THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 69


__ADS_3

Di kantor Arsyad sudah selesai memimpin meeting. Dia masih berada di ruangan meeting bersama Arsyil dan Rayhan. Dia masih sharing-sharing masalah perusahaan dan kadang juga masalah pribadinya.


"Ray, apa istrimu sudah hamil?"tanya Arsyad.


"Belum Syad. Aku tidak terlalu memaksa Syad. Mungkin Allah belum ngasih, semoga saja dalam wakti dekat ini."jawabnya.


"Aamiin....mudah-mudahan Ray."ucap Arsyad.


"Kakak jadi pergi dengan Kak Mira?"tanya Arsyil.


"Iya jadi, Shita juga ikut."jawab Arsyad.


"Syad, sudahlah terima saja perjodohanmu dengan Mira. Kurang apa dia Syad. Sudah Sholehah terus sama-sama lulusan Kairo."ucap Ray.


"Iya nanti aku terima, belum saatnya juga Ray. Aku kan bulan depan sudah berangkat ke pesantren."


"Syad menurutku, kamu tidak usah mengajar di sana, kasihan papah dan ibumu Syad. Tetaplah di sini Syad."


"Apa kakak ingin ke pesantren karena Annisa?"tanya Arsyil.


"Syil, bukan seperti itu. Kakak juga sebenarnya tidak terlalu berharap untuk mengajar di sana. Cuma sekedar guru bantu saja. Karena, disana sedang kekurangan guru. Kakak akhir-akhir ini juga khawatir keadaan ibu Syil. Kakak tidak tega kalau meninggalkan ibu. Kamu tau sendiri kan, kakak pulang telat saja ibu seperti itu."jelas Arsyad.


"Iya kak, sepertinya ibu terlalu memikirkan kepergianmu untuk mengajar di pondok pesantren."


Rayhan yang dari tadi terdiam mendengar kakak beradik bercerita akhirnya dia berkata dan menasehati Arsyad.


"Syad lebih baik kamu jangan mengajar di sana, kasihan tante Andin Syad. Aku lihat tante kesehatannya juga semakin terganggu. Kamu tau kan aku tak jadi kuliah di Kairo kenapa, walaupun itu impianku, aku urungkan niatku pergi ke sana karena Ayahku sakit keras waktu itu. Apa kamu tetap akan kesana Syad?"tanya Ray meyakinkan.


Arsyad hanya terdiam mencerna kata-kata Ray tadi.


"Ada benarnya juga Ray bilang seperti itu. Aku jangan mementingkan egoku. Aku harus berada di samping ibu dan menemaninya sampai sakitnya sembuh. Dan, aku akan mengabulkan permintaan mereka untuk menikah dengan Almira. Semoga ini keputusan yang terbaik Ya Allah. Hanya itu yang bisa membuat ibu dan papah bahagia."gumam Arsyad dalam hati sambil menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong.


Arsyil yang melihatnya dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Arsyad.


"Kak, kok melamun?"tanya Arsyil yang membuat Arsyad kaget.


"Gak Syil, cuma lagi mikir saja, benar kata kamu Ray. Aku akan mempertimbangkannya. Ayo Sholat Dhuhur, tuh sudah Adzan."


"Cie....yang mau bertemu calon istri." Ray menggoda Arsyad.


"Aamiin....semoga saja. Ayo ke Masjid "jawab Arsyad sambil mengajak mereka ke masjid yang berada di kawasan kantor untuk sholat dhuhur.


Mereka bertiga sudah ada di masjid. Arsyil masuk ke dalam toilet. Sedangkan Arsyad dan Rayhan berjalan ke arah tempat wudhu pria.


"Ray, kenapa saat aku menatap mata Mira rasanya ada sesuatu yang bergejolak di hati ku. Berbeda saat aku menatap mata Annisa. Tidak ada sedikitpun yang bergejolak di hatiku. Tapi, waktu itu aku hanya ingin memilikinya untuk menjadi kekasihku."ucap Arsyad yang membuat Ray tersenyum.


"Syad, itu tandanya kamu sudah memiliki ikatan batin dengan Mira. Sedang dengan Nisa, kamu hanya sebatas kagum dengannya. Mungkin, kagum dengan wajahnya yang manis atau lainnya."jelas Ray.


