THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 13 "Om-Om Tampan"


__ADS_3

Leon, Annisa, Alvin dan paman Diki pergi ke ruamh sakit yang tadi di beritahukan oleh pihak ruamh sakit. Leon melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


"Leon hati-hati, jangan ngebut."ucap Annisa yang ketakutan, dia sangat ketakutan hingga menangis.


"Annisa maaf, please jangan menangis, aku tidak bisa melihat kamu menangis."ucap Leon.


"Aku takut, Leon."ucap Annisa dengan gemetar. Leon langsung mengurangi kecepatan mobilnya, dan Annisa sudah tidka ketaukan lagi.


Setelah sampai di rumah sakit tujuan mereka segera masuk dan mencari tahu di mana Zidane. Zidane masih berada di ruang ICU. Dia belum sadarkan diri, kondisinya masih kritis, dia juga mengalami patah tulang di bagian tangannya.


"Ya Allah, kenapa bisa seperti ini."gumam Annisa.


Alvin sudah keluar dari ruang tranfusi darah, dia tadi mendonorkan darahnya untuk Zidane. Karena Zidane banyak kehilangan darah. Paman Diki dan Alvin duduk di samping Annisa, Annisa berada di tengah-tengah mereka.


"Nis, paman mohon, tetaplah di sini, jangan pulang ke Indonesia dulu, paman masih membutuhkan mu. Lihat, Zi seperti itu, tidak mungkin satu Minggu dia pulih dan bisa kerja di kantor." Paman Diki memohon pada Annisa.


"Iya, paman. Annisa akan di sini sampai Zi sembuh."dengan berat hati Annisa mengiyakan permintaan paman Diki.


Hari sudah semakin malam, Annisa kembali pulang ke rumah, paman Diki dan Alvin menemani Zidane di rumah sakit. Annisa sudah berada di mobil Leon. Dia sangat kacau, dlaam hatinya sudah ingin pulang ke Indonesia, tapi melihat pamannya yang seperti itu, Annisa tidak tega meninggalkannya.


"Aku tau, kamu sudah kangen dengan rumah, kangen dengan makan Arsyil. Pulanglah, biar aku yang menjaga paman Diki di sini."ucap Leon.


"Aku tidak akan pulang, hingga Zi sembuh, paman, Alvin dan Zidane sudah baik dengan ku, selama aku di sini aku yang selalu merepotkan mereka."ucap Annisa.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, Nis. Semoga Zi cepat pulih kembali."ucap Leon.


"Aamiin."ucap Annisa


"Kamu sudah makan?"tanya Leon. Annisa menjawab hanya menggelengkan kepala saja.


"Ingin makan apa?"tanya Leon lagi.


"Aku belum lapar."ucap Annisa.


"Ya sudah kita beli makan, di bungkus nanti makan di rumah ya."ucap Leon.


"Mba Lusi sudah memasak, tidak usah beli, nanti makan di rah saja."pinta Annisa.


"Ya sudah, kalau itu mau kamu, sudah jangan dipikirkan, semua akan baik-baik saja."ucap Leon.


Annisa hanya terdiam, dia masih memikirkan Zidane dan keinginan dirinya untuk pulang ke Indonesia. Dia terpaksa harus tinggal di Berlin lagi untuk sementara waktu.


"Maafkan aku, Syil. Aku belum bisa pulang. Entah kapan aku harus pulang ke indonesia. Aku kangen papah, Kak Mira, Najwa, Raffi, Kak Shita dan semuanya."gumam Annisa dalam hati dengan mata berkaca-kaca.


^^^^^


Indonesia.


Sudah hampir satu tahun Almira meninggalkan Arsyad dan anak-anaknya. Arsyad sudah semakin terbiasa hidup tanpa wanita yang ia cintai, dia lebih fokus mengurus Najwa dan Raffi juga Papahnya. Arsyad bersiap pergi ke kantor, Najwa sekarang sudah kelas satu SMP, dia menjadi semakin dewasa sekali setelah kepergian Almira.


"Najwa, hari ini Abah pulang terlambat, kamubles bersama Pak Yanto ya."ucap Arsyad.


"Baiklah, Abah mau kemana memangny"tanya Najwa.


"Menemui klien, sayang."ucap Arsyad.


"Perempuan?"tanya Najwa.


"Laki-laki, kalau perempuan memang kenapa?"tanya Arsyad dengan mencubit pipi Najwa.


