
Di sepertiga malam Arsyad terbangun, seperti biasa Arsyad pasti terbangun saat sepertiga malam, dia beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu dia menjalankan ibadah di sepertiga malamnya seperti biasanya. hArsyad sudah selesai sholat sunnah dan berdzikir. Dia duduk dikursi yang berada di dalam kamarnya.
♥Arsyad♥
Entah kenapa aku tak bisa menepiskan rindu ini pada Mira, padahal aku baru saja bertemu tadi malam saat aku mengkhitabahnya. Ingin rasanya aku segera memiliki nya, menjaga dia dan memberikan kebahagiaan untuknya.
"Ya Allah, jagalah Mira sebelum aku menjaganya dan berada di sampingnya."ucap ku lirih.
Kekuatan cinta sungguh luar biasa sekali, aku yang sangat bimbang dan ragu apa aku bisa melupakn Annisa. Dan, kali ini aku bisa melupakan dia. Bahkan, saat melihatnya bersama Arsyil pun aku tak merasakan sakit seperti kemarin.
"Mira, sungguh kau wanita hebat. Kau mampu mengalihkan duniaku dalam sekejap. Kau mampu menyembunyikan rasa sakitmu itu karena masalalu mu. Izinkan aku mencintaimu hingga akhir waktuku Mira."ucap ku lirih.
*****
Pagipun tiba, Arsyad bersiap-siap untuk ke kantor. Dia keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan untuk sarapan.
"Kak, hari ini kakak jadi ke butik Nisa?"tanya Arsyil.
"Iya Syil nanti setelah jam makan siang bersama Mira."jawabnya.
"Ibu boleh ikut Syad?"tanya Andini.
"Boleh, nanti Arsyad jemput ibu dulu."jawabnya.
"Tidak usah di jemput Syad, nanti sama papah saja sekalian papah ke kantor. Lama papah tak ke kantor."sahut Rico papahnya.
"Baiklah. Arsyad pamit ke kantor dulu ya pah, bu. Syil kamu ikut kakak atau pakai sepeda motor?"
"Arsyil pakai sepeda motor saja kak, nanti pulangnya jemput Nisa dulu soalnya."
"Baiklah kakak berangkat dulu Syil."
Arsyad berangkat ke kantornya, kali ini dia bersemangat sekali untuk pergi ke kantornya. Dia merasakan ada yang beda pada dirinya.
"Kenapa aku jadi sesemangat ini untuk ke kantor. Tidak seperti biasanya."ucapnya lirih.
*****
Almira sudah bersiap-siap menuju ke taman bacanya. Sebentar lagi taman baca Mira akan segera di resmikan dan di buka untuk umum.
"Mira sarapan dulu nak."panggil Ummi Rahmah di depan pintu kamar Almira.
"Iya ummi sebentar lagi Mira keluar."jawabnya.
"Ummi tunggu di meja makan sayang."
"Iya ummi."
Ummi Rahmah menuju ke meja makan. Abah Fajri sudah terlihat duduk di kursi meja makan menunggu ummi dan Mira.
"Abah, kerah bajunya masih berantakan sekali, sini ummi betulkan." Ummi membetulkan Kerah baju abah.
"Ummi cantik sekali."puji abah dengan mengangkat wajah ummi.
"Abah, baru sadar kalau ummi cantik?"ucap Ummi.
Abah mencium kening ummi dan memeluknya.
"Terima kasih ummi sudah menemani abah hingga setua ini"ucapnya sambil memeluk ummi.
"Sama-sama abah, sebentar lagi Mira menikah, ruamah kita akan sepi abah."
"Ummi, kan rumah Mira dekat. Do'akan saja Mira bahagia dengan Arsyad dan cepat memberi kita cucu."
"Iya abah."
Mira keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan, dia melihat abah dan umminya yang sedang bahagia sekali dan mesra sekali.
"Ehem...pagi-pagi udah mesra-mesraan." Mira berdehem dan berkata sambil menuju meja makan.
"Mira, abah dan ummi sedang bahagia sekali. Karena, kamu akan segera menikah dengan Arsyad."ucap Abah.
