
Annisa meletakan vas bunganya di meja, dia berjalan ke arah meja makan, melihat Mba Lina sedang menata makan siang di meja makan.
"Papah ke mana, mba?"
"Pak Rico di depan, mba," jawab Mba Lina.
"Oh… ya sudah mba aku kembali ke kamar, anak-anak belum pulang sekolah?"
"Belum, mba,"
Annisa masuk ke dalam kamarnya lagi setelah memastikan semua masakan sudah ditata di atas meja makan. Annisa membawa Vas bunga nya ke dalam kamar. Arsyad terlihat baru saja selesai sholat dhuhur. Annisa meletakan vas bunganya di meja kecil yang berada di pojok kamarnya.
Annisa mengambil bunga yang tadi Arsyad berikan, lalu menatanya ke dalam vas bunga. Dia menata dengan hati-hati, Annisa mencium wangi bunga mawarnya yang sudah ia tata di vas bunga dan meletakan di meja.
"Cantik, kan?"
"Iya, cantik seperti kamu, sayang." Arsyad memeluk Annisa dari belakang dan mencium pipinya.
"Nis, ini pipi isinya apa sih, sekarang jadi seperti ini?"tanya Arsyad sambil mencubit lembut pipi Annisa dengan gemas.
"Isinya, apa ya?" Annisa membalikan badannya mengahadap Arsyad dan sedikit menggoda dengan mata genitnya.
"Tidak usah menggoda." Arsyad menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya dan menciumnya.
"Kakak mau makan sekarang? Atau nanti setelah anak-anak pulang dan Paman datang?" tanya Annisa.
"Paman atau Leon?"
"Kakak….paman kan ke sini sama Leon, kak." Annisa mencubit lirih lengan suaminya.
"Hmm…ada yang mau ketemu mantan pacar, nih," ledek Arsyad.
"Kakak, jangan seperti itu, dia bukan mantan pacarku," ucap Annisa sedikit cemberut.
"Lalu? Mantan calon tunangan?" ledek Arsyad lagi.
"Kakak kenapa, sih? Kok seperti itu? Cemburu ya?"
"Iya kakak cemburu," jawab Arsyad dengan menggapit kedua pipi Annisa dengan kedua tangannya.
"Kak, Leon belum datang saja kakak sudah cemburu gini, apalagi dia di hadapan kakak? Bisa-bisa kakak pasang muka cetus terus," ucap Annisa.
"Ya gak tau nanti, kalau dia manggil kamu sweet mom lagi, atau genit sama kamu, ya maaf aku cetus sama dia," ungkap Arsyad.
"Jangan seperti itu, Leon bicara seperti itu karena bercanda, kakak." Annisa semakin gemas dengan wajah suaminya yang terlihat cemberut.
"Ayo keluar, kita tunggu anak-anak pulang," ajak Annisa.
"Nunggu anak-anak pulang apa nunggu Leon datang?"
"Nunggu Leon dong, pastinya. Nungguin mas mantan." Annisa sengaja meledek Arsyad agar Arsyad tambah cemburu.
"Oh…nunggu Mas Mantan? Oke, tunggu saja sendiri aku di kamar, selamat bertemu kangen sama mas mantan, sana." Arsyad kembali duduk di tempat tidur, dia memang marah karena Annisa bicara seperti itu.
"Ehhh….ngambek beneran nih, bayi besarku," gumam Annisa sambil mendekati suaminya dan duduk di sampingnya.
Arsyad memalingkan wajahnya dari Annisa dan segera beranjak dari tempat tidurnya, sebelum Arsyad berjalan Annisa lebih dulu memegang tangan Arsyad. Seketika Arsyad menghentikan langkah kakinya.
"Mau bicara apa lagi?" tanya Arsyad dengan nada yang sedikit cetus.
"Kak, maaf, kakak marah? Aku cuma bercanda, kak,"ucap Annisa dengan nada rendah.
"Bercandamu tidak lucu, Nis," tukas Arsyad.
Annisa menarik tangan Arsyad hingga suaminya jatuh dan duduk di samping Annisa. Annisa menghadapkan wajah suaminya ke arah wajahnya. Dia mengusap lembut pipi suaminya yang sedang merajuk itu.
"Kamu tampan sekali, kalau merajuk seperti ini." Annisa mengecup bibir suaminya.
Arsyad hanya diam saja menatap intens wajah istrinya yang cantik itu.
"Kak, sebegitu cemburunya kakak pada Leon? Aku tadi hanya bercanda, kak. Jangan terlalu cemburu." Annisa berbicara lembut dengan manatap wajah suaminya.
