THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 8 "Rencana Sikembar Dio dan Shifa"


__ADS_3

Annisa masuk ke dalam kamarnya, dia tidak mengerti dengan semua ini, dia menangis di dalam kamar, dan merutuki dirinya sendiri.


"Aku bodoh sekali, aku menghindari keluarga suamiku dari kehancuran rumah tangga kakak iparku, tapi aku malah menderita seperti ini. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Maafkan aku Syil, jika aku harus menikah lagi, demi perusahaan yang di bangun papah dan paman. Aku tidak tau harus bagaimana lagi, waktuku hanya satu Minggu, untuk menyelesaikan semua ini. Maafkan aku Arsyil." Annisa terisak sambil memandang foto Arsyil.


Shifa dan Dio mendengarkan semua pembicaraan bundanya bersama eyang dan pamannya. Raut wajah mereka menjadi sedih, mendengar eyangnya memaksa bundanya menikah lagi dengan Leon. Shifa mendengarnya langsung berlari menangis ke kamarnya.


"Kak,Kak Shifa, tunggu." Dio mengejar Shifa ke kamarnya. Dio memeluk kakaknya yang sedang menangis


"Dio, bagaimana kalau bunda menikah dengan paman Leon. Aku tidak mau, aku benar-benar tidak mau, Dio."ucap Shita dengan menangis


"Kak, sudah jangan menangis, Dio juga tidak mau, bunda menikah lagi, Dio tidak rela, apalagi menikah dengan paman Leon. Dio tidak mau, lihatlah, ayah kita penyayang, dan kita akan dapat ganti orang macam paman Leon, tidak, aku tidak terima Kak. Kak, aku punya cara, kita hubungi saja Pakde. Kakak tau nomornya?"ucap Dio.


"Dio, bagaimana kakak tau, kita saja di batasi tidak boleh sama sekali memegang alat komunikasi."ucap Shifa.


"Sudah, Kak Shifa jangan nangis ya, kita bisa menghadapi semua ini, kita bisa kalau kita bersama, itu yang selalu Dio ingat kata-kata pakde dan opa. Ayo kita ke kamar bunda. Kita jalankan rencana kita."ucap Dio.


"Rencana apa, Dio?"tanya Shifa.


"Sudah kita bicarakan di kamar bunda. Pokoknya, walaupun bunda nantinya harus menerima lamaran Paman Leon, kita bisa mengundur-undur pernikahan mereka, dan kita cari cara untuk menghubungi pakde dan opa, agar mereka ke sini,menyelamatkan bunda dari paman Leon."ucap Dio.


"Tapi, masalah kita mencari tau bagaimana cara menghubungi pakde, jangan sampai bocor pada bunda dan lainnya, pasti mereka tidak setuju, kak."imbuh Dio.


"Tumben ide kamu masuk akal, Dio."ucap Shifa sambil mengacak-acak rambut saudara kembarnya itu.


"Siapa dulu, Dio….ayo ke kamar bunda, kita hibur bunda, aku tidak terima bunda menikah lagi dengan orang macam paman Leon. Ini tidak boleh terjadi."ucap Dio dengan penuh amarah.


"Iya, Kak Shifa juga tidak mau, ayah kita hanya Ayah Arsyil, tidak ada yang lain. Kecuali bunda punya suami lagi seperti pakde."ucap Shifa dengan lirih saat menyebut kata pakde.


"Pakde Arsyad maksud kakak?"tanya Dio.


"Iya. Kan pakde seperti ayah, wajahnya hampir mirip, sayangnya dengan kita sama seperti ayah menyayangi kita."ucap Shifa denga tersenyum membayangkan betapa bahagianya jika Arsyad menjadi ayahnya.


"Ngaco kamu, kak. Pakde kan masih punya istri."tukas Dio.


"Iya tau, aku cuma membayangkan saja, Dio. Gak mungkinlah dengan pakde, nanti budhe gimana?"ucap Shifa.


"Oh....iya, Dio. Semalam aku mimpi budhe lagi. Budhe menghampiri aku, kamu dan bunda, budhe bersama pakde, eehh…budhe pamitan pergi dan meninggalkan pakde Arsyad bersama kami, tapi budhe tidak kembali lagi."jelas Shifa.


