
Sudah pukul sebelas malam, Najwa masih saja belum tidur. Matanya masih saja menatap tajam ke arah Arsyad sambil mengembangkan senyum lucunya, tidak ada tanda-tanda mengantuk sama sekali. Almira sudah menahan kantuknya dari tadi. Arsyad membelai rambut istrinya dan menyandarkan istrinya pada bahunya.
"Kamu terlihat mengantuk sekali, sayang. Tidurlah, biar Najwa bersamaku."ujar Arsyad pada istrinya.
"Kasihan kamu, mas. Besok kan harus ke kantor, mas saja yang tidur."ucap Mira sambil menguap.
"Sudah, ummi tidur saja, Najwa sama Abah ya, sayang."ucap Arsyad sambil mencium pipi Najwa yang masih saja bermain jarinya dan tersenyum lucu pada Abahnya.
"Ya sudah ummi tidur ya, Najwa sama Abah." Almira merebahkan dirinya di samping Najwa, rasa kantuknya sudah tidak tertahan. Dia tertidur di samping Najwa.
Arsyad memandangi dua bidadarinya, dia mencium kening istrinya. Arsyad mengajak mengobrol Najwa yang masih saja belum mengantuk. Setiap satu jam Najwa menangis dan membuat Almira terbangun dan memberi ASI pada Najwa. Saat menyusu Almira, Najwa tertidur, tapi jika di letakan di ranjangnya, dia terbangun lagi.
"Sabar, Mira, memang seperti ini menjadi seorang ibu."gumamnya dalam hati.
"Najwa sayang, apa kamu tidak mengantuk, nak? Lihat abah dan ummi, sudah mengantuk semua. Ayo tidurlah sayang."ucap Mira dengan nada lembut sambil mencium pipi Najwa.
"Ummi tidur lagi saja, biar Abah yang menemani Najwa, ya?"ujar Arsyad pada istrinya dengan suara menirukan anak kecil.
"Ya sudah, ummi tidur lagi ya sayang." Almira kembali merebahkan dirinya di samping Najwa. Arsyad sebenarnya sudah sangat mengantuk sekali, dia berkali-kali menguao.
Untuk mengusir rasa kantuknya, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, Arsyad mengambil Al-Qur'an dan mengaji di samping Najwa dan Almira. Suara merdu Arsyad terdengar sejuk di telinga Almira. Hingga pukul dua dini hari, Najwa juga belum tertidur. Almira terbangun karena Najwa menangis ingin menyusu. Almira menggendong Najwa dan memberinya ASI. Almira menyuruh suaminya untuk tidur.
"Mas, tidurlah. Najwa udah tidur ini, semoga saja tidak bangun lagi seperti tadi."ucap Mira pada Arsyad yang sedang menaruh Al-Qur'an nya di atas rak.
"Iya, semoga saja tidak bangun lagi."ucap Arsyad.
Almira dengan sangat hati-hati meletakan Najwa di tempat tidur. Dan, akhirnya Najwa tertidur dengan pulas. Arsyad tidur di samping Najwa, begitu juga Almira. Najwa berada di tengah-tengah Arsyad dan Almira.
*****
Pagi hari di kantor, mata Arsyad terlihat sayu, kelopak matanya menghitam. Iya, itu semua karena Arsyad selalu begadang hingga pagi menemani putri kecilnya yang sudah hampir 5 hari tidur hingga pukul dua dini hari. Rayhan menghampiri Arsyad yang terlihat sangat lesu sekali.
"Syad, kenapa matamu? Mirip mata panda. Kamu begadang terus?"tanya Rayhan
"Iya, menemani Najwa, dia tidak tidur kalau malam. Pasti tidur jam 2 atau jam 3 pagi."ucapnya.
"Sama, Ozil juga seperti itu dulu, tapi Naura dan ibu yang gantian menjaganya."ucap Rayhan.
Arsyad melanjutkan pekerjaannya, dia melihat berkas yang di bawa Rayhan, lalu menandatanganinya. Setelah selesai semua Arsyad keluar menuju pantry untuk membuat kopi agar tidak mengantuk. Arsyil hari ini tidak ke kantor, karena ada urusan di kantor Alm.Papah Rizal.
"Syad, kamu jam segini sudah buat kopi."sapa Rico yang tiba-tiba muncul di belakang Arsyad.
