
Sore hari di rumah Rico, Arsyil sudah sampai di rumah terlebih dulu. Shita dan Arsyad juga belum sampai rumah.
Arsyil mencari kedua orang tuanya tapi dia tak menemukannya. Arsyil ke dapur, yang di dapatinya hanya Bi Nani yang sedang memasak.
"Bi pada kemana orang di rumah? Kok sepi sekali?"tanya Arsyil pada Bi Nani.
"Ibu sama bapak masih berkunjung di rumah lama ibu. Mba Shita dan Mas Arsyad belum pulang mas."jawab Bi Nani.
"Oh ya sudah, Arsyil mandi dulu bi."
Arsyil meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya.
Arsyil sudah selesai mandi, dia keluar dari kamarnya dan menuju ke teras depan rumahnya.
"Mereka lama sekali pulangnya." lirih Arsyil sambil duduk di kursi teras.
Tak lama kemudian Rico dan Andini pulang, mereka turun dari mobil dan menghampiri Arsyil yang sedang duduk sendirian.
"Syil,kamu tumben sudah pulang, mana Kak Shita dan Kak Arsyad." tanya Andini, ibunya.
"Belum pada pulang bu. Ibu sama papah dari mana, asik nih berduan terus. Kayak pacaran lagi."ucap Arsyil.
"Iya dong, biar gak kamu saja yang pacaran terus. " sahut Papah Rico.
"Ah...papah bisa ajah. Pah, bu tadi Kak Arsyad ke bengkel Arsyil, terus kami ke caffe Kak Shita."
"Iya ibu tahu dari semalam, kata Om Bayu semalam kakakmu menginap di sana dan siangnya mau menemuimu."ucap Andini.
"Syukurlah kalian sudah sama-sama menerima keadaan ini."sahut Papah Rico.
"Jadi papah sama ibu sudah tau?" tanya Arsyil.
"Udah semalam Om Bayu telfon."jawab Rico.
"Pantas saja papah sama ibu sepertinya sudah sangat lega dari pagi."ucap Arsyil.
"Ya sudah papah sama ibu masuk dulu."
Rico dan Andini masuk ke dalam rumah nya.
Sudah sehabis maghrib Arsyad masih saja belum pulang. Shita sudah ada di rumah. Mereka sudah berkumpul semua di meja makan sambil menunggu Arsyad pulang.
"Apa Kak Arsyad tidak pulang lagi malam ini?" tanya Shita.
"Pasti Kak Arsyad pulang kak, paling sedang sibuk di kantor."jawab Arsyil.
"Papah sudah telfon kantor katanya Arsyad sudah pulang dari tadi. Terus papah telfon hp nya tidak ada jawaban."
"Sudah paling sebentar lagi kakak kalian pulang kok. Ayo makan dulu." Andini mencoba menghangatkan suasana.
Mereka makan malam tanpa Arsyad. Rasanya kurang sempurna sekali tidak ada salah satu diantara mereka.
"Kok tumben Arsyad belum pulang ya."ucap Andini dalam hati.
Mereka sudah hampir selesai makan malam nya. Terdengar langkah kaki seseorang dari ruang tamu.
"Malam semua nya, maaf Arsyad telat ada urusan sebentar dengan teman Arsyad." Arsyad langsung memeluk ibunya dan menciumnya.
"Maafkan Arsyad ibu, Arsyad sayang ibu, maaf membuat ibu menangis." Arsyad memeluk erat ibunya dan mencium pipinya berulang kali.
"Iya sayang, yang penting sekarang kamu kembali kerumah. Jangan pergi lagi ya. Ayo makan, itu ada makanan kesukaanmu." Andini mengusap kepala Arsyad.
Arsyad duduk di tempat biasanya. Dia duduk di tengah-tengah adiknya.
"Syad kamu yang di peluk cuma ibu saja. Gak meluk papah?"ucap Rico yang agak cemburu karena Arsyad lebih dekat dengan ibunya.
Arsyad mendekati papahnya,dia memeluk Rico dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Rico.
