THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 23 "Surat Cinta" The Best Brother


__ADS_3

"Aku tidak bisa, sungguh aku tidak bisa jika Dio buru-buru melamar ku. Tapi, aku tidak bisa menolaknya. Aku mau, menikah dengannya, dan aku sungguh tidak bisa mengatakan kata tidak saat di depannya, aku harus bagaimana? Apa aku terima saja lamaran Dio besok malam?" Rania semakin bingung dengan keadaan ini. Dia mondar-mandir di kamarnya memikirkan besok malam Dio akan melamarnya.


"Bodohnya kamu, Rania. Dulu kamu bilang dengan ayahmu untuk di jodohkan dengan Dio. Dan, sekarang, Dio benar-benar akan melamar mu, Rania. Dia akan melamar mu. Harusnya kamu bahagia, bukan bingung seperti ini, dan ketakutan seperti ini," ucap Rania dengan lirih.


Rania mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerjanya. Dia membuka kotak berwarna merah tempat untuk menyimpan surat dari Dio. Rania memang gadis cantik sewaktu SMP. Dia menjadi idola di sekolahannya. Apalagi dia siswi yang terbilang pandai di sekolahannya. Banyak teman laki-laki nya yang mengirim surat pada dia. Banyak pula yang terang-terangan menyatakan cinta pada Rania di depan semua teman-temannya. Tapi, tidak ada satu pun teman laki-lakinya yang ia suka selain Dio.


Rania juga tidak pernah membalas surat-surat dari teman laki-lakinya, kecuali surat Dio. Dia hanya membalas surat-surat dari Dio. Rania sering sekali berkirim surat dengan Dio, bahkan hampir setiap hari mereka berkirim surat, walaupun dia satu kelas. Rania membuka surat pertama dari Dio. Dia tersenyum membaca surat pertama yang di tulis Dio untuknya.


Dear Rania.


Mungkin ini pertama kalinya aku mengirim surat untuk teman cewek. Iya, kamu yang pertama, cewek yang aku kirimkan surat.


Rania, sejak pertama aku melihat kamu, aku kagum dengan sifat kamu yang tidak di miliki oleh cewek pada umumnya. Ya, kamu adalah siswa yang peduli, siswa yang cerdas, pandai, dan satu lagi, aku suka melihat mata indah mu. Maaf, bukan aku gombal, tapi itu kenyataan, Ran.


Rania, terima kasih kamu sudah mau menjadi temanku, menjadi partner belajarku yang baik. Kamu beda Ran dengan cewek-cewek lainnya yang selalu tebar pesona ke sana ke mari untuk mendapat perhatian dari cowok. Dan, itu yang membuat aku kagum dengan kamu, Ran.


Ah, sudahlah. Aku tidak tahu harus nulis apa lagi. Aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Aku senang menjadi teman kamu. Dan, aku sangat mengagumimu, Rania. Sampai jumpa besok di kelas.


Dio.


Dio memang selalu mengirim surat pada Rania, saat pulang sekolah. Dia tidak menaruh di tas Rania atau di laci meja Rania dengan diam-diam. Dia memberikannya langsung pada Rania. Walaupun mereka sudah memiliki ponsel, mereka lebih suka berbalas surat. Mereka takut kalau mengirim chat lewat ponsel akan ketahuan orang tua mereka, karena ponselnya sering di teliti orang tua mereka.


Rania senyum-senyum sendiri membaca surat itu. Ya, surat pertama yang lucu dari Dio. Hanya untuk mengatakan kagum dengan dirinya. Dio dulu memang begitu humoris di kelasnya. Hingga Rania sering sekali di landa rasa cemburu saat Dio di dekati teman cewek yang lainnya. Tapi, Dio selalu tau, kalau Rania cemburu, pasti akan marah-marah tidak jelas dengan Dio kala itu.


"Mana sifat humoris mu yang dulu, Dio? Yang membuat aku jatuh cinta hingga sekarang, dan tidak bisa melupakannya. Apa kamu masih memiliki rasa kagum dan cinta padaku? Seperti yang kamu tuliskan dalam surat-suratmu ini? Tapi, aku rasa kamu sudah tidak mencintaiku, Dio. Jujur aku begitu lemah, saat mengingat ini semua. Hingga aku tidak bisa mencintai pria lain selain dirimu." Rania masih bergumam sambil membaca surat-surat Dio dulu.


Hampir 1 tahun, Rania selalu berkirim surat dengan Dio. Hingga surat terakhir dari Rania tak di balas oleh Dio. Sampai sekarang Rania tidak tahu, kenapa Dio tidak membalas suratnya dan dia semakin menjauh dari Rania. Setelah mengirim surat terakhir untuk Rania. Dan isi surat itu, ungkapan cinta dari Dio pada Rania. Betapa bahagianya waktu itu. Dio menyatakan cintanya pada Rania, dan Rania membalasnya. Namun, setelah itu Dio semakin menjauh. Rania tidak tahu kenapa Dio menjauh darinya. Yang ia tahu, karena saat itu Dio sedang ada masalah dengan keluarganya, dan Rania memahami itu.


Rania membaca kembali surat terakhir dari Dio. Di mana Dio mengungkapkan cintanya pada Rania kala itu.


