THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 86


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, akhirnya mereka pulang ke rumah. Arsyad dan Almira tidak jadi pergi ke rumah Abah. Karena, Arsyad harus menemui Klien nya di sebuah hotel bersama Rayhan.


Arsyad mengantar Mira ke rumah Ibunya.


"Tidak apa-apa kan aku tinggal kamu sebentar menemui Klien? Kamu sama ibu dulu ya di rumah?"tanya Arsyad.


"Iya tidak apa-apa mas, kan ada Shita juga."jawabnya.


Arsyad melakukan mobilnya menuju rumah nya dengan cepat, karena Rayhan sudah menunggunya.


Arsyil dan Annisa langsung menuju bengkel Arsyil, banyak yang harus Arsyil kerjakan di bengkel, setelah beberapa bulan dia mempercayakan bengkelnya pada Mas Wahyu dan Donni.


Arsyad tiba di rumahnya, mobil Vino sudah terparkir di halaman rumah nya. Arsyad dan Almira segera masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Arsyad berganti pakaian terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Ray dan Klien nya. Setelah berganti baju, dia pamit dengan Rico dan Andini.


"Kamu rapih sekali Syad, mau kemana?"tanya Rico.


"Arsyad hampir lupa pah, hari ini harus menemui Klien dengan Ray di Hotel K. Arsyad berangkat dulu ya pah, Bu."Arsyad pamit dengan kedua orang tuanya.


"Sayang, sama ibu dulu ya, aku berangkat. Do'a kan semoga berhasil ya?"pamit Arsyad pada istrinya.


"Iya mas hati-hati, aku selalu mendo'akan mu mas." Almira mencium tangan Arsyad.


"Ya sudah aku berangkat, kamu jaga diri baik-baik."Arsyad mencium kening istrinya.


"Ya ampun, pengantin baru, mau ke kantor aja seperti mau ke luar kota yang cukup lama. Tenang istrimu di sini aman Syad. Sudah hati-hati kamu." Rico meledek Arsyad yang sepertinya masih ingin bersama Almira di rumah.


"Iya pah. Arsyad berangkat dulu ya semua, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka.


Almira mengikut Arsyad sampai ke depan, dia melambaikan tangan pada suaminya, Arsyad melajukan mobilnya menuju hotel yang sudah di beritahu oleh Rayhan. Almira masuk kembali ke dalam rumah saat mobil Arsyad sudah berlalu dan hilang dari pandangannya.


Sementara Shita harus ikut Vino untuk mencari baju pengantin dan mencari Souvernir untuk resepsi pernikahannya. Shita ingin sekali mengajak Almira, namun Almira tidak mau ikut, dia ingin bersama ibu mertuanya di rumah. Karena ingin belajar memasak dengan mertuanya.


"Kak, ayo ikut." ajak Shita.


"Kakak di rumah saja Ta, kakak ingin belajar memasak sama ibu. Ta, kakak tidak masak. Masa kakak tidak pernah membuatkan Kakakmu Teh atau kopi selama kakak menikah dengan kakakmu."ucap Mira dengan malu pada Shita.


"Yakin kakak tidak bisa masak? Buat kopi atau teh saja kakak tidak bisa?"tanya Shita.


Almira hanya menggelengkan kepalanya dan mau pada adik iparnya itu.


"Kakak bisa buat teh atau kopi, tapi pasti tidak enak jadinya. Mungkin, karena takarannya kurang pas."ucap Mira.


"Ya sudah kalau kakak mau belajar memasak sama ibu, Shita tidak memaksa Kakak untuk ikut dengan Shita. Jangan bersedih kak, tidak bisa memasak bukan akhir dari segalanya. Pasti kakak nanti bisa, bahkan bisa jadi masakan kakak lebih lezat dari masakan ibu atau masakan ku kak."ujar Shita.


"Shita berangkat dulu ya kak."pamit Shita


"Iya kalian hati-hati ya?"


"Iya kak."


Shita dan Mira keluar dari kamar Shita, setelah itu Shita pamit kepada Papah dan ibunya untuk pergi bersama Vino. Shita dan Vino sudah berangkat, tinggal Rico, Andini dan menantunya, yaitu Almira. Almira membereskan gelas yang tadi pagi di pakai untuk meminum teh sebelum berangkat ke pantai. Dia membawanya ke dapur dan mencucinya.


