
♥️“Apa pun yang kamu keluarkan untuk keluargamu akan menjadi sumber pahala dari Allah. Bahkan sepotong makanan yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” -Sabda Nabi Muhammad SAW♥️
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah satu bulan Vino di rumah sakit, keadaannya semakin membaik dan hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Shita menata semua barang-barang yang akan di bawa pulang sementara Vino menunggunya di sofa dan memerhatikan Shita yang sedang menata barang-barang nya. Shita sudah selesai, lalu duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Sandaran ku sudah kembali lagi, jangan pergi lagi, kak."ucap Shita sambil mencium tangan Suaminya.
"Jika kamu yang memintaku untuk pergi, aku akan pergi. Tapi, akan tetap mengawasi mu."ucap Vino.
"Aku tak akan membiarkan kamu pergi lagi, maafkan aku, kak."ucap Shita.
"Iya sayang, kita mulai dari awal lagi ya, kita pindah rumah ya, nanti kita langsung menempati rumah kita."tutur Vino
"Rumah kita?"tanya Shita
"Iya, sebenarnya aku sudah mempersiapkannya sebelum kita menikah, tapi karena aku sudah janji dengan papah dan ibu, akhirnya aku tinggal di rumah papah dan ibu."ucapnya.
"Kenapa baru bilang? Kamu sukanya seperti itu, menyembunyikan dari ku."ucap Shita agak kesal.
"Jangan nyembunyiin wanita lagi ya, kak."imbuh Shita. Vino tersenyum menghadap istrinya, dia membelai lembut pipi istrinya.
"Tidak sayang, tidak akan, aku boleh cerita sesuatu soal, maaf, soal Lesy?"tanya Shita.
"Boleh."jawabnya.
"Jangan marah dan menyuruhku pergi lagi ya?"
"Iya, sayang."
Vino akhir nya menceritakan kenapa bisa kembali bertemu Lesy dan membelikan rumah untuk Lesy, dan sampai dia terpikat oleh Lesy, tapi Shita percaya dengan apa yang di katakan suaminya, dia tidak mau egois lagi. Shita merasa lega, ternyata suaminya memberi rumah untuk Lesy karena dia sangat berperan di perusahaannya. Iya, Vino memang sosok pemimpin yang baik, bahkan baiknya berlebihan. Dengan Andrew pun seperti itu, hingga dia membelikan mobil mewah untuk Andrew yang dirinya pun tak punya. Sebenarnya bisa membeli untuk dirinya sendiri, tapi dia tidak suka mobil-mobil mewah seperti itu.
"Terima kasih sudah jujur padaku, kak."ucap Shita
"Iya, sayang. Oh iya, papah sudah memberikan surat-surat yang waktu itu sebelum aku kecelakaan, aku titipkan pada papah dan Arsyad untuk di berikan padamu?"tanya Vino.
"Belum, memangnya surat apa, kak?"jawab Shita dan bertanya pada suaminya.
"Nanti juga kamu tau sendiri."ucpanya
"Bukan surat ceraikan?"tanya Shita dengan wajah datarnya.
"Bukanlah, aku tidak mau pisah darimu, Shita."jawab Vino.
"Aku kira." Shita memeluk erat tangan suaminya. Vino memegang wajah istrinya dan menghadapkannya pada dirinya. Dia menyatukan bibirnya dengan bibir Shita. Sudah lama sekali dia merindukan kecupan mesra dari istrinya.
Mereka memperdalam kecupannya, hingga Shita kehabisan pasokan oksigen. Shita menghentikan sejenak ciumannya dengan Vino dan melanjutkannya lagi, hingga pintu ruangan Vino terbuka. Rico dan Andini melihat kedua anak dan menantunya sedang melepaskan rindunya.
"Ehem…nanti lanjut di rumah ya, ayo kita pulang dulu."ucap Rico yang membuat Shita dan Vino memerah pipinya dan salah tingkah
"Lagiyan tidak di kunci pintunya ya, pah."ucap Andini yang berada di belakang Rico.
"Kan bukan di kamar, ibu. Ayo sini barang-barangnya papah yang bawa. Ibu bawanya jangan yang berat-berat. Ta, kamu temani Vino, karena dia harus memakai kursi roda, kasihan kalau jalan."ucap Rico.
