THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 44 "Kamu Pasti Bisa"


__ADS_3

Arsyad mendekati Annisa yang sedang sibuk, ia menarik kursi agar duduk di samping Annisa. Dia ingin tahu, apa yang sedang di kerjakan istrinya.


"Masih sibuk?"tanya Arsyad.


"Lumayan,"jawab Annisa.


"Mau aku buatkan kopi atau coklat?" Arsyad menawari kopi atau coklat untuk Annisa.


"Ehmm…boleh, kakak mau membuatkan?"tanya Annisa.


"Dengan senang hati,"ucap Arsyad.


"Mau coklat atau kopi?"tanya Arsyad sekali lagi.


"Coklat,"jawab Annisa.


"Oke, tunggu sebentar,"ucap Arsyad.


Annisa menganggukan kepalanya. Arsyad pergi ke pantry untuk membuatkan coklat panas untuk Annisa dan untuk dirinya. Annisa akan mecoba membantu suaminya menghadapi maslahanya. Entah itu akan berhasil atau tidak.


"Perjalanan baru kita akan segera di mulai, kak. Aku harap kakak bisa menerima pernikahan ini,"gumam Annisa.


^^^^^


Arsyad membawakan coklat panas untuk istrinya, terlihat Annisa sudah selesai mengerjakan laporan keuangannya. Dia sedang menata gaun yang mau di display di showcase. Arsyad mendekati Annisa yang sedang sibuk, setelah meletakan dua cangkir coklat panas di meja kerjanya. Arsyad memegang bahu Annisa dari belakang, yang membuat Annisa sedikit terjingkat karena kaget.


"Annisa, coklat panasnya di minum dulu,"ucap Arsyad sambil memegang bahu Annisa.


"Ah...iya, kak. Kakak mengagetkanku saja,"ucap Annisa.


"Kamu sibuk sekali kalau hari minggu?"tanya Arsyad.


"Ya seperti ini, semenjak Vera sudah memiliki anak waktuku habis untuk mengurus butik,"jawab Annisa.


"Kamu tidak mempekerjakan orang lagi?"tanya Arsyad.


"Belum ada yang cocok, kak,"jawab Annisa yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya.


"Kak, bisa minta tolong?"tanya Annisa.


"Iya, gimana?"ucap Arsyad.


"Ambilkan itu, aku tidak sampai." Annisa meminta bantuan Arsyad untuk mengambilkan Maneken di atas lemari.


Arsyad mengambilkannya dan membersihkannya dari debu. Annisa melihat suaminya yang juga sibuk membantunya.


"Terimak kasih, kakak,"ucap Annisa sambil mencium pipi suaminya.


Arsyad kaget dengan perlakuan Annisa yang tiba-tiba mencium pipinya.


"Sama-sama, Nisa." Arsyad tersenyum manis dengan istrinya.


"Manisanya kalau senyum, semoga saja aku bisa membuat kamu sembuh, kak. Bukan aku sangat menginginkan itu, aku tak mau kakak terus jatuh ke dalam masa lalu,"gumam Annisa.


"Annisa, usilnya mulai keluar dia, biarlah, di cium istri sendir, bukan istri orang lain. Mungkin aku harus terbiasa seperti ini dengan Annisa, terbiasa berdua,"gumam Arsyad.


Annisa duduk di kursi menikmati coklat buatan suaminya, lumayan bisa menetralkan pikirannya karena beban hidup yang menumpuk. Arsyad sudah selesai membersihkan Maneken, dia menghampiri Annisa yang duduk di kursi sambil menikmati coklat buatannya.


"Kak, diminum dulu coklatnya," ucap Annisa.


"Iya, Nis." Arsyad duduk di depan Annisa dan meminum coklat panasnya.


