
Rania membantu para pelayan menata sarapan di meja makan. Memang Rania sudar terbiasa dengan hal seperti itu setiap pagi. Jadi mau diam saja dia tidak bisa. Dio menghampiri istrinya yang sudah selesai menata sarapan. Memang sudah kebiasaan Dio jika isterinya sedang menata sarapan dia memeluknya dari belakang.
“Dio, banyak orang, jangan seperti ini.”
“Kenapa? Kamu malu? Kan kamu istri aku, kamu jangan kecapean, sayang. Lagian di sini banyak pelayan kok,” ujar Dio.
“Aku jenuh, mau apa coba, duduk-duduk saja? Huh ... tidak aku tidak bisa,” ucap Rania.
“Bandel,” tukas Dio.
“Mau makan nasi?” Rania meledek Dio dengan mengambilkan nasi.
Dio memang belum mau makan nasi, jangankan makan, melihat nasi saja ingin sekali mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
“Kamu ...! jauhkan itu dari aku, Rania!” Dio berkata sedikit kesal dengan Rania.
“Makanya jangan genit,” ucap Rania dengan menahan tawanya karena melihat wajah Dio yang memerah karena mual melihat nasi.
“Kejam kamu!” Dio meninggalkan Rania dan berjalan ke arah teras depan.
“Yah, ngambek dia,” ucap Rania lirih.
Rania mengambil roti dan mengolesi selai cokelat. Dia juga membuatkan susu cokelat untuk suaminya. Dio memang belum mau makan nasi, jadi Rania menyiapkan roti dan segelas susu, juga buah untuk sarapan Dio. Dia membawanya ke teras depan. Dio masih saja kesal dengan istrinya karena nasi.
“Jangan bilang itu nasi lagi,” ucap Dio dengan kesal saat Rania membawakan sarapan untuknya.
“Bukan ini roti selai, susu, dan buah untuk suamiku yang lagi ngidam,” jawab Rania.
“Kalau di pikir-pikir, aneh ya? Aku yang hamil, kamu yang ngidam. Jadi aku tidak bisa manja-manja dan ngerjain kamu dong,” sambung Rania.
“Maksudnya, ngerjain aku dalam hal apa?” tanya Dio.
“Kan biasanya nih, kalau lagi hamil pasti kan malam-malam pengen ini lah, itu lah. Kalau kamu suami siaga kan kamu harus mau menurutinya, sayang?” jawab Rania.
“Hemm ... jadi mau seperti itu? Kamu boleh ngidam, apapun yang kamu mau, mau jam berapapun, aku turuti. Asal, kamu masih mau makan nasi, dan sehat. Untung aku yang seperti ini. Coba kalau kamu, aku tidak tega, kalau itu sampai terjadi sama kamu. Bahkan, jika bisa, saat kamu melahirkan, aku ingin menggantikannya, agar kamu tidak merasakan sakit,” ujar Dio.
“Gak usah berlebihan. Kamu tidak mendua saja aku sudah bahagia,” ucap Rania.
“Itu tidak mungkin, Sayang. Apalagi, ada anak kita di dalam perut kamu. Kita akan mendapat kebahagian lagi, sayang,” ucap Dio.
“Ya sudah, ini sarapannya di makan.” Rania memberikan Roti selai pada Dio.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Dio.
“Nanti, semua belum pada keluar kamar, aku mau menemani kamu sarapan dulu,” jawab Rania.
__ADS_1
“Ran, pulang yuk?” ajak Dio.
“Kak Fattah kan belum mengajak pulang, sayang,” ucap Dio.
“Kamu masih betah di sini?” tanya Dio.
“Betah tidak betah, sih. Pengennya ya pulang, tapi mau gimana lagi?” jawab Rania.
Dio sebenarnya sudah tidak enak berada di rumah Opa Wisnu. Bukan karena dia ingat akan masa lalunya bersama Najwa. Dia hanya tidak enak saja dengan istrinya. Karena Dio selalu melihat tatapan Najwa saat menatap dirinya, menunjukkan tidak ikhlas kalau dirinya bahagia dengan Rania. Apalagi soal semalam. Dia melihat tatapan sendu dari mata Najwa saat dia sedikit mesra dengan istrinya.
Bukan dia mau pamer kemesraan di depan semua orang. Dio memang tidak bisa menghilangkan kebiasaannya dengan Rania yang selalu mesra. Bagi Dio, masa lalu ya sudah itu masa lalu. Mungkin, bagi seorang Najwa, ini sangat menyakitkan. Apalagi, dia merasa hanya di jadikan pelampiasan Dio saja.
“Dio,” panggil Rania.
“Hemm ...” jawabnya dengan mengunyah roti selai buatan istrinya.
“Jujur saja, aku tidak enak dengan Najwa,” ucap Rania.
“Tidak enak bagaimana?” tanya Dio.
“Semalam ...” ucapan Rania terpotong oleh Dio.
“Iya, aku juga melihat Najwa menatap kita, ya seperti itu. Makanya aku ingin pulang. Karena aku tahu, dalam hati kecilnya dia membenci aku, dan masih belum bisa memaafkan aku, sayang,” ucap Dio.