"Jangan genit kalau sama perempuan."ucap Najwa dengan mengerucutkan bibirnya


"Najwa, abahmu apa bisa genit dengan perempuan, Abah kamu itu, orang cuek dan angkuh, mana ada perempuan yang suka, yang suka abahmu, ya almarhum ummi saja."sahut Rico.


"Pantas saja, Tante Nisa tidak suka abah, angkuh sih orangnya."ucap Najwa yang keceplosan.


"Najwa bilang apa tadi?"tanya Arsyad.


"Iya, tadi kamu bilang apa sayang?"tanya Rico juga.


"Ah…tidak…Najwa tidak berkata apa-apa."ucap Najwa gugup.


"Untung Raffi sudah berangkat pagi-pagi sekali, kalau dia tau, bisa rusak rencanaku untuk mendekatkan kembali Abah dan Tante Nisa."gumam Najwa.


"Kamu bilang, Tante Nisa tidak suka Abah?"tanya Arsyad.


"Emmm bukan gitu, Abah."ucap Najwa dengan gugup.


"Kamu ada-ada saja, Najwa. Katakan jujur pada Abah, kenapa kamu bisa berkata seperti itu." Arsyad mendesak Najwa untuk menjawabnya.


"Ya Najwa tau saja, Abah menuliskan sesuatu di belakang novel ummi kan?"tanya Najwa


"Abah dulu suka Tante Nisa kan? Waktu Tante Nisa menjadi mahasiswa Abah?"imbuh Najwa.


"Wah….ketahuan nih..."goda Rico.


"Pah, apaan sih…" Arsyad mulai canggung berbicara dengan Najwa, dia takut kalau Najwa kecewa Abahnya pernah mencintai kekasih adiknya sendiri.

__ADS_1


"Iya, tinggal jujur saja, abah."ucap Najwa


"Ya, dulu Abah suka dengan Tante Nisa. Dan, ternyata Tante Nisa kekasih om kamu."ucap Arsyad jujur.


"Kalau sekarang? Apa Abah masih suka dengan Tante Nisa?"tanya Najwa


"Ya sudah tidak, kan Tante Nisa jadi adiknya papah, sama seperti Tante Shita dan Tante Rachel."jelas Arsyad .


"Abah, ke Berlin, yuk. Kita susul Tante Nisa pulang."ajak Najwa.


"Berlin itu jauh, kamu juga sekolah di sini."ucap Najwa.


"Iya tau jauh, Nanti kalau Najwa liburan kenaikan kelas ya?"pinta Najwa.


"Abah tidak janji ya."ucap Arsyad.


"Ahhh…harus mau."ucap Najwa.


"Ya lihat saja nanti."ucap Arsyad.


"Tuh…kan Abah..." Najwa menggoyang-goyangkan lengan Abahnya dengan manja.


"Iya, nanti kalau Abah tidak mau, kita ke sana sendiri, oke. Abah di ruamh saja sendirian, kita ajak semuanya."ucap Rico.


"Yah…curang mau ajak semuanya, Abah gak di ajak."ucap Arsyad.


"Kan, kan…tadi tidak mau ikut, ya sudah Abah sendirian saja di rumah."ucap Najwa.


"Nanti Abah pikirkan lagi, ayo berangkat, nanti kamu kesiangan." Arsyad mengajak Najwa berangkat ke sekolah, mereka berpamita dengan Rico, hari ini Rico tidak ke kantor, karena sedang tidak enak badan.


"Pah, kami berangkat, papah jangan lupa minum obat dan vitaminnya."ucap Arsyad


"Iya, kalian hati-hati."ucap Rico.


"Opa, Najwa berangkat ya, oh iya, nanti pulang sekolah Najwa ingin bicara dengan opa."ucap Najwa.


"Mau bicara apa?"tanya Najwa


"Ada, pokoknya penting."ucap Najwa dengan berbisik-bisik pada Opanya.


"Tuh kan main rahasia-rahasiaan lagi, kamu makin dewasa sekarang main umpet-umpetab dengan Abah ya."ucap Arsyad.


"Ih…Abah, siapa yang main petak umpet, ayo berangkat." Najwa berkata sambil menarik tangan abahnya.


Arsyad masuk ke dalam mobil bersama Najwa. Najwa memandangi wajah Abahnya yangvsedang serius mengemudi mobilnya.


"Apa,sayang."jawab Arsyad.