"Papah ngagetin saja. Arsyad mengantuk sekali pah, semalam Najwa tidak tidur lagi, dan baru tidur jam 2 pagi. Sudah hampir 5 hari Arsyad dan Mira sering begadang."ucapnya.
"Ya memang seperti itu, kalau memiliki bayi. Dulu papah dan ibu juga iya. Kamu sudah tau? Adikmu, Shita, dia sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-2."ucap Rico.
"Alhamdulillah…akhirnya Shita hamil. Aku jadi ingin menemuinya."ucap Arsyad.
"Papah juga senang sekali, adikmu hamil, pikiran papah sudah kemana-mana, Syad. Takut kejadian ibu dan mamah terulang lagi."ucap Rico.
"Pah, jangan sampai lah. Papah mau kopi? Biar Arsyad buatkan sekalian." Arsyad menawarkan kopi pada papahnya.
"Tidak, papah sudah mengurangi kopi sekarang. Papah ke sini mau ambil air hangat saja."ucapnya.
Arsyad dan Rico keluar dari pantry, mereka kembali ke ruangan kerja masing-masing.
*****
Arsyil sangat bingung sekali saat ini. Dia di tugaskan ke luar kota menemui kliennya bersama Paman Eric. Paman Eric adalah orang kepercayaannya papahnya Annisa. Arsyil sangat bingung sekali, bagaiman mau keluar kota, sedangkan HPL Annisa sebentar lagi.
"Paman apa harus dengan ku?"tanya Arsyil.
"Mau siapa lagi kalau bukan kamu, Syil. Annisa hamil, dan kamu satu-satunya penerus perusahaan ini."ucap Papan Eric.
"Paman, Annisa kan hamil tua, aku tidak bisa meninggalkannya lama, paman."ucap Arsyil dengan berat.
Paman Eric membuang nafasnya berat, dia duduk di depan Arsyil dan memohon agar Arsyil ikut dengannya ke luar kota selama 3 atau 4 hari untuk menemui klien.
"Nanti aku akan bicarakan dengan Nisa, paman. Sungguh aku tidak tega meninggalkannya sendirian. Iya ada ibu dan papah, tapi tetap saja paman, aku tak tenang."jelas Arsyil.
"Baiklah, nanti bicarakan baik-baik dengan Nisa. Paman tunggu keputusannya besok pagi, Syil."
__ADS_1
"Huh..."Arsyil membuang nafasnya kasar.
"Iya paman, aku akan membicarakan ini semua dengan Annisa juga papah dan ibu."ucap Arsyil.
Paman Eric kembali ke ruangannya, Arsyil terdiam memikirkan akan meninggalkan Annisa ke luar kota.
Arsyil melajukan mobilnya untuk pulang, setelah sampai di rumah dia langsung menemui istrinya yang sedang menata masakannya di meja makan.
Arsyil memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya. Dia mengusap perut Annisa yang sudah membuncit, karena sebentar lagi akan melahirkan. Dia memutar tubuh istrinya agar berbalik menghadapnya. Dia berjongkok di depan Annisa dan mencium perut Annisa.
"Sayang, jangan rewel ya, ayah akan keluar kota selalam 3 atau 4 hari, keluarnya nunggu ayah pulang ya, nak?" Arsyil berbicara di depan perut istrinya.
"Ayah memang mau apa keluar kota?"tanya Annisa. Arsyil berdiri menghadap istrinya, dia memegang dagu Annisa dan mengangkatnya lalu mencium kilas bibir istrinya.
"Paman Eric, dia memintaku ikut menemui klien di luar kota selama 3 atau 4 hari."ucapnya dengan nada malas.
"Ikut saja, sayang, kalau tidak kamu siapa lagi? Kalau aku tidak hamil mungkin aku yang berangkat."ucap Annisa sambil membelai pipi Suaminya.
"Tapi, HPL kamu sebentar lagi sayang. Dan itu bisa maju atau mundur. Nanti kalau anak kita lahir aku tidak ada di sisimu bagaimana."ucap Arsyil.
"Pasti menunggu kamu pulang kok, sayang. Sudah ikut saja, ini demi perusahaan kita, sayang. Jangan khawatir, aku bisa dengan ibu di rumah." Nisa mencoba menjelaskan dengan lembut pada suaminya. Dia juga sebenarnya tidak mau ditinggal Arsyil saat ini, karena sebentar lagi akan melahirkan. Tapi, mau bagaimana lagi, perusahaan sedang membutuhkan Arsyil.