"Jujur, baru kali ini aku mencuci piring dan gelas. Ya Allah, perempuan macam apa aku ini. Aku hidup bak ratu di kerajaan yang selalu di layani para dayang-dayang. Sekarang aku harus bisa melakukan semua ini. Aku tak mau bergantung pada Asistenku di rumah."gumam Almira dalam hatinya.


Dia hati-hati sekali mencuci piring dan gelas. Dia menaruh di rak piring yang berada di samping tempat cuci piring.


Andini masuk ke dalam dapur, karena akan membuatkan suaminya kopi. Dia melihat Mira yang sudah selesai mencuci piring dan gelas. Dia mendekati menantunya.


"Mira, kamu cuci semua piring dan gelasnya?"tanya Andini.


"Iya Bu, ibu dari tadi di sini?"tanya Mira.


"Tidak, baru saja. Ibu mau membuatkan kopi papah."jawab Andini


"Kebetulan, Mira mau tahu cara membuatnya biar bisa enak seperti buatan ibu."ujar Mira


"Boleh-boleh, ayo ibu kasih tau untuk membuat kopi yang nikmat."Andini mulai mengajari menantunya untuk membuat kopi yang nikmat.


Dia mengajari takaran kopi dan gula yang pas pada menantunya. Almira memperhatikan dengan seksama ibu mertuanya yang sedang mengajarinya membuat kopi.


"Ibu nanti mau masak tidak?"tanya Mira.


"Iya nanti ibu mau masak, kenapa Mira?" Andini bertanya pada Mira.


"Bolehkah Mira belajar memasak dengan ibu? Mira tidak bisa memasak ibu."ucap Mira dengan menundukan kepalanya.


"Iya sayang nanti ibu ajari kamu memasak, ibu antarkan kopi ini pada papah dulu ya." Andini keluar menuju teras belakang mengantarkan kopi untuk suaminya. Seperti biasa Rico sedang membaca surat kabar hari ini. Andini meletakan kopi di meja samping Rico.


"Pah, kopinya."ujar Andini.


"Iya Bu, Mira dimana?"tanya Rico.


"Di ruang tengah, Nanti ibu mau mengajari Mira memasak Pah."


"Mengajarinya? apa dia tak bisa memasak?"tanya Rico.


Andini hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Ya sudah ibu ajari menantu ibu memasak."


Andini masuk ke dalam, dia melihat Almira yang sudah berganti baju, dia memakai baju santai di rumah. Dress panjang dengan Khimar yang tak terlalu besar. Tapi, tetap menutupi dadanya.


"Mira, ayo sayang katanya mau belajar memasak."ajak Andini


"Iya ibu." Almira mengikuti mertuanya ke dapur.


Andini menyiapkan bahan-bahan masakan dan sayuran, kali ini Andini mengajari Mira membuat sayur sop. Andini menyiapkan bahan-bahan dan Sayuran nya. Almira membantu mencuci semua sayuran nya. Setelah itu Andini mengajari cara memotong-motong sayurannya. Almira mencoba memotong wortel dan kentang sesuai yang di ajari Andini. setelah selesai, Almira mengupas bawang merah dan bawang putih. Almira mengiris tipis bawang merah dan bawang putih untuk di jadikan bawang goreng. Dia merasa pedas pada matanya saat mengiris bawang merah hingga dia meneteskan air mata.


"Ibu, pedih sekali mata Mira."ucap nya.


"Apa kamu baru pertama memasak?"tanya ibu


Mira hanya menganggukkan kepalanya.


"Itu wajar sayang, nanti kalau sudah terbiasa tidak seperti itu kok. Sudah selesai mengiris bawangnya?"


"Sudah ibu, benar seperti ini?"tanya Mira


"Iya benar, tapi masih kurang tipis lagi."ucap Andini.


"Ya Allah, ternyata menantuku sama sekali tidak bisa memasak, bagaimana dengan Arsyad. Kasihan dia tak bisa menikmati masakan istrinya."gumam Andini yang melihat irisan bawang Mira masih berantakan.