^^^^^


Malam hari di kediaman Arsyad, setelah seharian penuh jalan bersama istrinya Arsyad melepas lelah dengan berbaring di atas ranjang. Annisa masih di luar bersama Rico dan anak-anaknya. Malam ini papah Rico, Farrel dan Rana tidur di rumah Arsyad.


"Arsyad mana, Nis?"tanya Rico.


"Di kamar, pah. Katanya lelah sekali dia,"ucap Annisa.


"Kamu tidurlah dengan suamimu, nanti papah akan tidur di kamar tamu yang biasa kamu tempati,"ucpa Rico.


"Iya, pah,"ucap Annisa.


"Opa, Farrel tidur sama Dio, ya,"ucap Farrel.


"Iya, tidurlah sama, Dio,"ucap Rico.


"Sudah malam, kalian tidurlah, papah istirahat, papah jangan kecapean,"ucap Annisa.


"Iya, papah akan tidur, bantu suami kamu, agar dia sembuh, papah ingin kalian bahagia, Annisa,"ucap Rico.


"Iya, pah, Insya Allah, Nisa akan membatu Kak Arsyad. Oh, iya pah, papah Minggu depan tidur di sini, ya. Ada paman Didi, Zidane, Alvin dan Leon mau datang,"punya Annisa.


"Baiklah,"ucap Rico.


"Sebentar, Leon? Leon yang dulu akan melamarmu?"tanya Rico.


"Iya, pah, dia akan ikut paman ke sini,"ucap Annisa.


"Baiklah, papah akan tidur di sini,"ucap Rico.

__ADS_1


"Tidurlah, sudah malam,"titah Rico.


"Iya, pah, selamat istirahat,"ucap Annisa.


Annisa masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Arsyad sudah memejamkan matanya. Entah itu sudah tertidur pulas atau hanya memejamkan matanya saja. Annisa merangkak naiknke atas tempat tidur dengan hati-hati. Arsyad membuka matanya, karena merasa ada seseorang di sampingnya.


"Annisa, aku kira kamu tidur di kamar tamu lagi,"ucap Arsyad.


"Kamar tamu di pakai papah, masa aku mau tidur dengan papah, gak lucu kali, kak,"ucap Annisa.


"Sini tidur, sudah malam." Arsyad memiringkan tubuhnya menghadap Annisa, dia meyilangkan tangannya di pinggang Annisa.


"Aku kira kakak sudah tidur,"ucap Annisa.


"Belum. Nis, apa kakak akan sembuh dari sakit kakak ini?"tanya Arsyad.


"Pasti kak, kalau kakak mau berusaha,"ucap Annisa.


"Kakak akan berusaha, Nis,"ucapnya.


"Ya sudah, kakak tidur, besok kan ke kantor,"ucap Annisa.


"Nis, boleh aku memelukmu?"tanya Arsyad.


"Ehem…peluklah, aku istrimu bukan istri orang, kakak,"ucap Annisa dengan menyunggingkan senyumannya.


"Hmm,, iya, maaf aku belum bisa melakukannya,"ucap Arsyad.


"Aku tau kak, sudah tidurlah,"ucap Annisa.


Arsyad memeluk Annisa dan menenggelamkan wajah Annisa di dadanya.


"Iya, ini istriku, sekarang dia hidupku, masa depanku, aku harus belajar mencintainya, bodohnya diri ini, tak bisa mencintai Annisa lagi, dulu dia adalah ratu di hatiku. Istana cinta untuknya megah dan berdiri kokoh di hatiku, tapi serkarang aku tidak bisa, tidak bisa mencintainya. Ya Allah, maafkan aku, tumbuhkan lah rasa cinta pada Annisa lagi, seperti dahulu, agar aku bisa mengarungi rumah tangga bersama istriku,"batin Arsyad.


Annisa mendengus aroma maskulin tubuh suaminya yang membuat dirinya tenang berada di dekapannya. Dia bermain di dada suaminya dengan manja. Annisa sengaja seperti itu, dia melihat reaksi suaminya bagaimana, saat dirinya bermanja dia dada Arsyad.


