THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 33 "Kita Jadian?"


__ADS_3

Hari semakin sore, Arsyad, Annisa dan anak-anaknya kembali pulang ke rumah Rico. Anak-anak merasa bahagia tinggal di rumah barunya. Apalagi di belakang ada kolam renang,embuat mereka semakin betah berada di rumah. Raffi juga sangat senang, karena rumah baru Abahnya memiliki halaman rumah yang luas, sama seperti rumah Almira. Jadi dia bebas bermain sepak bola.


Annisa dan Arsyad masih saja saling diam, dia masih bergelut dengan perasaannya masing-masing. Annisa masih memikirkan ucapan Arsyad tadi, yang ingin menjadikan Nisa sebagai pacaranya. Lucu saja menurut Annisa, dia sampai berdebar-debar hatinya saat Arsyad bicara seperti itu. Dia merasakan muda lagi, seperti waktu di tembak pacar.


"Kalau aku pikir-pikir ada benarnya juga Kak Arsyad bicara seperti itu, biarlah, biar aku bisa flashback masa-masa pacaran,"gumam Annisa.


Arsyad melirik istrinya yang masih saja diam seribu bahasa di sampingnya. Arsyad merasa tidak enak sekali dengan Annisa karena ucapannya tadi.


"Iya, aku salah, dia istriku, seharusnya aku memperlakukan dia layaknya seorang istri, bukan pacar,"gumam Arsyad.


Mereka sudah sampai di kediaman Rico. Rico menunggu mereka pulang dari tadi. Rico menyambut kedatangan cucu-cucunya. Rico tau kalau mereka baru saja mengunjungi rumah baru yang akan mereka tempati.


^^^^^^


Arsyad duduk di samping papahnya yang sedang menikmati teh hijau di sore hari di teras depan. Annisa bersama anak-anak masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.


Arsyad menyandarkan tubuhnya di kursi, diaemarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan.


"Kenapa? Kamu dari mana saja?"tanya Rico.


"Aku lelah, pah. Dari rumah Arsyad yang baru,"jawab Arsyad


"Tumben kamu mengeluh lelah, Syad? Rumah baru?"tanya Rico.


"Kan tadi Arsyad sudah ngabari papah lewat WhatsApp, kalau Arsyad dan Annisa sedang di rumah baru Arsyad,"ucap Arsyad.


"Papah kira kamu di rumah mu, rumah Almira, kamu lelah kenapa?"tanya Rico lagi.


"Lelah saja, habis bantuin Mas Joko bersih-bersih rumah. Pah, Arsyad Minggu depan tinggal di rumah Arsyad yang baru ya?"tanya Arsyad.


"Lalu rumah kamu? Rumah Annisa?" Rico balik bertanya pada Arsyad.


"Arsyad ingin beda suasana saja, pah. Arsyad dengan Annisa juga butuh penyesuaian lagi, walaupun dulu Arsyad mencintai Annisa, sangat mencintainya. Tapi, rasa itu sekarang sama sekali tidak ada pah, tidak ada di hati Arsyad. Hanya Almira yang ada di hati Arsyad. Makanya Arsyad ingin pindah suasana baru. Semoga saja Arsyad bisa kembali mencintai Annisa,"ucap Arsyad.


"Iya memang harus seperti itu, Syad. Kamu juga harus bisa menerima keadaan ini, kasihan Annisa. Sepertinya dia bisa lebih sedikit menerima semua ini ketimbang kamu, Syad,"ucpa Rico.


"Arsyad belum bisa pah, melupakan Almira, rasanya sudah sekali menghapus Almira dari hati Arsyad,"ucpa Arsyad.


"Kamu harus bisa, Syad. Sekarang keadaannya sudah beda, kamu harus bisa menerima itu,"ucap Rico.


"Iya, pah, semoga saja,"ucap Arsyad.


"Jangan sampai kamu menyesal, kamu beli rumah itu kapan?"tanya Rico.


