
Arsyad dan Annisa sudah kembali ke rumahnha yang dulu. Setelah melalui perdebatan panjang antara Dio dan Najwa, akhirnya mereka bisa sedikit mereda karena Shifa menengahi perdebatan mereka. Dan, Najwa tidak jadi pergi dari rumahnya. Itu semua karena Dio yang melarangnya. Dio melarangnya karena tidak mau melihat bundanya semakin bersalah jika Najwa pergi. Akhirnya Najwa ikut apa kata Dio, dia tetap berada di rumah, walaupun tanpa tegur sapa dengan Dio.
Sudah 2 minggu mereka hidup satu atap lagi di dalam rumah mewah Arsyad. Annisa sudah sedikit demi sedikit menerima kenyataan kalau dia juga masih memiliki papah mertua dan adik ipar. Annisa juga menyadari, mau sampai kapan hidup dalam kungkungan rasa sakit di hatinya. Dia malah lebih merasa bersalah kalau dia tidak bisa memaafkan papah mertuanya.
Hari ini adalah hari Minggu, dan ini adalah Minggu ke-3 Annisa dan Arsyad juga anak-anaknya tinggal bersama. Dan, hari ini Annisa ingin sekali mengunjungi papah mertuanya. Iya, siapa lagi kalau bukan Rico. Dia tidak mau egois karena sakit hatinya dengan Rico dan Shita. Walau bagaimanapun, Rico adalah papah dari suaminya, dan Shita adik kandung suaminya.
"Bunda…tumben buat bolu pisang dan kue sus banyak? Ada cupcake juga?" tanya Dio yang tiba-tiba datang ke dapur mengambil air putih.
"Emm....ya pingin buat saja," jawab Annisa.
"Oh, ya, bisa bunda bicara sebentar dengan kamu?" tanya Annisa.
"Bisa, Dio tidak sibuk kok," jawab Dio.
"Bunda buat kue ini sebenarnya…."
"Untuk opa, kan?" Dio memotong ucapan Annisa.
Dio mengerti kue yang sedang Annisa buat kesukaan opanya, dia, dan Arsyad. Apalagi opanya suka sekali bolu pisang buatan bundanya.
"I…iya, Dio. Boleh kan bunda menemui opa dan Tante Shita?" tanya Annisa dengan sedikit ragu pada Dio.
"Kenapa bunda gugup bicaranya? Dio tidak melarang bunda menemui opa. Kalau hati bunda sudah siap dan tidak sakit lagi, bunda boleh menemui opa dan Tante Shita kapanpun bunda mau. Karena memaafkan juga membutuhkan hati kita benar-benar lapang sekali menerima kenyataan dan menerima perlakuan dia dulu kepada kita, bunda," tutur Dio.
"Jadi bunda boleh menemui opa?"tanya Annisa lagi.
"Boleh bunda," jawab Dio sambil memegang tangan bundanya dan menciumnya.
Dio menyadari, tak ada gunanya juga terus-terusan memendam rasa marah pada opanya. Semakin memendam rasa itu, rasa marah dan kecewa di dalam hati ha bertambah banyak.
"Kamu mau ikut?" tanya Annisa.
"Kalau di ajak, ya ikut bunda," jawab Dio.
"Kamu masih mendiamkan Najwa?" tanya Annisa.
"Ya biasa, memang Najwa pendiam kan, Bunda? Jadi ya seperti itu, kalau ada omongab penting saja baru bicara," jawab Dio.
"Mungkin kamu yang terlalu mendiami dia, nak," ucap Annisa.
"Ya masa ada orang lagi diam, Dio ajak ngomong dan ngobrol, bunda. Dio juga kan yang gak enak, bunda, sama Kak Najwa," ujar Dio.
__ADS_1
"Ya sudah, yang penting, kalian sudah tidak ada masalah, bunda mau lanjutin buat kuenya." Annisa melanjutkan membuat kuenya.
"Dio, ini bawa ke abah dan lainnya. Terus panggil Mba Lina ya, suruh bantuin bunda." Annisa mengambilkan kue yang sudah matang ke piring saji, untuk Arsyad dan anak-anaknya.
"Iya bunda," jawab Dio sambil membawa kue ke ruang tengah.
Dio mendekati Arsyad yang sedang membaca koran di ruang tengah. Dio menaruh kue di atas meja dan duduk di sebelah abahnya. Dio memang masih sedikit dingin sikapnya jika dengan Arsyad dan Najwa.
"Dio, ini bunda yang buat?" tanya Arsyad.
"Iya, katanya mau ke rumah opa nanti," jawab Dio.
"Ke rumah opa?" tanya Arsyad yang sedikit bingung.
"Iya, abah tidak tahu?" jawab Dio.
"Tidak, Abah baru tahu dari kamu." Arsyad mengambil bolu pisang yang ada di piring, dan langsung menikmatinya.
"Apa kamu mengizinkam, kalau bunda ke rumah opa?"tanya Arsyad.
"Boleh, kenapa tidak boleh, Dio juga ikut kalau di ajak," jawab Dio.