"Nis,"panggil Arsyad.


"Hem,"sahut Annisa.


"Tidurlah,"ucap lainnya.


"Iya, kakak belum tidur?"tanya Annisa.


"Belum, kamu dari tadi seperti itu,"ucap Arsyad.


Annisa tidak menjawab lagi, dia mencoba memejamkan matanya. Arsyad benar-benar tidak terpengaruh dengan sentuhan lembut Annisa di dadanya.


Annisa menarik napasnya panjang, dia mencoba meredakan gejolak dalam dirinya, ini ulah dirinya sendiri. Memancing suaminya tapi dia yang kewalahan.


"Arrgghtt.…!! Besok lagi aku tidak mau seperti ini, bisa-bisa kak Arsyad menyangka aku ingin sekali di sentuh dia, padahal aku hanya ingin memmbantunya agar dia bisa merasakan, tapi memang sudah mati rasa, dia. Dan aku harus bagaimana?"Annisa membatin dengan agak kesal.


Annisa mencoba memejamkan matanya dipelukan suaminya. Arsyad mengusap lembut punggung Annisa dan kepala Annisa. Annisa merasakan sentuhan lembut dar suaminya. Jiwa Annisa memberontak, Arsyad menyentuhnya sangat lembut, apalagi dia sesekali mengecup kening dan pipi Annisa.


"Aku belum tidur, kakak. Aku masih merasakan. Please, hentikan, kamu belum bisa melakukannya, sedangkan aku? Jangan runtuhkan pertahanan ini, kak." Annisa terus membatin, dia semakin tidak bisa tidur karena suaminya.


Annisa mengeliat dan berpindah posisi, dia memeluk guling yang ada di sampingnya. Arsyad menyangka istrinya sudah terlelap tidur. Padahal Annisa masih menahan rasa yang tertinggal karena sentuhan Arsyad.


"Huh… punya suami gini aku bisa stres, nyentuh iya, on tidak,"batin Annisa.


Arsya memeluk Annisa dari belakang, dia membenarkan rambut Annisa yang menutup wajah cantiknya. Annisa semakin merasakan sentuhan lembut Arsyad di belakang telinganya.


"Annisa, maafkan kakak, kakak akan terus berusaha. Kakak tidak bisa Annisa, walau sekujur tubuhmu sudah kakak sentuh. Tidurlah, kakak tau kamu belum tidur, maafkan kakak. Itu sebabnya kakak menyuruh kamu tidur di kamar tamu." Arsyad berkata di samping telinga Annisa. Arsyad tau istrinya sudah semakin merasakan sentuhannya, dia mendengar degub jantung istrinya semakin kencang dan terdengar oleh dirinya. Juga napasnya yang sudah tidak beraturan.


Demi apa Annisa merasa iba dengan suaminya, dia meneteskan air matanya, dia tidak tau harus berkata apa, hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Suara isakan tangis terdengar di telinga Arsyad. Annisa menangis hingga sesegukan, dia ingin sekali memeluk suaminya, ingin menyembuhkan suaminya. Tapi dia malu, ingin berbalik menghadap suaminya.


Arsyad menyentuh bahu Annisa, dia tau istrinya menangis. Arsyad kembali mendekap istrinya. Annisa semakin terisak di pelukan Arsyad.


"Nisa, jangan menangis, kakak yang salah, maafkan kakak,"cap Arsyad.


Annisa membalikan posisi tidurnya menghadap Arsyad. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan sayu. Air matanya masih mengalir deras dari sudut matanya. Arsyad menyeka air mata Annisa dan mencium kelopak mata istrinya.


"Sudah, jangan menangis, kakak minta maaf ya, kakak tidak bisa, Nis,"ucap Arsyad. Annisa hanya menangis, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Annisa, jika kakak tidak bisa, kakak ikhlas, kamu bahagia dengan laki-laki lain, maafkan kakak,"ucap Arsyad.