"Emmm iya pah."ucap Shita yang masih gugup karena kepergok papahnya sedang bermesraan dengan suaminya.
"Baru kali ini kepergok papah dan ibu, aduh….malu sekali."gumam Shita dalam hati.
Mereka sudah sampai di rumah Vino, rumah yang Vino bikin untuk Shita, semua desain interiornya sengaja di desain sesuai yang Shita suka. Shita benar-benar terkejut melihat rumahnya itu, dia tidak menyangka rumahnya impiannya ada di depan mata, dia masuk ke dalam dengan menggandeng suaminya, Rico dan Andini membawa koper dengan di bantu asisten rumah tangga Vino. Mereka masuk ke dalam, Shita benar-benar terkejut dengan desain interiornya, Shita ingat saat belum menikah dulu Vino sering bertanya mau memiliki rumah seperti apa, dan ternyata dia mewujudkannya.
"Kak, jadi dulu kamu sering tanya ke aku, ini yang kamu hasilkan?"tanya Shita.
"Ya, setiap hari aku menelfon mu dan bertanya mau seperti apa rumah yang kamu inginkan, itu semua karena rumah ini sedang dalam proses pembuatan."ucap Vino
"Ayo ke kamar."ajak Vino
Vino menunjukan kamar utamanya pada Shita, dia membukakan pintu kamarnya dan mata Shita benar-benar disuguhkan dengan pemandangan kamarnya yang sesuai dengan apa yang dia mau dulu saat Vino bertanya ingin desain kamar yang seperti apa. Shita meneteskan air matanya, karena selama ini suaminya benar-benar mencintainya dan apa yang Shita inginkan pasti diturutinya satu-persatu.
"Kak, ini kamar kita?"tanya Shita tidak percaya
"Iya ini kamar kita, kenapa?" Vino balik bertanya pada Shita.
"Ini kan dulu aku memintanya desain seperti ini, kamu benar-benar membuatkan sesuai apa yang aku ucapkan, sayang."ucap Shita
"Apa yang kamu mau, aku akan menurutinya, sayang. Hanya saja aku tidak bisa membuatkan rumah yang dekat dengan pantai. Itu semua tidak mungkin lah, kita tinggal di pesisir pantai, kalau Villa di dekat pantai Kak Vino punya, nanti kalau Kak Vino sudah benar-benar sembuh, Kak Vino ajak kamu ke sana."tutur Vino.
"Terima kasih, kak."ucap Shita memeluk suaminya.
"Benar Kak Vino memiliki villa di daerah pantai?"tanya Shita
"Punya, villa itu kakak bikin belum lama sih."ucap Vino.
Vino dan Shita keluar dari kamarnya, dia menuju ke arah ruang makan karena sudah di tunggu Rico dan Andini yang sudah berada di meja makan terlebih dahulu. Vino dari kemarin sudah membicarakan pada Rico perihal kepindahan Vino ke rumah barunya itu, jadi Rico meminta semua asisten rumah tangga Vino membersihkan rumah Vino dan menyuruhnya masak untuk makan siang bersama.
Arsyad masih berada di kantornya, dia tau kalau hari ini Vino sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan akan segera menempati rumahnya. Arsyad menghentikan aktivitas mengetiknya di laptop. Dia tiba-tiba merenung akan dirinya yang selama ini tidak memberi apa-apa kepada istrinya.
"Semua bisa memberikan rumah untuk istrinya, Arsyil, Vino, Rayhan dan Lukman, sedangkan aku, aku malah tinggal di rumah istriku, dia yang membawa aku ke rumahnya, bukan aku yang membawa dia ke rumahku yang aku buatkan untuk dia."gumam Arsyad dalam hati.
"Apa yang aku berikan untuk Mira? Bahkan aku memberikan cinta untuknya saja setelah aku mencintai Nisa."ucapnya lirih. Dia masih terus melamun akan hal itu, hingga dia begitu kaget dengan suara ponselnya yang berdering tepat di sampingnya.
Sebuah nama muncul di ponsel Arsyad, iya, Mira, siapa lagi kalau bukan istrinya yang menelfon nya. Arsyad mengangkat telfon dari istrinya.
"Baru saja aku memikirkan kamu, Mira, kamu langsung menelfon ku."gumam Arsyad. Dia langsung mengangkat telfonnya.