"Do'akan Mira ya bah, mi agar Mira bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan Arsyad dan menggapai surgaNya."
"Do'a kami selalu untukmu, nak." Abah dan Ummi berkata bersama.
Mira dan kedua oragtuanya sarapan bersama, setelah selesai sarapan Mira pamit dengan ummi dan abahnya untuk pergi ke taman baca miliknya. "Abah, ummi, Mira pergi ke taman baca dulu ya, oh iya abah, ummi, mungkin tiga hari lagi taman baca Almira akan segera di resmikan. Karena, surat izin pendirian sudah jadi Bah, Mi." ucap Mira.
"Alhamdulillah." Ummi dan Abah mengucap syukur bersama.
"Selamat sayang, impian kamh satu persatu tercapai juga."ucap Abah.
"Iya abah, alhamdulillah, Mira berangkat dulu ya bah."ucapnya.
Mira berangkat ke taman baca dengan sopir pribadinya seperti biasa. Iya, Pak Afif yang selalu setia menemani Mira kemanapun dia pergi. Apalagi saat dulu Mira tertimpa musibah itu, dia sangat tidak terima dengan perlakuan ke tiga penculik itu. Mungkin mereka sekarang sudah membusuk di penjara karena perbuatannya.
"Pak Afif, nanti saya sama Arsyad akan ke butik mencari gaun untuk pernikahanku. Pak Afif bisa kan mengantar kami?"tanya Mira.
"Siap, siap, siap, kemanapun Mira mau pergi bapak siap mengantarkan."jawab Pak Afif.
Mira sudah sampai di taman bacanya, dia sudah di sibukan dengan menata buku-bukunya di rak buku dan sesuai dengan klasifikasinya. Mira di bantu dengan asisten pribadinya khusus untuk membantu di taman bacanya.
Semua buku sudah terrata rapih sekali, kini tinggal membarsihkan lantai dan kaca-kaca jendel yang terkena debu. Mira istirahat sebentar karena dia sangat haus sekali, dia mengambil botol yang berisi air putih, dia duduk di bangku dan meneguk air putih tersebut.
Hari sudah semakin siang, Mira melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah mau dhuhur, sebaiknya aku siap-siap untuk Sholat dan setelah itu menunggu Arsyad kesini."ucapnya dalam hati.
Mira berjalan menuju rumahnya, dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk mengambil air wudhu dan sholat dhuhur.
"Mba Mira, apa mau makan siang dulu?" salah satu asisten rumah tangga bertanya pada Mira saat dia akan masuk ke dalam kamar.
"Nanti mba setelah sholat saya makan, mba sudah pada makan? Kalau belum makanlah dulu mba, jangan menunggu saya makan."ucap Mira.
"Iya Mba, kami nanti makan dulu."ucapnya.
Mira belalu dan masuk ke dalam kamarnya. Dia memang mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga di rumahnya. Sekitar lima orang yang bekerja di rumah Mira sebagai asisten rumah tangga dan juga tukang kebun.
Mira sudah selesai sholat dan dia langsung menuju meja makan untik makan siang terlebih dahulu. Karena, dia sudah sangat lapar sekali.
Mira sudah selesai makan siang. Dia segera kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi bersama Arsyad.
*****
__ADS_1
Semenatara Arsyad, dia masih di kantor, dia baru saja menyelesaikan setumpuk pekerjaannya.
Ray terlihat masuk ke dalam ruangan Arsyad.
"Syad makan siang yuk?"ajak Rayhan.
"Iya Ray sebentar lagi nanggung nih. Oh iya papah nanti ke sini Ray."ucap Arsyad.
"Tumben Om Rico datang?"
"Iya mengantar ibu sekalian Ray, ibu mau ikut aku mencarikan baju pernikahan untuk Mira."
"Akhirnya, saudaraku ini mau menikah juga."
"Do'akan saja Ray, yuk makan, aku sudah lapar sekali Ray."
Arsyad dan Ray keluar untuk makan siang. Dia juga berpapasan dengan Arsyil yang juga akan makan siang.