"Dulu pah, sebelum aku kenal Almira, rumah itu sengaja Arsyad beli untuk Annisa. Setelah Arsyad tau, Annisa kekasih Arsyil. Arsyad sudah tidak menghiraukan rumah itu lagi, dan sekarang, Arsyad ingin mengajak Annisa tinggal di sana,"ucpa Arsyad.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama papah?"tanya Rico.


"Karena Arsyad ingin melupakan itu semua, dan berkali-kali Arsyad menawarkan untuk di jual, tidak ada yang pas harganya,"jelas Arsyad.


"Pah, nanti papah ikut Arsyad ke sana ya?"pinta Arsyad.


"Kasihan rumah ini, nak,"ucpa Rico.


"Pah, papah nanti sendirian,"ucpa Arsyad.


"Ikut ya, pah,"pinta Arsyad.


"Nanti papah pikir-pikir lagi, ya. Sana kamu mandi dulu, sudah sore sekali," titah Rico


"Iya, pah, Arsyad masuk dulu," pamit Arsyad.


"Syad." panggil Rico pada Arsyad. Arsyad menoleh ke arah papahnya.


"Iya, pah,"jawab Arsyad.


"Jangan lupa buatkan papah cucu lagi, biar tambah rame rumah ini,"ucap Rico sambil meledek Arsyad.


"Ah, papah ini, aku kira ada apa." Arsyad hanya tersenyum pada Rico dan berjalan masuk ke dalam.


^^^^^^


Annisa terdiam di kamarnya, di mendengar apa yang Arsyad bicarakan dengan papahnya.


"Arsyad ingin beda suasana saja, pah. Arsyad dengan Annisa juga butuh penyesuaian lagi, walaupun dulu Arsyad mencintai Annisa, sangat mencintainya. Tapi, rasa itu sekarang sama sekali tidak ada pah, tidak ada di hati Arsyad. Hanya Almira yang ada di hati Arsyad. Makanya Arsyad ingin pindah suasana baru. Semoga saja Arsyad bisa kembali mencintai Annisa,"


"Arsyad belum bisa pah, melupakan Almira, rasanya sudah sekali menghapus Almira dari hati Arsyad,"


Ucapan itu masih terngiang di telinga Annisa. Walaupun sama tidak saling mencintai, tapi tetap saja Annisa mendengarnya sakit sekali. Dia tak pernah mencintai Arsyad, tapi saat ini dia merasa sakit hatinya, ketika Arsyad bicara seperti itu.


"Syil, aku harus bagaimana, apa aku harus menuruti egoku, Syil. Sama-sama tidak berusaha menerima keadaan, aku juga masih sangat mencintaimu, Syil. Rasa ini tidak akan pernah hilang, tapi aku sadar dengan keadaan ini, aku sudah menjadi istri orang lagi, apa aku harus sama-sama kerasnya dengan Kak Arsyad? Kamu sering mengajari aku, Syil. Sesuatu yang keras tidak akan bisa di lawan dengan kekerasan juga. Itu mengapa aku mengalahkan egoku, agar bisa mengimbangi Egi Kak Arsyad," gumam Annisa dalam hati.


Annisa merebahkan dirinya, sambil menunggu adzan Maghrib, dia masih memikirkan apa yang Arsyad bicarakan tadi. Dia mencoba menepiskan rasa sakit di hatinya karena ucapan Arsyad tadi. Dia memikirkan kembali tawaran Arsyad menjadi pacarnya. Karena mungkin dengan cara ini, Arsyad bisa meneriam keadaan yang sekarang.


"Iya, mungkin ada baiknya aku ikuti kata keingingina Kak Arsyad untuk menjadi pacarnya. Konyol sih memang, mungkin dengan cara ini, Kak Arsyad bisa sedikit meneriam kenyataan. Kita sama-sama sakit kak, bukan kakak saja, Annisa juga. Dan ini tidak adil, jika Nisa yang harus berjuang sendiri, sedangkan Kak Arsyad masih tepaku pada masa lalu Kakak,"gumam Annisa


^^^^^^


Setalah makan malam, Arsyad duduk di teras depan sendirian. Annisa keluar membawakan secangkir kopi untuknya. Dia duduk di samping suaminya yang sedang melamun menikamati malam.


"Kak, kopinya." Annisa menaruh kopi di meja di depan Arsyad.


