
Arkan sudah sampai di rumah Raffi. Dia mengantar Thalia yang minta ke Taman Baca. Membaca memang sudah menjadi candu untuk Thalia. Melihat tumpukan buku di rak buku yang tertata rapi adalah keindahan tersendiri bagi Thalia.
“Kak, titip Thalia, ya?” ucap Arkan pada Alina.
“Iya, biar Thalia di sini, kamu mau ke bengkel, kan?” tanya Alina.
“Iya, masih banyak pekerjaan yang harus Arkan selesaikan, soalnya besok seminggu Arkan mau libur, mau fokus ujian kenaikan kelas,” jawab Arkan.
“Kamu itu, pikirkan sekolah dulu, bengkel kan ada orang untuk mengurus, Arkan,” ujar Alina.
“Aku juga ingin belajar biar bisa mengembangkan bengkel itu,” jawab Arkan.
“Ya sudah, Kak, Arkan mau ke bengkel dulu, titip Thalia,” pamit Arkan dengan mencium tangan Kakak iparnya.
“Iya, biar dia di sini,” jawab Alina.
“Jangan nyusahin Kak Alin, nanti habis Isya aku jemput kamu.” Arkan berkata pada Thalia dengan mengusap kepalanya.
“Oke, aku gak nyusahin kok, paling ngerepotin Kak Alin, ya kan, Kak Alin?” jawab Thalia sambil mengusap perut Alina yang sudah membuncit.
“Kasihan Kak Alin kamu repot kan terus, lihat perutnya sudah besar,” ujar Arkan.
“Iya enggak, aku gak akan nyusahin Kak Alin, sudah sana ke bengkel,” ucap Thalia.
Arkan segera pergi ke bengkelnya karena sudah siang. Alina juga menitipkan beberapa kue yang tadi ia buat untuk cemilan Arkan di sana dengan temannya. Alina senang jika ada Thalia di rumah, karena dia sama seperti dirinya suka membaca buku. Thalia juga pintar memasak dan membuat kue selain hobi membaca. Setiap ada Thalia di rumahnya, pekerjaan Alina di taman baca menjadi ringan. Thalia juga suka dengan anak-anak, dan sering bermain bersama anak-anak panti yang suka membaca, kadang mengajari mereka dan membacakan cerita pada mereka.
“Kak Alin sudah makan siang?” tanya Thalia.
“Sudah, tadi Kak Raffi makan siang di rumah, jadi sekalian kakak menemani Kak Raffi makan siang,” jawab Alina.
“Kamu pasti belum makan, kan? Ayo makan dulu, itu tadi Kak Alin masak capcay sama ayam chrispy, yuk Kakak temani kamu makan,” ajak Alina.
“Oke, Thalia ganti baju dulu, kak,” ucap Thalia.
Thalia langsung masuk ke dalam kamar tamu yang biasa ia pakai istirahat saat di rumah Alina. Alina sudah menganggap Thalia dan Tita seperti adiknya sendiri, sama seperti Arkan. Thalia dan Tita juga sering menginap di rumah Alina jika weekend. Mereka suka dengan suasana rumah Raffi yang terlihat asri dengan pemandangan bunga-bunga di taman, dan halaman luas di samping taman baca dengan bangku-bangku kecil yang berada di sana.
Halaman yang selalu ramai anak-anak bermain bola setiap sore, ataupun membaca. Taman baca juga di buka hingga jam 9 malam, di buka untuk umum, dan jika weekend pasti ramai pengunjung. Di sebelah halaman yang luas juga ada kedai kopi kecil dan kedai makanan kekinian yang lainnya. Raffi sengaja membuka itu, dan menyewa orang untuk mengurusnya.
^^
Sudah hampir menjelang Maghrib, Arkan bersiap-siap untuk menyudahi pekerjaannya. Hari ini benar-benar melelahkan, meski Arkan hanya bekerja setengah hari saja, dia merasa sangat lelah sekali.
Arkan membuka ponselnya untuk menghubungi Thalia. Dia melihat ada beberapa pesan dari Lily. Arkan mengernyitkan dahinya melihat Lily banyak mengirim pesan pada Arkan. Padahal yang Arkan nanti adalah pesan dari Thalia, tapi tidak ada pesan masuk dari Thalia.
“Arkan, kita bisa bertemu sore ini atau nanti malam setelah pulang dari bengkel?” ~ Lily.
“Arkan, aku ingin bicara penting dengan kamu.” ~Lily.
“Kenapa kamu tidak membalasnya, Arkan? Apa kamu memang sudah benar-benar melupakan aku?” ~Lily.