"Kak, mau kemana?"tanya Arsyil
"Makan, kamu juga mau makan siang kan? Yuk bareng saja."ajak Arsyad.
"Iya kak ayo."
Mereka bertiga makan siang di kantin.
Arsyad sudah selesai makan siang dan juga sholat dhuhur. Dia kembali ke ruangannya. Tak lama kemuadia Rico dan Andini datang menemuinya.
"Syad."sapa Rico.
"Papah baru datang."ucapnya.
"Iya, kamu sudah siap-siap? Mau berangkat sekarang?"tanya Papah Rico.
"Iya pah, mana ibu?"
"Di ruangan Arsyil sebentar lagi paling ke sini."
Tak lama kemudian Andini masuk ke ruangan Arsyad.
"Ayo sudah siap?"tanya Andini
"Sudah bu, ayo kita berangkat."ajak Arsyad.
"Oke, papah ibu tinggal dulu ya?"
"Iya kalian hati-hati ya?"
Arsyad dan ibunya berangkat menemui Mira di taman bacanya.
Andini terlihat bahagia sekali menemani putranya untuk memilih gaun pernikahan calon menantunya.
Wajah Andini terlihat cerah tidak seperti biasanya. Arsyad yang melihat juga ikut bahagia.
"Tak pernah aku melihat ibu sebahagia ini. Aku sayang ibu, sehat selalu ibu." Arsyad berkata dalam hati.
Arsyad dan ibunya sudah sampai di depan taman baca Almira. Dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Almira.
"Ini taman baca milik Almira?"tanya Andini, ibunya.
"Oh...iya ayo turun."
Arsyad dan ibunya turun dari mobil dan langsung menuju ke dalam taman baca.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam"jawab Pak Afif.
"Mas Arsyad sudah datang, ini ibunya Mas Arsyad?"
"Iya Pak ini Ibu saya, beliau ingin sekali ikut memilihkan gaun untuk calon menantunya."
"Iya benar kata Arsyad. Mana Almira calon menantuku."
"Ada di rumah, mari Mas Arsyad dan ibu saya antar ke sebelah."
Andini dan Arsyad berjalan di belakan Pak Afif menuju rumah Mira yang berada di sebelah taman bacanya.
"Mari Mas Arsyad, ibu silahkan masuk." Pak Afif mempersilahkan Arsyad dan ibunya masuk kedalam dan duduk di kursi ruang tamu.
"Mba, Almira nya di mana? Ini sudah Mas Arsyad dan ibunya sudah datang, tolong panggilkan." tanya Pak Afif kepada salah satu asisten rumah tangga Almira.
"Oh ada di kamar Pak Afif, sebentar saya panggilkan."ucap Asisten rumah tangga tersebut.
"Baiklah. Ibu, Arsyad, saya tinggal dulu untuk mengecek pekerjaan para pekerja yang diluar."
"Oh iya Pak Afif silahkan." Pak Afif meninggalkan Arsyad dan ibunya di ruang tamu.
"Syad ini rumah Mira?"tanya Ibu Andini.
"Iya ibu, ini rumah Mira."
"Syad, apa setelah menikah kamu akan tinggal di sini?"
"Ibu Sebenarnya Arsyad sudah ada rumah. Tapi, jika Mira mau tetap di sini Arsyad menurut saja.."
"Nak, ibu tak menyangka rumah Mira sebesar ini dan memiliki beberapa asisten rumah tangga dan beberapa penjaga di rumahnya. Dan, sepertinya sopir Mira juga sangat menjaga Mira "
"Ibu sebenarnya....."ucapan Arsyad terhenti karena Mira sudah keluar menemuinya di ruang tamu.
"Arsyad, ibu, maaf menunggu lama." Almira mencium tangan Andini dan duduk di samping Andini.
"Iya tidak apa-apa, nak."
Arsyad masih memandangi mata Mira yang indah.
"Matamu indah sekali Mira."gumam Arsyad dalam hati.
"Emmm maaf Syad, ini mau berangkat sekarang?" Ucap Mira yang berhasil mengkagetkan Arsyad yang sedang menatapnya.
