
Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Dio dan Rania, setelah tadi pagi mereka mengucapkan janji suci di kediaman Reno. Akad nikah berjalan dengan lancar, dan malam ini, tiba saatnya kedua mempelai melaksanakan acara resepsi pernikahannya di Ballroom hotel berbintang.
Suasana resepsi pernikahan Dio dan Rania sudah ramai tamu undangan. Rania dan Dio sudah berada di atas pelaminan yang super megah dengan di dampingi orang tua masing-masing. Reno memang sengaja membuat pesta pernikahan anak tunggalnya itu semewah mungkin. Apalagi Dio adalah laki-laki yang sangat di cintai Rania. Itu yang membuat Reno bahagia, karena anaknya menikah dengan laki-laki yang di cintai nya.
Semua tamu undangan adalah rekan bisnis Reno dan Arsyad, juga rekan bisnis Dio dan Rania. Evan juga turut menghadiri acara pernikahan Rania. Dia memang masih mencintai Rania. Evan tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Rania, walaupun Rania sekarang sudah bersuami. Itu semua karena dia ingin memiliki aset perusahaan Rania yang sekarang berkembang pesat.
Rania memang gadis yang karirnya begitu melejit dalam dunia bisnis. Banyak sekali pria yang mendekatinya hanya untuk memiliki perusahaannya saja. Dan tidak benar-benar mencintai Rania. Itu semua karena Rania memang dingin dengan laki-laki, dia berbicara dengan laki-laki jika ada keperluan saja. Sifat itulah yang membuat para lelaki ingin sekali memiliki Rania. Namun, semua hanya menjadi sebuah angan-angan saja, karena hari ini Rania sudah resmi menjadi istri Dio Alfarizi. Seorang pengusaha muda juga yang sukses dan dia juga rival dari perusahaan Rania.
Dio memang sering kalah cepat dengan Rania untuk bekerja sama dengan perusahaan yang besar. Tapi, bagi Dio itu tidak masalah, karena dia tahu, Rania adalah wanita yang berambisi tinggi. Sejak sekolah dia juga tidak mau di kalahkan oleh siapapun. Dia selalu menjadi peringkat nomor 1 di sekolahannya dan peringkat 1 tingkat nasional saat ujian nasional. Itu semua yang membuat Dio sadar, kalau Rania adalah wanita hebat.
Dio menatap Najwa dengan lekat. Najwa kala itu duduk dengan Raffi dan Arkan di depan Shifa. Najwa tahu, kalau Dio sedang memandanginya. Dia sesekali juga menatap laki-laki yang ia cintai. Najwa ingin sekali menumpahkan air matanya, tapi dia tidak mau kalau Rania curiga dengannya. Apalagi kejadian tadi pagi saat Rania sama-sama memberikan air mineral pada Dio.
Sebuah lagu dari grup musik yang berada di panggung hiburan cukup membuat hati Najwa tersayat-sayat meratapi kesedihannya di malam ini. Sejak dia memasuki ballroom, semua lagu yang di nyanyikan oleh grup musik itu pas sekali dengan keadaan Najwa saat ini.
Sebuah suara menggelegar terdengar dari panggung hiburan. Suara yang Najwa kenal. Iya, itu adalah suara Dio. Dio sudah berada di atas panggung hiburan. Dia menyanyikan sebuah lagu milik Naff, lagu favoritnya yang berjudul "Akhirnya 'Ku Menemukanmu" dan disusul dengan lagu milik Beby Romeo yang berjudul "Bunga Terakhir".
Semua keluarga Arsyad tahu, kalau lagu itu adalah untuk Najwa. Semua tahu apa yang ada di hati Dio dan Najwa saat ini. Arsyad sesekali mengusap air mata yang akan jatuh dari pelupuk matanya. Apalagi melihat tatapan Dio pada Najwa yang memiliki arti begitu dalam bagi mereka yang tahu hubungan Dio dan Najwa. Shifa terisak di pelukan suaminya. Dia tahu adiknya benar-benar mencintai Najwa. Raffi mencoba menguatkan hati Najwa yang matanya mulai berkaca-kaca. Raffi merangkul kakaknya. Memberikan dia kekuatan, dan Najwa mencoba tersenyum pada Raffi, walaupun dia ingin sekali menumpahkan air matanya.
Najwa menoleh ke belakang, melihat Shifa yang menangis di pelukan Fattah. Najwa mengisyaratkan pada Shifa agar jangan menangis. Rania memandangi Shifa yang menangis. Rania tahu, lagu yang di bawakan Dio memang sangat menyentuh hati. Apalagi Dio menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Rania semakin tahu, kalau Dio memiliki hubungan khusus dengan Najwa. Karena dia bernyanyi dengan menatap Najwa, dan tatapan itu penuh arti
"Apa kedua lagu itu untuk wanita yang Dio cintai? Apa Najwa orang yang Dio cintai?" Rania bertanya-tanya dalam hatinya, setelah melihat Dio semakin menatap Najwa begitu lekat.