"Terima kasih,"ucap Arsyad.


"Besok kakak ke kantor?"tanya Annisa.

__ADS_1


"Iya, sudah banyak sekali pekerjaan yang aku tinggal, padahal baru tiga hari,"jawab Arsyad.


"Kamu juga ke kantor?"tanya Arsyad.


"Iya, besok aku ada meeting dengan klien, kak,"ucap Annisa.


"Laki-laki?"tanya Arsyad.


"Iya, tanang saja, mereka seumuran papah,"ucap Annisa.


"Aku kira masih muda,"ucap Arsyad.


"Kalau masih mudah kenapa?"tanya Annisa dengan wajah yang menggoda.


"Emm…tidak apa-apa sih, kali saja seperti Leon dulu, tertarik dengan kamu,"ucap Arsyad.


"Kakak itu lucu, mana mungkin laki-laki menyukai istri orang, aneh kakak." Annisa tersenyum di hadapan suaminya.


"Ya, kali aja, zaman sekarang Nis, apa yang gak mungkin,"ucap Arsyad.


"Lalu, Lintang?"tanya Annisa.


"Kenapa jadi Lintang?" Arsyad balik bertanya pada Annisa.


"Dia yang jelas-jelas mengejar kamu, kak,"ucap Annisa.


"Yah, entahlah, aku tidak peduli, biarlah dia suka-suka sendiri, kakak tidak terlalu repot memikirkannya, Nis." Arayad tersenyum pada istrinya. Dia mengambil kopi ynag dibuatkan Annisa dan meminumnya.


"Kopi ini mengingatkanku pada seseorang,"ucap Arsyad.


"Siapa? Kak Mira?"tanya Annisa.


"Ibu, kopi yang kamu buat sama persis dengan kopi buatan ibu, pantas Arsyil, begitu mencintaimu, apa yang ada pada ibu, kamu miliki semuanya,"ucap Arsyad.


"Kamu bisa saja, kak,"ucap Annisa.


"Memang seperti itu kenyataannya, Nis." Arsyad menggeser posisi duduknya, dia mendekati Annisa.


Arsyad memegang tangan Annisa dan menciumnya.


"Maafkan soal tadi siang, memang seharusnya aku tidka berkata seperti itu, iya, kamu adalah istriku, bukan pacarku, seharusnya aku memperlakukanmu layaknya seorang istri, Nis." Arsyad memandangi wajah Annisa yang terlihat begitu manis malam ini.


"Kak, ada benarnya juga, kita pacaran dulu, biar kita saling mengenal, toh kita sudah menikah, kalau pacaran ke hal-hal lain juga tidak dosa, kan? Aku tau, bagaimana hati Kakak, bagaimana perasaan kakak. Kita sama-sama merasakan sakit, kak. Karena masih mencintai masa lalu kita. Mungkin dengan kita pacaran dulu, saling mengenal, jadi kan kita bisa paham bagaimana kakak, dan bagaimana aku,"jelas Annisa.


"Itu, yang kakak maksud, tapi kamu keburu marah dan ninggalin kakak." Arayad mencubit pipi Annisa, dia juga merangkul istrinya dan menyandarkan kepala Annisa di bahunya.


"Nisa gak marah, kak. Nisa capek, ingin tidur, lihat sendiri kak, tadi Nisa tidur di kamar,"ucpa Annisa.


"Iya percaya, kakak percaya kamu capek." Arsyad msngusap lembut kepala Annisa.


"Lalu, kita jadi nih, pacaran?"tanya Arsyad.


"Kita jadian, nih?"tanya Arsyad lagi.


"Iya, kamu jadi pacar aku mulai malam ini." Annisa tersenyum menghadap ke atas, melihat suaminya dari bahu suaminya.


Arsyad menundukan pandangannya ke arah wajah Annisa. Dia menyentuh pipi Annisa dengan lembut, memberikan sentuhan lembut pada pipi dan bibir Annisa. Arsyad mengecup kening Annisa, dan memelukanya erat. Annisa membalas pelukan suaminya.


