
"Kak, Farina kenal kakak?"tanya Annisa
"Farina. Iya, dia kenal kakak, dia mahasiswa kakak dulu, dia dulu sering sekali mengirim surat untuk kakak. Dia wanita agresif, dan posesif, apa yang dia inginkan pasti harus ia dapatkan. Kamu tau, nisa, kakak takut, takut dia menyakiti kamu, apalagi medenar cerita mu tadi,"ucap Arsyad.
"Tapi kakak tidak akan membiarkan wanita itu menyakitimu,"imbuh Arsyad.
"Benar kata kakak, dia sepertinya belum bisa terima dengan kematian Andra juga,"ucap Annisa
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan, sayang. Kita hadapi bersama, jika dia mengusik kebahagiaan kita,"ucap Arsyad.
"Kak, jangan pernah meninggalkan Annisa, Annisa sayang kakak." Annisa memeluk erat suaminya. Rasanya nyaman sekali memeluk Arsyad, hingga beban yang ada di pikirannya sedikit demi sedikit menghilang.
"Kakak janji, akan selalu berada di sampingmu, hingga Allah yang memisahkan kita." Arsyad mencium kening Annisa agak lama.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka. Arsyad membukakan pintu kamarnya, terlihat seorang pelayan membawakan apa yang Arsyad pesan. Arsyad mengambil alih nampan yang ada di tangan pelayan tersebut dan membawa masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa kak?"tanya Annisa.
"Mba-mba pelayan, ini bawakan pesanan kakak tadi,"ucap Arsyad.
Arsyad melihat masih ada kecemasan pada wajah Annisa. Dia memeluk istrinya dari belakang yang sedang bercermin dan menyisir rambutnya. Arsyad menenggelamkan wajahnya di tengkuk Annisa, dia menikmati aroma tubuh Annisa yang menjadi candu baginya.
"Kakak, geli ih,"ucap Annisa sambil sedikit menggeliat.
"Sebentar, kakak ingin seperti ini, Annisa,"ucap Arsyad.
Setelah puas bermain di tengkuk Annisa, Arsyad membalikan tubuh istrinya dan menatap wajahnya dengan lekat. Nampak raut kecemasan masih saja hinggap di wajah Annisa. Arsyad mencium bibir Annisa dengan lembut. Annisa menikmatinya dan memejamkan matanya.
"Jangan pernah takut, kamu wanita yang sangat kuat, wanita yang hebat, ada kakak di sini, yang akan selalu menjagamu," ucap Arsyad sambil menatap wajah Annisa dengan dalam.
Annisa hanya menganggukkan kepala, matanya berkaca-kaca, dai masih merasakan takut dengan kehadiran Farina kembali. Dia takut Farina akan menyakiti dirinya atau suaminya.
"Kak, kenapa ujian rumah tangga kita banyak sekali, sepertinya aku baru saja mendapat kebahagiaan, dan hari ini, hari ini aku merasa takut, aku takut akan terjadi apa-apa dengan ruamh tangga kita,"ucap Annisa.
"Annisa, Allah memberikan ujian pada kita sesuai dengan kemampuan kita, jika dengan hadirnya Farina adalah ujian untuk kita, kita hadapi bersama, pasti kita bisa. Kamu tau, ada yang lebih aku takutkan di banding Farina,"tutur Arsyad.
"Apa kak?"tanya Annisa
"Leon, dua hari lagi dia akan datang ke Indonesia, kan?"ucap Arsyad.
"Kenapa kakak takut dengan Leon?"tanya Annisa lagi.
"Karena dia sepertinya masih mencintaimu,"jawab Arsyad sambil memeluk tubuh Annisa erat. Annisa terkekeh di pelukan suaminya, dia melepaskan pelukan Arsyad dan mengusap pipi suaminya lalu mencium bibir Arsyad.
"Kakak cemburu, Leon mau datang?"tanya Annisa dengan tersenyum.
"Aku takut saja, dia mau ambil kamu dari sisi kakak,"ucapnya.
"Kakak, masa iya dia mau ambil istri orang." Annisa semakin terkekeh melihat wajah suaminya yang lucu dan menggemaskan saat cemburu melandanya.
"Seharusnya aku yang takut, kakak masih akan mengurusi Lintang dan satu lagi Farina,"ucap Annisa.
"Kamu gak usah takut, mereka tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kamu, kalau kakak mau, sudah dari dulu kakak dengan Farina, dan sudah dari dulu kakak dengan Lintang. Menghapus cinta kamu itu sulit, Annisa. Dan menumbuhkan cinta untukmu lagi setelah aku mencintai Almira sungguh sangat susah, untuk apa ada wanita lagi, Annisa." Arsyad mengusap lembut pipi Annisa dan mencium bibirnya.