"Iya sudah, besok aku bilang Paman Eric, aku ikut bersamanya keluar kota."ucapnya.
"Iya, besok bilang pada paman, sudah sana mandi dulu." Annisa masuk ke kamar bersama suaminya. Dia mengambilkan handuk milik Arsyil.
Setelah selesai mandi, Arsyil meraih ponselnya, dia menelfon Paman Eric kalau dirinya akan ikut keluar kota. Arsyil meminta agar besok segera berangkat ke kota tujuannya, biar tidak terlalu lama meninggalkan Annisa sendiri di rumah.
*****
Andini dan Rico malam ini tidur di rumah Annisa, mereka menemani menantunya yang sedang hamil tua, karena Arsyil keluar kota untuk mengurus pekerjaannya.
Andini dan Rico tidur di kamar tamu yang cukup luas. Rico tak menyangka, anak bungsunya mendesain rumahnya seklasik ini. Iya, Arsyil mendesainnya seperti itu karena Annisa suka sekali dengan yang berbau klasik. Pintu dan jendelanya, benar-benar menggunakan kayu jati kualitas nomor satu. Begitu juga lemari dan ranjangnya.
"Aku tak menyangka Bu, Arsyil benar-benar menyiapkan ini semua untuk Annisa. Dia benar-benar mencintai Annisa sekali."ucap Rico sambil memandangi setiap sudut kamar tamu di rumah Arsyil.
"Iya pah, ibu juga tidak menyangkanya. Pah, ibu ke kamar Nisa dulu ya." Andini pamit untuk melihat menantunya suadh tidur atau belum.
Andini mendapati menantunya sedang membolak-balikan tubuhnya, dia tau kalau Annisa sedang mencari posisi tidur yang nyaman. Andini mendekati menantunya. Dia memegang kaki Annisa dan memijatnya pelan.
"Belum, aku tidak bisa tidur, sudah sekali mencari posisi yang nyaman, Bu."ucapnya.
Andini mencoba menatakan posisi tidur yang nyaman untuk Annisa. "Sudah nyaman?"tanya Andini.
"Sudah, ibu tidak tidur?ucap Nisa dan bertanya pada ibu mertuanya.
"Ibu akan tidur di sini, menemanimu."ucapnya. Andini tidur di samping menantunya. Dia melihat wajah Annisa yang sangat cantik sekali.
*****
Di rumah Rico, Shita sedang duduk di tepi ranjang menunggu suaminya selesai mandi. Dia mendengar suara ponsel suaminya, ada notifikasi WhatsApp berkali-kali. Entah kenapa Shita begitu penasaran siapa yang Chat suaminya di luar jam kerja, dan banyak sekali chatnya. Tidak seperti biasanya Shita begitu penasaran sekali ingin membuka isi chat yang baru saja masuk berkali-kali.
"Siapa yang Chat malam-malam, bukannya ini sudah lepas dari jam kerja."gumam Shita. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel milik suaminya. Dia membuka kunci layar pada ponsel suaminya, beruntungnya tidak menggunakan kata sandi apa-apa, jadi sekali usap langsung terbuka.
Mata Shita menatap tajam ponsel suaminya, saat melihat nama perempuan yang mengirim pesan di WhatsApp suaminya.
"Lesy? Siapa dia? Kok chatnya banyak sekali, dan kata-katanya mesra sekali. Siapa Lesy? Kak Vino pasti menyembunyikan sesuatu dari ku."gumam Shita sambil terus membaca chat dari Lesy. Dia segera keluar dari kamarnya menuju kamar Arsyil yang kosong. Dia masuk ke kamar Arsyil dan mengunci pintunya. Dia duduk di tepi ranjang milik Arsyil. Shita begitu penasaran siapa Lesy, dan ada hubungan apa dengan Vino, suaminya.
"Aku sudah sampai di Paris, Vin. Terima kasih untuk semuanya. Dan terima kasih sudah memberikan kebahagian untuk selama kurang lebih satu tahun. Walau aku tau, hanya Shita yang kamu cintai." isi pesan Lesy yang seperti itu membuat Shita semakin penasaran siapa Lesy.
Shita membuka semua Chat Vino dan Lesy yang belum ia hapus dari dulu. Iya, Vino tidak khawatir Shita membuka ponselnya, karena dia tau, kalau Shita sangat percaya dengannya. Shita membuka galery ponsel Vino. Banyak sekali foto Lesy di galeri nya, foto saat bersama Vino, dan saat sendiri. Yang lebih mengejutkan dia membaca Chat Vino pada Lesy, yang isinya Vino merasa sangat nyaman saat bersama Lesy. Walau hanya mengobrol saja.