Rania memandangi Najwa dari pelaminan. Najwa sesekali menyeka air matanya. Dan Dio semakin tidak mau beralih memandangi Najwa. Rania semakin yakin kalau mereka ada hubungan khusus.
Air mata Najwa tidak dapat terbendung lagi. Dia mengingat seminggu sebelum Dio menikah. Satu Minggu itu Najwa menghabiskan waktu khusus dengan Dio. Walaupun dia harus sembunyi-sembunyi dengan semua yang ada di rumah. Najwa menghabiskan waktu satu minggu dengan menyewa hotel yang mereka tempati hanya siang hari untuk berduaan bersama Dio.
#Flashback On#
Najwa tidak mengerti apa yang ada di pikirannya saat itu, sehingga dia mau menuruti semua kata-kata Dio. Semua itu karena cinta, dan mereka benar-benar dibutakan oleh cinta. Entah apa yang mereka lakukan saat siang hari di dalam hotel selama 1 Minggu, hanya mereka yang tahu. Dan, saat satu hari sebelum Dio mengucap janji suci dengan Rania. Dio menemui Najwa yang kala itu sudah berada di kamar hotelnya. Dio membawakan bunga mawar merah untuknya.
"Ini bukan bunga terakhir yang akan aku berikan padamu, Najwa. Aku akan selalu mengirim bunga untukmu, seperti biasanya. Walaupun ini yang terakhir untuk kita merajut hubungan ini." ~Dio.
Najwa memeluk Dio dengan erat. Dia menumpahkan air matanya di pelukan pria yang ia cintai. Dio berusaha meredakan tangisan Najwa saat itu.
"Please, jangan menangis. Tersenyumlah untukku, sayang." Dio mencium kening Najwa.
Napas mereka beradu lembut. Najwa mencium bibir Dio. Tubuh Dio sudah menjadi candu untuk Najwa. Apalagi selama 1 minggu mereka menghabiskan waktu bersama di dalam hotel.
Ciuman mereka semakin dalam, hingga Dio mulai bermain dengan tubuh Najwa. Entah apa yang membuat mereka sampai segila itu. Mereka berani melakukan hal yang semestinya mereka lakukan.
#Flashback Off#
Najwa menyandarkan dirinya di pundak Raffi. Dia mencoba tidak menangis lagi.
"Biarlah, semua ini menjadi kenangan indah untukku, Dio. Kamu pria pertama yang melihat lekuk tubuhku dalam satu minggu itu," gumam Najwa.
Najwa beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ke toilet. Najwa ingin sekali menumpahkan tangisannya itu. Dia semakin tidak kuat mendengar Dio menyanyikan lagu itu. Dio kembali ke pelaminan, seusai menyanyikan lagu. Dia berdiri di samping Rania lagi. Mereka kembali menyambut tamu undangan yang satu persatu memberikan ucapan pada Dio dan Rania.
Acara resepsi berjalan lancar, Dio dan Rania turun dari pelaminannya saat di rasa semua tamu sudah tidak banyak lagi. Dio berjalan keluar dari ballroom, dia melihat Najwa yang baru saja dari luar, entah dia dari mana Dio tidak tahu. Dio menarik lengan Najwa dan mengajak Najwa ke Rooftop hotel. Rania melihat Dio yang berjalan dengan manarik tangan Najwa ke arah Rooftop.
"Mereka mau apa? Apa benar dugaan ku, kalau wanita yang di cintai Dio itu adalah Najwa?" tanya Rania dalam hati.
Rania mengikuti mereka. Rania rela melepas heels nya agar dia leluasa mengikuti Dio dan Najwa yang berjalan ke arah rooftop.
Rania melihat Najwa memeluk erat Dio dan menangis di pelukan Dio. Betapa sakitnya hati Rania, ternyata benar, wanita yang Dio cintai adalah Najwa. Sahabatnya sendiri dan kakak sepupu dari Dio, yakni suaminya.
__ADS_1
"Dio, maafkan aku. Aku tidak kuat, aku mencintaimu," ucapan Najwa begitu jelas di telinga Rania. Air mata Rania luruh seketika membasahi pipinya.
"Najwa, jangan seperti ini. Aku tahu, aku juga sangat mencintaimu, Najwa. Kita tidak bisa menikah. Dan, kamu ingat janjiku 1 minggu yang lalu? Hubungan kita tidak akan pernah berakhir, walau aku menikah dengan Rania, Najwa," ucap Dio. Yang membuat Rania semakin deras menumpahkan air matanya.