"Kakak….." Annisa memeluk erat Arsyad.
Dengan nakal tangan Arsyad membuka resleting baju Annisa yang ada di belakang.
"Kakak, nakal ih…,"ucap Annisa sambil memukul lirih dada Arsyad.
"Nakal juga kamu senang, kan?" Arsyad mulai menggoda istrinya. Annisa juga tak kalah nakalnya, dia bermain kancing baju Arsyad, dan lama kelamaan dia membuka kancing baju suamiya.
"Nah kamu juga nakal,"ucap Arsyad sambil meraih wajah Annisa dan mencium habis bibir Annisa.
Annisa menikmati ciuman Arsyad, hingga lidah mereka beradu, Annisa sedikit menggigit bibir Arsyad hingga Arsyad semakin gemas dan memanas. Tangan Arsyad tak berhenti bermain di tempat kesukaannya. Hingga penutup dada Annisa lepas dan di buang Arsyad ke sembarang tempat.
"Kakak…."leguh Annisa saat jari Arsyad dengan lincah bermain sesuatu yang membuat Annisa di mabuk kepayang.
Arsyad menurunkan ciumannya hingga ke leher dan menurunkan lagi ke bagian yang di sukainya yang tadi jari jemarinya bermain dengan lincah di sana.
"Kakak….jangan di gigit." Annisa sedikit terjingkat saat Arsyad menggigit lembut sesuatu yang ia sukai.
"Annisa, aku gemas sekali, sayang,"ucapnya dengan napas yang naik turun.
Arsyad masih belum puas bermain di bagian yang ia sukai, dia merebahkan istrinya dan menindih tubuh istrinya. Mereka bersama-sama menanggalkan pakaiannya masing-masing. Mereka bermain hingga hawa dingin dalam kamar berubah menjadi hawa panas. Arsyad menikmati setiap inci tubuh Annisa. Napas mereka beradu hingga menghasilkan irama yang menambah gairah bagi mereka. Suara serutan tempat tidur semakin keras, karena Arsyad dengan semangat mempercepat gerakannya.
"Kakak……" pekik Annisa dengan menikmati apa yang suaminya lakukan di atasnya.
"Iya, sayang….hmmm…,"ucap Arsyad lirih di telinga Annisa.
"Kak, Annisa mau keluar lagi,"lirih Annisa dengan manja.
Arsyad menghentikan sejenak permainannya dan mencium bibir Annisa dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, kita keluarkan bersama, sayang,"ucap Arsyad lembut.
Mereka melanjutkannya lagi, hingga berkali-kali Annisa melakukan pelepasan, begitu juga Arsyad. Arsyad merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memeluknya. Annisa bermain di dada suaminya dengan manja.
"Kak,"panggil Annisa manja.
"Apa sayang, mau lagi?"tanya Arsyad.
"Nanti, Annisa lelah kak, kakak on terus sekarang,"ucap Annisa
"Kamu suka, kan?"tanya Arsyad.
"Suka sekali,"jawabnya dengan senyum yang nakal.
"Aku kangen anak-anak, besok pulang, ya?"pinta Annisa.
"Hmmm…yakin?"tanya Arsyad.
"Iya, kan bisa kayak gini di rumah setiap hari, kak,"ucap Annisa.
"Nanti kalau zombie datang lagi?"tanya Arsyad dengan tangannya yang mulai nakal lagi, menyentuh bagian sensitif Annisa
"Hmm….kakak, tangannya." Annisa menikmati lagi apa yang sedang Arsyad sentuh.
"Kalau zombie datang kita bisa melakukan di kamar lain, Raffi di tinggal sebentar dulu,"ucap Annisa.
"Kakak gak bisa bermain sebentar, sayang. Lihatlah, ini kakak sudah menginginkan lagi,"ucap Arsyad sambil menahan rasa inginnya lagi. Annisa tau apa yang harus ia lakukan saat suaminya sudah seperti itu.
Mereka bermain lagi, hingga siang hari. Annisa dengan agresif memulai bermain dulu, saat Arsyad sudah menginginkannya kembali.
"Kamu selalu membuatku ingin lagi dan lagi, Annisa," erang Arsyad sambil menikmati permainan istrinya
"Hmmm…kakak juga, Annisa mau sampai lagi kakak,"ucapnya sambil berada di atas pangkuan suaminya.
"Lapesakan, sayang." Arsyad mencium lembut bibir Annisa dengan menikmati setiap gerakan tubuh istrinya.
Mereka kembali mencapai puncaknya hingga berkali-kali. Annisa memeluk suaminya erat, menikmati denyutan di samping pangkal pahanya.