__ADS_1
{Assalamualaikum, sayang.}
{Wa'alaikumsalam, mas, bisa kamu makan siang di rumah? Aku sudah selesai makannya, atau aku antar ke kantor?}
{Emmm…aku pulang saja, makan di rumah, sayang.}
{Baiklah aku tunggu, Assalamualaikum}
{Wa'alaikumsalam.}
Arsyad keluar dari kantornya untuk makan siang di rumahnya, dia segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Arsyad masih saja mengingat dirinya yang belum bisa memberi apa-apa untuk istri yang sangat ia cintai. Sesampainya di rumah Arsyad memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Arsyad masuk ke dalam rumahnya dan melihat Almira sedang menggendong Najwa. Senyum merekah di wajah Arsyad melihat dua orang yang sangat ia cintai.
"Wah…anak Abah cantik sekali, sebentar ya Abah cuci tangan dulu sama ganti baju, baru Najwa ikut Abah."ucap Arsyad pada Najwa yang sudah ingin di gendong Abahnya. Najwa meronta ingin sekali di gendong Arsyad. Almira mencoba menenangkan Najwa, tapi dia sudah ingin sekali di gendong Abahnya.
"Sayang, iya sebentar Abah mu sedang ganti baju sama cuci tangan. Sabar ya, ya sudah ayo ke kamar, ke Abah."ucap Mira pada putri kecilnya.
"Najwa…Najwa…kalau sudah ada Abahnya ya sudah Ummi di duakan."lirih Almira dengan mencium Najwa yang menangis ingin di gendong Arsyad.
Almira sudah berada di depan pintu kamarnya, Mira akan membuka pintu kamarnya tapi Arsyad yang lebih dulu membuka pintunya dari dalam kamarnya karena mendengar Najwa yang menangis.
"Kenapa menangis peri kecil Abah. Ayo sini ikut Abah." Arsyad mengambil Najwa dari gendongan Almira. Seketika tangis Najwa berhenti saat sudah berada dalam gendongan Abahnya.
"Jangan nangis dong, peri kecil Abah, kan Abah sedang ganti baju, biar bersih saat gendong kamu, sayang." Arsyad menciumi pipi Najwa dengan gemas.
"Ya, seperti itu, kalau kamu sudah di rumah aku di duakan sama Najwa."ucap Mira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yah….ummi cemburu tuh, lucu ya, ayo Abah mau makan siang, Najwa sudah makan?" Najwa hanya tersenyum saja melihat Arsyad mengajak bicara dengannya.
"Iya dong Ummi cemburu, kamu lebih lengket dengan abahmu."ucap Mira.
"Najwa sudah makan siang dong, iya kan sayang."imbuk Mira.
"Ya sudah temani Abah makan siang ya?" Arsyad berjalan ke arah meja makan di dampingi oleh Mira dengan membawa kereta dorong milik Najwa.
"Duduk di sini ya? Abah mau makan." Arsyad mendudukan Najwa di kereta dorongnya, tapi Najwa tidak mau lepas dari Arsyad. Dan terpaksa Arsyad makan dengan memangku Najwa.
"Papah gak kemana-mana, Najwa, kasihan papahmu makan dengan memangku mu, sini sama ummi." Mira mencoba mengajak Najwa agar di pangku oleh Mira saja. Tapi, Najwa tetap saja tidak mau lepas dari Abahnya
"Biar sama Abah saja, ummi juga harus makan."ucap Arsyad.
Almira mengambilkan nasi untuk Arsyad dan dirinya. Arsyad makan dengan memangku Najwa.
"Ini semua kamu yang memasak?"tanya Arsyad.
"Iya dong, siapa lagi kalau bukan aku."jawab Mira.
"Najwa dengan siapa waktu kamu masak?"tanya Arsyad.
Arsyad menghabiskan nasi yang di ambilkan oleh Mira. Dia sangat menyukai masakan istrinya yang sangat lezat dan menggugah selera makannya. Setelah selesai makan siang, mereka meninggalkan ruang makan, dan Mira menyruh bibi membereskan meja makannya.