“Mana yang katanya Arkan akan terus mengejar aku? Meski aku sudah dengan Sandi? ~Lily.
“Apa semua karena kamu sudah memiliki Thalia?” ~Lily.
Arkan membacanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia semakin tidak suka dengan perempuan macam Lily. Setelah tahu dirinya itu siapa, Lily semakin gencar untuk kembali.
“Maksudnya apa dia? dasar cewek matre!” ucap Arkan dengan kesal.
Fajar mendengar apa yang Arkan bicarakan, meski berkata lirih, tapi Fajar masih mendengar apa yang Arkan katakan tadi.
“Siapa yang matre, Kan?” tanya Fajar.
“Ini baca saja sendiri,” jawab Arkan dengan memberikan ponselnya pada Fajar.
Fajar membaca satu-persatu pesan dari Lily, dia tertawa dengan apa yang ia baca. Tidak menyangka Lily cewek yang terlihat kalem tapi seperti itu.
__ADS_1
“Cewek gak guna! Ingat, bro! Cinta pakai logika, kalau logika kamu berjalan, kamu pasti tahu apa yang akan kamu lakukan untuk menghadapi cewek macam ini. Kalau logikamu tidak di gunakan, ya aku jamin, kamu akan terkena perangkap dia. Aku yakin, Lily masih berusaha mengejar kamu. Pesan ini jangan di hapus, ini untuk bukti kalau kamu sudah tidak bersama dia. Dan, kalau kamu mencintai Thalia, kamu harus jujur semuanya, bicara yang jujur pada Thalia soal ini,” tutur Fajar.
“Siap bro! Aku yakin Lily masih ada konflik sama Sandi. Jadi, dia seperti itu, aku tidak menyangka dia seperti itu, untung saja aku sudah tidak bersama dia lagi. Aku akan jujur semua pada Thalia. Dan, aku akan menemui dia dengan Thalia,” ucap Arkan.
“Bagus, itu namanya cowok sejati. Tapi, kamu harus hati-hati, kali aja dia akan jebak kamu, biar mendapatkan kamu kembali,” tutur Fajar.
“Oke, aku akan hati-hati,” jawab Arkan.
Selepas Isya Arkan bersiap untuk pulang dari bengkel, dia terlebih dulu membalas pesan dari Lily. Ya, dia akan menemuinya dan mengajak Thalia jugua untuk menemuinya.
“Oke, kita bertemu di temapat biasa.” ~Arkan.
“Iya, kamu menjemput aku, Kan?” ~Lily.
“Maaf, aku tidak bisa menjemputmu, aku pesankan OJOL saja untuk ke taman dekat rumahmu.” ~Arkan.
“Apa kamu akan bersama Thalia?” ~Lily.
“Iya, karena aku masih bersama Thalia. Aku akan menjemput Thalia di rumah Kakakku.” ~Arkan.
“Apa tidak bisa kamu menemuiku dulu?” ~Lily.
“Maaf, Ly, aku tidak bisa, aku harus mengajak Thalia. Aku bertanggung jawab juga untuk mengantar Thalia pulang.” ~Arkan.
“Ya sudah, lain waktu saja, dan aku inginnya bertemu kamu saja, tanpa mengajak Thalia.” ~Lily.
“Mau sekarang atau lain waktu, aku tetap akan menemuimu dengan Thalia.” ~Arkan.
Arkan menyudahi chat dengan Lily. Dia semakin tahu kalau Lily memiliki maksud tertentu pada dirinya. Arkan memakai jaket kulitnya dan mengambil tasnya. Dia langsung pamit dengan Fajar untuk pulang terlebih dahulu.
Arkan masih ingat kata-kata Fajar soal Lily tadi. Dia berpikir, dia harus selalu hati-hati dengan Lily. Arkan tahu, Lily kemungkinan akan menjebak Arkan karena dia sudah jarang terlihat bersama Sandi.
^^
Lily masih terpaku di tepi ranjang. Dia tidak tahu nasibnya akan seperti apa. Setelah mengenal Sandi, dia semakin bebas hidupnya. **** bebas dan dunia malam juga ia lakukan. Itu semua karena teman Sandi seperti itu. Dia sering menjadi boneka sandi di atas ranjang. Lily sering melakukan itu, hingga kini dia tidak tahu hamil atau tidak, karena hampir dua bulan dia tidak menstruasi.