Langkah kaki Arsyad berhenti sejenak. Dia berdiri dan melanjutkan berbicara denga Ray di balik dinding sambil menunggu tempat wudhu yang kosong.


"Ray, apa aku sudah menjatuhkan hatiku ini pada Mira?"tanya Arsyad pada Ray.


"Syad, Syad....kalau tidak jatuh hati itu namanya apa? Kamu kok aneh tanyanya. Tanya kata hatimu, apa kamu benar-benar mau menerima Mira atau tidak. Ingat Syad, wanita akan jenuh menanti kalau kita sebagai laki-laki tak memberi keputusan secepatnya. Kamu mau dia di jodohkan dengan yang lainnya kalau kamu menunda-nunda terus seperti ini? Syad, dia juga pilihan orang tuamu. Pasti Mira itu terbaik untukmu Syad. Percayalah." Rayhan lagi-lagi menasehati Arsyad.


Arsyil yang dari tadi sebenarnya sudah mendengar percakapan mereka berdua akhirnya mendekati mereka.


"Kak benar kata Kak Ray, kalau kakak sudah yakin dengan perasaan kakak, lebih baik kakak langsung mendatangi keluarga Kak Mira. Benar kata Kak Ray juga, kakak jatuh hati dengan Mira. Dan, kakak hanya kagum dengan Annisa."ucap Arsyil yang tiba-tiba berada di belakang mereka.


"Kamu mengagetkan saja Syil."ucap mereka bersama.


Mereka mengambil Wudhu dan setelah itu mereka masuk ke dalam masjid untuk ikut sholat dhuhur berjamaah.


Setelah selesai sholat mereka kembali masuk ke kantor. Arsyad ke ruangannya dan kembali mengecek file-file yang masih di atas meja kerjanya. Arsyad menelfon sekretarisnya bila nanti Almira sudah datang lqngsung di suruh masuk ke dalam ruangannya.


Tak lama kemudian Almira datang ke kantor Arsyad. Dia bersama Pak Afif sopir pribadinya. Almira masuk menemui sekretaris Arsyad.


"Assalamualaikum mba, saya Almira, saya sudah bikin janji dengan Pak Arsyad apa beliau ada di dalam?"tanya Almira pada Yulia sekretaris Arsyad.


"Oh...iya bu, tadi Pak Arsyad bilang suruh langsung masuk ke dalam saja karena sudah di tunggu. Mari saya antar ke dalam."jawab sekretaris tersebut sambil mengantar Almira masuk ke dalam.


"Ini yang namanya Almira? Wow....penampilannya Syar'i sekali. Apa ini calon Pak Arsyad? Kalau benar iya bakal ada hari patah hati sedunia nih."gumam Yulia dalam hatinya sambil mengantar Almira masuk ke dalam ruangan Arsyad.


Yulia mengetuk pintu ruangan Arsyad lalu masuk ke dalam.


"Siang pak, ini ibu Almira sudah datang."


"Oh iya Yulia, terima kasih."


"Baik pak, saya permisi dulu." Yulia pergi meninggalkan ruangan Arsyad. Tapi, Almira menahan Yulia agar menemani dia di ruangan Arsyad.


"Mba, bisa di sini saja menemani saya sebentar?"


"Tapi saya masih ada pekerjaan Bu."


"Yulia di sini sebentar temani Mira, saya mau ganti baju karena mau pergi dengan Mira."


"Oh baik pak."


"Almira aku tinggal ganti baju dulu."


"Kenapa mesti ganti?"


"Ini terlalu formal Mira."


"Oh ya sudah lah."


Mira duduk di kursi tamu yang berada di ruangan kerja Arsyad. Mira memandangi setiap sudut ruangan Arsyad. Dan, mata Mira tiba-tiba tertuju pada buku yang berada di atas meja tamu.


"Arsyad baca novel ku juga?"gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Mira mengambil novel itu dan membukanya. Dia pertama membuka adalah bagian belakang, ada lembaran kosong untuk catatan dan di dalam lembaran-lembaran itu Arsyad menuliskan sebuah puisi.


"MIMPIKU DI JELANG FAJAR"


Dan senjapun sebentar pergi


Menepi....di sudut hatiku yang paling sepi


Bimbang yang mengambang ragu


Di seberang jalan


Mengapa kau hendak melangkah?


Ke depanku berjalan, pasti!


Tapi di depanku berdiri tegak


Tirai yang bakal memcampak ku, Enyah..