Almira menumbuk bumbu untuk sayur sop. Andini mengajari cara menumbuknya dan Almira mengikuti apa yang Andini ajarkan. Setelah selesai Andini menyiapkan wajan untuk memasak sayur. Dia menyatakan 4sendok makan minyak sayur untuk menggoreng bawang goreng terlebih dahulu.


Andini mengajarkannya pada Andini cara menggoreng bawang goreng agar tidak gosong. Tapi, Almira lalai, dan jadilah bawang goreng gosong.


"Mira, itu gosong bawangnya, cepat di angkat dulu dan matikan apinya."ucap Andini


"Ibu, maaf, jadi gosong seperti ini."

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, nanti ibu buat lagi."


"Lalu ini di buang?"tanya Mira


"Iya, mau di pakai nanti sayurnya jadi pahit sayang, kan ini gosong."ujar Andini.


"Ya sudah sini Almira kupas lagi bawangnya dan Almira iris lagi."


Almira kembali mengupas 3 siung bawang merah dan 1 siung bawang putih, setelah itu dia mencucinya lalu mengirisnya tipus-tipis. Kali ini irisan Mira lebih rapih di bandingkan tadi. Dia langsung menggoreng bawang irisannya tersebut. Dan, dia berhasil membuat bawang gorengnya tidak gosong lagi.


"Ibu seperti ini kah?"tanya Mira


"Hmmm...iya sayang, itu bisa. Sekarang kecilkan api nya dulu, lalu masukan bumbu yang kamu haluskan tadi."Andini dengan telaten mengajari menantunya.


Almira dengan hati-hati memasukan bumbu yang sudah di haluskan tadi. Dia menumis bumbunya sampai harum dan berubah warna menjadi kecoklatan.


"Ibu ini sudah, lalu bagaimana lagi?"tanya Mira.


"Masukin daun bawang dan seledri lalu wortel dan kentang nya." Almira mengikuti instruksi dari ibu mertuanya. Dia terlihat masih kaku sekali memasaknya.


"Setelah agak layu, tambahkan air kira-kira 2 gelas takar ini sayang." Andini mengambilkan air dan Almira yang menuangkannya.


"Sudah, tunggu sampai mendidih dulu. Lalu, setelah mendidih kamu cicipi dulu sudah pas belum rasanya, dan setelah itu masukan logisnya." Andini menjelaskan semua pada Almira.


Almira mengikuti apa yang di ajarkan Ibu mertuanya. Dia menambahkan sedikit garam pada sayur sopnya. Setelah yang di rasa sudah enak, dia memasukan kobis nya dan menunggu agak layu.


Rico melihat Andini dan Mira sedang memasak dan mendekatinya.


"Coba papah cicipi masakan menantu papah ini."ucap Rico.


Rico mencicipinya, dia mreadakan masakan Almira sedikit hambat, karena kurang asin.


"Bagaimana pah? Pasti tidak enak ya?"ucap Mira dengan manja.


"Enak, Tapi, kurang sedikit lagi asinnya."


"Coba ibu cicipi."Andini mencicipi masakan Mira.


"Iya sayang ini kurang asin sedikit. Coba kamu cicipi lagi." Andini memberikan mangkuk dan menyendokan sayur pada Mira.


"Ihh...iya Bu, tadi sepertinya sudah pas."ucap Mira.


"Tadi kan kamu menambahkan garam sebelum memasukan kobis, nak. Jadi, setelah di masukan kobis rasa asinnya sedikit berkurang."jelas Andini. Andini memasukan garam sedikit lagi pada sayur sopnya.


Setelah di rasa sudah enak, dia segera mematikan apinya dan menaburkan bawang goreng pada sayur sopnya.


"Ibu, boleh kan Almira tinggal di sini dulu. Almira mau belajar memasak dengan ibu dulu. Almira malu, tidak bisa memasak untuk suami. Jangankan memasak, membuat kopi dan teh saja Almira tidak bisa." Almira berkata dengan menundukan kepalanya karena Malu.


"Iya boleh sayang, ibu malah senang, jadi ibu ada temannya saat Shita tidak di rumah. Iya kan pah?" ujar Andini.