“Aku bodoh, ternyata Arkan lebih segalanya dari Sandi. Aku memang selalu iri dengan Angel, Sisil, dan Vanya yang memiliki pacar rata-rata anak orang kaya. Sedangkan Arkan, dia hanya bekerja di bengkel, dan hidupnya biasa-biasa saja. Tapi, ternyata dia lebih dari yang kuduga. Aku memang bodoh! Tidak mungkin dia mau kembali padaku, apalagi sekarang ada Thalia. Tapi, aku harus bisa mendapatkan Arkan lagi, apapun caranya!” gumam Llily dengan geram.
Lily merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia mencoba menghubungi Sandi, tapi nomor Sandi tidak aktif sudah hampir satu minggu setelah dia bilang pada Sandi, kalau dia hampir dua bulan tidak menstruasi.
“Kalau aku hamil bagaimana?” gumam Lily dengan mengusap perut datarnya.
Lily mencoba menghubungi Arkan lagi, dia mengirimkan chat lagi pada Arkan, dan meminta Arkan untuk menemuinya di taman. Jam berapapun Lily akan menunggu Arkan di taman.
^^
Arkan sudah berada di rumah Raffi, mereka sedang menikmati makan malam di rumah Raffi. Tadi Alina sengaja menyuruh asisten rumah tangganya untuk memasak belih banyak dari biasanya karena ada Thalia, dan sekalian mengajak Thalia juga Arkan makan malam di rumahnya.
Seusai makan malam, Arkan duduk di ruang tengah dengan Thalia, Raffi, dan Alina. Mereka mengobrol soal perusahaan. Arkan yang tadi pagi mendapat nasihat dari papahnya untuk belajar soal bisnis, akhirnya dia tanya-tanya oada Raffi soal mengurus perusahaan.
“Katanya mau membesarkan bengkel Ayah Arsyil?” tanya Thalia.
“Iya, itu tujuan utama, kalau aku bisa mengurus perusahaan juga, apa salahnya?” jawab Arkan.
“Itu baru adik kakak, lihatlah, Kak Dio, dia mengurus 3 perusahaan sekaligus, dan dia santai-santai saja menjalaninya,” ucap Raffi.
“Makanya, kamu harus giat belajar, biar mimpi kamu terwujud, kamu juga Lia. Kamu perempuan juga harus memiliki keahlian, tidak hanya di rumah saja, lihat Kak Rania, Kak Najwa, Kak Rana, juga Kak Shifa, mereka juga memegang kendali lain meski mengurus rumah tangga,” tutur Alina.
“Iya dong, Kak. Lia juga ingin menjadi wanita karir. Ya, bukan wanita karir sih, nanti sok sibuk seperti mamah. Lia lebih ingin seperti Kak Alin, mengurus taman baca, mendirikan sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu, sepertinya enak kali, ya? kalau jadi guru,” ucap Thalia.
“Jadi guru nanti anak didikmu pada takut, kamu kan galak,” sambung Arkan.
“Kamu salah, Arkan. Justru anak-anak di sini lebih suka dengan Thalia sekarang, semua Thalia yang mengajarinya,” imbuh Alina.
“Oh, ya? Aku kira dia galak, Kak,” jawab Arkan.
__ADS_1
Memang Thalia gadis yang pandai. Tak heran di kelasnya di juluki si kutu buku. Mengagumi sosok guru di sekolahannya, membuat Thalia ingin menjadi seorang guru. Dia kagum sekali dengan guru biologi di sekolahannya. Bu Lusi namanya, mungkin bukan karena gurunya juga, karena dia juga suka dengan pelajaran biologi.
Arkan mendadak mengingat Lily yang dari tadi mengirim pesan padanya. Arkan memang selalu curhat dengan Raffi. Menurut Arkan Raffi adalah teman bicara yang nyaman. Arkan mengambil ponselnya lagi, dia melihat Lily mengirim pesan lagi padanya.
“Arkan, aku butuh bicara dengan kamu, apa kamu sudah mengantar Thalia pulang?” ~Lily.
“Arkan jam berapapun, tolong temui aku di taman biasa. Aku ingin bicara dengan kamu.” ~Lily.
Arkan menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia semakin tidak mengerti dengan Lily. Tidak mungkin seorang Arkan menemui cewek tangah malam.
“Kak orang gila ini, ada cewek seperti ini,” ucap Arkan pada Raffi dengan menunjukkan ponselnya pada Raffi.
Raffi membaca semua pesan dari Lily, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka Lily yang pendiam akan agresif seperti itu pada adiknya.
“Bukannya dia yang mutusin kamu di depan kelas dan di depan teman-temanmu? Tidak tahu malu sekali dia?” ucap Raffi.