"Oh iya, ayo berangkat sekarang."ajak Arsyad.
Mereka berangkat ke butik dengan mobil Mira, Arsyad duduk di depan Mira dan Andini duduk di belakang.
__ADS_1
Sesampainya di butik Annisa mereka masuk ke dalam dan di sambut dengan Annisa. Dia sudah menyiapkan beberapa gaun muslimah terbaru di butiknya karena Arsyil sudah bilang dengan Nisa kalau Arsyad dan Mira akan ke butiknya untuk memilih gaun pernikahannya.
"Kak Mira..." Annisa memeluk Mira.
"Ibu ikut juga?" Annisa mencium tangan Andini
"Iya sayang, ibu ikut. Ingin menemani Arsyad dan Mira memilih gaun untik Mira dan Jas untuk Arsyad."
.
"Oke, sudah Nisa siapkan, yuk ke dalam kak Mira, ibu dan Pak Ars.... emmm..maksudku Kak Arsyad. maaf..."ucapnya sambil menundukan pandangannta karena malu.
"Tidak apa-apa Nisa, kamu mungkin sudah terbiasa memanggil aku pak. Ayo tunjukan gaunnya Nisa."
"Oh iya kak, ayo masuk ke ruangam Nisa."
Mereka mengikuti Nisa untuk masuk ke ruangannya. Nisa menunjukan beberapa gaun bernuansa muslimah untuk Almira. Almira yang sampai bingung memilihnya karena semua gaun-gaunnya sangat bagus sekali.
"Nis, cantik-cantik sekali gaunnya."ucap Mira sambil melihat semua gaun yang di tunjukan Nisa.
"Harus cantik dong kak, kan kakak cantik."
"Kamu bisa saja Nis. Kamu juga cantik."
"Namanya perempuan itu cantik semua sayang, kalian juga calon menantu ibu yang sangat cantik-cantik. Kalian memang cocok dengan pasangan kalian masing-masing. Nisa mata dan hidungnya mirip Arsyil, dan kamh Mira. Ada lesung pipitnya sama seperti Arsyad."ucap Andini.
Arsyad hanya tersenyum mendengarkan mereka berbicara. Dia melihat gaun yang sangat cantik sekali dan memperlihatkan pada Almira.
"Mira ini bagus sekali,cantim gaunnya sepertinya cocok untukmu Mira."ucap Arsyad sambil menunjukan gaun nya.
"Emm...iya Syad bagus. Nisa bisa di coba kan?"
"Iya kak bisa. Ayo, Nisa antar ke kamar pas."
Nisa mengantar Mira ke kamar pas, Mira mencoba gaun yang di pilihkan Arasyad. Gaun berwarna putih yang sangat cantik sekali, cocok dengan Mira yang juga sangat cantik. Nisa juga ikut membantu Almira memakai gaunnya.
"Kak Mira cantik sekali, pakai atau tak pakai jilbab."ucap Nisa yang melihat Mira melepas jilbab dan dan cadarnya.
"Nisa, kenapa memandangku seperti itu. Ayo bantu kakak naikan resleting belakangnya Nisa."
Nisa yang masih terpaku melihat kecantikan Mira, dia di kagetkan oleh Mira yang meminta bantuan menaikan resleting gaunnya.
"Eh..iya kak, maaf. Kakak cantik sekali, Kak Arsyad tidak salah memilih kakak." ucapnya sambil membantu Almira.
"Kamu dari tadi bilang kakak cantik terus Nis. kamu juga cantik sayang, Kak Arsyad bukannya pernah mencintaimu dan sulit untuk melupakanmu Nisa?" Mira berkata seperti itu membuat Nisa malu dan menundukan wajahnya.
"Kak, please jangan bilang itu lagi. Aku sampai sekarang masih ada rasa bersalah dengan Kak Arsyad kak. Kak, Kak Mira mencintai Kak Arsyad kan? Kak Mira menikah dengan Kak Arsyad tidak terpaksa?"