Lagi menjelang tidur kau gapai aku


Yang ada hanya mimpi


Jauh dari nyata di gurat kepastian maya.


Padahal telah kau sulut hatiku


Laksana api berkobar


Kau gores jadi hiasan seperti senyummu


Luka-luka masalalu dan segala dendam jadi harapan


Seperti biru laut damai matamu


Tapi di depanku berdiri tegar


Sosok tubuh yang hendak menghempasku


Jauh-jauh lalu menutup mataku


Agar tak dapat ku tatap engkau


Lalu menjerat kakiku, agar tak mampu ku ikuti langkahmu


Lalu membelnggu tanganku,


agar tak dapat memohon kasih ibamu, dan bukan menjimpit jemarimu yang paling ujung


Lalu merobek-robek hatiku, agar aku tak dapat merasi bijakmu


Dan mengahadangmu jua, agar kau hanya di seberang, bukan terbang menurut kepak sayapmu


Andai saat ini aku "mengerti"


Yang kurasa dan yang kupandang


Adalah garis kuasa darinya


.....Takdir.....


Siapa dan apapun takkan kubiarkan menghempasku!


Kan ku terjang segala tirai dan "Afrit" meski selaksa dalam jumlah


Kusibak segala yang tampak


Barangkali kutemukan haqiqi hidup


Ah ! Pagipun yang akhirnya menguasai mimpiku


Tuhan....! Masih adakah untukku BerkahMu yang lumrah?


Dan fajar segera datang membuka kehidupan baru.


"Pojok Kamar '08"


Almira membaca puisi Arsyad dengan seksama. Yulia yang dari tadi melihat Almira membaca dengan serius kemudian dia berdehem.


"Ehem..." Yulia berdehem dan mengagetkan Mira.


"Ehh maaf mba, aku serius baca bukunya." Mira tersenyum sambil menaruh lagi novel di meja.


"Iya tidak apa-apa bu."


"Panggil mba saja biar lebih akrab"


"Iya bu...ehhh mba." Yulia mulai canggung mengobrol dengan Almira.


"Duh....dia benar-benar lembut sekali tutur katanya. Sayang wajahnya tertutup cadar. Pasti cantik.sekali Mba Mira. Duh....Pak Arsyad pasti sebentar lagi menikah nih.."gumam Yulia dalam hati.


"Mba Yulia sudah lama kerja di sini?"


"Sudah hampir 6 tahun Mba. Oh iya Mba Mira calon nya Pak Arsyad?"tanya Yulia.


"Calon? Calon apa ya Mba? Mba Yuli, saya kan putrinya Abah Fajri, tau kan beliau sering ke kantor ini karena kerja sama juga dengan perusahaan ini."


"Ohh...Pak Fajri? Wah....aku senang sekali bisa kenal dengan anak dari Pak Fajri pengusaha hebat "

__ADS_1


"Mba Yulia bisa saja." Ucap Mira sambil tersenyum.


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat Arsyil masuk ke dalam ruangan Arsyad.


"Ehhh ada Kak Mira. Dari tadi kak? Mana Kak Arsyad?"tanya Arsyil.


"Sudah 15 menitan Kak Mira di sini Syil. Itu Kak Arsyad ada di dalam ruangan itu, dia sedang ganti pakaian."


"Ohh...kakak jadi pergi? Katanya Kak Shita mau ikut juga?"


"Iya nanti kami jemput di caffenya. Kamu mau ikut juga?"


"Gak kak, lain waktu saja. Kasihan Kak Ray sendirian di sini. Ehhh Mba Yulia kok di sini?"tanya Arsyil.


"Iya Syil, aku suruh dia menemani Mira di sini, biar tidak berdua saja."jawab Arsyad yang baru saja keluar dari ruangan untuk berganti baju.


"Udah selesai Syad?"tanya Mira.


"Sudah. Mau berangkat sekarang?"


"Emmm besok juga boleh."ucap Mira sambil bercanda.


"Kamu itu." Arsyad berkata sambil tersenyum manis.


"Pak saya permisi keluar."pamit Yulia.


"Oh iya. Nanti kalau ada yang mencariku bilang aku sedang keluar atau suruh bertemu Ray saja."


"Iya pak siap!"jawab Yulia dengan semangat.


Yulia pergi meninggalkan ruangan Arsyad dan kembali bekerja.