Arsyad mulai jahil dengan istrinya, dia menarik ikat rambut istriya dan membiarkan rambutnya tergerai.


"Kakak, gerah tau, kak. Sini ikat rambutnya," pinta Annisa.


"Biar seperti ini dulu, rambut kamu bergelombang ya, tebal sekali, sama seperti rambut Shita." Arsyad memegang ribut Annisa dan mengusapnya.


"Aku kira mau menyamakan dengan kak Mira, eehb ternyata kak Shita,"gumam Annisa.


"Nis, aku kepang ya,"pinta Arsyad.


"Ih, jangan, gak bagus kalau di kepang, culun tau, kak,"tolak Annisa.


"Gak, sini kakak kepangin." Arsyad memutar tubuh Annis abiar membelakanginya, dia mengepang rambut Annisa dengan telaten.


"Kak, kamu bisa mengepang rambut?"tanya Annisa.


"Bisa, karena adik kakak perempuan, kakak jadi bisa mengepang rambut,"jawab Arsyad.


"Sudah jadi,"imbuh Arsyad.


"Ih kok bagus, ya,"ucap Annisa.


"Bagus lah, kamu sukanya malah mengikat rambutmu berbentuk bun, terlihat keibuan sekali, kamu seperti itu, apalagi memakai daster seperti tadi siang,"ucap Arsyad.


"Kan aku sudah jadi ibu, kakak. Tidak masalah kan kalau aku keibuan, kak,"ucap Annisa.


"Iya sih." Arsyad memeluk istrinya lagi dan mengecup pipinya.


Mereka mengobrol di teras depan hingga tak terasa hari sudah semakin malam. Angin malam menembus ke pori-pori Annisa, dia merasakan hawa malam ini sudah berubah menjadi dingin. Annisa segera mengajak suaminya masuk, karena sudah lumayan dingin.


"Kak, masuk yu, dingin sekali,"ajak Annisa.


"Iya, ayo masuk, bawa cangkirnya, kakak akan mengunci pintu dan garasi dulu,"ucap Arsyad.


"Iya, kak." Annisa masuk ke dalam, dia pergi ke dapur untuk menaruh gelas kotor bekas kopi Arsyad.


Annisa masuk ke kamarnya terlebih dahulu, dia melihat cermin, melihat hasil kepangan suaminya. Annisa tersenyum melihat wajahnya yang manis dengan gaya kepang Perancis hasil kepangan suaminya. Dia masih melihat cermin dari tadi, berlenggak-lenggok di depan cermin.

__ADS_1


"Tidak ku sangka, Kak Arsyad bisa mengepang rambut serapi ini,"lirih Annisa dengan berdiri di depan cermin meja riasnya.


Arsyad masuk ke dalam kamar Annisa, dia melihat istrinya masih berada di depan cermin sambil mengusap rambutnya dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Iya cantik, gak usah ngaca terus, Nis. Aku kira sudah tidur,"ucap Arsyad yang tiba-tiba berada di belakang Annisa.


"Ih, kakak, apaan sih, emang aku cantik, kan?"tanya Annisa.


"Iya cantik, sholat dulu, yuk," ajak Arsyad.


"Oke, aku ambil air wudhu dulu." Annisa segera ke kamar mandi mengambil air wudhu.


^^^^^^


Setelah selesai sholat, Arsyad merebahkan tubuhnya di tempat tidur Annisa. Semenjak menikah dengan Annisa dia tidur di kamar Annisa. Iya, kamar Arsyil dulu. Annisa melepas kepangan rambutnya, dia menyisir rambutnya. Dia berjalan ke arah tempat tidur dan merebahakn dirinya di samping Arsyad.


"Nis,"panggil Arsyad.


"Iya, kak," jawab Annis dengan menoleh ke arah Arsyad.


"Sini dekat kakak,"pinta Arsyad.


Annisa mendekati suaminya, dia tidur berbantal lengan suaminya. Arsyad mengusap kepala Annisa dan membenamkan wajah Annisa di dadanya. Entah kenapa, Annisa merasa nyaman dengan perlakuan suaminya ya g seperti itu.


"Annisa,"panggil Arsyad lagi.


