THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 50 "Menata Hati" The Best Brother


__ADS_3

Hari ini Rania menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Singapura. Dio masih berada di rumah Anna, karena Anna sendiri yang meminta Dio tetap tinggal di rumahnya sebelum berangkat ke Singapura.


Dio mengajak Rania untuk pergi keluar sebentar hanya sekedar makan siang saja. Dio juga ingin mengajak Rania ke suatu tempat sebelum besok Rania berangkat ke Singapura.


"Ran, ada waktu sebentar? Kita makan siang di luar, ya?" ajak Dio.


"Emm … sebenarnya Evan mau mengajak aku makan siang juga, Dio," jawab Rania.


"Oh, ya sudah, dengan Evan saja, kamu hati-hati di jalan, aku akan menjaga ibu di rumah," ucap Dio.


"Iya, Dio. Maaf aku terlebih dahulu janjian dengan Evan." Rania berkata dengan nada berat, dia sebenarnya ingin menerima ajakan Dio, tapi dia sudah janji dengan Evan terlebih dahulu, jadi di tidak enak jika membatalkan dengan Evan.


"Ran," panggil Dio.


"Iya, ada apa Dio?" tanya Rania.


"Apa Evan tahu kita berpisah?" tanya Dio pada Rania.


"Iya, dia tahu. Aku tidak memberitahukan dia, sih. Dia melihat surat gugatan aku saat kita belum sidang. Dan, aku menyuruh dia untuk tutup mulut pada semuanya mengenai perceraian kita, terutama dengan ibu. Tapi, sekarang semua karyawan ku sudah tahu, aku sudah berpisah dengan kamu. Buat apa aku tutup-tutupi? Toh memang kita sudah berakhir," jawab Rania dengan nada tegas dan sedikit santai tanpa ada rasa menyesal.


"Iya juga sih, ya sudah aku ke kamar ibu. Kamu nanti hati-hati berangkatnya, Ran," ucap Dio dengan nada datarnya.


Dio berjalan ke kamar Anna, untuk memastikan ibu mertuanya sudah minum obat atau belum. Dio memang masih menganggap ibu mertua pada Anna. Bagi Dio, tidak ada mantan ibu mertua, yang ada hanya mantan istri saja.


"Seperti ini sakitnya mendengar Rania akan pergi dengan Evan. Apa dia dulu sesakit ini, saat aku masih bersama Najwa? Sungguh aku benar-benar merasakan sakit sekali dan sesak sekali dada ini," gumam Dio sambil berjalan ke arah kamar Anna.


Dia membuka pintu Anna dengan hati-hati. Dio melihat ibu mertuanya sedang tidur di dalam kamarnya. Dia mengecek cawan kecil tempat obat yang tadi ia siapkan untuk Anna. Dia melihat cawan itu sudah kosong, karena Anna sudah meminum obatnya.


Dio keluar dari kamar ibu mertuanya, karena dia takut mengganggu ibu mertuanya yang sedang beristirahat. Dio melihat Rania sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi makan siang dengan Evan.


"Dio, aku titip ibu, ya?" ucap Rania.


"Iya, Ran. Kamu di jemput Evan, kan?" tanya Dio.


"Iya, katanya masih di jalan," jawab Rania.


Dio hanya diam dan duduk di sofa yang berada di ruang tengah. Dalam hati Dio, dia ingin sekali melarang Rania pergi dengan Evan. Tapi, Dio tidak berhak melarang Rania, karena Dio bukan siapa-siapa Rania sekarang. Rania juga berhak bahagia dengan seseorang yang tulus mencintainya.

__ADS_1


"Semoga kamu selalu bahagia, Ran. Aku tidak bisa melarangmu, karena kamu bukan hak ku lagi. Tapi, hati ini sakit sekali, Ran. Melihatmu akan pergi bersama Evan dengan raut wajah yang terlihat senang dan bahagia," gumam Dio.


Dio menundukkan kepalanya, dia memijit keningnya. Rania tahu, Dio saat ini sedang tidak enak hati dengannya. Namun, Dio hanya diam saja tidak melarang Rania untuk tidak usah pergi dengan Evan.


"Kenapa kamu diam saja, Dio? Kenapa kamu tidak melarang ku? Katanya kamu akan belajar mencintaiku? Harusnya kamu melarang ku, karena kamu juga ingin mengajak aku pergi makan siang di luar. Harusnya kamu tidak hanya diam, Dio. Bicaralah, aku ingin kamu melarang aku pergi dengan Evan, karena aku juga sebenarnya tidak ingin pergi dengannya, aku terpaksa," gumam Rania


Rania duduk di samping Dio yang dari tadi hanya diam. Rania membuka ponselnya, sebenarnya dia ingin sekali bicara dengan Dio, dan memancing Dio agar Dio melarangnya pergi dengan Evan. Tapi, Rania mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Dio mengenai hal itu.


"Itu Evan datang," ucap Dio saat terdengar klakson mobil Evan yang sudah memasuki halaman rumahku.


"Iya, aku berangkat dulu, Dio. Titip ibu," ucap Rania.


"Oke, kamu hati-hati. Aku tidak mengantar kamu keluar, karena aku ingin tidur," ucap Dio.