"Kak Vino, kenapa kamu melakukan ini semua padaku, apa salahku kak, aku sudah memercayai mu, tapi ini balsanmu ke aku." Shita menangis dan setengah berteriak. Dia segera keluar dari kamar Arsyil dan menemui suaminya yang sedang sibuk mencari ponselnya.
"Dimana ponselku, tadi aku letakan di meja."ucap Vino lirih sambil mencari ponsel miliknya. Shita mendengar apa yang di katak Vino
"Kamu mencari ini, hah?"ucap Shita dengan nada ketus pada suaminya dan menunjukan ponsel suaminya yang ia pegang. Shita melempar ponsel milik Vino ke tempat tidur.
"Siapa Lesy! Dan ada hubungan apa kamu dengan Lesy. Tolong jelaskan!"tegas Shita dengan penuh amarah.
"Kamu tau semuanya? Iya aku akan jelaskan, duduklah." Vino menarik Shita agar duduk di sampingnya, tapi Shita menepiskan tangan suaminya.
__ADS_1
"Tidak usah menyentuhku lagi!"tukas Shita.
"Cepat jelaskan, atau kita sudahi semuanya!" Shita sangat murka pada suaminya.
"Lesy, iya Lesy. Dia temanku, teman dekat. Ini memang salahku, Shita. Maafkan aku."ucap Vino. Dia berhenti sejenak mengatur kata yang akan di ucapkan pada Shita.
"Memang ada hubungan spesial antara aku dan Lesy, sebelum kita menikah dan sampai kemarin."ucapnya.
"Lalu, soal rumah? Dan foto-foto yang ada di galeri kamu. Pandai kamu menutupi kebusukanmu, Vino. Aku tak menyangka, orang yang begitu aku cintai, begitu aku sayangi, dan begitu aku percayai, tapi kamu malah menyia-nyiakan semua yang aku berikan, cinta, kasih sayang, dan kepercayaan. Dimana hatimu, Vino, hingga kamu tega melakukan semua ini padaku!" Shita sungguh sangat geram sekali dengan suaminya.
"Maafkan aku, memang rumah itu aku kasih kepada Lesy, untuk dia tinggal saat di Indonesia, dan kantor cabang yang di kota itu, dia yang memegang."jelas Vino.
"Lalu, soal kamu akan menikahinya? Apa kamu tau, aku juga menanti kehamilan Vino. Aku menahan rasa sabarku menanti aku hamil, aku selalu menuruti kata-kata mu. Tapi apa yang berikan padaku? Setelah aku hamil, kamu bimbang, memilih aku yang tengah hamil anakmu, atau memilihnya? Jawab Vino! Jangan diam!" Shita sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang ia katakan pada suaminya, bahkan dia hanya menyebut namanya saja.
"Maafkan aku Ta, Iya aku setiap hari selalu bersama dia, tapi percayalah, aku sama sekali tidak menyentuhnya."ucap Vino.
"Bukan urusanku, kamu menyentuhnya atau tidak. Yang tidak bisa aku bayangkan, kamu tega menduakan hatiku, Vino. Ternyata saat kamu sibuk atau di luar kota, kamu selalu dengan dia, di rumah dia, menghabiskan harimu dengan dia. Lalu aku ini sebagai apa bagimu, Vino! Aku apa? Siapa aku di matamu, hah!?" Shita menangis histeris. Vino mencoba memeluk Shita yang seperti itu. Tapi Shita mendorong tubuh Vino hingga jauh dari dirinya.
"Kemasi semua barang-barang mu, jangan sampai ada yang tertinggal. Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali. Aku tidak butuh seseorang pengkhianat sepertimu!" Shita meninggalkan kamarnya, dia menuju ke kamar Arsyil dan merebahkan tubuhnya yang lemah di atas tempat tidur adiknya.
"Apa salah Dan dosaku, Ya Allah, sehingga suamiku tega melakukan itu semua padaku. Setelah aku hamil, mengapa bukan kebahagiaan yang aku dapat, melainkan kepedihan yang aku dapatkan."ucap Shita lirih sambil terisak.