"Papah, Arsyad sayang sama papah, jangan cemburu pah, papah sehat kan?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Papah sehat. Tapi, ibumu dari kemarin mengeluh sakit kepalanya."jawab Papah Rico.
"Benar seperti itu bu? Tanya Arsyad dan adik-adiknya bersamaan.
"Sedikit sih, tapi sudah sembuh sekarang. Ayo kamu makan dulu syad."
Arsyad kembali duduk di kursinya. Dia mengambil nasi dan lauk kesukaannya.
Selesai makan malam Arsyad menyampaikan sesuatu kepada semuanya, mengapa tadi dia pulanv terlambat dan soal dirinya yang akan mengajar di pondok pesantren.
"Papah, Ibu, Shita dan Arsyil. Ada yang ingin Arsyad sampaikan kepada kalian."ucap Arsyad.
"Mau menyampaikan apa Syad?" tanya Rico.
"Pah, Arsyil kan sebentar lagi wisuda, nanti dia yang mengurus perusahaan papah ya, soalnya Arsyad......" belum selesai Arsyad bicara ibunya sudah menebak kalau anak sulungnya akan pergi jauh.
"Kamu mau kemana? Mau meninggalkan kami lagi? Mau melanjutkan S3 mu di Kairo?"tanya Andini, ibunya.
"Ibu, bukan seperti itu."jawab Arsyad.
"Lalu? Kenapa mesti Arsyil yang mengurus perusahaan papah, kalau kamu tidak akan kemana-mana?" Andini semakin kesal nada bicaranya. Iya, dia sudah bosan sekali jauh dari anak sulungnya.
"Ibu tidak setuju kamu kamu pergi jauh-jauh."ucapnya lagi.
"Ibu dengarkan Arsyad dulu bu." sahut Rico.
Sementara Arsyil dan Shita yang sudah tau kalau kakaknya akan mengajar di Pondok Pesantren mereka hanya diam mendengarkan ibunya yang seakan-akan tak mau jauh dari kakaknya.
"Ibu, Arsyad ingin mengamalkan ilmu Arsyad yang selama ini Arsyad simpan. Iya Arsyad memang sudah menjadi dosen. Tapi, Arsyad merasa masih kurang mengamalkan ilmu Arsyad. Ibu, Papah, Arsyad akan mengajar di Pondok Pesantren di kota Y. Di sana membutuhkan pengajar untuk Bahasa Arab dan Arsyad juga bisa mengajar para santri calon Hafidz Qur'an bu, pah." jelas Arsyad.
"Kamu yakin itu?"tanya Papah Rico.
"Iya yakin pah."jawabnya.
"Syad itu jauh nak."ucap Andini, Ibunya.
"Apa ini karena masalah Ann...."
"Bukan karena Annisa ibu."sahut Arsyad langsung saat ibu nya belum selesai berbicara.
"Ibu, aku mengirim CV ke pondok pesantren sebagai pengajar di sana sejak lama bu, sebelum ada masalah ini."jelas Arsyad lagi.
"Lalu kapan kamu ke sana?"tanya Andini.
"Empat atau lima bulan lagi bu"jawab Arsyad.
"Ya sudah mau bagaimana lagi, itu yang kamu inginkan, ibu hanya bisa berdoa kamu mendapatkan yang terbaik."ucap Andini.
"Jadi ibu mengizinkan?"
"Iya, kalau itu terbaik buat kamu."
Papah Rico juga mengizinkan Arsyad untuk mengajar di pondok pesantren.
"Nanti ajari Arsyil dulu sebelum kamu berangkat ke sana Syad."
"Siap pah. Itu pasti. Lagiyan masih lama, nanti kakak akan ajari kamu berbisnis Syik."jawab Arsyad.
"Siap kakak.!"ucap Arsyil semangat.
********
Satu minggu lagi pernikahan Ray dan Naura. Semua sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing untuk membantu acara pernikahan Ray dan Naura. Shita dan Rachel sibuk dengan gaun pengantin untuk Naura.
