THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 18 "Najwa & Shifa"


__ADS_3

Annisa menaruh kembali buku Arsyil, dia tidak kuat membaca semua tulisan Arsyil. Matanya sudah semakin sembab, dia dari tadi menghabiskan waktunya untuk mengingat mendiang suaminya, Annisa merebahkan tubuhnya kembali. Dia benar-benar sangat merindukan suaminya.


"Maafka aku Syil, aku sangat merindukanmu."ucap Annisa lirih. Dia beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi, dia mengambil air wudhu, lalu setelah itu, dia mengambil jilbab dan Al-Qur'an, dia mengaji, hanya itu yang Annisa lakukan saat rindu dengan Arsyil menghinggapi dirinya.


^^^^^


Sore hari di rumah Rico, Najwa mengajak bicara dengan Shifa dan Dio. Di sana juga ada Raffi mereka berempat berkumpul di kamar yang sering di gunakan mereka untuk tidur.


Shifa, Dio, Kak Najwa dan Kak Raffi mau bicara, dan mau memberikan kamu sesuatu. Ini untuk Shifa sebenarnya, entah itu isinya apa, kak Najwa tidak tau, sesuatu itu, dari ummi, tolong kamu buka, Shifa. Dan aku mohon kamu jangan marah dengan permintaan budhe mu nanti."jelaa Najwa dengan memberikan amplop surat dari Almira. Di sudut amplop bertuliskan nama Shifa.


"Ini dari budhe?"tanya Shifa


"Iya, sebelum ummi pergi, ummi menitipkan ini padaku di dalam sebuah kotak. Setelah kotak itu aku buka, ada dua surat, untukku dan untukmu, Shifa."jelas Najwa.


"Boleh aku membukanya sekarang?"tanya Shifa


"Boleh lebih cepat lebih baik."ucap Najwa.


"Kamu tau, Shifa? Karena surah itu, aku ingin menemuimu nanti saat liburan kenaikan kelas. Dan beruntungnya, kamu pulang, dan aku bisa memberikan amanah dari ummi pada kami secara langsung sekarang."imbuh Najwa.


"Buka saja, kak Shifa."perintah Dio.


"Iya, aku akan membukanya."ucap Shifa. Perlahan Shifa membuka amplop itu dan mengambil kertas yang ada di dalamnya, dia membaca surat dari Almira itu.


Shifa membaca setiap kata yang di tuliskan budhenha di surat itu, seketika air mata Shifa luluh keluar dari sudut matanya. Di melihat saudara kembarnya menangis, dia mengusap kepala shifa dan mencium kepalanya.


[ "*Teruntuk Shifa keponakan budhe yang cantik.


Assalamualaikum Shifa sayang.


Mungkin saat kamu membaca surat ini, budhe sudah tidak ada lagi di samping kamu dan Dio. Tapi, budhe selalu ada di dalam hati kamu kan, nak? Pastinya ada ya, sayang. Budhe sayang seklali dengan Shifa, meskipun budhe tak bisa menatap Shifa, budhe tak bisa bermain denga Shifa lagi saat ini, tapi budhe selalu mengenang saat-saat bersama Shifa, Dio, Najwa dan Raffi. Kenangan indah saat itu, budhe selalu simpan dalam hati budhe.


Kamu pasti sekarang sudah dewasa ya, nak. Budhe harap kamu mengeri apa yang akan budhe sampaikan pada Shifa.


Shifa, sebelum Abahnya Najwa mengenal budhe, beliau lebih dulu mengenal bundamu, nak. Pakde dulu sangat mencintai bundamu, karena bundamu adalah kekasih ayahmu, pakde mengalah demi adik tercintanya, yaitu ayahmu. Mungkin saat ini pakde sudah tidak mencintai bundamu, karena pakde sangat mencintai budhe.