"Tapi Rania mencintaimu, Dio," ucap Najwa.
"Aku sudah tidak mencintainya sejak dulu, Najwa. Kamu tau itu, kan? Please jangan menangis, aku masih selalu ada untukmu, sayang." Dio memeluk Najwa dengan erat.
Dio mencium bibir Najwa, dan ciuman mereka semakin dalam, hingga terdengar kecapan dari mulut mereka yang membuat telinga Rania begitu panas mendengarnya. Apalagi lenguhan kecil yang lolos dari mulut Najwa saat Dio bermain di dada Najwa.
"Ya Allah, Dio, Najwa. Kalian tidak sepantasnya seperti itu. Aku harus mencegah mereka, Dio adalah suamiku, aku yakin dia akan mencintaiku suatu hari nanti. Iya sakit sekali melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain yang tak lain adalah sahabatku sendiri dan kakak sepupu suamiku. Sungguh ini sangat menyesakkan dada," gumam Rania dengan menghapus air matanya dan mencoba mendekati Najwa dan Dio yang semakin memanas dan liar permainan mereka.
"Dio, Najwa," panggil Rania dengan suara serak.
Permainan mereka terhenti sekita saat suara Rania begitu mengagetkan mereka.
"Rania!" ucap mereka. Najwa membenarkan kancing bajunya yang sudah terbuka karena ulah Dio.
"Iya, aku di sini, dan aku melihat apa yang kalian lakukan juga mendengar apa yang kalian ucapkan," ucap Rania dengan tegas dan tanpa air mata yang keluar.
"Aku bisa jelaskan, Rania," ucap Najwa.
"Tidak perlu, Najwa. Aku ke sini ingin memanggil suamiku, karena sudah di tunggu ayah dan ibu. Dan kami akan langsung menempati rumah baru kami malam ini, bukankah begitu, Dio?" ucap Rania dengan suara yang sedikit menekan.
"Iya, kita turun," ucap Dio dengan gugup.
Dio sangat tidak menyangka Rania tanpa meneteskan air mata sedikit pun saat melihat dirinya sedang melakukan itu dengan Najwa. Dan Rania dengan tegas berbicara tanpa terlihat dia kecewa dan sakit hati.
"Padahal dia tadi pagi menangis saat aku berkata kasar seperti itu, tapi kenapa saat melihat kenyataan ini dan melihat aku dengan Najwa seperti tadi, Rania sama sekali tidak menangis?" gumam Dio yang melihat Rania menuruni anak tangga dengan menenteng heels nya.
"Kalian dari mana?" tanya Arsyad dengan suara agak meninggi.
"Abah, kami habis mengambil foto di Rooftop, tadi aku meminta bantuan Najwa untuk mengambil foto kami," jawab Rania dengan mengulas senyuman manis di wajahnya.
"Iya, Abah, tadi Dio dan Rania baru saja mengambil foto di atas," imbuh Dio.
"Kenapa dia tidak mengadu pada orang tuanya. Bisa saja Rania mengadu pada ibu atau ayahnya karena dia anak yang manja. Tapi, dia memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja," gumam Dio.
"Kamu wanita hebat, Ran. Aku tahu hati kamu sakit, melihat Dio dan Najwa tadi. Aku baru sadar, kamu memang wanita hebat. Walaupun kamu anak tunggal. Semua dugaanku kalau kamu gadis yang manja itu salah, kamu wanita yang berwibawa, hebat, dan sangat tegar," gumam Raffi.
Raffi memang tadi mengikut Rania keatas yang sedang mengikuti Dio dan Najwa. Namun, Raffi tidak kuat saat melihat Rania menangis, dan saat Rania berani mendekati Dio dan Najwa Raffi memilih turun dan kembali ke ballroom.
Dio dan Rania masuk ke dalam kamar hotelnya. Dia mengambil kopernya yang sudah ia siapkan tadi dari rumah untuk di bawa ke rumah barunya malam ini. Rania membuang heelsnya ke sembarang arah, dia melepaskan jilbabnya, dan berganti pakaian di depan Dio. Dia tidak mempedulikan adanya Dio di dalam kamar, toh Dio sudah menjadi suaminya.
Rania memakai pakaiannya yang cukup santai untuk berangkat menuju rumah barunya yang sudah di siapkan oleh Dio.
"Ini baju kamu, apa kamu mau memakai baju itu?" Rania memberikan baju ganti pada Dio. Dio mengambilnya dengan kasar dari tangan istrinya.
"Ingat kata-kataku tadi pagi. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, walaupun kamu sudah tau siapa wanita yang sangat aku cintai, Rania," ucap Dio dengan nada sedikit menekan.