Arsyad dan Mira duduk di ruang tengah dan bermain dengan Najwa setelah selesai makan siang. Almira mengupaskan buatmu pir untuk suaminya dan menyuapi suaminya, Arsyad juga bergantian menyuapi istrinya.
"Sayang."panggil Arsyad.
"Iya, mas."jawab Mira.
"Maafkan aku."ucapnya terhenti.
"Maaf? Maaf kenapa?"tanya Mira.
"Aku belum bisa membahagiakan kamu. Aku belum bisa memberikan mu yang terbaik dan belum bisa memberikan sesuatu untukmu."ucap Arsyad.
"Maksud mas?"tanya Almira lagi.
"Ya aku belum bisa ngasih apa-apa untuk kamu, lihat Arsyil, Vino, Rayhan bahkan Lukman, dia memberikan tempat tinggal untuk istrinya. Sedangkan aku, apa yang aku beri untukmu. Dan, aku memberikan cinta padamu saja setelah aku mencintai wanita lain."ucap Arsyad. Almira hanya tersenyum dan membelai pipi suaminya dengan lembut.
"Kamu bilang kamu belum memberikan sesuatu untuk ku? Keluarga kecil ini, kebahagiaan kecil yang tiap hari kamu beri untuk ku. Dan kamu yang mencintai aku dan juga Najwa, apa itu semua bukan pemberian dari mu, mas?"ucap Mira dengan lembut.
"Tapi, aku belum seperti mereka, saudaraku."ucap Arsyad dengan suara datarnya.
“Apa pun yang kamu keluarkan untuk keluargamu akan menjadi sumber pahala dari Allah. Bahkan sepotong makanan yang kamu suapkan ke mulut istrimu. Itu Sabda Nabi Muhammad SAW." ucap Mira.
"Kamu tak perlu membangunkan istana megah untuk ku di dunia, bangunkan aku istana di surga untuk kita nanti berkumpul di sana, mas. Sudah cukup kamu mencintaiku, memberi kehidupan untuk kami, selalu memberi kehangatan pada keluarga kecil ini. Itu sudah melebihi bahagianya dibangunkan istana megah, sayang."imbuh Almira.
"Sudah jangan di tekuk wajahnya. Lihat tuh abahmu, nak, kalau sedang galau."ucap Mira
"Siapa yang galau, terima kasih sayang, semoga kelak kita berkumpul di istana surga bersama."ucap Arsyad.
"Aamiin."ucap Mira.
Najwa terlihat mengantuk di pangkuan Arsyad, dan akhirnya dari tertidur di pangkuan Abahnya. Arsyad membawa Najwa masuk ke dalam kamarnya dan menidurkan dia di tempat tidurnya. Setelah itu, Arsyad bersiap-siap untuk kembali ke kantornya menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku pamit ke kantor lagi ya, jaga diri baik-baik di rumah, titip peri kecilku."ucap Arsyad.
"Iya hati-hati, jangan memikirkan hal itu lagi, aku tidak butuh istana megah, mas. Aku butuh kamu di sisiku selamanya."ucpa Mira sambil mencium tangan suaminya.
"Iya sayang. Aku mencintaimu." Arsyad mencium kening istrinya.
"Aku juga mencintaimu, mas." Almira memeluk erat suaminya yang akan kembali ke kantornya
Mira mengantar suaminya sampai di depan teras rumah. Arsyad melajukan mobilnya untuk kembali ke kantornya.
__ADS_1
Sementara di rumah Vino, semuanya berkumpul di ruang tamu dengan menikmati teh dan mengobrol bersama. Andini dan Rico belum pulang juga dari rumah Vino. Terlihat sebuah mobil berhenti di halaman rumah Vino. Dan seorang laki-laki dan wanita turun dari dalam mobil tersebut.
"Andrew, Lesy, dia mau apa ke sini?"ucap Vino
"Lesy?"tanya Shita juga Rico dan Andini.
"Iya, perempuan yang ada di samping Andrew itu, Lesy. Sayang, aku tidak tau mereka mau apa ke sini. Please jangan marah, jangan tinggalkan aku lagi."ucap Vino yang ketakutan jika ditinggalkan Shita.
"Siapa yang mau meninggalkan kamu, sayang. Tidak lah."ucap Shita sambil menggenggam tangan Vino.
Andrew masuk di sambut oleh Vino, Shita, Andini juga Rico.