"Kakak, mau berangkat sekarang?"tanya Arsyil.


"Iya. Kamu ada apa di sini?"


"Itu kak, file tadi yang aku kasih sepertinya ada yang salah. Aku mau coba cek lagi."


"Iya memang, kakak sudah tau, itu yang di bagian sana yang ada kesalahan. Syil, lain kali lebih teliti lagi ya."


"Iya kak. Arsyil ambil ya, Arsyil perbaiki dulu. Kalian hati-hati. Dan, pulanglah dengan membawa kabar baik untuk kami semua yang di rumah"ucap Arsyil sebelum keluar dari ruangan Arsyad.


"Kabar baik apa Syil?"tanya Mira.


"Yah...kalian pasti tau lah."jawab Arsyil dengan mengembangkan senyum nya.


"Kamu itu Syil. Ya sudah yuk kita berangkat sekarang." ajak Arsyad pada Mira.


Mereka keluar bersama dengan Arsyil dari ruangannya. Arsyil juga ikut mengantar kakaknya ke depan.


Pak Afifi terlihat sedang menunggu di loby sambil membaca surat kabar hari ini.


"Pak, maaf menunggu lama."ucap Arsyad sambil menjabat tangan Pak Afif.


"Tidak apa-apa Mas, ayo berangkat sekarang."


Arsyad dan Almira berjajaran berjalan di belakang Pak Afif. Arsyil juga mengantar kakak nya sampai mereka berangkat pergi. Semua mata memandang Arsyad dan Almira. Selama ini Arsyad jarang membawa wanita ke kantornya, apalagi yang berpakaian seperti Almira dengan pakaian Syar'i dan cadar. Terdengar slentingan dari beberapa karyawan kantor terutama yang wanita.


"Itu siapa tadi ya? Ehhh...jangan-jangan calon istri Pak Bos tuh.. Wah....seleranya bercadar beb...pantas kami semua tak pernah di liriknya."slentingan itu terdengar oleh telinga Arsyil.


"Iya itu calon istri Bos kalian. Dia putri dari Pak Fajri pengusaha sukses yang bekerja sama dengan perusahaan ini."ucap Arsyil di depan semua karyawan yang tadi berbisik-bisik sedang ghibah.


"Ohh....Abah Fajri yang baik dan ramah itu Pak Arsyil? Pantas ramah sekali wanita itu." ucapsalah satu staf kantor.


"Iya benar, ya sudah kembali bekerja sana. Jangan kebanyakan Ghibah nanti seret lho rezekinya."ucap Arsyil sambil bercanda. Arsyil masuk kembali ke ruangannya dan kembali memperbaiki pekerjaan yang salah tadi.


"Benar-benar hebat kakak ku. Dia langsung peka dengan pekerjaanku yang salah ini. Pantas papah benar-benar mengandalkan Kak Arsyad untuk perusahaan ini. Kerjanya teliti sekali. Kesalahan sedikitpun dia tau."gumam Arsyil dalam hati.


Arsyil mengerjakan file-file yang salah dengan treliti sekali. Setelah selesai dia berniat menelfon Annisa, dia benar-benar sangat merindukannya karena sekarang jarang sekali bertemu. Annisa sudah memiliki butik jadi dia sangat sibuk sekali sekarang.


Arsyil menelfon Annisa untuk mengajak makan malam saat pulang dari butiknya


Panggilan terhubung.


{Hallo Assalamualaikum Syil.}


{Wa'alaikumsalam, Nisa aku merindukanmu sayang, sekarang kau sibuk sekali Nisa.}


{Sayang, aku juga kangen, nanti malam jalan yuk}


{Oke, sekalian makan malam ya, nanti aku jemput kamu di butik Nis.}


{Baiklah, aku kerja dulu ya sayang. Love You...Muuacchh..}


{Love You too Nisa..mmuaacch..}


Arsyil mengakhiri panggilannya. dia meletakan ponselnya dan membuka-buka galeri yang berisi foto Annisa.


"aku sudah ingin mempersuntingmu Nisa. Tapi, apalah dayaku, aku menghargai kakak-kakak ku agar dia menikah terlebih dahulu. maafkan aku Nisa, sudah menundanya. sebenarnya aku sangat takut kamu berpaling dengan laki-laki yang sudah siap untuk menikah."gumam Arsyil dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥happy reading♥


__ADS_2