
Rania duduk di tepi ranjang di samping Dio setelah selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. Seusai acara selesai, mereka berdua berganti pakaian untuk menemui tamu saat malam hari. Raut wajah Rania terlihat sedih. Dio merasa bingung, melihat wajah Rania seperti itu. Padahal sebelum mandi dia baik-baik saja.
Dio menarik tubuh Rania dalam pelukannya. Dia menebak kalau Rania sedih karena teringat kedua orang tuanya.
"Kenapa? Kok tiba-tiba sedih gini? Ingat ibu sama ayah?" tanya Dio. Rania hanya menggelengkan kepalanya dan menyeka air matanya.
"Lalu kenapa? Kok malah nangis?" tanya Dio lagi karena bingung melihat mood Rania yang berubah seperti ini.
"Aku dapet, Dio." Rania memeluk Dio dan menenggelamkan wajahnya di dada Dio.
"Hanya karena datang bulan menangis? Kamu itu lucu sekali, sayang," ucap Dio sambil mencium kepala Rania.
"Kamu tidak marah?" tanya Rania.
"Marah? Untuk apa aku marah?" Dio meregangkan pelukannya dan menangkup pipi Rania dengan kedua tangannya, lalu mencium bibirnya.
"Aku tidak marah, kan nanti seminggu lagi selesai. Kok jadi kamu yang melow?" Ucap Dio.
"Aku takut kamu kecewa, harusnya ini kan …." Ucapan Rania terhenti karena malu.
"Iya harusnya ini malam pertama kita, gitu kan? Bilang saja, masa malu sama suami sendiri," ucap Dio dengan senyum menggoda Rania.
"Ih … kok malah gitu." Rania memukul dada Dio.
"Sakit ih, sudah jangan menangis. Kita nikmati saja hari-hari kita setelah ini. Jangan nangis, nanti cantikmu hilang." Dio mencium kening Rania.
"Aku mandi dulu, kalau aku selesai mandi kamu masih menangis, nanti aku hukum," ujar Dio.
"Hukum? Mau di hukum apa? Berani menghukum aku?" ucap Rania dengan mencubit lembut pipi Dio.
"Iya aku hukum, kamu aku suruh lari-lari mengitari lapangan sebelah," ucap Dio.
"Oke."
"Yakin?"
"Iya, kalau capek, minta gendong kamu," ujar Rania.
"Sudah sana mandi. Aku tidak nangis lagi." Rania mengambilkan handuk untuk suaminya.
__ADS_1
^^^^^
Dio bergabung dengan yang lain di luar bersama Rania. Masih banyak tamu yang datang. Rania dan Dio memakai baju dengan warna yang senada. Pernikahan Rania dan Dio memang di percepat. Arsyad tidak mau mereka menunda lagi. Jadi semua persiapannya juga mendadak. Dan di laksanakan secara sederhana.
Rania dan Dio menemui teman-teman SMP nya dulu. Semua hadir di acara pernikahan Dio dan Rania. Meskipun tidak hadir saat resepsinya. Mereka memilih malam harinya untuk datang, karena biar leluasa mengobrol dengan Dio dan Rania.
"Kalian sebenarnya bagaimana, sih? Ada yang bilang sudah menikah, tapi ini malah baru menikah. Yang benar yang mana, Ran?" tanya Dini teman baik Rania saat SMP dulu.
"Iya, kalian sebenarnya gimana, sih? Ini mumpung kita semua kumpul, jelasin. Bikin penasaran saja," imbuh Winda.
"Ih … kalian kepo ya? Kalian mau tau yang sebenarnya bagaimana mereka? Kalau aku ceritain kamu pasti bilang Dio itu orang bodoh sedunia," sambung Yohan.
"Sudah Yo ... gak usah di bahas lah, iya-iya, kami memang sempat menikah, dan karena kesalahpahaman dan suatu masalah kami bercerai. Setelah satu tahun, kami dekat lagi, ya sudah menikah lagi," jawab Dio.
"Bukan karena itu juga. Ini Dio itu pria paling bodoh menurutku," ucap Yohan.
"Sudah, Yo. Gak usah bahas deh!" Tukas Dio.
"Mereka itu seperti anak kecil. Egonya tinggi, jadi gini nih. Dua kali mereka menikah. Nih, parahnya Dio. Gara-gara waktu dulu aku nyium Rania, dia marah besar. Gak jadi tuh jadian sama Rania. Gantungin hubungannya. Eh, dijodohin nih mereka berdua. Dah lah, pokok ya Dio orang bodoh sedunia," ucap Yohan.
"Benar tu, Ran?" Tanya Dini.
"Lalu kalian cerai karena apa?" tanya Winda penasaran.