"Abah tidak menikah lagi?"tanya Najwa yang membuat Arsyad menoleh ke arah Najwa.


"Menikah lagi? Kamu tanya apa sih, nak. Ya tidak lah."ucap Arsyad.


"Wanita yang Abah cintai adalah, Oma, ummi, kamu dan Tante Shita. Tidak ada yang bisa menggantikan ummi di hati Abah."ucap Arsyad.


"Kalau Tante Nisa?"tanya Najwa lagi.


"Kok tanya Tante Nisa?"tanya Arsyad


"Kan Abah dulu suka Tante Annisa. Jadi ya tidak salah kalau Najwa tanya seperti itu."tutur Najwa.


"Itu dulu sayang. Sudah jangan bahas ini, Abah tidak akan menikah lagi."tutur Arsyad.


"Ya sudah."ucap Najwa.


"Abah, Najwa akan terus meminta Abah menikah dengan Tante Annisa. Ini permintaan ummi Abah, tolong kabulkan."gumam Najwa dalam hati.


Najwa sudah sampai di sekolahnya, dia berpamitan pada Arsyad untuk masuk ke dalam sekolahnya.


"Sekolah yang pintar, jangan nakal."ucap Arsyad sambil mengusap kepala Najwa. Najwa mencium tangan Abahnya.


"Iya Abah, cium…." Najwa mendekatkan pipinya pada Arsyad


Arsyad mencium pipi anaknya yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik.


"Cie…Najwa, di cium om-om."ucap teman laki-laki Najwa.


"Enak aja om-om , ini Abah Najwa."tukas Najwa pada tannya itu. Arsyad yang melihat Najwa kesal dengan teman-temannya, dia tersenyum gemas melihat putrinya kesal dengan teman-temannya.


"Abah malah tersenyum."ucap Najwa.


"Kamu lucu sekali kalau cemberut. Apa Abah seperti om-om?"tanya Arsyad.


"Abah sih…masih muda saja, kan di bilangnya om-om."ucap Najwa dengan mengerucutkan bibirnya


"Abah sudah tua. Ya sudah kamu masuk sana. Nanti keburu bel."ucap Arsyad.


"Siap, om ku…"ucap Najwa menggoda Abahnya.

__ADS_1


"Ehh…ini Abah, bukan om kamu." Arsyad menarik hidung Najwa.


"Sakit Abah, iya…iya… maaf, ya sudah Najwa masuk ya, Abah hati-hati. Love you Abah."ucap Najwa sebelum masuk ke dalam sekolah.


"Love you too tuan putriku."ucap Arsyad sambil melambaikan tangannya, dia memerhatikan putrinya masuk ke dalam sekolah, hingga tak terlihat oleh pandangan matanya.


"Sayang, lihat, putri kita sudah dewasa, dia tumbub jadi wanita yang cantik, Sholehah, anggun seperti kamu, tapi dia jutek sayang, cerewet lagi, seperti Shita. Kamu tenang ya di surga. Seperti janjiku padamu, aku akan menuruti apa yang Najwa dan Raffi inginkan dan impikan."gumam Arsyad dalam hati.


Arsyad mengemudikan mobilnya ke kantor, dia hari ini mema v terlihat lebih cool dan tampan sekali, aura mudanya terpancar kembali, entah karena dia memasuki usia puber kedua, atau memang karena ketampanannya yang dia sandang sejak kecil. Arsyad sampai di kantornya, dia segera masuk ke dalam kantornya, semua yang berpapasan dengan Arsyad menundukan kepalanya. Dan tak sedikit karyawan wanita membicarakan Arsyad yang sekarang menjadi duda.


"Lelaki idaman datang, istrinya sudah lama meninggal saja masih setia, coba punya pasangan seperti Pak Arsyad. Pasti bahagia dunia akhirat."ucap salah satu karyawan Arsyad.


"Iya, semakin hari semakin tampan saja, sama seperti papahnya."ucap karyawan yang lainnya.


"Kalau Pak Arsyil masih ada, pasti tak kalah tampannya, sayang dia umurnya pendek, orangnya supel dan humoris, tapi Tuhan mengambil dia terlebih dahulu."ucap karyawan yang lainnya lagi.


"Kebiasaan ya kalian tukang gosip, awas aku adukan sama Arsyad."ucap Rayhan yang sudah berdiri di belakang mereka


"Jangan dong pak, kami kan mengagumi saja, pak. Memang bos kita semuanya tampan kok."ucap mereka.