"Aku tidak mau, kamu dekat dengan dia, sayang,"ucap Arsyad.
"Siapa yang mau dekat-dekat dengan Leon, kak. Dia belum datang saja kamu sudah rempong seperti ini, sudah cemburunya kebangetan, kalau dia di hadapanku bagaimana?"
__ADS_1
"Pokoknya jangan dekat-dekat dengan dia," tukas Arsyad.
"Iya tidak, ayo keluar, jangan ngambek gitu dong, sayang,"
Arsyad menarik tubuh Annisa hingga dia jatuh di pelukan Arsyad. Annisa duduk di pangkuan Arsyad dan berhadapan dengan Arsyad. Tanpa aba-aba, Arsyad mencium bibir Annisa dan mereka menikmati ciumannya hingga dalam.
"Hmmm…kakak, jangan seperti ini." Annisa menghirup oksigen dan menghentikan ciumannya.
"Selesai datang bulannya berapa hari?"
"Kak, ini baru sehari, paling 5 hari lagi,"
"Annisa, itu lama sekali." Arsyad merajuk manja pada Annisa.
"Ya Allah kakak, kakak seperti tidak tau kalau perempuan datang bulan, memang dulu Kak Mira berapa hari kalau datang bulan?"tanya Annisa yang masih berada di pangkuan suaminya.
"Emmm….dulu, Almira lebih lama dari kamu malahan, kadang bisa sampai 10 hari," jawab Arsyad.
"Nah, kan? Aku paling lama-lamanya 6 hari masa tidak tahan?" ucap Annisa dengan mencium kilas bibir Arsyad.
"Entahlah, rasanya berbeda, sayang. Bukan aku membedakan, kan memang setiap orang berbeda-beda. Dan, tentunya berbeda rasa juga," ungkap Arsyad.
"Apa Arsyil juga seperti ini? Kalau kamu datang bulan, dia selalu tidak tahan menunggu?"tanya Arsyad.
"Ehm…seperti yang kakak bilang tadi, setiap orang kan berbeda-beda. Arsyil tidak terlalu seperti ini sih, seperti kakak sekarang ini, ya aku tidak tau, dia selalu saja sabar menunggu, udah jangan ingatkan aku, aku ingin nangis kalau ingat Arsyil." Annisa memeluk erat suaminya dan meneteskan air matanya di bahu Arsyad.
"Annisa, kamu menangis?"tanya Arsyad dengan mengusap punggung Annisa.
"Maaf aku mengingatnya lagi," jawab Annisa dengan suara serak.
"Menangislah, kakak tau perasaanmu, sayang. Kita tidak bisa menghilangkan semua kenangan indah bersama pasangan kita dulu dengan begitu cepat, walaupun di samping kita ada seseorang yang sangat mencintai kita. Yah, kakak akui, kakak juga masih sering mengingat Kak Mira. Keluarkan semua kesedihanmu, kakak mencintaimu, Annisa." Arsyad mencoba menenangkan hati istrinya.
Dia tau perasaan istrinya saat ini, Annisa selalu saja terlihat biasa dan tegar, padahal hatinya sangat rapuh sekali, apalagi jika menyinggung masalah Arsyil. Dia biasanya menyembunyikan tangisannya di kala dia mengingat mendiang suaminya.
"Maafkan Annisa kak,"ucap Annisa.
"Iya, kakak tau, ayo keluar, kasihan papah sendirian, usap air matamu, lalu cuci muka." Arsyad mengusap sisa air mata Annisa dan mengecup kelopak mata istrinya.
Annisa membuka jilbabnya kembali dan bangun dari pangkuan Arsyad. Dia masuk ke kamar mandi, dan mencuci muka agar tidak kelihatan sembab matanya.
Annisa mengambil jilbab lagi yang bermodel Khimar tali di lemarinya, karena jilabab yang tadi sudah agak kusut. Pipi Annisa terlihat chubby sekali memakai Khimar tali. Arsyad tersenyum melihat istrinya memakai Khimar itu.
"Kamu lucu banget pake jilbab ini, kelihatan chubby sekali pipimu, sampai tumpah-tumpah gini." Arsyad mencubit pipi Annisa.
"Ihh..sakit, tapi cantik, kan?" tanya Annisa.
"Cantik banget, ayo keluar," ajak Arsyad.
Arsyad dan Annisa keluar dari kamarnya, dia menemui Rico yang masih duduk di ruang tamu dengan memandangi ponsel yang memperlihatkan foto Andini dan Adinda.