"Nisa, sudah yang lalu biarlah berlalu, maafkan kakak juga membuka luka lama ini. Kakak, iya Nisa, kakak sangat mencintai Kak Arsyad. Sejak kakak pertama melihatnya."
"Benarkah? Kapan itu kak?"
"Sebelum kakak ke Kairo untuk melanjutkan S3 Nisa. Waktu itu kakak menolak setiap kali ada yang ingin mengkhitbah kakak. Tapi saat abah mengucapkan nama Arsyad Alfarizi yang akan dijodohkan dengan kakak. Entah kenapa kakak langsung mengiyakan, padahal kakak tau, tidak mungkin Arsyad mencintai kakak. Dan, mungkin sampai saat ini dia belum bisa mencintai kakak. Dia hanya ingin adik-adiknya yang sudah bertunangan segera menikah saja."jelas Mira.
"Kak Mira, aku yakin Kak Arsyad sangat mencintaimu. Kamu wanita yang tepat kak untuk Kak Arayad. Ayo kak, pakai jilbab dan cadarnya, lalu kita keluar."
Mira memakai jilbab dan cadarnya kembali setelah itu dia keluar memelerlihatkan gaun nya pada Arsyad dan ibunya.
"Nisa kamu tidak tahu sebenarnya aku seperti apa, bahkan diriku tak pantas untuk Arsyad Nisa. Aku sudah kotor Nisa."ucap Mira dalam hatinya sambil keluar dari ruang pas.
"Ibu, Kak Arsyad, lihatlah, cantik kan gaunnya. Cocok sekali dengan Kak Mira yang cantik ini."
"Iya cantik sekali kamu, nak."
"Cantik, indah sekali. Ya sudah ini saja ya Mira yang di ambil, atau mau pilih yang lainny?"
"Apapun pilihan kamu aku suka Arsyad."
"Baiklah, yang ini saja Nisa, aku ambil."
"Okey kak."ucapnya dengan tersenyum pada Arsyad.
"Ayo Kak Mira kita ke kamar pas lagi."ajak Nisa.
Arayad masih melihat Nisa dan Mira yang masuk ke dalam kamar pas.
"Nisa, senyumanmu tak akan berubah, tetap manis sekali. Dia memang mirip sekali dengan Arsyil." gumam Arsyad dalam hati.
Arsyad melihat-lihat koleksi baju muslim yang ada di butik Nisa. Dia melihat baju muslim berwarna Maroon dengan khimar dan cadarnya juga.
"Ini sepertinya cocok untuk Mira. Ukurannya juga pas."gumamnya dalam hati sambil mengambil baju itu dan menunjukan ke arah ibunya.
"Ibu ini bagus ya untuk Mira."
"Iya bagus, cantik modelnya juga sederhana. Ambil saja untuk Mira, nanti di kasihkan sesudah kamu menikah saja. Sana di bayar dulu sebelum Mira dan Nisa melihatnya."
"Baiklah, aku ke kasir dulu. Ibu memang yang terbaik. Terima kasih ibu."
"Iya...iya...sana buruan di bayar, keburu Mira melihat."
Mereka sudah selesai membeli gaun untuk Mira. Dan, mereka pamit pada Annisa untuk pulang.
*******
Taman baca Almira sudah di resmikan. Dan, sudah banyak sekali pengunjung yang datang hanya sekedar membaca atau meminjam buku.
Saat ini adalah tiga hari menjelang pernikahan Arsyad dan Almira. Semua oramg disibukan dengan urusannya masing-masing. Pernikahan mereka akan di gelar di rumah Abah Fajri.
Almira sudah sibuk treatmen untuk pengantin. Mulai dari lulur, mandi susu, sauna ratus dan lain-lain. Ini merupakan tradisi dari keluarga Abah Fajri. Dan, itu semua Mira lakukan di rumah tidak di salon ataupun tempat spa seperti wanita-wanita yang lain. Dia memilih Home Servis dengan mengundang seseorang dari salon langganan Ummi Rahmah dan Mira.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥
__ADS_1
maaf author sibuk sekali jari baru sempat up. terima kasih yang selalu setia menunggu.