"Iya Mira, kamu boleh tinggal di sini, mau sampai kapanpun boleh. Malah, Papah senang jika kamu dan Arsyad tinggal di sini lebih lama."jelas Rico.


"Makasih Ibu, Papah. Maafkan Almira, tidak bisa memasak untuk Arsyad. Mira sama sekali tidak bisa memasak, dan baru ini Mira memasak, Mira malu, sudah punya suami tapi tidak bisa memasak. Sedangkan, Shita dan Annisa, dia belum menikah tapi sudah bisa memasak."ucap Mira


"Tidak apa-apa, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa, sayang."ucap Andini.


Andini kembali mengajari Almira menggoreng ayam. Almira takut terkena minyak panas yang meletup-letup karena menggoreng ayam. Tapi, dia tidak menyerah dan akhirnya dia bisa menggoreng beberapa potong ayam. Rico tersenyum melihat menantunya menggoreng ayam dengan begitu takut.


Setelah selesai semua, Almira menata Ayam gorengnya di piring saji, dan meletakan sayur sopnya pada mangkuk sayur. Mereka meninggalkan dapur setelah selesai memasak. Almira menuju ke kamarnya untuk mandi, karena merasa tubuhnya bau masakan.


"Begini ya menjadi seorang istri, Ibu wanita yang sangat sempurna sekali, aku harus belajar lagi dengan ibu."gumam Mira sambil menuju kamar mandi.


Sementara Arsyil dan Nisa sudah sampai di bengkelnya. Mereka masuk ke dalam bengkel dan menuju rumah mereka lewat lorong yang terhubung dengan bengkel. Arsyil menunjukan ruang tamu yang baru dia renovasi.


"Bagus, aku suka sekali warna Wallpaper nya sayang. Kamu kok tahu aku suka motif dan warna seperti ini?"


"Jelas lah tau, apa yang aku tak tahu dari kamu sayang."Arsyil memeluk Nisa dari belakang dan mencium tengkuk Nisa.


"Ayo ke kamar."ajak Arsyil.


"Mau apa?"tanya Nisa.


"Aku kengen kamu Nisa."


"Kangen? Gak ntar kamu macam-macam di kamar, di sini saja berani meluk-meluk."ucap Nisa dengan wajah cemasnya


Arsyil terkekeh melihat calon istrinya memasang wajah cemas seperti itu.


"Ayo ikutlah ke kamar, sebentar saja."Arsyil menarik tangan Annisa dan memaksa masuk ke dalam kamar. Arsyil menutup pintu kamarnya.


"Kenapa di tutup?"tanya Nisa yang semakin cemas.


"Biar gak ada yang lihat."jawab Arsyil dengan santai dan tersenyum manis.


"Syil, jangan macam-macam ya."ucap Nisa yang semakin menjauh dari Arsyil.


"Emang aku mau apa, aku mau menunjukan itu lemari sama meja riasnya bagus tidak, aku kemarin baru saja membeliny di meuble langganan papah."ucap Arsyil sambil terkekeh.


"Ih....kamu, gak lucu tau, aku kira mau apa." jawab Nisa dengan kesal.


"Emang mau apa, makanya pikirannya jangan mesum dulu Bu. Bagaimana bagus tidak?"tanya Arsyil sekali lagi.


"Ih,,,ibu lagi, emang aku udah ibu-ibu."ucap nya sambil melihat setiap sudut lemari dan meja rias yang Arsyil baru beli.


"Kan kamu calon ibu dari anak-anakku kelak sayang, sudah jawab dulu pertanyaan ku bagus tidak?"


"Bagus sekali, aku suka. Terima kasih Syil, kamu sudah menyiapkan ini semua untuk aku." Annisa memeluk Arsyil.


"Iya sama-sama, sudah jangan meluk-meluk ini di kamar. Jangan menggodaku Nisa."


"Ih,,, siapa yang menggodaku. Ayo ah keluar, takutnya Arsyil macam-macam."ujar Annisa yang berlalu meninggalkan Arsyil dalam kamar.


Arsyil tersenyum bahagia sekali. karena, berhasil membuat calon istrinya bahagia dan suka dengan pemberiannya.


"Annisa, kamu berhasil membuat jatuh cinta setiap hari."gumam Arsyil dalam hati.