"Kakak," panggil Annisa dengan suara serak sambil memukul dada Arsyad dengan lirih.


"Jagan bicara seperti itu, kakak jangan menyerah, kakak pasti sembuh, Nisa akan membantu kakak. Nisa sayang kakak." Entah kenapa tanpa sadar ungkapan rasa sayang terlontar dari mulut Annisa.


"Jangan berkata seperti itu lagi, kakak pasti sembuh, kamu pasti bisa, kak," ucap Annisa sambil memegang kedua pipi Arsyad dengan kedua tangannya.


"Apa kamu yakin?"tanya Arsyad.


"Yakin, pasti kakak sembuh,"ucap Annisa dengan senyuman di balik tangisannya.


Annisa mengecup lembut bibir suaminya, entah kenapa rasa sayangnya pada suaminya semakin bertambah di hatinya.


"Maafkan kakak, kakak menyayangimu,"ucap Arsyad dengan membalas kecupan di bibir Annisa.


Annisa menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad. Dia mencoba menghentikan tangisannya. Mungkin ini awal untuk dia memulai mengobati trauma suaminya.

__ADS_1


"Saat pertama menikah dengan Annisa, dan saat berciuman di mobil, aku masih bisa merasakan hasrat dalam diriku, tapi kali ini, aku tidak bisa merasakannya, hanya rasa bersalah dan kasihan pada Annisa yang aku rasakan. Iya, aku salah, aku terlalu larut ke dalam masa lalu, dan masa lalu itu membunuh salah satu sistem organ di dalam tubuhku. Maafkan aku Ya Allah, aku menyiksa batin istriku selama ini,"batin Arsyad.


Dia mengeratkan pelukannya pada Annisa, dan mencoba meredakan tangis istrinya.


^^^^^^


Seusai sholat subuh, Annisa langsung pergi ke dapur. Hari ini Mba Lina tidak bisa memasak sarapan pagi, dia sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. Akhirnya Annisa pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan untuk suami, papah mertua dan anak-anaknya, juga pak satpam dan sopir pribadinya. Annisa bergelut sendirian di dapur, Arsyad melihat istrinya yang sedang sibuk dari kejauhan. Dia mendekati Annisa yang sedang memotong sayuran.


"Butuh bantuan?"tanya Arsyad.


"Ehmm…tidak usah, ini tugasku, kakak duduk saja di sana,"ucap Annisa.


Arsyad mendekati Annisa, dia memeluk istrinya dari belakang, dan meminta pisau yang di pegang Annisa.


"Kamu siapkaan yang lain, biar ini aku yang iris,"ucap Arsyad sambil mengecup pipi istrinya.


"Uhm…baiklah, aku akan goreng ayam crispy dan menyiapkan bekal anak-anak,"ucap Annisa.


Kakak bisa kan?"tanya Annisa.


"Bisa lah,"ucapnya.


"Nis, buatkan kakak sandwich ya, buat kakak bawa ke kantor,"pinta Arsyad.


"Oke, Annisa buatkan,"jawab Annisa.


Arsyad akhirnya yang memasak sayurnya, dia memang bisa memasak, karena dulu dia sering memasakan istrinya. Saking sayangnya dengan Almira, dia kadang yang memasak, walaupun akan pergi ke kantor.


"Nis, coba cicipi, pas tidak rasanya." Arsyad menyendokan sayura yang ia masak dan menyiapkan ke mulut Annisa.


"Hmm…pas, enak, kak. Jago masak juga kakak,"puji Annisa.


"Terima kasih, kakak siapkan di mangkuk saji, ya," ucap Arsyad.


"Iya, kak, ini juga ayamnya sudah selesai, terima kasih juga karena sudah bantuin,"ucap Annisa.


