ingin pulang ke rumahnya. Kadang dia di temani oleh Shita dan Vino di rumahnya dengan bergilir dengan Arsyad.
Shita dan Arsyad tahu, papahnya sudah ingin menempati rumahnya lagi. Dan, sebagai anak tertua, Arsyad memutuskan untuk sementara semua tinggal di rumah Rico. Ya, sekarang semua tinggal di rumah Rico. Baik Arsyad dan istrinya, dan Shita dengan Vino. Namun, anak-anak mereka tetap meninggali rumah mereka masing-masing. Itu semua Arsyad lakukan demi papahnya yang sudah berusia senja.
Mau siapa lagi yang akan mengurus papahnya kalau bukan Arsyad dan Shita. Beruntung Annisa dan Vino yang menjadi menantunya sangat menyayangi Rico dan menganggap Rico orang tuanya sendiri. Vino pun sangat perhatian dengan papah mertuanya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Vino sangat dekat dengan Rico, dan sudah menganggap Rico pengganti orang tuanya. Apalagi Annisa. Annisa sudah dianggap Rico seperti anak kandungnya sendiri.
^^^^^
Malam ini Rico drop lagi. Begitulah kalau sudah berusia senja. Tapi, Rico tidak ingin merepotkan anak-anaknya meski dia sudah sangat renta sekali. Keriput wajahnya sudah semakin jelas terlihat. Shita yang setiap menangis jika sedang bersama papahnya.
“Pah, papah tidak tidur?” tanya Shita.
“Papah ingin bertemu Najwa dan Rana, juga suami mereka,” jawab Arsyad.
“Pah, ini sudah malam, Najwa dan Rana pasti sudah beristirahat,” jawab Shita.
“Ta, kamu kan anak papah yang sangat peka dengan keponakan kamu dan anak-anakmu, papah melihat Rana dan Najwa ada masalah dengan suaminya,” ucap Rico.
“Papah ada-ada saja, mereka baik-baik saja, kok,” ucap Shita.
“Papah istirahat, ya? Nanti besok semuanya Shita suruh ke sini,” ucap Shita.
“Mana Arsyad, Ta?” tanya Rico.
“Kak Arsyad ada di depan TV sama Kak Vino,” jawab Shita.
“Panggilkan Arsyad,” pinta Rico.
Shita keluar dari kamar papahnya. Shita sesekali menyeka air matanya. Dia tahu papahnya sudah sangat senja, dan kemungkinan papahnya juga tidak lama lagi akan bertahan. Dia bersyukur, di usia papahnya yang sudah hampir 80 tahun, dia masih bisa merawat papahnya yang sudah renta. Ya, satu tahun lagi Rico akan genap berusia 80 tahun. Shita tidak pernah sedikitpun meninggalkan papahnya. Dia yang lebih intens merawat papahnya 24 jam. Begitu juga Arsyad, dia selalu siaga menjaga papahnya yang semakin hari kesehatannya semakin menurun, terlebih saat setelah kepergian Bayu, kakaknya Andini. Rico semakin menurun sekali kesehatannya, seakan dia tidak memiliki rekan lagi untuk mengobrol sehari-harinya.
Dua lelaki berusia senja itu sering sekali bersama menghabiskan hari dengan bercerita. Ya, seperti itulah Rico dan Bayu. Sahabat dari SMA hingga menua bersama, dan kini Bayu sudah pergi meninggalkan Rico.
“Kak,” panggil Shita.
__ADS_1
“Iya, Ta,” sahut Arsyad.
“Kakak di panggil papah,” ucap Shita.
“Papah belum tidur?” tanya Arsyad.
“Belum, papah tanya Rana dan Najwa dari tadi, papah bilang ingin bertemu mereka,” jawab Shita.
“Ini sudah jam 11 malam, mereka pasti sudah tidur, Ta,” ucap Arsyad.
“Shita juga bilang seperti itu dengan papah, tapi papah sepertinya ingin sekali bertemu mereka,” ucap Shita.
“Besok mereka kan akan ke sini, mah,” imbuh Vino.
“Iya, juga, pah. Tapi, melihat papah, sepertinya papah ingin melihat Najwa dan Rana,” jawab Shita.
Arsyad hanya menghela napasnya dengan berat. Dia tahu jika papahnya sudah menginginkan sesuatu, pasti harus segera di turuti. Arsyad berjalan menuju ke kamar papahnya. Dia melihat papahnya sedang duduk memandangi foto kedua istrinya.
“Pah,” panggil Arsyad. Rico hanya mengisyaratkan putranya untuk masuk dan duduk di sampingnya.
“Papah kok belum tidur?” tanya Arsyad.
“Papah merindukan ibumu, dan mamah Dinda, nak,” jawab Rico.