“Kalau menurutku bukan karena itu,” ucap Rania.
“Dia masih ada hati yang tersisa untuk kamu. Meskipun ada Habibi yang sangat mencintainya,” jawab Rania.
“Entahlah, tapi aku sudah menutup dan membuang semua rasa itu, Ran. Aku punya masa depan, aku punya kamu, dan aku ingin kita melangkah ke depan tanpa menoleh ke belakang,” ucap Dio.
“Sudah jangan di pikirkan soal ini. sekarang, kamu sarapan, katanya hari ini mau jalan-jalan lagi,” imbuh Dio.
“Ya sudah, aku ke dalam dulu.” Rania masuk ke dalam dan bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
Sebenarnya Rania masih sedikit takut Dio berpaling lagi dari dirinya. Dia melihat suaminya menatap Najwa dengan tatapan penuh perasaan. Entah perasaan apa yang masih tertinggal di hati Dio untuk Najwa. Perasaan cinta atau perasaan bersalahnya pada Najwa.
^^^^^
Najwa tadi tidak sengaja mendengar percakapan Dio dan Rania. Saat dia kan keluar ke depan, dia mendengar Dio sedang membicarakan dirinya dengan Rania. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar dan mendengarkan apa yang dikatakan Dio tentang dirinya.
Dia mendengar sendiri kalau Dio benar-benar sudah membuang rasa cinta pada dirinya. Ada sedikit rasa kecewa dan menyesal pada diri Najwa saat mendengarnya. Dio dengan gampangnya melupakan semuanya, dan kini dia mendapat kebahagiaan seutuhnya dengan Rania.
Sedangkan dirinya. Mencintai Habibi saja dia masih terbayang dosa yang ia lakukan dengan Dio. Tapi, Dio dengan entengnya sudah melupakan.
“Seperti itulah lelaki. Iya, hanya Habibi lelaki yang baik. Dia mau menerimaku apa adanya. Dia mau menyembuhkan lukaku yang teramat dalam sekali. Hanya Habibi yang mampu meredakan rasa takut dalam diriku. Aku harus bisa, aku harus bisa melupakan Dio. Dan, aku harus bisa hidup bahagia seperti Dio dan Rania,” gumam Najwa dengan bercermin dan menata jilbabnya.
__ADS_1
Najwa memoles make up tipis di wajahnya. Dia hari ini akan di ajak Habibi keluar. Katanya mau mengantar Fattah dan lainnya jalan-jalan.
“Aku harus bisa, bersikap biasa dengan Dio dan Rania,” ucap Najwa lirih.
^^^
Semua sudah duduk di depan meja makan untuk sarapan. Tinggal Najwa saja yang belum kelihatan.
“Mana Najwa, Nuy?” tanya Habibi.
“Masih di kamarnya mungkin,” jawab Nuri.
Tak lama kemudian Najwa keluar dari kamarnya. Dia duduk di tengah-tengah Arkan dan Raffi.
“Dandannya lama sekali, kak?” tanya Raffi.
“Jangan salah, kakakmu itu bukan dandannya lama. Dia itu hobi ngulur waktu. Udah mandi malah tiduran lagi, nanti mau pakai baju lelet banget,” jawab Nuri.
“Ih ... sok tahu,” tukas Najwa.
“Tahu lah, hampir satu tahun sama kamu, masa gak tahu,” jawab Nuri.
“Maklum, dia putri solo, Nuy,” sambung Habibi.
“Oh, jadi seperti itu? Padahal dia dulu tidak seperti ini lho, Kak Nuri. Dia dulu orangnya energik, semangat, hobi gubrak-gubrak aku kalau lelet,” ujar Raffi.
“Hidup kan harus ada perubahan, Raf. Kalau dulu Najwa seperti itu, dan sekarang Najwa seperti ini,” jawab Najwa.
“Aku lebih suka Najwa yang sekarang,” ujar Habibi.
“Why?” tanya Najwa.
“Karena dulu kamu jutek,” jawab Habibi.
“Sudah, kita sarapan dulu,” ujar Opa Wisnu.
Mereka sarapan pagi bersama. Seperti biasa hanya Dio yang tidak ikut, karena dia tidak mau makan nasi. Suana hening menyelimuti di ruang makan. hanya suara dentingan peralatan makan yang menggema di ruang makan.
“Ran, bagaimana hasilnya?” tanya Opa Wisnu.
“Hasil apa, opa?” Rania balik bertanya, karena ia lupa dengan hasil testpacknya.
“Test kamu, Nak,” jawab Opa Wisnu.
“Ehm ... a--aku ... aku hamil, Opa,” jawab Rania.
__ADS_1
“Alhamdulillah, aku mau dapat keponakan,” ucap Shifa dengan bahagia dan memeluk Rania.
Semua mengucapkan selamat pada Rania. Begitupun Najwa, padahal dia sudah tahu dari tadi, saat mendengar Rania dan Dio kalau Rania hamil.