"Iya, tidak apa-apa, aku berangkat." Rania berjalan keluar rumah dan menemui Evan.


Dio melihat Rania berjalan ke arah halaman rumah, hingga Rania masuk ke dalam mobil Evan dan berangkat pergi bersama Evan. Dio melihat mobil Evan hingga menghilang dari pandangannya.


^^^^


Rania pergi ke taman setelah makan siang. Evan mengajak ke taman karena ada hal yang penting yang ingin Evan bicarakan. Rania duduk di bangku taman yang berada di bawah teduhnya pohon Bunga Flamboyan. Evan duduk di samping Rania dan membawakan minuman dingin yang ia beli tadi di dekat taman.


"Emm ... iya, Van, kenapa Van?" jawab Rania sembari bertanya pada Evan.


"Tidak apa-apa, tanya saja," jawab Evan.


"Ran, maaf, apa permasalahannya, kamu bisa bercerai dengan Dio? Bukankah kalian saling mencintai dari dulu? tanya Evan lagi.


"Maaf Van, itu masalah privasi aku, jadi aku tidak bisa menceritakan ke sembarang orang," jawab Rania.


"Maaf aku bertanya seperti itu, aku ingin tahu saja, karena aku sayang kamu, Ran," ucap Evan.


"Aku tahu, dari dulu kamu sayang denganku, dan kalau tidak sayang, tidak mungkin kamu dulu hampir melamar ku. Tapi, maaf aku tidak bisa, karena aku hanya menganggap mu teman saja, Van. Tidak lebih dari itu," jelas Rania.


"Iya, aku tahu, Ran, tapi apa kali ini ada kesempatan untukku?" tanya Evan.


"Maaf, Van. Aku belum memikirkan itu. Aku ingin fokus pada ibu ku dulu. Ayo kita pulang, kasihan ibu sendirian di rumah," ajak Rania.

__ADS_1


Evan melajukan mobilnya menuju ke rumah Rania. Rania masih memikirkan ucapan Evan tadi. Evan memang tidak pernah menyerah untuk mengejar hati Rania. Apalagi sekarang Rania sudah menjadi janda, Evan semakin mengejar Rania. Semenjak dia tahu kalau Rania sudah bercerai dengan Dio, Evan setiap harinya menghubungi Rania.


"Apa Evan sungguh-sungguh mencintaiku? Apa Evan adalah seseorang yang akan menerima ku apa adanya dan mencintaiku tanpa syarat?" gumam Rania.


Rania langsung masuk ke dalam rumahnya, karena Evan langsung pamit untuk pulang. Rania menemui ibunya yang sedang duduk di taman belakang rumahnya sendirian. Rania tidak mendapati Dio saat ini, hanya ibunya saja yang ada di taman belakang rumahnya.


"Ibu," panggil Rania dan duduk di samping ibunya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Anna.


"Sudah," jawab Rania sambil melihat sekeliling taman, ada Dio atau tidak.


"Kamu cari Dio? Dia sedang keluar sebentar," ucap Anna.


"Tidak," jawab Rania mengelak. Padahal dia mencari sosok Dio yang selalu menemani ibunya jika sedang santai di taman belakang.


"Kamu tadi dengan Evan?" tanya Anna.


"Iya, Bu. Ibu, Rania mau bicara dengan ibu," jawab Rania.


"Bicara apa? Soal Dio?" tanya Anna.


"Bukan, ini soal Evan. Tadi Evan bicara dengan Rania. Ingin melamar Rania lagi," jawab Rania.


Memang Evan tadi berbicara pada Rania, jika pulang nanti dari Singapura, Evan akan melamar Rania. Namun, Rania langsung menolaknya saat itu juga. Karena Rania tidak ingin menikah lagi.


"Evan bicara seperti itu?" tanya Anna


"Iya, ibu. Tapi, Rania menolaknya," jawab Rania.


"Bukan ibu melarang kamu dengan Evan, cuma rasanya tidak pantas kamu cepat-cepat menikah lagi, Nak," ujar Anna.


"Lagian Rania tidak menerimanya. Rania mau fokus dengan ibu dulu. Sambil Rania menata kembali hati Rania yang sudah hancur ini, ibu," ucap Rania.


Anna memeluk putrinya. Dia tahu apa yang Rania rasakan saat ini. Dia di khianati oleh Dio, laki-laki yang paling ia cintai setelah ayahnya.


Dio sebenarnya mendengar Rania berbicara dengan Anna sola Evan. Dio tidak menyangka, Evan secepat itu mengungkapkan maksudnya pada Rania. Memang Dio sudah tidak berhak melarang Rania dengan siapapun. Karena ini semua kesalahan Dio, Rania sampai menggugat cerai Dio.

__ADS_1


"Aku yakin, Evan tidak serius untuk menikahi Rania. Ada sesuatu di balik inginnya Evan menikahi Rania. Aku harus menjaga Rania dari kejauhan. Aku tidak mau dia menambatkan hatinya pada laki-laki yang salah lagi. Iya, termasuk aku. Aku memang salah satu laki-laki yang salah, yang sudah masuk ke dalam hidup Rania. Hingga Rania mengemban rasa sakit yang aku berikan untuk dia," gumam Dio.


__ADS_2