"Iya, kak, ada apa lagi?"tanya Annisa.


"Maafkan kakak, ya. Belum bisa melakukan kewajiban kakak sebagai suami mu,"ucap Arsyad.


"Iya, tidak apa-apa, asal jangan memberi perhatian dengan wanita lain saja,"ucap Annisa.


"Maksud kamu?"tanya Arsyad.


"Ya, perhatian dengan perempuan lain, kakak itu terlalu baik dengan orang lain, jadi orangnya kebaperan sendiri,"ucap Annisa.


"Kakak baik ya sekedar baik, Nis," ucap Arsyad.


"Iya, kak, tapi kan yang di baikin anggapannya lebih, kak,"ucap Annisa.


"Contoh lah, Lintang,"imbuh Annisa.


"Lintang lagi, kamu cemburu?"tanya Arsyad dengan memandang mata Annisa.


"Tidak, aku hanya bilang saja, kakak terlalu baik dengan dia, jadi anggapannya dia kakak itu suka dengan dia,"ucap Annisa.


"Aku sama Yulia saja baik, kok,"ucap Arsyad.


"Kan orang beda-beda kak, nanggepinnya gimana, mungkin Mba Yulia biasa saja, tidak seperti Lintang,"ucap Annisa.


"Aku tau kamu cemburu, sudah tidur, iya kau tidak dekat-dekat Lintang lagi, dan tidak berlebihan perhatian dengan dia." Arsyad mengusap lembut pipi Annisa. Dia memandang Annisa dengan tatapan lembutnya.


Arsyad mengecup kilas bibir Annisa, lalu memeluk Annisa dan mengeratkan pelukannya pada Annisa.


"Wanita ini yang dulu sempat membuat hari-hariku hampir gila, mengejar cintanya menginginkan dia, hidup bersama dalam ikatan suci yang di sebut pernikahan. Dan dia lebih memilih adik ku. Sekaarang, saat dia menjadi milikku seutuhnya aku tidak bisa mencintainya, aku akan berusaha Annisa, entah kapan aku bisa mencintaimu."gumam Arsyad dalam hati sambil memeluk erat istrinya.


"Kak, bagaimana aku tidak nyaman bersamamu, tutur katamu selalu lembut, kamu membuat jantung ini selalu berdebar-debar, kamu selalu memanjakan aku, walaupun tak pernah kamu merayuku atau berlaku romantis terhadapku,"gumam Annisa.


Annisa semakin sesak dadanya, dia seakan kehilangan oksigen karena Arsyad memeluknya semakin erat.


"Kak, aku gak bisa napas."ucap Annisa sambil memukul lirih dada Arsyad.


"Maaf, sudah tidurlah, besok kita ke kantor, kan?" Arsyad memeluk dan mengusap kepala Annisa.


"Iya, aku juga sudah ngantuk,"ucap Annisa dengan manja di depan Arsyad.


Arsyad gemas sekali melihat istrinya seperti itu, dia kembali berani mencium bibir Annisa, dan dia menciumnya agak lama


"Kakak, sudah tidur, jangan cium terus." Annisa melepas ciumannya.


"Maaf, lagian cium pacar sendiri yang sudah berstatus sebagai istri gak masalah, kan?" Arsyad mengusap pipi Annisa.


"Iya, tapi aku sudah ngantuk, kakak." Annisa menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.


"Iya, iya, tidurlah yang nyenyak." Arsyad memeluk Annisa dia juga memejamkan matanya sambil memeluk istrinya.


"Kak Arsyad, please jangan seperti itu lagi, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku, walau bagaimanapun, aku hanya wanita yang lemah kak, apalagi sudah terbuai sentuhan suami sendiri. Meskipun aku belum begitu mencintai kakak,"gumam Annisa dalam hati.


"Kenapa aku bisa menikmati tadi, apa setiap hari aku harus seperti ini dengan Annisa? Lalu hati ini, Almira akan aku bawa kemana, maafkan aku, Mira. Aku akan mencoba melakukannya dengan Annisa, entah itu kapan,"gumam Arsyad.


Mereka memejamkan matanya, mengarungi mimpi indah malam ini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2