"Kakak terlalu rindu dengan budhe jadi seperti itu."ucap Dio.


"Ya, mungkin saja seperti itu."ucap Shifa.


"Mungkin, ya sudah ayo ke kamar bunda."ajak Dio.


Mereka masuk ke kamar Annisa, sebelum masuk mereka mengetuk pintu kamar Annisa terlebih dahulu.


"Bunda….bunda sedang apa? Boleh kami masuk?"ucap Dio dan Shifa bebarengan.


"Sebentar sayang."ucap Annisa dari dalam kamarnya. Annisa segera menghapus air matanya, dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Matanya masih terlihat sembab karena dia dari tadi menangis meratapi nasibnya. Annisa membukakan pintu kamarnya, terlihat Dio dan Shifa berada di depan pintu kamarnya.


"Ada apa sayang?"tanya Annisa dengan menarik hidung mereka.


"Sakit bunda…."ucap mereka


"Boleh kami masuk, bunda?"tanya Dio.


"Boleh, ayo masuk, tutup dan kunci pintunya. Bunda juga mau bicara sesuatu pada kalian."ucap Annisa.


Mereka duduk bertiga di tempat tidur Annisa. Dio menatap lekat wajah bundanya yang terlihat sembab pada matanya.


"Bunda jangan sedih, tenang ada kami yang akan melindungi bunda." Dio mengusap lembut wajah bundanya.


"Ya Allah, persis sekali dengan Arsyil jika dia seperti ini. Aku rindu kamu, Arsyilku sayang."gumam Annisa dalam hati.


"Iya, bunda tidak sedih. Sini peluk bunda." Annisa memeluk e


rat kedua anaknya.


"Shifa, Dio, bunda mau bicara sangat penting sekali, bunda harap kamu mengerti posisi bunda saat ini."ucap Annisa.


"Iya, bunda, bunda pasti mau bicara soal paman Leon, kan?"tanya Shifa.


"Emm…." Annisa binging mau menjawab apa.


"Kami sudah tau semua, bunda. Tenang saja, bunda jangan khawatir."ucap Shifa.


"Bunda, jika memang bunda harus menerima lamaran Paman Leon, bunda terima saja, tapi bunda harus bisa mengulur waktu bunda, agar tidak cepat-cepat menikah dengan paman Leon."ucap Dio.


"Hey, kamu masih kecil, tau apa kamu soal menikah dan lamaran. Lucu sekali kamu, Dio."ucap Annisa dengan senyuman manisnya pada Dio dan mencubit lembut pipinya.


"Sudah, bunda ikuti saja permainan kami, kami tidak mau mempunyai ayah pengganti seperti paman Leon. Masa, ayah Arsyil yang humoris, yang penyayang, harus di gantikan dengan paman Leon. Orang jahat, sombong, pokoknya gak mau, Shifa tidak mau. Kecuali pakde Arsyad, Shifa mau."ucap Shifa dengan menunjukan gigi ala Pepsodent pada Annisa saat menyebut nama Arsyad.


"Pakde Arsyad? Kamu ada-ada saja, Shifa."ucap Annisa dengan menarik hidung Shifa


"Ih ..sakit bunda."ucap Shifa


"Lagiyan kamu bicaranya ngawur, masa sama pakde Arsyad. Kalian boleh menganggap pakde Arsyad ayah kalian, tapi jangan berlebihan, karena Pakde Arsyad kan memiliki budhe, Kaka Najwa dan kak Raffi."tutur Annisa.


"Iya bunda. Shifa cuma membandingkan saja, bunda. Kalau pakde kan mirip sama ayah, jadi pasti baiknya seperti ayah."ucap Shifa.


"Iya, karena mereka kan satu saudara kandung sayang."ucap Annisa.


"Tuh, kak Shifa bilangnya pakde terus dari tadi, Bunda."ucap Dio.


"Kaka Shifa kangen tau, sama pakde dan budhe, juga semuanya."ucap Shifa.