Annisa dan Arsyad selesai memasak, di menata masakannya di meja makan. Rico melihat dari kejauhan, ada sedikit perubahan pada anak dan menantunya itu, mereka menjadi lebih akrab. Dari tadi juga Rico melihat mereka masak bersama dan bercanda di dapur.


"Semoga Arsyad bisa sembuh dari traumanya, dan dia bisa menerima Annisa sebagai istrinya,"batin Rico.


^^^^^


Mereak sudah selesai sarapan, anak-anak berpamitan pada Rico, Annisa dan Arsyad untuk ke sekolah. Farrel dan Rana hari ini juga berangkat sekolah dari rumah Annisa. Mereka akan menginap hingga Shita dan Vino pulang dari luar kota.


Arsyad dan Annisa melihat anak-anaknya berangakat sekolah di antarkan sopir dari teras rumahnya. Setelah mereka berangkat Annisa dan Arsyad kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Seperti biasa, mereka sarapan sebelum mereka mandi.


Annisa mandi terlebih dahulu, selesai mandi seperti biasa dia hanya mengenakan bathrobenya. Annisa berjalan ke arah lemari pakaiannya, dia mengambil baju untuk ke kantor, dan mengambilkan baju suaminya juga. Arsyad mengurungkan niatanya untuk masuk ke kamar mandi, dia mendekati istrinya dan memeluk anniasa dari belakang. Dia mencoba ingin melakukan kegiatan suami istri dengan Annisa.


Tidak ada penolakan sedikitpun dari Annisa. Annisa membiarkan tangan Arsyad menyentuh setiap inci bagian tubuhnya dengan lembut. Annisa merasakan sentuhan lembut suaminya dan dia sudah merasakan hawa panas menjalar di pembuluh darahnya. Hingga deru napasnya terdengar lembut di telinga Arsyad. Arsyad mencoba merasakan dan menikmatinya. Namun, tak ada sedikitpun hasrat dalam diri Arsyad, hingga dia marah dan murka pada dirinya sendiri.


"Arrgghtt…suami macam apa aku ini, Annisa!"seru Arsyad sambil menjambak rambutnya dan duduk di tepi ranjang.


Arsyad menangis karenag dia tidak bisa merasakan sama sekali. Annisa membenarkan bathrobe nya yang sudah di acak-acak oleh suaminya.


"Kak, jangan seperti ini, suatu saat kakak pasti bisa, percayalah. Jangan menangis." Annisa memeluk suaminya dan menenggelamkan wajah suaminya di dadanya.


Arsyad masih menangis di pelukan Annisa sambil merutuki dirinya sendiri. Dia tak menyangka, hanyut dalam masa lalu akan merubah hidupnya menjadi seperti ini.


"Annisa, suami macam apa aku, maafkan aku, maafkan aku," ucap Arsyad di sela-sela Isak tangisnya.


"Kak, sudah, jangan seperti ini, ayo mandi, sudah siang, kakak harus ke kantor." Annisa mencoba menenangkan hati suaminya, dia mencium lembut kelopak mata suaminya dan bibir suaminya.


"Mandilah,"titah Annisa sambil memberika handuk pada suaminya.


Arsyad masuk ke kamar mandi, dia mendudukan dirinya di tepi bathtube. Dia masih sangat menyesal, dia merasa kasihan pada Annisa. Rasa bersalahnya semakin menumpuk di hatinya.


"Ya Allah, suami macam apa aku, sembuhkan aku, aku ingin membahagiakan istriku,"gumam Arsyad.


Annisa duduk di tepi ranjangnya, dia menangis dan menyeka air matanya yang jatuh. Dia rela hanya merasakan di sentuh suaminya, agar suaminya bisa menghilangkan sakitnya. Bagaimanapun dia sudah menyayangi suaminya, entah sejak kapan rasa itu muncul.


"Kak, aku rela hanya di sentuh kamu, aku rela, aku yakin kamu bisa sembuh, kak,"gumam Annisa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2