“Pah, ini sudah jam 11 malam lho, papah harus tidur,” ucap Arsyad.
“Syad, di tengah-tengah antara makam ibu dan Mamah Dinda masih ada lahan yang kosong, kan?” tanya Rico.
“Iya, masih, kenapa, pah?” jawab Arsyad sambil bertanya pada papahnya.
“Itu papah sengaja kasih jarak, karena itu untuk papah. Jika nanti papah tidak ada, makamkan papah di antara makam ibu dan Mamah Dinda,” pinta Rico.
“Iya, pah. Arsyad tahu itu, dan nanti Arsyad akan penuhi keinginan papah,” jawab Arsyad.
“Pah, sekarang papah tidur, Ya? Ini sudah malam, Pah.”
“Iya, tapi papah ingin besok saat pagi-pagi semua cucu papah sudah di sini, Syad,” pinta Rico.
“Iya, pah. Nanti Arsyad hubungi mereka,” jawab Arsyad.
Rico merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tempat tidur yang dulu ia gunakan bersama Dinda, dan setelah Dinda tiada, dia gunakan bersama Andini. Rico selalu bermimpi di temu oleh kedua istrinya yang cantik. Tak ada terlihat tua di wajah mereka saat hadir dalam mimpi Rico.
“Pah, terima kasih, untuk semua yang papah beri untuk Arsyad. Terima kasih, Arsyad bisa jadi seperti ini semua karena papah. Papah adalah papah yang hebat, opa yang hebat. Pah, jika dengan tidur panjang papah sudah tidak merasakan sakit lagi, Arsyad ikhlas. Papah, Arsyad tahu papah sudah lelah, papah sudah senja, Arsyad di sini akan meneruskan peran papah, menjaga istri, anak, dan Shita adik Arsyad satu-satunya, serta keponakan Arsyad dan cucu Arsyad. Insya Allah semua titah dari papah, akan Arsyad laksanakan. Arsyad sayang papah.” Arsyad mencium kening papahnya yang sudah tertidur pulas.
Tak terasa, cairan bening menetes membasahi pipinya. Arsyad masih memandang papahnya yang sudah terlihat kurus dan tampak jelas keriput di wajahnya.
“Kak...” Shita masuk ke dalam kamar papahnya. Dia memeluk Arsyad dari belakang.
Shita menangis dengan memeluk kakaknya. Arsyad pun tak kalah, dia menangis juga. Dia merasa, siapa lagi yang ia punya jika papahnya pergi, dia hanya punya satu saudara saja, Shita. Iya, dia hanya punya Shita, ibu dan adik bungsunya sudah terlebih dulu pergi.
“Kak, Shita ikhlas, jika memang papah sudah lelah, jika dengan papah bersama Allah tidak merasakan sakit lagi. Shita ikhlas.” Shita masih memeluk kakaknya dengan menangis memandangi wajah papahnya yang sangat ia sayangi.
Shita mendekati papahnya, dan duduk di samping Arsyad. Dia merasakan napas papahnya yang sepertinya sudah berada di bagian dada saja. Napas yang sepertinya sudah di ujung hela. Shita memegang tangan papahnya dan menciumnya. Shita berkali-kali mengusap pipinya yang sudah di banjiri oleh cairan bening yang kelaur dari matanya.
“Jangan menangis, kita mengaji, ya? Aku panggil Annisa dan Vino,” ucap Arsyad.
Memang semenjak Rico seperti itu keadaannya, Arsyad dan Shita selalu mengaji, saat Rico sudah tertidur. Arsyad memanggil istrinya da adik iparnya agar malam ini sama-sama tidur di kamar papahnya. Menjaga papahnya yang sudah terlihat seperti itu.
Seusai mengaji, Arsyad duduk di sofa dengan Annisa. Annisa tidur dengan berbantal paha Arsyad. Shita tidur di soya yang berada di dekat papah Rico.
“Abah, kemarin papah bicara sama aku,” ucap Annisa.
“Bicara apa?” tanya Arsyad.
“Soal Najwa. Papah tanya, sebenarnya Najwa bahagia tidak bersama Akmal,” jawab Annisa.
“Kok papah selalu saja Najwa yang sering di ingat, padahal cucu papah banyak,” ucap Arsyad.
“Dan, satu lagi. Papah juga menanyakan Rana,” ucap Annisa.
“Papah bilang seperti itu dengan kamu, Nis?” tanya Shita.
“Iya, Kak. Papah selalu tanya Najwa dan Rana. Selalu mereka berdua yang papah cari selama seminggu ini. Padahal baru saja bertemu, tapi di tanyain lagi kalau Rana atay Najwa sudah pulang,” jawab Annisa.