"Maafkan bunda ya, sayang, bunda tidak tau masalahnya menjadi serumit ini."ucap Annisa.


"Iya bunda, pokoknya bunda jangan sedih, bunda tetap semangat, kalau memang jalan satu-satunya bunda harus menerima Paman Leon, bunda terima saja. Kita akan mencari cara agar kita bisa segera pergi dari sini."tutur Dio.


"Baik, kalian memang anak bunda yang pintar-pintar."ucap Annisa.


"Makanya, bunda jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja, bunda. Percayalah."ucap Dio meyakinkan bundanya.


"Oke, bunda percaya dengan kalian. Sini peluk bunda." Annisa memeluk kedua anaknya. Dia tidak menyangka kalau anaknya bisa berpikir dewasa seperti ini. Dia bangga sekali, karena memiliki dua buah hati yang sangat menyayanginya.


"Ya Allah, terima kasih sudah menitipkan dua malaikat kecilmu pada ku, dan untuk suami ku, lihatlah putra dan putrimu, dia sangat kompak untuk memecahkan semua masalah ini. Aku janji sayang, akan selalu menyayangi anak-anak kita, dan akan selalu menjaga cinta kita. Aku mencintaimu, Arsyil."gumam Annisa dalam hati.


"Ayo, kita tidur siang, bunda lelah."ajak Annisa.

__ADS_1


"Oke, aku ingin tidur di sini bersama bunda."ucap Shifa.


"Dio juga." Dio memeluk Annisa, begitu juga dengan Shifa. Annisa berada di tengah-tengah mereka.


^^^^^


Sudah hampir lewat waktu ashar mereka masih tidur bersama di kamar Annisa, Annisa bangun terlebih dahulu, dia melihat dua malaikat kecilnya yang masih tertidur pulas. Annisa mencium Dio lalu bergantian mencium Shifa.


"Bunda sudah bangun?"tanya Shifa.


"Sudah, ayo mandi, kalian belum sholat Ashar ini sudah hampir lewat waktu Ashar."ucap Annisa


"Bunda kalau mandi tidak sampai waktunya untuk sholat Ashar, Shifa langsung wudhu saja ya, kita sholat bareng."ucap Shifa


"Ya sudah ayo ambil wudhu." Annisa menyuruh Shifa mengambil air wudhu.


"Dio sayang, bangun, nak. Sudah mau lewat waktu ashar, kita sholat dulu, yuk." Annisa membangunkan Dio. Dio mengerjapkan matanya pelan-pelan, dia langsung bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu.


"Kita sholat bareng di sini ya, bunda."ucap Dio


"Iya sayang, ambil pakaian sholatmu sana."ucap Annisa.


Setelah mengambil air wudhu, mereka kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian sholat mereka, setelah itu, mereka sholat bersama di kamar Annisa. Setelah sholat ashar mereka kembali bercanda di kamar Annisa, Annisa merasa sangat bahagia, di saat seperti ini, anak-anaknya begitu kompak memeberikan semangat untuk Annisa.


"Bunda, apapun yang terjadi, Dio akan selalu di samping bunda."ucap Dio.


"Shifa juga bunda, jadi bunda jangan takut ya, untuk menghadapi semua ini."ucap Shifa.


"Iya sayang, bunda akan semangat, karena ada kalian yang selalu membuat bunda semangat."ucap Annisa dengan bergantian mencium Dio dan Shifa.


Makan malam pun tiba, semua sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati menu makan malam yang di masak oleh Mba Lusi.


"Annisa kamu sudah memikirkan bagaimana caranya, supaya kamu bisa mengembalikan perusahaan paman menjadi seperti semula?"tanya Paman Diki.


"Sudah, ya sesuai kesepakatan saja, kalau memang satu minggu Annisa belum bisa mengbalikan perusahaan paman dengan sempurna, Annisa terima konsekuensinya, menerima lamaran Leon kan?"tutur Nisa.


"Iya, itu konsekuensinya."ucap Diki


"Baiklah."ucap Annisa.


"Ada angin apa, Annisa sepertinya santai menanggapi persoalan ini, tadi dia menangis dan memohon padaku, sekarang, dia sangat santai menanggapi semua ini."gumam Diki dalam hati.