"Pak Vino, syukurlah sudah sehat. Maaf aku sibuk sekali jadi jarang menjenguk Pak Vino." Andrew memeluk Vino.
"Hai, Vin."sapa Lesy.
"Emm…silahkan duduk, Andrew , Lesy, ayo ibu kita ke dalam dulu."ucap Rico.
"Jangan Pak Rico, di sini saja, biar ramai."ucap Andrew
"Pak Vino, ada yang harus saya dan Lesy sampaikan pada Pak Vino."ucap Andrew.
"Iya, ada apa kalian ke sini? Dan, Lesy, kamu kembali ke sini lagi?"tanya Vino.
"Aku kembali ke sini karena Andrew yang menyuruhnya."jawab Lesy dengan menunduk.
"Emmm…gini Pak Vino, saat Pak Vino mengalami kecelakaan, perusahaan kita terombang-ambing, dan saya memanggil Lesy untuk membantuku. Dia sudah satu bulan di sini."ucap Andrew.
"Maaf aku menempati rumah kamu lagi, Vin. Karena aku membantu Andrew untuk mengurus perusahaan kamu."ucap Lesy yang masih sedikit datar ucapannya.
"Itu runah kamu, Lesy, aku memberikannya untuk kamu, sebagai reward dari perusahaan, karena kamu sudah bekerja dengan baik untuk perusahaan ku. Lalu kedatangan kalian ke sini?"tanya Vino.
"Saya ke sini mau pamit dengan Pak Vino, saya akan ke Paris menemui papahnya Lesy, untuk membicarakan pernikahan kita."ucap Andrew.
"Pernikahan?"ucap Vino dan Shita bersama juga Andini dan Rico.
"Kalian begitu kompak sekali, iya Aku dan Andrew akan segera menikah, untuk itu, dia akan menemui papahku bersama keluarga nya ke Paris besok pagi."ucap Lesy.
"Apa kalian serius?"tanya Vino.
"Vin, kapan aku tidak serius, apalagi ini soal hubungan yang sakral, ini tidak main-main, Vin."ucap Lesy.
"Iya, Pak Vino, kami akan segera menikah, dan nanti rencana pernikahannya akan di adakan di sini, kami ke sana hanya menemui papah kandung Lesy dan mengajaknya ke sini."jelas Andrew.
"Jangan panggil aku Pak Vino, panggil saja Vino. Kamu kan akan menikah dengan temanku."ucap Vino.
"Ah…iya, pak.…ehh..Vin."ucap Andrew gugup.
"Selamat untuk kalian, semoga selalu bahagia."ucap Vino.
"Emmm…Shita bisa kita bicara berdua saja."pinta Lesy.
"Ah..iya...bisa, ayo kita ke gazebo yang ada di taman saja."ajak Shita. Mereka berdua berjalan beriringan ke arah gazebo yang berada di taman Rumah Vino, setelah sampai di sana, mereka duduk berhadapan dan Lesy memulai pembicaraan nya.
"Shita, aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan pada kamu, yang membuat rumah tanggamu goyah. Maafkan aku sekali lagi."ucap Lesy dengan menundukan kepalanya.
"Sudah, yang berlalu biarlah berlalu, aku sudah memaafkan mu."ucap Shita
"Kamu tidak akan meninggalkan Vino kan?"tanya Lesy.
"Tidak, dan tidak akan pernah."ucap Shita.
"Syukur lah. Aku lega, kalian tidak jadi berpisah, kalau itu terjadi aku tak akan memaafkan diriku sendiri."ucap Lesy.
"Memang hadirmu, hampir menghancurkan dongengku dengan Vino. Tapi, itu semua adalah ujian untuk ku, dan dongengku hidup kembali, karena kita masih sama-sama mencintai dan saling memaafkan."ucap Shita.
"Oh, iya, kamu serius akan menikah dengan Andrew?"tanya Shita.
"Iya, aku sudah mantap memutuskan untuk menikah dengannya."ucap Lesy dengan tegas.
"Semoga kalian bahagia selalu."ucap Shita
"Aamiin. Terima kasih, Shita."ucap Lesy.
Mereka saling memeluk, dan setelah itu mereka masuk kembali ke dalam ruang tamu, lalu Lesy pamit untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1