Shita mencoba menenangkan dirinya, dia mencuci mukanya agar tidak terlihat kusut, dia akan membuktikan, tanpa Vino pun masih bisa bertahan hidup dan masih bisa mengurus apa-apa sendiri.
"Kamu ingin wanita mandiri, pandai, tidak manja, aku akan membuktikannya, Vino. Kau pernah bilang, aku boleh manja asal dengan kamu, tapi dalam hatimu berkata lain, kamu tidak suka kalau aku manja. Itu kan yang kamu katakan pada Lesy. Oke, akan aku buktikan itu."ucap Shita dengan geram.
Dia segera keluar dari kamar Arsyil dan masuk ke dalam kamarnya. Vino masih saja duduk di tepi ranjang, dia tidak bergeming, walaupun Shita menyuruh dia membereskan semua barang-barang miliknya.
"Apa perlu aku bantu membereskan semua barang-barang mu, hah?"ucap Shita sinis dari balik pintu.
"Apa tidak bisa menyelesaikannya baik-baik, Shita."ucap Vino.
"Ini yang terbaik. Cepat kemasi barang-barang mu, dan pergilah dari sini. Jangan memikirkan papah dan ibu, aku bilang kamu keluar kota. Dan satu hal lagi, jangan pernah kembali selamanya, aku bisa mengurus anakmu sendiri. Dan, setelah anakmu lahir, aku akan mengurus perceraian kita. Pergilah, kejar wanita mu itu, wanita yang mandiri, pandai, tidak pernah mengeluh dan tidak manja sepertiku. Silahkan kemasi barang-barang mu sekarang."ucap Shita dengan memandang tajam ke arah Vino.
"Apa tidak ada sedikitpun kesempatan untuk ku memperbaikinya, dan tidak ada jalan lain selain kamu menceraikan ku?"tanya Vino.
"Tidak, dan tidak pernah ada!"ucap Shita dengan menatap Vino semakin tajam. Ingin rasanya Shita teriak sekeras-kerasnya dan sekencang-kencangnya, tapi apa daya, dia hanya bisa berteriak dalam hati. Hatinya rapuh, tatanan hati yang sangat rapi saat mengetahui dirinya hamil, kini berubah menjadi hancur.
"Ta, beri aku kesempatan. Please."pinta Vino.
"Tidak ada keset kedua. Kejarlah wanitamu. Bukankah sosok seperti dia yang kamu idam-idamkan? Bukan seperti aku. Kamu tau, Vino. Kamu sudah merubah tatanan hatiku yang rapi menjadi porak poranda, silahkan pergi, aku akan menata hatiku kembali tanpa kamu."ucap Shita yang mencoba tegar tanpa mengeluarkan air mata sedikitpun.
"Aku pamit."ucap Vino sambil membawa kopernya.
"Iya, silahkan. Pergilah dan jangan kembali."ucapan Shita membuat hati Vino sakit dan melemah.
"Aku tidak akan kembali, tapi kalau Tuhan menakdirkan kita bersatu lagi, aku akan kembali menjemputmu."ucapnya.
"Tidak usah membawa nama Tuhan, kalau hatimu saja busuk dan berkhianat. Pergilah."ucap Shita.
Shita mendudukan dirinya di ranjang setelah Vino pergi dari rumahnya. Hatinya sangat hancur, dia menangis lagi. Tapi dia sadar, ada nyawa yang tak berdosa di rahimnya.
"Maafkan mamah, nak. Mamah Tidka tau harus berbuat apa, tapi mamah tidak terima, papahmu seperti itu. Mamah tidak bisa hidup dengan seorang pengkhianat, papahmu mengkhianati mamah, nak. Kamu yang kuat, sayang. Kita pasti bisa menjalani semua ini, walau hanya berdua. Sehat di dalam perut mamah ya, nak." Shita berbicara lirih sambil mengusap lembut perutnya. Dia mencoba tenang, karena dia tidak mau, anak yang ada di kandungannya ikut merasakan kesedihan dirinya.
Di dalam mobil Vino masih memikirkan Shita, betapa terkejutnya dia melihat Shita yang seperti itu. Vino tidak tau harus bagaimana lagi, dia sangat menyesali apa yang dia perbuat. Yang tidak Vino percaya, Shita akan menceraikannya setelah anaknya lahir.
"Ta, maafkan aku, apa tidak ada kesempatan kedua untuk ku, Ta? Sekali lagi maafkan aku."ucap Vino lirih sambil mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️