"Nis, kamu yakin?"tanya Zidane.


"Iya Nis,kamu yakin?"tanya Alvin.


"Iya yakin, kenapa? Ini semua demi kalian bukan? Dan, bukankah ini yang kalian mau?"tanya Annisa dengan angkuhnya.


Mereka hanya terdiam melihat Annisa begitu cepat berubah, tadi siang, dia sangat terpukul sekali dengan semua persoalan ini, tapi setelah malam, dia seperti tidak ada beban untuk masalah ini.


"Nis, nanti habis makan, aku ingin bicara denganmu."ucap Zidane.


"Baik, aku tunggu di balkon."ucap Annisa.


Mereka sudah selesai makan malam, Dio dan Shifa kembali ke kamarnya. Annisa juga kembali ke kamarnya, dia sudah mendapatkan kekuatan dari kedua anaknya untuk menghadapi semua ini.


Dio dan Shifa membawa selimut, bantal kesayangannya dan tas sekolah mereka ke kamar Annisa, mereka ingin sekali tidur dengan Annisa.


"Bunda…."mereka langsung masuk ke dalam kamar Annisa.


"Ada apa kalian bawa semua ini ke kamar bunda?"tanya Annisa.


"Dio ingin tidur sini."ucapnya.


"Shifa juga."imbuh Shifa.


"Pokoknya di saat-saat seperti ini, kami akan tidur bersama bunda, aku tidak mau bunda sedih."ucap Dio


"Ya , Shifa juga."ucapnya.


"Oke…tidak masalah, bunda senang tidur dengan kalian. Ya sudah , bunda ke balkon, mau bicara dengan paman Zi. Kalian belajar dulu, habis itu sholat isya. Kalian belum sholat kan?"tanya Annisa.


"Siap, bunda. Kami akan sholat dulu baru belajar."ucap Dio.


"Bagus, bunda ke balkon ya?" Annisa pamit ke balkon menemui Zidane.


Zidane terlihat sudah berada di atas balkon, dia duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok di tangannya.


"Zi…"sapa Annisa.


"Ehh..kamu sudah datang, aku kira kamu sudah tidur. Duduklah."ucap Zidane.


"Tadi Dio dan Shifa ingin tidur di kamarku, jadi agak ribet bersama dia dulu."ucapnya.


"Kamu ingin bicara apa, Zi?"tanya Annisa dengan mendudukan dirinya di kursi sebelah Zidane.


"Nis, kamu yakin dengan keputusanmu tadi? Dan kamu benar-benar menerima konsekuensinya?"tanya Zidane dengan wajah cemas karena memikirkan hati Annisa.


"Iya, aku terima, bagaimana lagi, itu cara satu-satunya, aku tidak mungkin mengecewakan paman, apalagi perusahaan ini di bangun papah dan paman dari nol. Masa iya aku yang menghancurkan."ucap Annisa.


"Lalu, apa kamu siap jika Leon melamarmu dan menikahimu?"tanya Zidane .


"Siap tidak siap memang itu konsekuensinya kan?"tanya Annisa.


"Lalu bagaimana dengan hatimu?"tanya Alvin yang tiba-tiba muncul di belakang Zidane dan Annisa.


"Hatiku? Kalian tidak usah memikirkan itu, itu urusan hatiku, bukankah kalian ingin perusahaan normal kembali, kan?"ucap Annisa dengan nada angkuhnya.


"Bukan seperti itu, lalu Dio dan Shifa?"tanya Zidane.


"Ya, apapun yang membuat bundanya bahagia dia menurut denganku."ucap Annisa.


"Apa kamu akan bahagia jika menikah dengan Leon?"tanya Alvin.


"Menurutmu?" Annisa balik bertanya pada Alvin. Alvin hanya diam tak menjawab pertanyaan Annisa, dia tau, kalau Annisa sangat sakit hatinya menerima kenyataan ini. Mereka hanya terdiam, tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka.


Paman Diki yang dari tadi mendengar percakapan mereka, dia sedikit menyesali, karena ini semua keinginannya agar Annisa bisa menikah dengan Leon, CEO muda yang kaya raya.