"Ya…ya…ya… terserah kalian deh, ayo kerja lagi." Rayhan menyuruh semua karyawan bekerja lagi.


Rayhan masuk ke dalam kantor, sebelum ke ruangannya, dia menuju ruangan Arsyad terlebih dahulu, dia masuk tanpa mengetuk pintu, terlihta Arsyad sedang duduk di depan komputer lipatnya, dia sedang serius mengerjakan berkas yang ada di depannya.


"Wah…pantas saja semua wanita menggunjingmu, hari ini aura duda mudamu terpancar."ucap Rayhan dengan mendudukan dirinya di kursi depan Arsyad.


"Maksud kamu?"tanya Arsyad sambil mengerutkan keningnya.


"Yah...lihat saja, kamu hari ini tampan sekali, seperti om-om tampan itu."ucap Rayhan dengan tertawa.


"Sepagi ini sudah dua kali aku di bilang om-om. Apa aku seperti om-om?"tanya Arsyad dengan melempar kertas yang ia remas pada Rayhan.


"Siapa yang memanggil kamu om-om?"tanya Rayhan dengan tertawa setengah mengejek Arsyad.


"Kamu, sama teman Najwa."ucapnya.


"Temannya Najwa?"tanya Rayhan.


"Iya, tadi saat mengantar dia ke sekolah, terus aku mencium Najwa, temannya bilang , aku om-om."ucap Arsyad.


Rayhan menertawai Arsyad hingga terpingkal-pingkal.


"Syad, kamu masih muda, kamu tidak menikah lagi?"tanya Rayhan.


"Tidak kamu, tidak papah, tidak Najwa nyuruh aku nikah lagi. Memang gampang menikah lagi."ucap Arsyad.


"Wah… Nawja juga mendukung tuh. Sudah sana susul Annisa, nikahi adik iparmu itu."ucap Rayhan.


"Kalian itu, kenapa harus Annisa? Apa tidak ada wanita lain?"tanya Arsyad.


"Hei…kamu sama Annisa saja yang dulu pernah mencintai tidak mau, apalagi dengan wanita lain. Sudah kalian cocok kok. Annisa janda, kamu duda. Dan, anak-anak Annisa uga dekat dengan kamu, begitu juga sebaliknya, bukan?"ucap Rayhan.


"Sudah janagn bahas ini, aku tidak mau menikah lagi, Rayhan. Sudah ke ruanganmu, nanti sore temani aku menemui klien di Hotel Santika."ucap Arsyad


"Siap bosku…! Aku ke ruangaku, jangan lupa pikirkan itu."ucap Rayhan sebelum keluar.


"Pikirkan apa?"tanya Arsyad.


"Annisa itu. Sayang ada janda cantik kok."ucap Rayhan sambil menggodanya. Arsyad reflek melempar kertas tadi ke muka Rayhan.


"Sudah, sana keluar, menghilangkan mood kerjaku saja, kamu."ucap Arsyad


"Menambah mood kerja kali." Rayhan langsung beranjak dan berlari keluar sebelum Arsyad melempar map yang berada di depannya.


Arsyad duduk di kursinya kembali, dia meminum air putih yang ada di depannya, dia memijit keningnya dan memikirkan apa yang Rayhan katakan.


"Kenapa semuanya menjodohkan aku dengan Annisa, aku tidak akan menikah lagi, tidak akan, hanya satu wanita yang aku cintai, Almira. Hanya Almira, tidak ada yang lain."gumam Arsyad dalam hati.


Arsyad melanjtka kerjanya, dia kembali menghadap komputernya, saat dia akan bmkembaki mengerjakan file-filenya, dia melihat foto Almira di layar ponsel yang terletak di mejanya. Dia mengambil ponselnya dan membuka galeri ponselnya, dia memandangi foto Almira, dari awal dia menikah, hingga Almira sakit-sakitan, ada semua di ponsel Arsyad. Almira wanita yang mampu mengubah hatianya yang beku karena cintanya dengan Annisa dulu, Almira yang bisa meluluhkan hati Arsyad. Hingga mereka di pisahkan Tuhan, cinta Arsyad masih kuat untuk Almira.


"Aku tidak bisa sayang, tidak akan bisa, menggantikan posisi kamu di hati aku."ucap Arsyad lirih dengan mencium foto Almira.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2