"Ya karena kesalahpahaman dan ada sebuah masalah. Sudah yang penting aku sama Rania sudah kembali lagi. Ya kan, sayang?" jawab Dio.
"Iya. Sudah, yang sudah ya sudah. Yang penting aku sama Dio sekarang," imbuh Rania.
Mereka mengobrol dan bercanda hingga malam. Ya sekalian reuni kecil-kecilan sih. Karena memang reuni yang akan diadakan mereka harus mundur lagj.
^^^^^
Rania dan Dio sudah berada di dalam kamarnya. Hari ini sungguh melelahkan bagi mereka, setelah seharian menemui tamu hingga larut malam. Malam ini Rania dan Dio masih menempati rumah Rania. Mungkin besok atau lusa mereka akan pindah ke rumah yang dulu mereka singgahi.
"Ran," panggil Dio saat Rania sedang menghapus makeup nya.
"Iya, ada apa?" tanya Rania.
Dio berjalan mendekati Rania yang sedang berdiri di depan meja rias.
__ADS_1
"Love You." Dio memeluk Rania dari belakang dan mencium pipinya.
"Love You too," ucap Rania sambil menyentuh pipi Dio yang.
"Kamu tahu, malam ini adalah malam yang paling bahagia dalam hidupku," ucap Dio.
"Kita sudah menikah, dan aku harap kamu jangan merasa senang. Aku menikahimu, bukan karena aku mencintai kamu. Cinta untukmu sudah hilang sejak lama dari hatiku." Rania mengucapkan kembali kata-kata Dio dulu saat setelah mereka sah menjadi suami istri.
"Rania, kamu kok bilang gitu?" Mata Dio membeliak mendengar Rania mengucapkan kata-katanya dulu. Dio terdiam dan mengingat apa yang ia lakukan dulu pada Rania. Dio masih mematung melihat wajah Rania di cermin.
"Kok diam?" tanya Rania. Dio tidak bergeming dengan pertanyaan Rania. Dia masih saja diam, dan tanpa terasa cairan bening keluar dar sudut matanya.
"Sayang, kok nangis?" Rania membalikan badannya dan menyeka air mata Dio.
"Please … jangan bicara itu lagi. Maafkan aku. Kata-kata menyakitkan itu masih juga tersimpan di memorimu, meski aku sudah benar-benar mencintai kamu. Kamu masih ingat perlakuan buruk ku kepadamu, Rania. Maafkan aku." Dio memeluk erat Rania. Dia menangis di pelukan Rania. Isakan tangisnya semakin terdengar. Tangisnya semakin pecah. Rania menjadi merasa bersalah sudah membuka luka yang telah kering.
"Ya Allah maafkan aku. Maafkan aku Dio. Maafkan aku. Aku mengingatkan kamu lagi." Rania berkata sambil menyeka air mata Dio.
"Aku janji. Aku janji tidak akan bicara itu lagi. Sudah jangan menangis." Rania mengecup kelopak mata Dio.
"Sekarang, aku percaya. Aku percaya kamu mencintaiku. Aku sudah memiliki Dio ku lagi."
Dio masih sesegukkan karena menangis. Entah mengapa mendengar Rania berkata seperti tadi membuat hatinya sakit. Dan, dia merasakan apa yang Rania dulu rasakan. Ternyata sakit sekali.
"Aku merasakannya, Ran. Aku merasakan betapa sakitnya kamu dulu, saat aku bicara seperti itu. Maafkan aku." Dio memeluk Rania dengan erat.
"Aku memaafkan kamu. Sudah, tidur yuk. Kamu pasti lelah. Besok kita juga harus beres-beres untuk pindahan ke rumah kita," ucap Rania.
Demi apa Dio merasa beruntung sekali memiliki istri seperti Rania. Walaupun Rania anak satu-satunya dan di manja dengan orang tuanya. Dia tetap mandiri dan dewasa sekali.
Dio dan Rania sudah berada di tempat tidur. Dio dan Rania memiringkan tubuhnya agar berhadapan. Mereka saling menatap, Dio mengusap lembut pipi Rania dan mendaratkan ciumannya di kening dan di bibir Rania.
"Tidurlah istriku. Besok kita sambut hari baru kita. Semoga kamu cepat selesai datang bulannya," ucap Dio sambil menyimpulkan senyum manisnya.
"Hmm ... sudah kepingin, ya?" Ucap Rania dengan mencubit lembut pipi Dio.
"Ya seperti itu. Sudah ah, jangan buat aku tegang," ucap Dio.
"Peluk ...," ucap Rania dengan manja.
__ADS_1
Dio memeluk erat istrinya. Dia bahagia, akhirnya impian menikahi Rania kembali kini terwujud. Begitu pula Rania. Dia juga merasa wanita paling bahagia malam ini.