"Dio juga, ingn Abah tetap di sini, menemani bunda, hingga kalian menua bersama. Dio titip bunda, jangan sakiti bunda. Maafkan Dio yang sedikit keras kepala dan egois," imbuh Dio.
"Maafkan Abah, nak. Maafkan opa dan tantemu juga. Abah sebenarnya ingin sekali menjenguk opamu, tapi Abah tau perasaan bunda dan kamu, yang masih belum bisa menerima dan memaafkan opa," ujar Rico.
"Opa sehat kan, Abah?" tanya Dio.
"Opa, emmm…opa kemarin baru saja keluar dari rumah sakit. Tekanan darahnya tinggi, jadi harus di rawat selama 4 hari," jelas Arsyad.
"Kenapa Abah tidak bilang?" tanya Dio.
"Abah tahu, hati kalian masih belum bisa memaafkan opa dan Tante Shita. Jadi, Abah dan Najwa merahasiakan ini, paling Najwa saja yang menjenguk ke sana, dan Abah tidak bisa karena harus menjaga bunda di sini, yang sudah hampir melahirkan," jelas Arsyad.
Dio hanya terdiam, dia semakin merasa bersalah karena tidak menjenguk opanya. Iya, dia masih sakit hati, tapi dia sadar, Rico adalah opanya. Papah dari ayahnya.
"Ya Allah, ternyata keegoisanku menutup persaudaraan Abah dengan adiknya sendiri," gumam Dio.
Dio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar Najwa. Dia ingin bicara dengan Najwa masalah opanya.
"Mau ke mana, Dio?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Mau ke kamar Kak Najwa sebentar," jawab Dio sambil berlalu.
Dio mengetuk pintu kamar Najwa, dan Najwa menyuruh Dio masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Dio?" tanya Najwa.
"Kakak sedang sibuk?" tanya Dio.
"Ini sedang mengerjakan tugas," jawab Najwa.
"Hari Minggu masih saja nugas," tukas Dio.
"Biar nanti malam Free, ada apa kamu mencariku?" tanya Najwa.
"Apa benar opa kemarin dirawat di rumah sakit?" tanya Dio.
"Kamu tahu dari siapa?" tanya Najwa
"Abah, kenapa harus merahasiakannya, dia juga opa ku, Kak," ucap Dio dengan nada tinggi yang mebuat Najwa sedikit takut.
"Maaf, Dio, aku mau memberitahukan kamu, tapi aku tau, aku tau kamu masih sakit hati dengan Opa dan Tante Shita," jelas Najwa.
"Iya aku sakit hati, tapi setidaknya kamu kasih tahu aku, bunda, dan Kak Shifa juga, Kak," ucap Dio yang masih menatap Najwa dengan tatapan penuh amarah.
Najwa dari tadi hanya menunduk dan menangis melihat Dio yang marah dengannya. Dio tak sadar sudah membuat Najwa menangis lagi. Memang awal mereka pindah ke rumah yang sekarang, Dio selalu bersikap dingin dan kasar dengan Najwa. Mungkin baru 3 hari dia bersikap biasa dengan Najwa.
"Kak, maaf. Jangan nangis, kak. Maaf, bukannya aku marah, tapi setidaknya kamu kasih tau pada bunda dan aku, juga Shifa. Sudah jangan menangis." Dio sedikit menyesal memarahi Najwa, dia dengan reflek menyeka air mata Najwa dan tersenyum pada Najwa.
Baru kali ini, Najwa melihat Dio tersenyum kembali padanya. Najwa membalas senyuman Dio dan mencoba menepiska n tangan Dio dari pipinya.
"Aku yang harusnya minta maaf, aku sudah membuat bunda, kamu, dan Shifa menderita. Di sini aku yang salah, aku yang mudah tersulut emosi saat itu. Kak Najwa minta maaf, ya. Kalau kamu masih tidak nyaman dengan Kak Najwa di sini, setelah bunda melahirkan Kak Najwa akan ikut opa saja, atau tinggal di rumah ummi," jelas Najwa.
"Kak, sudah lupakan itu, aku akan belajar melupakannya dan kita satu keluarga, kakak di sini saja, jangan buat bunda dan abah sedih lagi pokoknya," ucap Dio.
"Hmm…makasih, Dio." Najwa tidak menyadarinya dari tadi memegang tangan adik sepupunya itu.
Dia segera melanjutkan mengerjakan tugasnya lagi. Dio masih di dalam kamar Najwa. Dia duduk di ranjang Najwa sambil melihat Najwa mengerjakan tugasnya.
"Oh iya Kak, nanti siang ke rumah opa, bunda mengajaknya, sekarang bunda sedang buat kue tuh," ucap Dio.
"Oh, ya. Kamu kenapa tidak bilang, aku keluar dulu, mau bantuin bunda." Najwa beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ke dapur.
__ADS_1
Dio hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tahu kalau Najwa memang suka kue buatan bundanya. Dio menyusul Najwa keluar, tapi tidak ke dapur. Dia masuk ke dalam kamar Shifa.