“Tidak dengan kamu juga, Nis. Dengan aku juga selalu Najwa dan Rana yang cari,” ucap Shita.
“Ya, tadi saja papah ingin bertemu Najwa dan Rana padaku, aku bilang besok pagi-pagi mereka akan datang. Memang aku sudah menghubungi mereka, dan semuanya. Menyuruh mereka datang pagi-pagi sekali,” ucap Vino
^^^^^
__ADS_1
Pagi-pagi sekali semua sudah berkumpul di rumah Rico. Semua karena Shita yang sehabis subuh menelepon anak dan keponakannya untuk segera ke rumah opanya. Keadaan Rico makin memburuk, diajak komunikasi pun sudah tidak bisa menyahuti lagi.
“Opa, ini Najwa,” ucap Najwa di telinga opanya dengan lirih.
“Hmm...Naj..wa...”
“Iya, Opa,” jawab Najwa.
“Kamu harus kuat, jangan mudah menyerah. Opa yakin, kamu bisa menjalani ini semua,” ucap Rico. Najwa hanya menangis dengan memeluk Rico. Seakan Rico tahu apa yang sedang ia alami saat ini.
“Najwa akan selalu menjadi wanita yang kuat, Opa, Najwa janji,” ucap Najwa sambil mencium kening opanya.
Rana mendekati opanya, karena dari tadi opanya memanggil Rana. Rana memeluk opanya yang sudah tidak bisa apa-apa.
“Opa, maafkan Rana,” ucap Rana di telinga opanya dengan lirih. Rico hanya menganggukkan kepalanya saja dan mengusap kepala Rana yang menangis di pelukan Rico.
“Kamu yang kuat. Jangan menyerah, seperti Kak Najwa,” ucap Rico.
Semua hanya diam menatap Rico yang dari tadi menyampaikan kata-kata itu pada Rana dan Najwa. Arsyad dan Shita mendekati papahnya yang sudah tenang tak bicara apa-apa.
“Arsyad, Shita,” panggil Rico dengan suara lirih. Arsyad dan Annisa mendekati papahnya. Dia duduk di sampingnya.
“Iya, pah,” jawab Arsyad dan Shita.
“Tuntun papah, nak,” ucapnya dengan lirih.
Dengan pelan dan menahan tangisnya, Arsyad menuntun papahnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah selesai diucapkan, dengan tenang Rico mengembuskan napasnya terakhirnya dengan perlahan.
“Innalillahi Wainnailaihi Rojiun,” ucap Arsyad dan Shita. Mereka berpelukan dan menangis, setelah papahnya dengan tenang mengembuskan napasnya.
“Papah, kak,” ucap Shita dengan menangis di pelukan Arsyad.
“Sudah, papah sudah tenang, papah sudah tidak sakit lagi, sayang. Kita harus ikhlas. Papah meninggal dengan cara yang baik, Allah sayang papah, tidak menyiksa papah dengan rasa sakit yang amat dalam,” ucap Arsyad.
“Iya, kak,” ucap Shita.
Semua terlihat tegar saat Rico pergi. Hanya Rana dan Najwa yang tak henti-hentinya menangis. Mereka seperti ada masalah dengan suaminya, jika tidak berbicara penting mereka tak mendekati suaminya. Ya, baik Rana atau pun Najwa. Entah ada apa mereka menjaga jarak dengan suaminya, semua menangisi kepergian opanya dengan dipeluk suaminya, tapi Najwa dan Rana mereka hanya terdiam dan menangis tanpa memeluk suaminya.
^^^
Siang hari setelah proses pemakaman Opa Rico, Najwa dan Akmal pamit pulang terlebih dahulu. Entah ada apa dengan mereka berdua, seperti menghindar dari keluarganya. Akmal sebenarnya masih ingin di sana, tapi Najwa memaksa pulang, dan beralasan tidak enak badan. Dan Rana, dia juga pulang langsung, karena suaminya ada urusan mendadak, dan Rana harus menemaninya. Semua melihat kecurigaan dari mereka.
Arsyad duduk di samping Raffi yang di mana di sisi Raffi ada Dio sedang menggendong Kiara, dan Farrel sedang bersama Rindra. Arsyad ingin menanyakan soal Najwa pada Raffi, karena dari kemarin Najwa menjadi pendiam lagi dan jarang menemuinya di rumah. Jika Arsyad ingin ke rumahnya dia juga beralasan sedang menemani Akmal seminar atau ke mana.
“Raf, kakakmu cerita dengan kamu soal apa gitu, curhat atau apa?” tanya Arsyad pada Raffi.
“Tidak, tidak pernah, bahkan jarang sekali Kak Najwa menghubungi Raffi. Tapi, sesekali main sih, kata Alin sering ke taman baca, itu saja yang Raffi tahu,” jawab Raffi.
