
Seusai dari Kedai Soto Lamongan, Dio mengajak Rania ke rumahnya. Dio tidak memberitahukan Rania terlebih dahulu. Dia langsung membawa Rania ke rumahnya.
"Ini kan jalan menuju rumah, kan?" tanya Rania.
"Iya, mampir sebentar ke rumah," jawab Dio.
"Mau apa?" tanya Rania lagi.
"Sudah nanti kamu tahu," jawab Dio.
Rania berdecak kesal. Rania dari tadi memang mendiamkan Dio sejak dari kantor. Rania masih tidak mengerti dengan perasaannya. Dia memang masih menyimpan perasaan pada Dio. Namun, hati kecilnya mengatakan kalau Dio hanya melampiaskan perasaannya saja saat tidak ada Najwa.
Trauma memang masih melekat erat di hati Rania. Dia masih merasakan betapa sakitnya diduakan, dikhianati, dan dicampakkan orang yang sangat ia cintai. Cinta memang kadang tidak memakai logika. Kata hati ingin menyudahi dan meninggalkan, tapi raga tidak ingin meninggalkan. Begitulah yang Rania alami dulu.
Sekarang dia memilih membuang rasa itu, daripada jatuh untuk kedua kalinya. Di saat dia menerima Dio kembali, di saat bersamaan Najwa kembali dan Dio berpaling darinya lagi. Rania masih memikirkan hal itu. Dia tidak mau sakit untuk kedua kalinya.
"Lebih baik aku mencintaimu dalam diam, Dio. Ingin rasanya aku kembali, tapi hati ini belum yakin jika kamu sudah benar-benar melupakan Najwa. Hati ini ibarat sebuah kertas. Jika kertas itu kau remas, kertas itu tidak berbentuk lagi, lantas kamu kembalikan, bentuknya juga sudah tidak sama lagi. Aku tidak mau, saat aku sudah bahagia bersamamu, sudah merasakan cinta darimu lagi, sudah mempercayaimu lagi, dan sudah menata hatiku kembali yang sudah kusut tak berbentuk. Dan, bersamaan dengan itu Najwa kembali dan mengambil cintamu lagi. Aku takut itu terjadi. Lalu apa yang terjadi? Aku kembali sakit. Dan, kertas yang sudah kembali tertata rapi itu akan kusut lagi, tak berbentuk." Rania berkata dalam hati dengan mengembuskan napasnya dengan kasar.
Dio melihat wajah Rania yang sepertinya sedang dilanda kebimbangan. Dio tahu, sebenarnya Rania ingin kembali lagi bersama dirinya. Namun, Rania masih belum siap jika suatu hari Najwa kembali dan akan mengambil cinta yang sudah di berikan untuk Rania.
"Kamu kenapa? Dari tadi wajahnya di tekuk seperti itu? Aku tanya kamu jawabnya setengah-setengah. Masih memikirkan Astrid? Atau mungkin memikirkan kalau Najwa kembali aku akan kembali pada Najwa? Iya, seperti itu?" tanya Dio yang tidak di jawab oleh Rania.
Rania diam saja, tidak menjawab pertanyaan Dio sedikit pun. Rania merasa, Dio seperti sudah tahu apa yang ada dalam hatinya.
"Kamu boleh diam, kamu boleh tidak percaya dengan apa yang aku ungkapkan tadi pagi dan semalam. Jika kamu ingin bukti, aku akan buktikan padamu. Aku tidak akan kembali pada Najwa. Kamu boleh pegang ucapan aku, Rania. Aku katakan sekali lagi, meski Najwa pulang, aku tidak akan kembali pada Najwa." Dio meyakinkan Rania kembali.
"Dio, maaf, bukan aku tidak mempercayaimu. Kamu tahu selembar kertas? Di ibaratkan saja selembar kertas itu hatiku. Hampir satu tahun yang lalu, kamu meremas sebuah kertas. Kamu tahu kertas itu sekarang menjadi rusak, kusut, dan tak berbentuk? Dan, kamu mencoba memperbaiki kertas yang kamu remas itu, apa akan kembali halus seperti semula? Bisa saja kembali halus, jika kamu bisa merawat dengan baik. Namun, jika masa lalumu kembali dan kamu masuk ke dalam masa lalumu itu lagi, apa kabar dengan kertas yang sudah kamu rapikan itu? Kusut lagi, rusak lagi, atau bahkan tak berbentuk sama sekali?" Rania mencoba mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.