“Nah itu, Kak. Tadi siang saja minta diantar aku pulang ke rumah. Gila apa sih? Ya aku pesenin OJOL saja sekalian, Iya kan, Lia?” ucap Arkan.
“Oh si Lily? Aneh dia, mungkin menyesal kali mutusin kamu,” ucapnya sambil mengerjakan tugas sekolahnya.
“Pastinya,” ucap Raffi.
“Hati-hati saja, kali aja dia akan menjebak kamu. Aku lihat sudah hampir seminggu dia ke sekolah naik OJOL atau kadang taksi, tidak sama pacarnya yang sok itu kata Tita,” ucap Thalia.
“Iya emang, ah...bodo amat, masa iya jam berapapun mau ketemu aku? Cewek gak waras ini, kalau waras jam 9 saja sudah di rumah. Maksimal jam 10 lah, masa iya jam berpapun,” ujar Arkan.
“Sudah jangan di urusin,” tutur Alina.
“Iya, kak,” jawab Arkan.
Arkan membaca lagi chat dari Lily. Dia membalas dengan mengirim foto Thalia yang sedang mengerjakan tugas, yang duduk di samping Alina.
“Maaf, sedang menemani tuan putriku yang masih belum mau pulang.” Arkan membalas seperti itu.
“Biarin saja, dia yang mulai ya aku gini,” gumam Arkan.
Arkan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia mengobrol dengan Raffi denagn sesekali melirik Thalia yang sedang serius mengerjakan tugasnya. Arkan mengurai senyumnya karena melihat wajah Thalia yang begitu lucu dan menggemaskan.
“Dia benar-benar cantik sekali, kamu akan jadi milikku Thalia. Tunggu aku, agar aku bisa meraih mimpiku, bekal untuk membahagiakanmu,” gumam Arkan.
Thalia menutup buku tugasnya. Dia sudah selesai mengerjakan tugasnya. Thalia kembali menata bukunya ke dalam tas. Arkan dari tadi terus mencuri pandang pada Thalia.
“Kan, kamu sudah dikerjakan tugasnya?” tanya Thalia.
“Sudah, tadi sebelum ke sini, aku kerjakan tugas dulu, sambil menunggu kang OB bersih-bersih bengkel,” jawab Arkan.
Arkan memang mengerjakan tugasnya seusai ia bekerja. Saat OB nya membersihkan bengkel, dia mengerjakan tugas sambil menunggu OB nya selesai bersih-bersih. Arkan memang menyuruh Doni dan Wahyu mencari OB untuk membantu membersihkan bengkel setelah para mekanik selesai bekerja.
Sekarang bengkel Arsyil sudah memiliki 10 mekanik andal yang tetap. Seoerti Doni dan Wahyu sekarang hanya mengurus managemen bengkel. Dan dirinya dengan Fajar, mekanik amatiran, hanya untuk belajar, tapi menurut Doni dan Wahyu kerja Arkan dan Fajar sudah bagus.
“Oh, kirain belum, kalau belum kerjain dulu,” ucap Thalia.
“Sudah, ayo kita pulang, ini sudah mau jam 9 lho,” ucap Arkan.
“Aku masih betah di sini.” Thalia dengan manja berkata seperti itu.
“Nanti weekend tidur di sini sama Tita, sekarang sudah malam, kamu pulang, nanti eyang khawatir,” ujar Alina.
“Kan tadi sudah video call sama eyang, Kak Alin juga tahu, kan?” jawabnya.
“Iya, tapi kasihan adikmu di rumah, kasihan eyang juga. Nanti pamit eyang lagi, weekend atau pas liburan kamu boleh menginap di sini,” ucap Alina.
“Ya sudah Lia pulang,” ucapnya dengan setengah berat.
Arkan dan Thalia pamit untuk pulang. Thalia sebenarnya sedikit kesal dengan Lily yang masih kepo dengan hidup Arkan. Namun, dia selalu menepiskan rasa kesalnya, karena dia selalu percaya kalau Arkan akan menjadi miliknya suatu saat nanti, tanpa harus mengikat hati, tanpa harus mengikat janji yang entah tidak pasti ujungnya.
__ADS_1
“Cinta tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Karena cinta akan lebih berarti jika diungkapkan dengan perbuatan dan perlakuan baik pada orang yang dicintainya,” gumam Thalia.
“Aku mencintai gadis ini, gadis yang bernama Thalia. Tapi, aku tidak akan mengumbar cintaku dulu pada Thalia. Karena aku yakin, Thalia pasti menjadi milikku,” gumam Arkan.