"Perih tidak?"tanya Arsyad.
"Sedikit,"jawab Annisa manja.
"Sudah? Apa mau lagi?"tanya Annisa.
"Bener ya istirahat, jangan nakal lagi tangannya,"ucap Annisa.
"Iya, sayang,"ucap Arsyad.
Arsyad menggedong Annisa di depan dan membawa ke kamar mandi. Mereka mandi bersama, dan setelah itu, mereka mengambil air wudhu lalu melakukan sholat dhuhur.
^^^^^^
Annisa dan Arsyad duduk bersantai di ruang tengah setelah makan siang. Pak Rahman menemui Arsyad yang kala itu sedang duduk bersantai bersama istrinya.
"Mas, Arsyad, bisa minta waktunya sebentar, saya ingin bicara," ucap Pak Rahman.
"Ah, iya pak, silakan duduk." Arsyad mempersilahkan Pak Rahman duduk di depannya.
"Gini, mas. Tadi kata penjaga vila yang di luar ada seseorang perempuan yang mengenali Mba Annisa, dan dia ingin menyewa kamar di sini,"ucap Pak Rahman.
"Lalu?"tanya Arsyad.
"Penjaga Vila di luar bilang bahwa vila ini masih di pakai pemiliknya, dan Mba Annisa adalah istri dari pemilik vila ini,"jawab Pak Rahman.
"Pak, saya mohon dengan sangat, jaga Vila ini, jangan biarkan perempuan itu mengintai atau mendatangi Vila ini, jika dia masih terlihat di sekitar vila ini, tolong bertahu dia, bahwa Annisa sudah pulang ke Berlin bersama suaminya,"ucap Arsyad.
"Baik, saya akan bicara dengan penjaga Vila lainnya dan para pelayan di sini,"ucap Pak Rahman.
"Saya mohon, Pak Rahman, dia bukan wanita baik-baik, saya takut kalau dia akan menyakiti Annisa,"ucap Arsyad.
"Iya, saya akan laksanakan segera, Mas." Pak Rahman pergi keluar menemui penjaga vila lainnya.
Annisa terdiam, membayangkan bagaimana nanti kalau Farina benar-benar mengusik kehidupannya lagi seperti dulu. Arsyad melihat istrinya yang terlihat cemas sekali. Dia menggengg tangan Annisa dan menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, sayang. Sudah jangan pikirkan itu,"ucap Arsyad menenangkan istrinya.
"Kak, pulang, aku takut,"ucap Annisa sambil terisak.
"Iya, besok pagi-pagi kita pulang. Nanti kita bicara dengan semua penjaga vila di sini, jika sudah aman, kita pulang,"ucap Arsyad.
Arsyad mengeratkan pelukannya pada Annisa. Annisa takut jika nanti Farin macam-macam dengannya lagi, sepwrtunduku saat dia bersama dengan Andra. Arsyad memanggil semua penjaga vila dan pelayan, dia mengumpulkan semua penjaga dan pelayan vila di ruang tengah. Arsyad ingin semua berjaga-jaga, kalau saja Farina muncul di sekitar Vila.
"Maaf saya menyita waktu kalian, Pak Rahman bilang, tadi ada salah seorang penjaga yang bertemu wanita, dan wanita itu mengenali Annisa,"ucap Arsyad.
__ADS_1
"Iya, saya, pak. Saya tadi yang menemuinya. Wanita itu ingin menyewa kamar di vila ini, tapi saya bilang sedang di pakai oleh pemilik Vila, lalu dia seakan tak terima dan ingin menyewa vila Pak Rico di seblah sana,"ucap salah seorang penjaga yang tadi bertemu dengan Farina.
"Oh ya, bapak namanya siapa?"tanya Arsyad.
"Robert, pak nama saya,"jawab Robert.
"Oke, saya minta tolong sekali, pada kalian, jika wanita itu ke sini lagi, menanyakan kami, bilang saja kami sudah pulang, dan berangkat ke Berlin,"ucap Arsyad.
"Wanita itu bernama Farina, jadi Pak Robert yang baru saja mengenali Farina, tolong untuk tetap menjaga di luar. Karena saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri saya. Atau kalian pantau keadaan, kami akan pulang segera jika sudah aman,"ucap Arsyad.
"Siap, pak! Saya akan menyelidikinya lebih lanjut,"ucap Robert.
Mereka membubarkan diri, dan menjalan tugas sesuai apa yang di perintahkan Arsyad. Baru kali ini Arsyad merasa dirinya sangat terancam karena wanita yang menurutnya sudah hilang akal dan kendali.
"Kak, gimana? Kita besok pulang, kan?"tanya Annisa.