Shifa, budhe minta tolong, satukan pakde dengan bundamu, nak. Ini semua demi kalian, demi Shifa, Najwa, Dio dan Raffi. Kalian butuh orang tua yang lengkap, budhe hanya percaya pada bundamu, nak. Untuk menjadi ibu dari Najwa dan Raffi. Juga budhe hanya percaya pada pakdemu, untuk menjadi ayah kamu dan Dio. Bukan budhe ingin menggantikan ayah kalian, ayah kalian tetap ayah Arsyil. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Yang budhe inginkan, kamu tumbuh menjadi dewasa dengan di bimbing pakde dan bundamu.


Mungkin permintaan budhe sangat memberatkan hatimu,nak. Mungkin keinginan budhe sangat tinggi sekali. Tali, budhe mohon sama kalian, terimalah pakdemu untuk menjadi ayah sambung kalian. Budhe hanya takut, kalian mendapat ayah baru yang tidak menyayangimu. Budhe takutvsekaki kalau itu sampai terjadi pada kalian. Maafkan budehmu ini, Shifa. Permintaan budhe pasti memberatkan hatimu. Budhe berharap, kami bisa membujuk pakde dan bunda untuk bersatu, untuk menikah, dan membimbing kalian. Budhe sayang Shifa dan Dio. Kalian sudah seperti anak budhe, tak ada bedanya dengan Najwa dan Raffi, anak kandung budhe.


Jaga diri kalian baik-baik ya, nak. Jadilah seseorang yang bermanfaat bagi semuanya. Untuk Shifa, jadilah wanita Sholehah. Wanita yang dirindukan surga. Budhe sayang Shifa.


Salam peluk hangat untuk Shifa dan Dio dari budhe.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb*." ]


Air mata Shifa dan Dio mengalir lebih deras, isakan tangis mereka terdengar, hingga mereka sesegukan.


"Budhe, Shifa akan penuhi permintaan budhe, Shifa janji."ucap Shifa lirih. Dio memeluk saudara kembarnya dengan erat. Dai mencium kepal Shifa dengan tangis tak kalah dari Shifa.


"Kak Najwa, Kak Raffi, apa kalian setuju dengan permintaan budhe?"tanya Dio.


"Aku setuju, Dio."ucap Raffi.


"Iya, kak Najwa setuju."ucap Najwa.


"Lalu bagaimana caranya menyatukan mereka? Aku yakin mereka pasti menolak, Kak. Apalagi bunda."ucap Shifa.


"Kita bujuk mereka pasti mau kok, kak Shifa."ucap Dio.


"Dio, kamu tau kan, bunda bagaimana, mau menikah dengan paman Leon saja seperti itu, menangis terus setiap malam."ucap Shifa


"Itu kan dengan paman Leon, kalau dengan pakde kemungkinan tidak, percayalah, pasti kita bisa menyatukan mereka."ucap Dio.


"Kakak jangan menangis lagi, ya. Tuh matanya sembab, nanti kita ditanya bunda matanya sembab kenapa."ucap Dio.


"Dio, Shifa, memang tante Nisa mau menikah lagi? Dengan siapa? Siapa tadi Paman Leon?"tanya Najwa dengan sedikit kecewa.


"Kemarin waktu di Berlin, bunda mau di lamar Paman Leon, rekann bisnisnya, demi mendapatkan bunda, Paman Leon bermain curang pada perusahaan bunda, dan akhirnya bunda mau menerima lamaran Paman Leon."jelas Shifa.


"Lalu? Apa nanti tante Nisa akan menikah dengan paman Leon? Kalau iya, berarti kita tidak bisa menyatukan mereka, Shifa."ucap Najwa.


"Teneng saja, Najwa. Paman Leon tidak jadi menikah dengan bunda, karena paman Leon tau, kalau bunda terpaksa, jadi paman Leon memutuskan untuk tidak menikahi bunda, dan menyuruh bunda pulang ke sini lagi."tutur Shifa.


"Syukurlah, aku kira mereka jadi akan menikah."ucap Raffi dengan perasaan lega.


"Tidak kak, mereka tidak jadi menikah, tenang saja."ucap Shifa.


"Yakin?"tanya Najwa meyakinkan.