"Papah." Arsyad memeluk papahnya dan duduk di samping Rico.
"Kamu mengagetkan papah saja, Syad." Rico langsung menekan tombol kunci ponselnya.
"Papah merindukan ibu dan mamah?" tanya Arsyad.
"Iya, papah merindukannya," jawab Rico dengan senyum yang berat.
"Arsyad juga rindu pah, rindu, ibu, Mira, dan Arsyil. Mereka sudah bahagia, pah. Mamah juga pasti sudah bahagia, walaupun Arsyad tak pernah tau mamah seperti apa,"ucap Arsyad.
"Ya, mereka sudah bahagia, kalian juga harus bahagia," ucap Rico.
"Aku dan Kak Arsyad sangat bahagia, pah," imbuh Annisa.
Mereka bercerita sambil menikmati pisang goreng yang tadi di buatkan oleh Mba Lina. Tak lama kemudian, sopir Annisa tiba di rumah, bersama Paman Diki, Alvin, Zidane, dan Leon. Rico, Annisa, dan Arsyad menyambut kedatangan mereka, mereka keluar menemui Paman Diki dan lainnya.
"Assalamualaikum," ucap Paman Diki dan lainnya.
"Wa'alaikumsalam, kalian sudah datang, selamat datang di rumah kami, maksudnya rumah anak saya," ucap Rico.
Mereka bersalaman dan saling memeluk, Annisa tidak bersalaman dengan Leon, dia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukan kepalanya pada Leon. Seperti itu, Annisa menyambut Leon. Beda dengan dulu, dia menjabat tangan Leon jika bertemu.
"Nis, pipimu, tambah chubby sekali,"ucap Alvin.
"Maklum Al, pengantin baru," sahut Zidane.
__ADS_1
Leon hanya memandangi Annisa yang sedang di rangkul siaminya saja. Leon juga memerhatikan raut wajah Arsyad yang sepertinya sangat takut kalau Annisa dekat dengannya.
"Iya, lah Al, pengantin baru ya seperti itu, makanya kamu nikah," tukas Leon.
"Nyuruh orang nikah, kamu saja gak punya-punya pacar." Alvin meninju lengan Leon.
"Oh, iya Arsyad, emmm aku panggil Arsyad saja ya, biar akrab. Selamat untuk kalian, semoga kalian bahagia selalu," ucap Leon.
"Iya, panggil Arsyad saja, Leon. Terima kasih, kami sangat bahagia, dan juga terima kasih sudah mau mampir ke rumah kami, ayo masuk, biar ku tunjukan kamar kalian." Arsyad mengajak Leon dan lainnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Arsyad menunjukan kamar mereka, dua kamar di lantai dua yang bersebelahan tadi sudah di siapkan oleh Mba Lina dan Mas Joko. Leon memilih satu kamar dengan Alvin, sedangkan Zidane dengan papahnya, yaitu paman Diki.
"Kami merepotkanmu, Nak Arsyad," ucap Diki.
"Santai saja paman, anggap saja ini rumah paman, jangan sungkan-sungkan, kalau ada perlu apa, paman tinggal bilang sama Mba Lina atau Mas Joko,"ucap Arsyad.
Paman Diki dan Zidane masuk ke dalam kamarnya, dan menaruh barang-barangnya di dalam kamar. Mereka istirahat sejenak sebelum makan siang bersama.
"Ini kamar untuk kami, Kak Arsyad?"tanya Alvin.
"Iya, silakan kalian istirahat terlebih dahulu, pasti kalian sangat lelah," ucap Arsyad.
Alvin masuk ke dalam kamarnya, tapi tidak dengan Leon, Leon masih memerhatikan Annisa yang berada di samping suaminya. Arsyad juga melihat dari tadi Leon memandangi istrinya.
"Annisa tidak salah memilih suami, pantas dia langsung mau dengan Arsyad. Apa karena Arsyad kaya raya seperti ini, atau dia mirip dengan mendiang suaminya? Atau ahhh…kenapa aku jadi mikirkan Annisa. Ayo Leon….move on, Annisa sudah menjadi nyonya Alfarizi, kamu harus ikhlas, kamu kan yang memutuskan untuk tidak jadi menikahi Annisa?" gumam Leon sambil menatap Annisa sebelum masuk ke kamarnya.
"Heh.…ngapain kamu di sini, masuk tata baju kamu, aku mau mandi." Alvin mengagetkan Leon yang masih melamun dan menatap Annisa.
"Mengagetkan saja kamu, Al," tukas Leon.