"Maafkan paman, Nisa. Bukan paman kejam, maaf sudah membawa kamu pada masalah ini."gumam Paman Diki. Dia pergi meninggalkan mereka yang masih saja terdiam.

__ADS_1


"Aku mau tidur, aku capek, Zi, Vin."ucap Annisa.


"Iya, istirahatlah, jangan terlalu di pikirkan,sebisa mungkin aku akan membantumu, Annisa."ucap Zidane.


"Aku juga."ucap Alvin.


"Iya, terima kasih."ucap Annisa.


"Ini semua salahku, harusnya aku tidak ke sini. Aku memang egois."ucap Annisa lirih. Dia segera masuk ke kamarnya, dia melihat Dio dan Shifa sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Annisa merangkak naik ke tempat tidur, dia tidur di tengah-tengah Dio dan Shifa. Sekarang Dio dan Shifa sering tidur di kamar Annisa, karena mereka takut bundanya akan sedih jika ingat semua masalahnya.


^^^^^


Satu Minggu telah berlalu, Annisa belum bisa mengembalikan perusahaannya menjadi normal, dia mencoba memberanikan diri menelepon Leon, dan mengajak bertemu Leon di caffe.


^panggilan terhubung pada Leon^


"Hallo, Annisa wanitaku yang aku rindukan. Bagaimana? Ada apa, cantik? Kangen dengan aku yang tampan ini?"ucap Leon di balik telepon Annisa.


"Aku ingin bertemu di cafe dekat kantorku, ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kamu ke sini?"tanya Annisa.


"Ohh…bisa-bisa…buat wanita yang aku cinta, apa yang tidak bisa, semua akan aku lakukan untukmu, sayangku, Annisaku, pujaan hatiku."ucap Leon.


"Tidak usah panjang lebar, aku tunggu kamu di sana."ucapnya.


"Oke, sayang."ucap Leon.


Annisa menutup teleponnya, dia mencoba mengatur emosinya lagi, dia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa tepat waktu menemui Leon. Satu jam setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia keluar menemui Leon. Tanpa memberitahukan Zidane dan Alvin.


Annisa menuju ke cafe yang ia janjikan tadi dengan Leon. Annisa sampai di cafe tersebut, dia langsung masuk ke dalam dan mencari tempat duduk juga memesan kopi hitam panas.


Tak lama kemudian, Leon datang di cafe, senyum bahagia terpancar dari wajah Leon, dia melihat wanita yang ia cintai sudah berada di sana sambil menikmati secangkir kopi hitam.


"Sudah lama menunggu, sayang?"tanya Leon sambil mendudukan dirinya di depan Annisa.


"Baru 10 menit."jawab Annisa cuek. Leon melihat Annisa menikmati kopi hitam dia juga segera memesan kopi hitam pada pelayan.


"Kamu suka kopi hitam?"tanya Leon.


"Iya, kenapa?" Annisa balik bertanya.


"Perempuan jangan sering minum kopi hitam."ucapnya.


"Belum jadi apa-apanya sudah mengatur saja, kamu."tukas Annisa.


"Bukan mengatur, aku memberitahu saja, kalau wanita sering mengkonsumsi kopi hitam itu tidak baik untuk kesehatan."ucap Leon


"Oh...seperti itu, iya, aku sudha tau."ucap Nisa dan tidak memandang Leon sama sekali.


"Langsung ke topik pembicaraan saja. Aku minta sekarang juga, semua relasi paman yang memutuskan kerjasama dengan perusahaan paman, kembalikan pada perusahaan paman, ini urusan ku dengan kamu, bukan dengan perusahaan paman."ucap Annisa dengan angkuh.


"Lalu, apa jaminannya?"tanya Leon.


"Kamu minta aku kan? Kamu melakukan ini semua karena aku menolak lamaranmu kemarin? Kalau kamu laki-laki seutuhnya, laki-laki yang berwibawa, kamu tidak akan merusak perusahaan ku, karena urusan hati ya hati, perusahaan ya perusahaan. Kamu pria hebat, aku akui, kamu hebat, di usiamu yang muda ini kamu sudah bisa menjadi seperti ini, tapi sayang, hatimu sunggu busuk, Leon."ucap Annisa.