"Iya, kak Najwa. Sudah sekarang kita pikirkan bagaimana caranya menyatukan pakde dan bunda."ucap Shifa.


"Iya, bagaimana caranya, mereka tidak saling mencintai, dan cinta Bunda untuk ayah begitu kuat, begitupula cinta pakde dan budhe, sama-sama kuatnya. Tapi aku yakin, rada cinta akan bisa menepi jika mereka sayang sekali dengan kita."jelas Dio.


"Sok tau kamu."tukas Shifa.


"Yah, jangan remehkan kata-kata saudara kembarmu ini, kalau sudah sayang, masalah cinta gak cinta belakangan, kak Shifa cantik."ucap Dio sambil menggoda saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Kamu sok tau, Dio."ucpa Shifa sambil mengacak-acak rambut Dio.


"Sudah kita buktikan saja, bagaimana, benar tidak apa yang Dio katakan."sahut Raffi.


"Boleh, buktikan saja, kak. Pokoknya kaubsdah sayang, cinta itu akan menepi dengan sendirinya, gak ada cinta-cintaan kalau udah sayang, rasa cinta itu hanya bisa kalah dengan rasa sayang. Kalian boleh percaya boleh tidak, kita buktikan saja."ujar Dio.


"Iya, deh iya…kita lihat saja, kata si pujangga ini. Yang hobinha ngerayu cewek sana sini kalau di kelas."ucap Shifa sambil mencubit pipi Dio.


"Sakit tau kak, gak usah buka-buka kartu As ku dong, kak. Kamu ih...untung gak ada Bunda, kalau ada aku pasti di marahin."ucap Dio.


"Makanya, masih SMP saja udah main surat-suratan sama cewek."ucap Shifa.


"Kan suka, apa salahnya suka. Sudah yuk keluar."ajak Dio.


"Kak Raffi, main bole yuk, Pumpung masih jam 4, terus ada Farrel dan Ozil." Dio mengajak Raffi bermain bola.


"Ayo, keluar."ucap ajak Raffi. Dio dan Raffi keluar mengajak Farrel dan Ozil main bola.


Dio memang jago merayu cewek, mungkin sifat itu karena Arsyil dulu juga memiliki jiwa gombal yang tinggi dengan cewek-cewek, jadi tak heran Dio bisa seperti itu dan di gandrungi banyak cewek saat sekolah di Berlin.


Najwa dan Shifa masih berada di dalam kamar, mereka merebahkan tubuhnya, di atas tempat tidur.


"Fa, kalau bunda kamu dan abahku menikah, senang ya, aku jadi punya saudara perempuan, apalagi kita seumuran."ucap Najwa yang sedang mengandai-andai jika Abahnya menikah dengan tantenya.


"Iya, Kak. Kita kemana-mana bisa berdua, tidak sepi, tapi bagaimana kita menyatukan mereka, kak."ucap Shifa, dia juga membayangkan jika dirinya satu rumah dengan Najwa.


"Kita bicarakan dengan opa saja, nanti malam, kita ke kamar opa dan kita lakukan rencana ini."ucap Najwa.


"Apa opa tau, mengenai surat ini?"tanya Shifa.


"Tau, kemarin Kak Najwa bicara dengan opa, dan ternyata ummi juga bicara dengan opa sebelum meninggal, kalau ummi menyuruh opa menyatukan bundamu denah abahku."jelas Najwa.


"Ya sudah nanti malam kita diam-diam ke kamar opa, lalu selanjutnya, entah bagaimana nantinya, pokoknya secepat mungkin, kita harus menyatukan mereka."ucap Shifa.


"Oke. Kita keluar, yuk gabung yang lainnya, kita main dengan Rana, Alia dan Alisa."ajak Najwa.


"Ayo." Shifa beranjak dari tempat tidurnya, dia keluar di dan berjalan di belakang Najwa.