Mereka kembali ke bengkelnya. Mas Wahyu menemui Arsyil di ruangannya, dia melaporkan nota pembelian sparepart motor yang baru datang dari suppliernya. Arsyil mengecek dengan teliti. Lalu dia berjalan keluar dan menyamakan barang yang tertera pada nota dengan sparepart yang ada.


Annisa mengikuti Arsyil yang sedang menata sparepart motor dalam lemari dan etalase.


Sesekali Annisa tanya pada Arsyil ini namanya apa dan untuk apa kegunanaan nya. Arsyil menjawab dengan detail pada Annisa dan menjelaskannya.


"Sayang tau ini apa?"tanya Arsyil dengan menunjukan satu sparepart yang di pegang nya.


"Ehm ..tidak tahu."jawab Nisa yang masih mengelap kaca etalase yang agak berdebu.


"Ini namanya Piston sayang, ibarat kata ini adalah jantungnya sepeda motor. Kalau ini tidak ada, sepeda motor tidak bisa hidup. Sama seperti kamu, kamu adalah jantungku. Kalau kamu tidak ada, entahlah aku bagaimana. Mungkin seperti sepeda motor yang tanpa Piston."jelas Arsyil dengan memainkan mata genitnya


"Ih....jago gombal ya sekarang kamu."ucap Nisa sambil mencubit pipi Arsyil.


"Gombal sama calon istri sendiri sah-sah saja kan? Aku tidak gombal Nisa, itu kenyataannya. Aku tidak mau jauh-jauh dari kamu."jelas Arsyil.

__ADS_1


"Sudah, jangan macam-macam itu banyak customer kamu yang lihat lho."ujar Nisa.


Arsyil hanya tersenyum sambil menata kembali sparepart nya. Annisa membantunya menata dan membersihkan Etalase yang terkena debu. Setelah selesai Arsyil kembali mengecek laporan keuangan bengkelnya di ruangannya. Sedangkan Annisa, dia membereskan rumah dan menyapunya agar terlihat bersih. Saat Nisa sedang membersihkan rumahnya, Ponsel Nisa yang berada di ruangan Arsyil berdering, terlihat nama Vera sahabat Nisa yang menelfon nya.


Arsyil mengangkat telfonnya dan berbicara pada Vera


{Hallo Nisa, aku kangen sekali lama tak bertemu kamu}


{Iya Vera, ini Arsyil, Annisa sedang di rumah.}


{Kok ponselnya ada pada kamu Syil.}


{Iya, dia sedang di rumah, ponselnya dia taruh di ruang kerjaku. Kemarilah kalau kalian rindu pada Nisa. Dia di bengkel bersamaku.}


{Baiklah, aku dan Rere ke bengkel kamu.}


{Oke, nanti aku bilang pada Nisa.}


Arsyil menutup telfon dari Vera, dia meletakan kembali ponsel Nisa. Dia kembali mengerjakan laporannya yang masih menumpuk.


Tak lama kemudian Rere dan Vera sampai di bengkel Arsyil. Doni menemui mereka.


"Siang mba, ada yang bisa saya bantu?" sapa Doni


"Mas, Arsyil sama Annisa nya ada?"tanah Vera.


"Oh ada, mari mba, saya antarkan ke ruangan Mas Arsyil." Doni mengantarkan Vera dan Rere ke ruangan Arsyil.


Doni mengetuk ruangan Arsyil dan mempersilahkan Vera dan Rere masuk.


"Mas Arsyil ada yang mencari mas dan Annisa."ucap Doni.


"Oh iya, kalian sudah datang? Ayo ke rumah, Annisa sedang di rumah."Arsyil mengajak mereka ke rumah nya. Mereka berdua bingung.


"Katanya tadi Annisa di sini, kok di rumah."ucap Vera lirih yang di dengar oleh Rere.


"Iya ya Ver, ini ke rumah tapi kok lewat lorong gini."ucap Rere lirih.


Mereka sampai di depan pintu rumah Arsyil, Arsyil mengajak Rere dan Vera masuk ke dalam.