Leon masuk ke dalam kamarnya, sebelum masuk ke kamar dia mengucapkan terima kasih pada Arsyad dan Annisa karena sudah mempersiapkan semua untuk kedatangannya.
"Annisa, Arsyad, terima kasih, karena sudah mengizinkan aku ke sini ikut dengan Paman Diki,"ucap Leon.
"Iya, Leon, kami juga terima kasih sekali, kamu mau jauh-jauh ke sini hanya untuk memberi ucapan selamat secara langsung pada kami, selamat menikmati liburan di sini, Leon," ucap Arsyad.
"Oke, aku masuk dulu, mau menata baju dan istirahat sebentar, sekali lagi, terima kasih,"
"Sama-sama, Leon." Arsyad masih belum melepaskan tangannya pada pinggang Annisa. Apalagi dari tadi Leon twrus mamandangi Annisa.
"Kak, kamar mandinya itu, kan?"tanya Alvin pada Arsyad.
"Iya, itu kamar mandinya," jawab Arsyad.
Annisa merasa risih karena Leon memandanginya seperti tadi, setelah Leon masuk ke dalam kamarnya, dan Alvin masuk ke kamar mandi, Arsyad mengajak Annisa turun ke bawah. Wajah Arsyad terlihat begitu kesal karena Leon memandang Annisa seperti itu.
"Baru datang saja, sudah tidak mau lepas mandangimu, Nis. Apalagi dia sampai lama di sini, yang ada kamu jadi pusat perhatiannya,"ucap Arsyad sambil menuruni anak tangga.
Annisa berdecih lirih, karena suaminya cemburu lagi, Annisa dengan cepat menuruni anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Arsyad masih tidak mengerti, kenapa Annisa malah menjadi marah seperti itu. Arsyad langsung menyusul istrinya ke dalam kamar.
"Nis, kamu kenapa?"tanya Arsyad.
"Kak, sudah dong jangan cemburu gitu, aku nya juga jadi tidak enak dengan Leon, kalau kakak seperti itu," jawab Annisa.
"Wajar dong aku cemburu, dia menatap kamu penuh arti gitu, laki-laki mana yang tidak cemburu melihat istrinya di tatap oleh laki-laki yang dulu mencintainya, dan mungkin sampai sekarang!" Arsyad berbicara dengan nada sedikit meninggi yang membuat Annisa diam seketika tak mau menjawab atau berkata lagi pada suaminya.
"Ya Allah, Kak Arsyad cemburuan sekali, sakit mana coba, kakak tadi meluk Lintang di depanku, aku tau itu tidak sengaja, tapi tetap saja masih sakit kalau ingat. Dan sekarang, Leon menatapku saja dia cemburu sampai segitunya? Ini menatap, tidak memeluk," Annisa menggerutu kesal dalam hatinya.
Ingin sekali Annisa berbicara seperti itu pada suaminya, tapi dia tidak mau ribut dengan suaminya hanya karena suatu perasaan. Yaitu perasaan cemburu.
Annisa membuang napasnya dengan kasar dan menarik tangan suaminya, dia menatap wajah suaminya yang masih saja terlihat kesal dengan Leon yang tadi menatapnya.
"Kak, kakak tidak lelah cemburu seperti ini? Mau Leon menatap aku, aku juga tak menghiraukannya, mungkin dia menatap aku karena aku semakin gendut seperti ini, tidak seperti waktu di Berlin, kak. Kakak jangan gitu dong, ya sudah, gini saja, Annisa gak usah keluar makan siang, Annisa di sini saja, kakak temui paman dan lainnya, temani mereka makan siang. Gimana? Mau seperti itu?"
"Nis, gak sopan dong, kamu tidak menemui mereka, mereka juga kan keluargamu," ucap Arsyad.
"Nah, kan? Makanya jangan cemburu, aku hanya milikmu sayang. Harusnya yang masih mau marah dan cemburu itu aku, yang sudah kenyataan," ucap Annisa.
"Maksudnya?" tanya Arsyad.
"Iya, harus nya kau yang cemburu karena kakak meluk Lintang," jawab Annisa.
"Kakak kan tidak sengaja, Annisa," ucap Arsyad.
"Makanya kakak jangan cemburu, masa Leon cuma lihat aku saja kakak cemburu, kecuali Leon meluk aku, baru kakak cemburu,"
__ADS_1
"Iya…iya….maaf sayang, ya sudah yuk keluar." Arsyad akhirnya bisa meredakan rasa cemburunya yang tadi memenuhi hatinya.
Mereka keluar menyiapkan makan siang untuk paman Diki dan lainnya, sambil menunggu anak-anak pulang sekolah.