"Iya, terserah kamu. Kita mau berangkat kapan? Aku sudah mengantuk sekali," jawab Rania.
"Ayo keluar, kita berangkat, ingat di depan kedua orang tua kita kamu tidak boleh menampakan kesedihan," ucap Dio.
"Yang kamu lihat tadi, apa tidak cukup? Kalau aku tidak menghargai kamu sebagai suami ku, aku dengan mudah memberitahukan perbuatan kamu tadi dengan Najwa," jawab Rania.
__ADS_1
"Aku tidak mau berdebat hal yang tidak penting bagiku, cepat keluar!" tukas Rania yang sudah berjalan di depan Dio dengan membawa kopernya.
Dio berjalan di belakang Rania. Mereka berpamitan dengan keluarga mereka untuk langsung menempati rumah baru mereka malam ini. Rania masih bersikap biasa dengan Najwa. Dia tahu kalau Dio dan Najwa saling mencintai. Rania berpamitan dengan Najwa seperti biasa, seperti tidak ada masalah dengan Najwa.
Dio melajukan mobilnya menuju rumah barunya. Dari tadi mereka hanya terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Dio sesekali melihat Rania yang sedang memperhatikan jalanan dari balik jendela mobilnya.
Dio membelokan mobilnya ke halaman rumah yang luas. Rumah yang cukup besar dengan halaman rumah yang luas itu adalah rumah yang di beli Dio sejak dia berniat menikahi Rania.
"Turun!" titah Dio dengan kasar.
"Iya," jawab Rania dengan santai dan keluar dari dalam mobil.
Rania menarik kopernya dan berjalan di belakang Dio menuju teras rumahnya. Dio membuka pintu rumahnya. Rumahnya sudah rapi dan sudah terisi dengan perabotan lengkap layaknya rumah siap huni.
"Itu kamar utama, kamarku. Kamu silakan pilih kamar yang lain yang nyaman untuk kamu," tutur Dio.
"Iya terima kasih," ucap Rania.
"Oh, ya Dio. Apa aku boleh memindahkan semua alat-alat kerjaku ke sini?" tanya Rania.
"Iya, terserah kamu," jawab Dio dengan melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Rania, bawa koper kamu ke kamar utama saja. Kamu taruh pakaian kita di satu lemari, tapi kamu harus tidur di kamar lain," ucap Dio.
"Iya," jawab Rania dengan berat, tapi dia harus menuruti kata suaminya itu.
Mereka masuk ke dalam kamar utama. Kamar yang di desain dengan gaya modern, yang membuat Rania menikmati suasana kamar itu. Namun, sayang dia tidak bisa menempati kamar itu.
"Inilah pengantin baru? Ini sungguh lucu, akan aku buktikan, kalau suatu saat nanti kamu mencintaiku, Dio," gumam Rania sambil menata baju-baju nya dan baju Dio di dalam lemari.
Setelah selesai, dia mengambil gaun tidurnya. Gaun tidur berwarna ungu muda yang cantik. Rania beranjak pergi dari kamar Dio. Namun, Dio menghentikannya.
"Rania sebentar," ucapan Dio menghentikan langkah kaki Rania.
"Ada apa?" tanya Rania.
"Duduklah, aku ingin bicara," jawab Dio. Rania mendudukkan dirinya di tepi ranjang, dan di samping Dio.
"Ran, maaf, untuk kejadian di Rooftop tadi," ucap Dio.
"Lupakan itu, aku tahu perasaan kalian," jawab Rania yang membuat Dio terdiam sejenak.
"Sudah, mau bicara itu? Aku sudah lelah dan mengantuk," ucap Rania.
"Kita memang sudah menikah, tapi aku tidak ingin kamu tahu privasi aku, dan begitu juga sebaliknya," ucap Dio.
"Oke, aku tahu itu," jawab Rania.
"Sekarang kamu boleh keluar dari kamarku," ucap Dio.
Rania keluar dari kamar Dio. Dia menuju ke kamarnya. Kamar tamu yang juga sangat luas dan hampir mirip penataannya dengan kamar Dio tadi. Malam pengantin yang begitu menyedihkan terjadi malam ini. Ya, karena mereka tidur terpisah.
"Dio, hati ini tidak akan lelah dan tidak akan berhenti mencintaimu. Entah sampai kapan kamu benar-benar akan memperlakukan aku layaknya seorang istri," gumam Rania sambil mengganti pakaian tidurnya.
Rania merebahkan dirinya di tempat tidur. Ingin rasanya dia menangis, tapi air matanya seakan sudah kering dan habis untuk menangisi nasibnya setelah menikah dengan Dio.
__ADS_1