"Iya, sayang. Kita besok pulang, jangan takut lagi, ada kakak. Semua sudah kakak kerahkan untuk menjaga Vila ini,"ucap Arsyad.
"Dia perempuan gila, kak. Dia seperti psikopat. Dulu, dia tak hanya mengurungku saja di gudang, dia juga hampir menyayat lengan Annisa, beruntung Annisa menangkis pisau lipat yang Farina pegang, Annisa takut, kak. Annisa takut sekali." Annisa memeluk Arsyad dengan tubuh yang gemetar karena mengingat kejadian dulu.
"Dan setelah Andra meninggal, dia di kabarkan depresi, hingga dia bolak balik ke psikolog, dan setelah itu, Annisa tak tau kabarnya. Karena setelah semester 3 Annisa kuliah sore untuk menghindari Farina,"ungkap Annisa.
"Kenapa kamu tidak pindah kuliah?"tanya Arsyad.
"Annisa sudah nyaman dengan suasana kampus, kak. Dan beruntung Annisa memiliki dua sahabat yang sangat baik dan selalu menjaga Annisa,"jawab Annisa.
"Iya, kalau kamu pindah juga, aku tak akan bertemu dengan wanita secantik kamu, Nis,"ucap Arsyad.
"Sudah, jangan takut, semua akan baik-baik saja, kita ke kamar saja ya,"ajak Arsyad.
"Iya, Annisa ngantuk, kak," ucap Annisa manja.
"Ya sudah, ayo tidur siang. Kakak harap kamu jangan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, semua akan baik-baik saja, oke." Arsyad kembali memeluk Annisa dengan erat dan menghujani wajahnya dengan kecupan lembutnya.
Annisa dan Arsyad kembali masuk ke kamar, Annisa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat luas itu. Arsyad masih saja berdiri di depan pintu kamar belakang, serealh selesai menutup pintu. Dia masih memikirkan Annisa yang begitu ketakutan dengan Farina. Arsyad tak menyangka Farina seperti itu. Ya, Arsyad juga merasa Farina memang sedikit ada kelainan pada psikologisnya. Caranya dulu mendekati Arsyad juga tak wajar sekali.
Arsyad ingat saat dulu setelah melakukan bimbingan pada Farina. Lalu Farina dengan berani duduk di pangkuan Arsyad dan membuka kancing kemejanya agar Arsyad melihat bagian dadanya. Beruntung saat itu Arsyad langsung tersikap dan sedikit melempar tubuh Farina hingga jatuh. Farina selalu mengancam Arsyad kalau tak mambalas cintanya dia akan bunuh diri di depannya. Untung saja itu adalah bimbingan terakhir Farina, dan setelah itu, Arsyad memilih cuti selama beberapa bulan hingga Farina wisuda.
"Kenapa perempuan gila itu datang lagi, Ya Allah cobaan apa lagi ini? Annisa selalu cemas dan ketakutan sekali memikirkan ini,"gumam Arsyad sambil menutup tirai jendela.
"Kak," panggil Annisa.
"Iya, sayang, sebentar kakak tutup tirainya dulu,"jawab Arsyad.
Arsyad berjalan ke arah tempat tidur, dia merangkak naik ke atas taot tidur dan merebahkan dirinya di samping Annisa. Arsyad memiringkan tubuhnya menghadap Annisa dan membelai kepala Annisa dengan lembut.
"Kok belum tidur?"tanya Arsyad.
"Gak bisa tidur, belum di peluk kakak," ucap Annisa manja sambil menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.
"Sini kakak peluk, tidurlah. Sudah jangan berpikir yang macam-macam. Kakak akan berbicara dengan papah, biar pihak kepolisian yang mengurusnya, karena Farina bukan wanita baik-baik, dia terlalu membahayakan,"ucap Arsyad.
"Kamu yakin, akan mengerahkan pihak kepolisian?"tanya Annisa.
"Iya, jika tindakan Farina sudah melampaui batas,"ucap Arsyad.
"Sudah tidur, jangan memikirkan ini, kakak juga ngantuk sekali, sayang." Arsyad memeluk erat istrinya.
Annisa sangat nyaman berada di pelukan suaminya. Sejenak kemelut yang ada di pikirannya karena Farina hilang, karena merasa aman dan nyaman di pelukan Arsyad.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
mohon maaf baru up, ya. sekali-kali author jalan-jalan. hehehehe... maaf author kasih sedikit konflik hubungan Annisa dengan Arsyad. Jangan pada mewek ya, kalau konflik sudha datang..😁🙏
ya sudah, jangan lupa Like dan Vote nya ya, budayakan Like sebelum/sesudah membaca.
terima kasih🙏😁
__ADS_1