"Oke, akan aku buktikan, jika aku tidak akan pernah kembali bersama Najwa. Dan, aku berjanji, aku akan mencintaimu, hanya kamu wanita yang akan ada di hidupku hingga akhir nafas ini," ucap Dio pada Rania.
"Baik, buktikan saja." Rania menjawab tanpa melihat Dio.
Dio mulai berpikir keras apa yang Rania ucapkan tadi. Dio memang menginginkan Rania kembali. Dia mencintai Rania. Entah mengapa perasaan untuk Najwa benar-benar sudah hilang. Hampir satu tahun lamanya, setelah berpisah dengan Rania, membuat dirinya semakin mengagumi sosok Rania. Bermula dari rasa kagum pada Rania, hingga kini rasa kagum itu memunculkan sebuah rasa yang dulu pernah dimiliki.
Rasa cinta yang dulu kini bersemi kembali. Iya, cinta untuk Rania kini muncul lagi di hati Dio. Dio tahu, Rania akan sulit percaya pada dirinya. Dio memantapkan hatinya untuk bisa meyakinkan Rania kembali.
Mobil Dio berhenti di depan rumahnya. Rumah yang ia singgahi dulu saat masih bersama Rania. Kini hanya sebuah kenangan saja. Dio tidak pernah merubah tatanan rumahnya. Masih sama dari dulu saat bersama Rania. Hanya saja dia menambahi foto dirinya dengan Rania saat berada di Cafe tepi sungai. Dia mengambil foto yang paling bagus dan membingkainya lalu ia letakkan di dinding di samping foto pernikahannya dengan Rania.
Dio memasang foto pernikahannya dengan Rania, karena dulu dia tidak ingin orang tuanya dan orang tua Rania curiga dengan pernikahan mereka yang tidak baik-baik saja. Rania masuk ke dalam dan berjalan mengekori Dio. Dia melihat setiap sudut ruangan rumah yang dulu ia singgahi bersama Dio saat masih menjadi istri Dio.
"Masih sama seperti dulu," gumam Rania.
Rania melihat foto pernikahannya dengan Dio dulu masih bertengger di dinding dengan gagah. Di sampingnya terlihat juga sebuah foto dirinya dengan Dio waktu di cafe yang berada di tepi sungai.
"Dia memajang foto itu?" gumam Rania.
Rania masih mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan rumah Dio. Dio mendekati Rania yang masih berdiri terpaku melihat lagi foto yang terpajang di dinding.
"Kamu mau minum apa?" tanya Dio.
"Air putih dingin ada, kan?"
"Ada, sebentar aku ambilkan."
Dio berjalan ke dapur dan mengambil air putih di kulkas. Dia memberikannya pada Rania yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Diminum dulu, Ran. Aku ke kamar mau mengambil sesuatu," ucap Dio.
"Ini tidak di kasih macem-macem, kan?" tanya Rania yabg sedikit curiga dengan Dio.
"Aku bukan Evan, yang tidak di terima cintanya oleh Rania lalu menggunakan cara yang licik," jawab Dio.
"Syukur lah kalau begitu," ucap Rania sambil mengansurkan air putih dingin dari botol ke gelas.
Rania meneguk air putih yang Dio suguhkan. Dia melihat punggung Dio yang sudah menghilang memasuki kamarnya. Pintu kamar Dio masih terbuka. Memperlihatkan Dio yang sedang sibuk menata barang-barangnya ke dalam kardus.
"Dia sedang mengemasi apa sih? Kok pakai kardus segala?" gumam Rania.
Dio keluar dengan membawa dua tumpuk kardus dan menaruh di halaman depan. Rania mengikuti Dio yang sedang berada di halaman depan.
"Itu apa Dio?" tanya Rania.
"Barang-barang tidak berguna lagi, aku akan membuangnya," jawab Dio.