"Ayo masuk Ver, Re, Annisa ada di dalam. Mungkin di kamar atau di ruang baca. Sebentar aku panggilkan." Arsyil mengajak mereka masuk. Vera dan Rere semakin kebingungan. Mereka tidak tahu kalau Arsyil memiliki rumah di samping bengkelnya.


"Ini rumah siapa Syil?"tanya Rere.


"Ini rumah ku Re."jawab Arsyil.


"Ayo ikut aku."ajak Arsyil


Arsyil berjalan menuju kamar, dia membuka pintu kamarnya, namun tak ada Annisa di dalam kamarnya. Dia menuju di ruang baca. Dan, ternyata Annisa sedang menata buku-bukunya di rak buku dan membersihkannya.


"Sayang, coba lihat siapa yang datang."Arsyil menunjukan Rere dan Vera di belakangnya.


"Rere, Vera, aku kangen kalian."Nisa begitu senang melihat kedua sahabatnya datang menemuinya.


"Kalian kenapa tidak bilang mau ke sini?"tanya Nisa


"Miss you..."Rere dan Vera memeluk Nisa.


"Aku tadi menelfon mu. Arsyil yang mengangkat dan menyuruh kita ke sini."jelas Vera


"Benarkah Syil?"tanya Nisa


"Iya sayang, ya sudah kalian puas-puasin kerinduan kalian. Aku pesankan makanan untuk kalian dulu."ucap Arsyil.


"Iya Syil, terima kasih. yang banyak ya pesannya."jawab Rere.


"Iya, iya, ya sudah Sayang, aku tinggal ke bengkel dulu. Kalian baik-baik di sini, nanti Doni aku suruh mengantarkan makanan pesanan nya."ucap Arsyil sambil mengecup kening Nisa


"Haduh......jangan di depan jomblo dong, main nyium-nyium gitu ih...."ucap Vera.


"Biar jomblo nya cepat cari pacar."jawab Arsyil sambil berlalu meninggalkan mereka.


Annisa duduk di ruang tengah bersama kedua sahabatnya, mereka melepaskan rindu yang sangat mendalam.


"Nis ini benar rumah Arsyil?"tanya Rere.


"Iya Re, ini rumah dia, Arsyil sengaja membuat rumah ini untuk nanti setelah menikah denganku. Dan rencananya pernikahan kami nanti akan digelar di sini."jawab Nisa


"Arsyil, laki-laki idaman sekali. Pantas saja kamu tidak mau dengan Pak Arsyad."ujar Vera.


"Oh iya, apa benar Pak Arsyad kakak kandung Arsyil?"tanya Rere.


"Iya benar, Kak Arsyad sudah menikah seminggu yang lalu."jawab Nisa.


"Apa? menikah? dengan siapa?"tanya mereka heboh


"Istrinya bernama Almira, dia penulis novel, ini aku punya beberapa buku-bukunya Kak Mira. Dia sangat cantik sekali, dia wanita bercadar."jelas Nisa.


"Wah, cocok tuh sama Pak Arsyad."ucap Vera


"Iya cocok sekali."


"Aku penasaran sekali."ucap Rere.


"Nanti kalau aku menikah kamu pasti lihat. Atau nanti aku ajak kalian ke taman baca Kaka Mira saja, dia punya taman baca yang sangat luas dan lengkap sekali buku-bukunya."jelas Nisa.


"Boleh juga tuh."ucap Vera.


Tak lama kemudian Doni mengantarkan makanan yang di pesan Arsyil untuk Annisa dan kedua sahabatnya. Doni segera keluar meninggalkan mereka setelah mengantarkan makanannya. Mereka menikmati makanan yang di pesankan Arsyil dan seperti biasa mereka bercanda dengan bahagia. Karena, sudah lama tidak bertemu selama Annisa lulus kuliah.


Arsyil masuk ke dalam rumahnya, dia melihat Annisa yang bahagia sekali bertemu dengan kedua sahabatnya.


"Apapun yang membuat kamu bahagia akan aku lakukan Nisa, selagi aku mampu untuk membuatmu bahagia."gumam Arsyil dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reding♥️


Hai.....ini Author Up lagi. Semoga kalian semakin suka dengan ceritanya dan setia menunggu Author yang kadang telat up nya. Jangan lupa like nya ya, Mira vote nya juga dong.hehehe.


__ADS_2