Semua berkumpul di teras rumah, Ozil, Farrel, Dio dan Raffi sedang bermain bola, Najwa, Shifa, Rana, Alia dan Alisa sedang bermain di ruang keluarga rumah, dia menjadikan Rana model untuk di makeup. Pipinya yang chubby membuat saudaranya gemas sekali, apalagi Rana anak yang cerewet dan mudah sekali menyesuaikan diri. Rana, Putri Shita dan Vino, dialah yang paling kecil diantara semuanya.


Rico, Bayu dan Iva, duduk di teras bersama anak dan menantunya, sudah lama sekali mereka bisa berkumpul seperti ini. Rachel dari tadi memandang keponakannya yang sedang bermain bola.


"Enak ya kalian punya anak cowok. Aku cuma Alisa saja."ucap Rachel.


"Makanya bikin lagi dong, masih muda juga."ucao Shita.


"Udah biki, tiap hari, tapi gak jadi-jadi, belum rezeki mungkin."ucap Rachel.


"Iya, mas."jawab Rachel dengan menyandarkan kepalanya di dada Lukman.


"Sore-sore main lendat lendot saja kami, Chel."ucap Arsyad yang berada di samping Lukman.


"Ye…sirik aja sih, kakak. Gak ada yang ngelendotin sih ya sekarang. Makanya cari lagi, kak."ucap Rachel.


"Apaan sih."ucap Arsyad.


"Iya, kak, ehh…ini ada Annisa, Nis, butuh bersandar. Tuh kak Arsyad butuh seseorang untuk bersandar di dadanya."ucao Rayhan.


"Kenapa jadi aku yang buat sasaran ya, kalian itu ada-ada saja."ucap Annisa dengan wajah yang merona karena malu.


"Iya, kalian kakak adek sama saja. Tuh lihat, kasihan Annisa pipinya merah."ucap Arsyad


"Kak Arsyad, biasa saja kali kak."ucap Annisa.


"Nah gitu dong,dari tadi kalian diam saja. Kalau gini kan jadi enak. Gak ada yang kaku."ucap Shita.


"Hmm…Kak Shita bisa saja."ucap Annisa dengan menyandarkan kepalanya di bahu Shita.


"Tuh kan, bener nih anak, butuh sandaran."ucap Shita meledek Annisa lagi


"Tuh kan, mulai lagi."ucap Nisa.


"Kak, kode nih."ucap Rachel pada Arsyad


"Kode apa? Kalian itu ada-ada saja."ucpa Arsyad.


"Sudah, jangan seperti itu, kasihan Arsyad dan Annisa, biar waktu yang menjawab, kalau jodoh itu tak kemana, ya kan Syad, Nis."sahut Rico.


"Papah, apaan sih ikut-ikutan."ucap Annisa dan Arsyad bersamaan.


"Tuh sudah kompak kan?"ucao Rico.


Mereka melapas waktu sore hari dengan candaan, memang momen seperti ini jarang mereka dapatkan kembali setelah kepergian Andini.


^^^^


Seusai sholat maghrib Arsyad mengambil minum di dapr, dia berjalan dengan agak terburu-buru, karena tenggorokannya sudah mengering seusai mengaji..

__ADS_1


"Brugh...Aww…Kak Arsyad. Hati-hati dong, kalau jalan."ucap seseorang yang juga berada di dapur.


"Ah…maaf-maaf, aku buru-buru sekali karena haus, tenggorokanku sudah kering sekali, maaf Nis."ucap Arsyad.


"Iya, iya, gak apa-apa, aku kaget saja, untung aku belum bawa coklat panas ku, kalau sudah aku bawa pasti menumpahiku atau kakak."ucap Annisa.


"Kamu buat coklat panas?"tanya Arsyad.


"Iya, kakak mau?" Annisa menawari Arsyad coklat panas.


"Emm…boleh, aku tunggu di ruang tengah."ucap Arsyad.


"Oke."ucap Annisa.


Arsyad memang menyayangi Annisa, tapi hanya sebatas adik ipar saja, sama halnya dengan sayang pada Shita dan Rachel. Karena memang mereka umurnya tak jauh beda antara Rachel, Shita dan Annisa.