Rania melihat dari celah kardus menampakkan laptop milik Dio. Ada juga buku, baju dan entahlah Rania tidak tahu apa lagi yang ada di dalam kardus itu.
"Itu ada laptop kamu, kenapa kamu bilang tidak ada gunanya lagi Dio?" tanya Rania sambil berjongkok membuka kardus itu.
"Dio, ini semua mau kamu buang?" tanya Rania lagi.
"Iya, kenapa memang?" Dio menjawabnya sambil bertanya.
"Ini kan barang-barang yang biasa kamu pakai?"
"Aku sudah lama tidak menyentuh barang itu setelah aku berpisah dengan kamu. Semenjak itu juga aku tidur di kamar yang dulu di gunakan kamu untuk tidur." Dio menjawab dengan santai sambil melipat kedua tangannya di atas perutnya.
"Kenapa?" tanya Rania dengan bingung.
"Semenjak kamu pergi. Aku semakin tahu, kalau aku tidak bisa tanpa kamu. Aku semakin merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Kamu tahu? Ini semua yang ada di kardus, barang-barangku yang berhubungan dengan Najwa. Itu semua akan aku buang Rania. Untuk apa aku menyimpannya. Sama saja aku tidak bisa keluar dari masa lalu itu jika aku tak membersihkan semua yang berhubungan dengan Najwa." Dio menjelaskan semuanya pada Rania.
__ADS_1
"Sayang sekali kalau di buang, Dio, ini barang mahal semua," ucap Rania.
"Kamu lebih sayang masa lalu atau masa depan?" tanya Dio pada Rania.
Rania hanya diam saat Dio berkata seperti itu. Dia tetap masih belum bisa kembali dengan Dio, meskipun Dio sudah melakukan hal yang benar-benar ingin kembali pada Rania.
"Kenapa diam? Ya sudah kalau gak mau jawab gak apa?" Ucap Dio.
"Ini enaknya di bakar atau gimana ya, Ran?" tanya Dio pada Rania.
"Mending di sumbangkan saja Dio, apa yang bisa di sumbangkan," ujara Rania.
"Gak ah, di buang saja," cap Dio.
"Sayang Dio," ujar Rania.
"Iya sayang, aku sayang kamu, dan tidak dengan semua barang ini," ucap Dio.
"Apaan sih, gak jelas," tukas Rania.
"Yang gak jelas itu kamu, Ran. Aku sudah menjelaskan bolak-balik saja kamu masih tidak jelas. Sudah yuk, ke tempat pembuangan sampah."
"Mau apa?" tanya Rania.
"Masih tanya nih orang. Ayo kamu mau di sini?"
Rania masuk ke dalam mobil. Dio melakukannya menuju tempat pembuangan sampah. Semua barang-barang yang berhubungan dengan Najwa, ia buang. Dia tidak peduli berapa harganya. Yang jelas, Dio sudah tidak mau berurusan dengan masa lalunya yang membuat hidupnya runyam.
^^^
Rania dan Dio sudah berada di kantor Rania. Mereka di sambut oleh Astrid yang memberikan undangan yang dititipkan oleh Rudi pada Astrid.
"Mba, ada undangan." Astrid memberikan undangan itu pada Rania.
"Dio & Rania." Dio dan Rania membaca undangan itu.
"Ini undangan reuni, kan? Kenapa aku dan kamu jadi satu undangannya?" tanya Rania.
"Mana ku tahu? Mungkin mereka tahunya kita masih suami istri kali," jawab Dio.
"Mana mungkin mereka tahu? Kita kan tidak mengundang mereka saat dulu kita menikah?" ucap Rania dengan ownug tanda tanya.
"Makanya kalau kamu tidak mau ketahuan, jangan ke taman belakang sekolah dengan membawa ini." Dio menunjukkan foto pernikahan dirinya dengan Rania yang dulu di temukan Yohan di taman belakang sekolahan dekat danau buatan.
"Ini kenapa bisa berada di kamu?" tanya Rania bingung.
"Coba ceritakan," pinta Rania.
Dio menceritakan semua soal foto yang terjatuh di taman belakang sekolahannya dulu. Rania tidak percaya kalau Yohan akan menemukan itu dan memberikannya pada Dio. Yang lebih tidak percaya, kenapa Dio bisa berada di sana setelah dirinya pergi ke sana.