"Aku minta maaf Annisa, aku sungguh sangat mencintaimu, aku menginginkan kamu."ucap Leon.


"Kembalikan lagi perusahaan paman seperti semula, baru kamu melamarku, dan ingat aku kasih waktu kamu satu tahun, untuk meyakinkan aku, sebelum aku menjadi istrimu, jika kamu berbuat licik lagi, aku tidak segan-segan berbuat licik juga terhadapmu, tuan Leon."ucap Annisa.


"Oke, aku terima, aku turuti apa yang kamu mau. Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, Annisa."ucap Leon.


Leon memang benar-benar mencintai Annisa, dia tak pernab jatuh cinta hingga seperti ini, dia rela melakukan hal licik seperti ini hanya mendapatkan Annisa, padahal dalam hatinya dia tidak tega, bahkan saat tadi Annisa berkata dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca dia tidak tega sekali.


"Maafkan aku Annisa, aku terpaksa melakukan ini, karena aku benar-benar mencintaimu."gumam Leon dalam hati.


"Ya sudah, aku kembali ke kantor, ingat apa yang tadi aku katakan, kembalikan perusahaan paman seperti semula, dan aku kabulkan permintaanmu untuk melamarku."ucap Annisa sebelum kembali ke kantornya.


"Iya, aku akan segera melakukannya, dan ingat, jangan pernah lari dan jangan ingakri janjimu, untuk menerima lamaranku."ucap Leon.


"Aku bukan pengecut sepertimu, Leon."ucap Annisa sambil pergi meninggalkan Leon.


Annisa begitu sesak sekali dadanya, dia dari tadi ingin sekali menumpahkan air matanya, di dalam taxi, dia menangis dan menumpahkan rasa sesak di dadanya. Sesampainya di kantor, Annisa segera menghapus air matanya, dia turun dari taxi dan masuk ke dalam kantor. Zidan berjalan cepat ke ruangan Annisa, karena melihat email masuk bahwa semua perusahaan yang kemarin membatalkan kerjasama secara sepihak sekarang ingin melakukan kerjasama lagi.


"Annisa, kamu dari mana?"tanya Zidane.


"Cari makan, aku lapar sekali tadi."ucap Annisa.


"Kamu tau, semua perusahaan yang kemarin membatalkan kerjasama secara sepihak sekarang ingin melakukan kerjasama lagi."ucap Zidane dengan bahagia.


"Iya aku sudah tau."ucap Annisa dengan cuek lalu masuk ke ruangannya


"Nis…Nisa …tunggu." Zidane mengejar Annisa dan masuk ke dalam ruangan Annisa.


"Nis, jelaskan, kenapa semua bisa seperti ini? Dan,kenapa mereka bisa secepat ini ingin menjalin kerja sama lagi?"tanya Zidane.


"Ya, aku menerima tawaran Leon. Untuk melamarku, kalian ingin perusahaan kalian kembali seperti semula kan? Ya itu, aku sudah melakukannya, dan sekarang aku terima konsekuensinya, aku harus menerima Leon. Bukankah kalian yang menginginkan semua ini?"tanya Annisa dengan nada sinis.


"Tapi, Nis, kamu tidak mencintai Leon, kan.?"tanya Zidane.


"Ya, pikir saja sendiri. Sudah keluar dari sini, jangan ganggu aku, aku ingin sendiri."ucap Annisa. Zidane segera pergi dari ruangan Annisa. Dia tak menyangka Annisa akan melakuma itu semua.


Annisa mendudukan dirinya di kursi, hatinya sangat kacau sekali, dia kembali menangis meratapi nasibnya.


"Arsyil, aku tidak kuat, aku ingin sekali pergi dari sini. Maafkan aku Arsyil, aku melakukan ini semua demi perusahaan yang sudah di bangun papah dan paman dari nol. Maafkan aku, aku harus menerima lamaran Leon, tapi tidak dengan hatiku, hatiku tetap utuh untuk kamu, Syil."gumam Annisa.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2