THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Prolog


__ADS_3

“Di akhir bulan September dan kerinduan yang mulai berpudar di guyur derasnya hujan semalaman. Jadi haruskah aku berairmata. Supaya kau mengerti hidupku bagaikan di musim kemarau tanpau kau hujani.”


*****


Aku meneguk coklat panas yang aku buat, sedikit melegakan pikiranku yang kalut ini, yang masih ingat akan bayangmu sewaktu kita masih bersama. Sekarang, apalah diriku ini, aku hanya seorang istri yang mungkin tak pernah di anggap kehadirannya oleh suamiku. Iya, suamiku, dia masih saja belum bisa melupakan mendiang istri tercintanya, begitupun aku.


Aku wanita, walaupun sama dengan suamiku, tak bisa melupakan seseorang yang telah hadir dalam hidupnya dulu. Tapi, aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk suamiku sekarang. Memang sakit menjadi wanita atau istri yang tak dianggap, sangat sakit. Itu semua karena anak dari suami ku sekarang, yang menginginkan aku menjadi ibu sambung untuknya. Juga anak-anak ku yang menginginkan dia menjadi ayah sambung untuknya.


Semua karena anak-anak kami, demi anak-anak kami, meskipun kami tak saling mencintai, kami tetap menjadi orang tua yang terbaik untuk mereka, bersandiwara di depan mereka layaknya sepasang suami-istri yang bahagia. Tapi, apa yang aku dapat? Hanya sebuah kehampaan, sebuah rasa sakit yang amat dalam.


Jika aku memilih untuk hidup atau mati, aku memilih mati bersama suamiku dahulu, dan memberikan anak-anak ku pada ayah dari almarhum suamiku. Tapi, aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus bisa menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak ku dan anak dari suamiku sekarang.


"Anak-anak sudah berangkat sekolah?"tanya Suamiku yang memecahkan lamunanku.


"Sudah, kamu mau berangkat ke kantor?"tanyaku padanya.


"Iya, aku mau berangkat, kamu tidak ngantor hari ini?"dia menjawab dan bertanya padaku.


"Aku siangan pergi ke kantor, aku mau menemui Vera di butik, ada urusan sebentar."ucapku.


"Mau aku antar sekalian?"tanya dia.

__ADS_1


"Tidak, aku pakai mobil sendiri saja."jawab ku.


"Ya sudah aku berangkat."pamit dia. Aku mencium tangannya, dan tidak ada balasan dari dia, entah itu mencium kening atau pipiku. Dia langsung pergi meninggalkan ku ke kantor tanpa basa-basi. Inikah nasib pernikahan ku sekarang?


Aku hanya bisa menangis dalam hati, aku tidak bisa lagi mengeluarkan air mata ku ini, air mata ini sudah habis untuk meratapi hidupku dulu, setelah di tinggal pergi Almarhum suamiku, betapa kejamnya dunia memperlakukan seorang janda, melecehkan, bahkan mencemooh. Itulah yang aku rasakan semenjak aku berada di Jerman, meneruskan perusahaan papahku di sana. Menghidupi dua anakku di negeri orang.


Walaupun saat itu aku bersama dengan kerabat dari papahku, tapi aku merasa sendirian. Dan setelah aku kembali ke Indonesia, semua menjadi seperti ini. Anak ku ingin memiliki ayah, yang mereka pilih adalah dia. Sedangkan anak dari suamiku sekarang, dia memilih aku menjadi ibu sambungnya. Iya dia sangat menyayangi ku seperti ibu kandungnya sendiri. Terlebih papah suamiku, beliau memilih aku untuk menjadi istri untuk anaknya. Adik suamiku juga seperti itu. Apa ini yang di sebut aku dan suamiku hanya memberikan cinta untuk mereka? Iya, mereka, anak-anak ku, anak-anak suamiku dan orang tua suamiku juga adik suamiku. Atau mereka yang berusaha membuat kita saling mencintai? Tapi, aku rasa itu mustahil. Tidak mungkin terjadi pada kami.


Sampai kapan aku akan terus seperti ini, aku tidak tau kapan akan segera berakhir. Aku hidup dengan seorang laki-laki yang di sebut suami, tapi aku bagaikan hidup sendirian, sepi tanpa kehadiran sosok seorang suami yang sesungguhnya.


Aku benar-benar sangat merindukan Almarhum suami ku di saat seperti ini.


"Apa kau tau, sayang. Seperti ini hari-hari yang aku lalui sekarang, tiga tahun kamu meninggalkan ku, dan sekarang, aku harus hidup dengan laki-laki lain yang menjadi suamiku, aku tidak mencintainya, dia tidak mencintaiku. Apa ini yang kamu mau? Aku harus menikah dengan kakak kandungmu yang dulu mencintai ku, berusaha mendapatkan aku, tapi, sekarang, rasa cinta itu sudah tidak ada. Tidak ada, sayang. Kamu benar-benar tega menyiksaku seperti ini."gumam ku dalam hati.


Susah payah menghapus jejak yang sulit terbenamkan


Sajak apa yang sudah kau buat, hingga alam pun belum bersedia menghapuskan


Kau sudah tau kan ? aku ringkih dengan sajak itu


Yang kini semakin dingin dengan turunnya hujan

__ADS_1


Sekarang, biarkan bait ini tetap disini


Bersama irama turunya hujan.


"Aku merindukanmu duhai lelakiku, yang dulu selalu membuatku tersenyum."aku menuliskan sebuah puisi yang dulu aku pernah membacanya di dalam kumpulan puisi di secarik kertas yang aku temukan di atas meja ruang tamu.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


maaf baru prolog saja, nanti isi ceritanya mipil up nya ya sayang. kasihan Rico dan Andini, minta di tuliskan kisahnya sampai habis itu. Iri mungkin dengan anak-anaknya.

__ADS_1



__ADS_2