"Kamu mau apa ke sana?" tanya Rania.
"Seperti kamu, tujuanku sama seperti kamu," jawab Dio.
"Memang kamu tahu tujuanku ke sana?" tanya Rania.
"Jelas tahu lah, apalagi sampai foto ini jatuh," jawab Dio.
"Sudah jangan di tutup-tutupi lagi, Rania. Sudah jelas semuanya."
"Sudah sana kembali ke kantor. Aku mau lanjut kerja," ucap Rania.
"Baiklah, nanti kita ke acara reuni bersama," ujar Dio.
"Aku tidak janji," jawab Rania.
Dio tidak menjawab apa-apa. Dia langsung pergi dari kantor Rania dan kembali ke kantornya.
Rania tidak mengerti mengapa Dio berubah seperti itu. Dia bimbang. Rasanya ingin menerima Dio kembali, tapi hatinya masih bimbang dan ragu.
Rasa takut saat Najwa kembali lagi masih terbayang di depannya. Dia tidak ingin kecewa lagi karena cinta. Dia tidak ingin terluka lagi karena mencintai.
"Lebih baik aku mencintaimu dalam diam. Meski tak terbalas, rasa cinta ini tetap mengalir. Dan yang aku rasakan benar-benar cinta hampa. Daripada aku mencintai dan memiliki ragamu, namun nantinya kamu pergi dengan wanita lain. Itu akan lebih menyakitkan daripada cinta yang hampa." Rania berkata dalam hati. Dia masih memikirkan keseriusan Dio lagi, hingga dia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja.
^^^^^
Raffi masih mencari tahu tentang Alina. Dia tidak menyerah dengan itu semua. Hingga Raffi berani bertanya pada Naila sepupu Alina yang sekarang tinggal di luar kota. Namun, hingga saat ini belum ada jawaban dari Naila. Sudah malam ke-5 Raffi berada di rumah umminya. Dia memang lebih nyaman tinggal di rumah umminya. Mengenang masa-masa kecilnya bersama kakak tersayangnya. Mengenang saat bersama umminya, dan masih banyak kenangan tersimpan dalam rumah itu.
"Ummi, adakah cinta semurni dan setulus cinta ummi padaku? Aku rindu sosok ummi dan Kak Najwa." Raffi memandangi foto Almira dan Najwa yang berada di kamarnya.
Raffi memang dekat sekali dengan umminya. Dia sebenarnya merasa kehilangan sekali saat Almira pergi. Namun, dia teringat kata-kata Alina dan Naila kala itu. Saat umminya terbujur kaku dan tidak berdaya lagi.
Alina dari belakang mampu memberi support pada Raffi yang masih terlalu dini di tinggal umminya. Raffi yang kala itu duduk termenung sendiri seusai pemakaman umminya di sisi kanan taman, tidak sengaja membuat Alina menghampirinya.
Raffi hanya berbicara pada Alina, kalau tidak ada wanita yang sayang lagi dengan dirinya. Umminya pergi, Oma, dan neneknya juga pergi meninggalkan dirinya. Bahkan saat itu Annisa, juga tidak ada di sisi Raffi, meski Shita berada di sampingnya.
"Raffi anak laki-laki, Raffi harus kuat, jangan menangis, nanti ummi di sana sedih lihat Raffi seperti ini. Ada Kak Alina di sini. Raffi boleh main dengan Kak Alina di sini, kalau Raffi rindu Ummi." Begitu yang Raffi ingat saat dulu Alina menemaninya, menenangkan hatinya yang sedih saat kehilangan umminya.
"Ummi tahu, Raffi jatuh cinta dengan Kak Alina, Ummi. Ummi, Kak Alina wanita baik, dia yang selalu menemani Raffi dulu saat ummi tidak ada, sebelum bunda menikah dengan Abah. Dan, sekarang, Raffi mencintai Kak Alina. Apa Raffi pantas mendapatkannya? Andai ummi masih ada, bagitu banyak cerita yang ingin Raffi ceritakan saat ini. Ummi tahu, Kak Najwa tidak tahu ada di mana sekarang? Maafkan Raffi, Ummi. Raffi tidak bisa menjaga Kak Najwa." Tanpa terasa air mata Raffi menetes membasahi pipi.