"Kak, ini coklatnya." Annisa memberikan coklat pada Arsyad yang sedang bergabung dengan lainnya di ruang keluarga.


"Terima kasih."ucap Arsyad sambil mengambil secangkir coklat panas dari tangan Annisa.


"Cie….bikinnya cuma satu buat Kak Arsyad saja."goda Shita.


"Iya ih…bunda. Masa buat pakde saja."ucpa Dio.


"Dio mau?"tanya Arsyad.


"Tidak sih, tapi sepertinya memang kalian cocok."ucap Dio.


"Cocok apa?"tanya Annisa


"Cocok saja, kalau kalian bersama. Kan jadi lengkap, ya kan budhe?"ucap Dio pada Shita


"Tuh kan, sudah dapat lampu hijau dari Dio."ucap Shita.


"Dio, kamu itu ada-ada saja. Jangan seperti itu, bicara yang sopan."ucap Annisa


"Bunda, lagiyan cocok kan, bunda sendiri pakde sendiri. Tapi sayang, hati bunda dan pakde masih belum bisa menerima cinta yang lain."ucap Dio dengan senyuman manisnya.


"Eh…anak kecil, ngomong cinta, cinta itu apa sih, siapa yang ngajarin Dio seperti itu."ucap Annisa.


"Bunda, masa iya seperti itu ada yang ngajarin."ucap Dio.


"Bunda belum tau sih, berapa ribu cewek yang ngirim Dio surat. Tapi aku tau yang di balas oleh Dio siapa."ucap Shifa.


"Kak, Shifa, jangan di bocorin dong."tukas Dio.


"Kamu ya, bunda tidak pernah mengajari kamu seperti tu, kamu masih SMP sudah pacaran saja."ucap Annisa dengan agak kesal.


"Dio, sini dekat pakde." Arsyad menarik Dio agar duduk di sebelahnya.


"Kamu pacaran?"tanya Arsyad.


"Tidak, cuma teman-teman cewek Dio yang suka ngirim surat, dan Dio tidak balas kok. Cuma Dio baca saja. Memang ada yang Dio balas satu sih, pakde."ucap Dio.


"Lalu? Kenapa di balas, dan kenapa hanya dia yang di balas."tanya Arsyad.


"Ya, ingin balas dia saja. Gak mau yang lain."ucap Dio.


"Dio, kamu itu masih kecil, masih kelas 1 SMP. Jangan seperti itu, fokus sekolah dulu, kasihan bunda, mengurus kamu sendirian, bunda juga kerja, jadi jangan ulangi yang seperti itu lagi."ucap Arsyad.


"Iya, pakde. Dio tidak seperti itu lagi."ucap Dio.


"Keponakan yang pintar."ucap Arsyad sambil mengacak-acak rambut Dio.


"Benar-benar seperti Arsyil, dia masih SMP sudah bisa surat menyurat dengan cewek. Duh, untung saja dia kembali ke Indonesia. Ini yang aku takutkan, kalau mereka harus hidup di luar negeri, apalagi hanya dengan Annisa."gumam Arsyad dalam hati.


"Iya, aku sibuk kerja, hingga aku tak tau apa yang anak-anak lakukan, untung aku segera pulang ke sini, coba akalu di sana, pergaulan anak remaja rata-rata sudah melebihi tingkat kewajaran. Bebas sekali pergaulan di sana."gumam Annisa dalam hati.


"Tuh Dio, dengarkan kata pakde, jangan di ulangi lagi, ya."ucap Rico.


"Iya, opa."ucap Dio.


"Kenapa bisa sama seperti Arsyil, dia juga sejak SMP kelas 1 sudah pacaran, sering aku meegokin Arsyil dengan cewek dulu, saat dia masih SMP, dan Andini sering menemukan surat dari cewek di lemari pakaian Arsyil."gumam Rico dalam hati.


Mba Ida memanggil semuanya untuk makan malam, dan mereka makan malam bersama, Keluarga Bayu juga belum pulang, dan mereka akan menginap di rumah Rico malam ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2