“Abah sedikit curiga dengan kakakmu, dia seperti menyembunyikan sesuatu,” ucap Arsyad.
“Abah, semua orang yang sudah berkeluarga pasti memiliki masalah pribadi, jadi wajar kalau Kak Najwa, Rana, Dio, Farrel, Shifa, dan aku memiliki masalah dalam rumah tangga kami. Ada yang kiranya harus diceritakan, ada juga yang harus disembunyikan, hanya berdua saja yang tahu, kita dengan pasangan kita. Percayalah, serumit apapun masalah Kak Najwa, pasti akan bisa mengatasinya, aku percaya itu, Bah. Abah jangan khawatir, kecuali Akmal sudah benar-benar kelewatan, baru aku yang bicara,” ucap Raffi. Raffi memang tidak pernah gegabah jika menyikapi masalah, dia lebih baik menelusuri masalah dengan pelan-pelan, namun pasti
“Benar kata Raffi, Bah. Mungkin saja ada masalah yang mungkin Kak Najwa tidak mau berbagi dengan abah atau bunda,” imbuh Dio.
“Pakde tenang saja, Rana dan Kak Najwa mungkin sedang ada selisih pendapat saja dengan suaminya, dan jika suami mereka sudah melewati batas perlakuannya pada Rana atau Kak Najwa, ya kita mau tidak mau harus menengahinya. Seperti kemarin masalahku juga,” ucap Farrel.
“Iya, juga sih,” ucap Arsyad.
“Ini penerus opa,” ucap Dio sambil menepuk pundak Farrel.
“Tapi benar kata opa, jika tidak bisa menyatukan 2 wanita untuk saling menerima, mending jangan mendua, tapi ini kemauan Ismi, ya mau bagaimana lagi,” ucap Farrel.
^^^
Sudah satu minggu Opa Rico meninggalkan semuanya. Semua berkumpul di ruang tengah setelah selesai acara pengajian 7 hari Opa Rico. Arsyad dan Shita berkumpul bersama dengan anak dan menantunya, serta cucu mereka.
“Sekarang sudah tidak ada opa lagi. Ya, memang sepi sekali tidak ada opa yang selalu over protektif pada kita semua. Sekarang hanya tinggal kita, semua memang akan kembali pada Allah, karena apa yang ada di muka bumi ini milik Allah. Abah di sini hanya berpesan pada kalian semua, jaga apa yang sudah opa titipkan pada kalian, jaga baik-baik, dan selalu ingat titah dari opa,” ucap Arsyad pada anak-anaknya dan keponakannya.
“Dan, satu lagi, kalian semua saudara, kalian harus sama-sama, saling mendukung, saling menguatkan. Kalian harus tahu, jika ikatan keluarga mampu memberi semangat untuk saling berbagi dan mengasihi satu sama lain. Jangan pernah buang masa-masa indah kalian bersama, karena tak ada hal yang mampu membeli ataupun menggantikan masa itu,” tutur Arsyad.
“Dan, kalian jangan sampai melupakan saudara kalian hanya demi urusan dunia. Ya, urusan duniawi atau urusan harta lebih tepatnya,karena itu semua akan menjadikan keluarga terpecah belah. Kalian tahu, banyak sekali orang yang terlambat menyadari bahwa kelurga adalah harta yang tak ternilai dan tak tergantikan. Mereka akan sadar jika pengejaran harta yang mereka lakukan berujung dengan mala petaka. Karena, memiliki keluarga yang bahagia adalah sebuah surga yang datang lebih awal. Kalian harus ingat selalu kata-kata Oma Andini ini,” ucap Shita.
Semua saling memeluk, kata-kata Arsyad dan Shita membuat mereka sadar akan pentingnya kerukunan dengan saudara di dalam keluarga, baik saudara kandung ataupun saudara sepupu. Mereka sadar, bahwa mereka adalah satu, mereka bukan orang lain, karena mereka adalah keluarga. Benar sekali, memiliki keluarga yang bahagia adalah sebuah surga yang datang lebih awal.
THE END.
THE BEST BROTHER Season 4 End, ya? Mohon maaf kalau selama ini Author banyak salah pada kalian. Dan, mungkin akan lajut season 5. Tapi, ini hanya membahas keluarga Dio dan Rania yang harus menghadapi masalah besar soal Kiara putri tercintanya.
Dah... Sampai jumpa di Season 5. Up sekitar 2-3 harian lagi ya, kak? Langsung up di bawahnya, ya? Aku ketik sampai tamat dulu ceritanya, Cuma sedikit aja sih cerita mengulas kisah Dio dan Rania soal putri tercintanya. Anggap saja di season 5 ini, adalah ekstra part.
__ADS_1