__ADS_1
Semenjak Najwa pergi meninggalkan rumah, dan Shifa ikut dengan suaminya, hari-hari Raffi habiskan di rumah Almira. Rumah yang mampu menentramkan pikirannya.
Raffi keluar dan duduk di teras rumah. Dia memandangi sekitar rumahnya yang di hiasai lampu temaram di sekitar taman. Taman baca sudah di tutup dari tadi sore. Dia sempat di tolak Alina lagi saat dia akan mengantar Alina pulang.
"Mas Raffi masih belum tidur?" sapa Pak Abdul, satpam yang menjaga rumah sekaligus taman baca.
"Belum pak, baru jam 8. Pak Abdul mau kopi?" Raffi menawari kopi pada Pak Abdul. Namun, Pak Abdul menolak karena baru saja beliau menghabiskan satu cangkir kopi di pos satpam.
"Saya lihat, Mas Raffi lebih sering di sini sekarang?" tanya Pak Abdul.
"Lagi kangen suasana di sini, pak," jawab Raffi.
"Kangen Mba Alina juga, kan?" Pak Abdul tahu, kalau Raffi menyukai Alina.
"Pak Abdul bisa saja," jawab Raffi.
"Mas, Mba Alina memang susah jika di dekati laki-laki. Mungkin karena masa lalunya dulu. Mba Alina pernah menikah, tapi hanya hitungan hari langsung di tinggal pergi suaminya. Tidak tahu ada masalah apa. Menurut tetangga sekitar, mereka menikah hanya untuk melunasi hutang Almarhumah ibunya Mba Alina saja. Dan, setelah itu laki-laki itu pergi," jelas Pak Abdul.
"Jadi benar Alina pernah menikah?" tanya Raffi.
"Iya, pernah," jawab Pak Abdul dengan tegas.
Raffi tidak menyangka selama ini Alina menutupi statusnya. Mungkin saja Alina benar trauma dengan menikah. Raffi sudah di buat pusing dengan Alina akhir-akhir ini. Dia tetap tidak mau menyerah untuk mendapatkan Alina.
"Tapi, jika menikah karena perjanjian saja, bukankah tidak akan seperti itu? Malah justru jika sudah terlepas, sudah tidak ada beban. Lalu kenapa Kak Alina sampai seperti itu? Dengan pria sangat dingin sekali." Raffi memikirkan kembali cara untuk mendekati Alina.
"Besok aku akan menemuinya, di terima atau tidak urusan nanti. Aku hanya ingin meyakinkan, kalau aku serius untuk mengajak dia menikah, tidak main-main," gumam Raffi.
Setelah bercerita dengan Pak Abdul, Raffi kembali masuk ke dalam rumah. Dia mengunci pintu dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Raffi memakai kamar milik Ummi dan abahnya dulu. Kamar di mana saat dia kecil tidur di dekap oleh umminya.
"Ummi, mungkin ummi sudah tidak di sisi Raffi lagi. Tapi ummi tetap ada di hati Raffi. Maafkan Raffi belum bisa menjenguk makam ummi," ucap Raffi lirih.
Memang makam Almira terpisah dari makam Andini dan Arsyil. Dia memilih di makamkan di dekat makam kedua orang tuanya.
^^^^
Habibi keluar dari rumah sakit. Hari sudah semakin sore. Habibi menjemput Ainun yang masih berada di butik Nuri. Habibi masuk ke dalam butik. Dia menemui Nuri dan Ainun yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Kamu sudah di sini saja, Ki," ucap Nuri.
"Sudah selesai pekerjaanku, mau apa lagi di Rumah Sakit," jawab Habibi.
"Nuy, temanku dari Indonesia mau ke sini. Nanti kalau aku tempatkan di rumah kamu bagaimana? Soalnya dia katanya sama istri dan saudaranya juga," ucap Habibi.
"Boleh, asal ada uang sewa," ucapnya.