Hari ini mereka menemui desainer di butik untuk melihat gaun pengantin Naura. Naura dan Ray juga menyusul mereka ke butik untuk sekalian fiting baju pengantin mereka.
Mereka sudah sampai di butik yang mereka tuju. Ponsel Shita berbunyi, ada telefon masuk di ponselnya.
"Siapa yang telfon? Nomornya tidak dikenal."lirih Shita dalam hati.
__ADS_1
"Chel aku angkat telfon sebentar ya?"pamit Shita pada Rachel.
"Iya kak."jawabnya.
Shita duduk disebuah kursi dan mengangkat telfon dari nomor yang tidak di kenal.
{Hallo Assalamualaikum, maaf ini dari siapa?}
{Wa'alaikumsalam Shita. Ini Kak Mira, maaf Kak Mira baru menghubungimu Shita.}
{Kak Mira apa kabar? Shita menunggu terus kabar dari Kak Mira.}
{Alhamdulillah kabar Kak Mira baik. Kamu sendiri bagaimana?}
{Alhamdulillah baik juga kak. Kakak pasti sangat sibuk sekali ya?}
{Iya Shita, kakak sangat sibuk sekali, tapi ini sudah tidak sibuk lagi. Kamu sedang dimana?}
{Aku di butik kak, sedang menemani sepupuku sedang fiting baju Pengantin, satu minggu lagi dia menikah.}
{Oh ya, ya sudah sana temani dulu saudaramu. Oh iya Shita, kakak 2 bulan lagi pulang.}
{Benarkah? Kok cepat?}
{Iya benar, kakak sudah selesai semuanya Alhamdulillah. Kakak sudah kangen Indonesia Ta.}.
{Okey, Shita tunggu kakak pulang, Shita nemenin saudara Shita dulu ya kak?}
{Iya sana. Ya sudah baik-baik di sana. Assalamualaikum.}
{Wa'alaikumsalam.}
Shita mengahiri telfon dari Almira, dia bahagia sekalu sudah mendapat telfon dari Almira. Dia kembali menemani Ray dan Naura Fiting baju pengantin. Mereka terlihat serasi sekali, Rayhan memakai stelan jas warna abu-abu. Dan, Naura dia memakai gaun yang cantik dan anggun dengan warna senada dengan Rayhan.
"Cantiknya kakak iparku."Rachel memeluk Naura.
"Baru tau Chel calon istri kakak cantik sekali."sahut Rayhan.
"Kalian bisa saja. Yuk Chel bantu kakak mencoba gaun satunya yang untuk akad nikah."ajak Naura.
"Okey kakak."jawabnya.
Shita melihat Rachel dan Naura sangat akrab sekali merasa tidak enak hati.
"Kapan Kak Arsyad menikah, semoga saja calon Kak Arsyad nanti jauh lebih baik dari Annisa. Apa aku jodohkan saja Kak Mira dengan Kak Arsyad ya? Ahhh....mana mungkin Kak Arsyad mau, belum tentu Kak Mira juga mau. Apalagi pendidikan Kak Mira lebih tinggi dari Kak Arsyad. Ahh...coba saja, kali aja jodoh. Kan jadi ladang pahala buat aku." Shita berkata dalam hati sambil melamun dengan tatapan kosong.
"Hei Shita, kenapa melamun? Sudah pengen nikah ya sama Vino?"goda Ray pada Shita yang membuat Shita kaget.
"Gak kok. Aku malah mikirnya kapan Kak Arsyad menikah. Dan, kakak tau Kak Mira? Tadi dia menelfonku, aku ingin sekali menjodohkan Kak Mira dengan Kak Arsyad."jelas Shita.
"Ta, jodoh itu misteri, siapa tahu kamu mau menjodohkan Kak Arsyad dengan Mira ternyata mereka memang saling mencintai. Sudah jangan di jodoh-jodohkan doakan saja yang terbaik buat kakakmu."jelas Rayhan.
"Iya juga sih."jawabnya.
Mereka sudah selesai fiting baju pengantin. Setelah itu mereka langsung kembali ke rumah masing-masing.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading.♥
__ADS_1