"Sama saudara sendiri saja seperti itu. Tenang saja, nanti aku atur semua," jawab Habibi.
"Oke, kapan itu?" tanya Nuri.
"Mungkin akhir tahun. Kalau dia sudah tidak ada pekerjaan lagi," jawab Habibi.
"Oke, kabari saja kalau sudah dekat," ucap Nuri.
"Siapa yang mau datang, sayang?" tanya Ainun pada Habibi.
"Cie ... udah berani panggil sayang, nih?" ledek Nuri.
"Belajar dulu, Nur. Biar fasih," ucap Ainun dengan bercanda.
"Iya deh, iya …" tukas Nuri.
"Itu, temanku mau ke sini, waktu dia menikah, aku tidak datang, terus katanya ingin liburan di sini. Nanti sama istrinya. Makanya biar di rumah Nuri saja. Biar istrinya ada teman. Kan ada Nuri dan kamu," jawab Habibi.
Setelah mengobrol dengan Nuri dan menyampaikan kalau akan kedatangan temannya Habibi mengajak Ainun pulang. Ainun hanya diam saja dari tadi di dalam mobil. Ainun masih memikirkan teman Habibi itu. Bisa jadi dia mengenal Ainun dan keluarga Ainun di Indonesia.
"Teman kamu dokter?" tanya Ainun.
"Bukan, dia pengusaha muda. Dulu dia kuliah di sini. Dan, setelah dia tahu aku sekarang tinggal di sini, dia berniat akan mengunjungi ku, sekalian liburan mengajak istrinya," jawab Habibi.
"Dia asli orang Indonesia?" tanya Ainun.
"Iya asli, dia tinggal di Indonesia, tapi ada darah keturunan dari Malaysia. Katanya begitu," jawab Habibi.
Entah kenapa Ainun masih gelisah hatinya saat Habibi bicara akan kedatangan teman dari Indonesia.
"Kamu kenapa? Takut kalau temanku itu kenal kamu? Tenang, dia meski tinggal di Indonesia, dia seringnya di luar negeri mengurus bisnisnya. Tidak mungkin dia tahu kamu. Mungkin kalau kenal abah dan opa kamu itu wajar. Karena keluarga kamu pengusaha semua. Tenang jangan tegang seperti itu. Kalau kenal juga, ya tidak masalah, toh awal tahun depan kita akan ke Indonesia. Sudah jangan di pikir keras," jelas Habibi.
"Iya, sih. Aku sedikit khawatir saja. Tapi, benar kata kamu. Untuk apa aku memikirkannya," ucap Ainun.
"Gitu dong, itu baru Ainun namanya. Jangan pernah takut, karena ketakutan tidak akan menyelesaikan semuanya. Senyum sayang," Habibi menarik pipi Ainun agar menyimpulkan sebuah senyuman.
Hanya Habibi, yang membuat Ainun bisa tersenyum saat di dekatnya. Bahkan hingga ia tertawa lepas. Bagi Ainun, memiliki sosok pria seperti Habibi membuat dirinya semakin percaya, bahwa pria yang serius pada kita bukanlah pria yang terlalu mengumbar kata cinta. Seperti Habibi. Dia jarang mengumbar kata cinta. Namun, cinta Habibi pasti, dan mengena di hati Ainun.
Ainun baru pernah merasakan cinta dari seorang pria yang tidak terlalu mengumbar cintanya. Padahal dia tahu, Habibi mungkin saja pernah mencintai wanita lain, dan mungkin sangat dalam cintanya pada wanita yang dulu pernah singgah di hati Habibi.
Ainun tidak mempedulikan masa lalu Habibi. Mau serumit atau semulus apapun masa lalu Habibi, Ainun hanya percaya, jika sekarang Habibi akan mencintainya, tanpa syarat dan tanpa menodai cinta untuk dirinya. Karena sejatinya, cinta itu suci dan tulus. Seperti cinta Habibi pada dirinya, tulus tanpa syarat dan menerima dirinya dengan apa adanya.
"Aku akan terus berusaha menumbuhkan cinta untukmu, Habibi. Seperti kamu yang selalu mencintai aku yang penuh dengan kekurangan," gumam Ainun.
__ADS_1