Kepada yang ku kagumi,


Rania Pratiwi


Entah luapan rasa apa yang harus kutulis di secarik kertas ini.


Diriku tak bisa menuangkannya walaupun hanya setetes rasa hati. Tiada yang bisa mewakili diri yang sedang gundah dengan rasa ini. Entah rasa apa yang sedang menyelimuti hati ini, Rania.


Jujur, saat aku pertama melihatmu, aku tertarik dan terpesona denganmu. Kulihat pandangan pertama betapa indah dirimu dan cantik rupamu. Semua perasaan dihati ini terjadi karena begitu indahnya kau di mataku. Dan mata itu, yang selalu menumbuhkan rasa tentram di hatiku. Iya, mata kamu yang indah itu, Rania. Tapi, entahlah tiba-tiba muncul dihatiku apakah pantas aku mengagumimu? Dan apa perasaan ini di sebut cinta? Ah, aku tidak tahu. Ini terlalu dini aku mengenal cinta dan menyatakan cinta, Rania. Dan, ini yang pertama bagiku, aku mengenal cinta.


Kau bagaikan bidadari jelita dengan lirik mata yang penuh arti,


Sedangkan aku hanya laki-laki biasa yang hanya mampu tuk mengagumimu. Tapi, saat ini kuberanikan diri tuk meluapkan isi hati ini.


Aku nyatakan bahwa aku mencintaimu, Rania. Dan, terserah apa katamu, yang pasti aku menyayangimu, mencintaimu, dan mengagumimu.


Kuharap kau membalas sepucuk suratku ini dengan berita yang menyejukan hati. Dan, dapat menjawab semua gelisah hati selama ini. Aku tunggu jawabanmu, Rania.


Yang selalu mengagumimu,


Dio Alfarizi


Rania meneteskan air matanya membaca surat itu. Surat terakhir dari Dio, karena setelah Rania membalas surat itu, Dio tidak lagi mengirim surat untuk dirinya. Dan, besok malam, orang yang sangat ia cintai itu, akan melamar dirinya. Tapi, Rania tau, Dio sudah tidak mencintainya lagi.


"Sebenarnya siapa seseorang yang ada di hatimu saat ini Dio? Aku atau ada wanita lain? Jika wanita lain yang ada di hatimu, lantas untuk apa kamu melamar ku dan menikahi ku? Apa karena kamu tidak enak hati dengan bunda, Abah, ayah, dan ibu? Kalau karena itu, tolong jangan paksakan dirimu, jika kamu mencintai wanita lain, nikahilah wanita mu, bukan aku, Dio." Rania berkata lirih dan terisak. Dia melipat surat Dio lagi dan memasukan ke kotaknya lagi.


Suara ketukan pintu terdengar di pintu kamar Rania. Reno masuk ke dalam kamar putri kesayangannya itu. Reno tahu anaknya sedang gundah hatinya saat ini. Reno mendekati Rania dan duduk di samping Rania.


"Ayah, apa Dio benar-benar mencintaiku? Kenapa dia tiba-tiba menerima perjodohan ini? Bukankah dia memiliki wanita lain?" tanya Rania pada Reno.


"Nak, kalau dia memiliki wanita lain, mana mungkin dia menerima perjodohan ini? Ayah lihat, Dio sungguh-sungguh mencintaimu, Nak. Ayah lihat ketulusannya saat kemarin dia meminta kamu pada ayah. Ayah yakin, dia mencintaimu, seperti yang ia tuliskan di surat yang ada di kotak ini," jawab Reno.


"Jadi ayah, membaca semua?"tanya Rania.

__ADS_1


"Ya, ayah membaca semua surat cinta dari Dio untuk kamu, dan sepertinya kamu juga mencintai Dio. Karena ayah melihat kamu tidak pernah memiliki kekasih. Ya, walaupun Evan berulang kali meminta kamu pada ayah, tapi ayah tahu kamu tidak mencintainya," jawab Reno.


"Ayah sok tahu," ucap Rania.


"Bukannya ayah sok tahu, sayang. Karena kita orang tua kamu, jadi tahu apa yang kamu suka, dan apa yang membuat kamu nyaman. Ibu tahu, kamu mencintai Dio, sudah jangan mengelak." Ana tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rania, dia berdiri di antara Reno dan Rania.


"Ibu, ayah, Rania tidak yakin. Dio berbeda dengan dulu. Dio sekarang bukan Dio yang dulu mencintai Rania. Rania yakin, Dio tidak mencintai Rania lagi, ayah, ibu," ucap Rania.


"Lalu apa gunanya dia meminta kamu dari ayah, kalau dia tidak cinta? Itu mustahil, Nak. Kalau tidak mencintai, dia menolak dari dulu. Buktinya dia meminta kamu pada ayah secara terang-terangan. Kalau tidak cinta, tidak seperti ini, nak," jelas Reno.


"Iya, ayah. Tapi ini beda," ucap Rania.


"Beda apanya? Mungkin kamu saja yang merasakan beda, karena sudah lama tidak bertemu, sudah jarang mengobrol, kamu punya dunia kamu sendiri sekarang, Dio pun seperti itu," jelas Ana.


"Ya, mungkin juga, ibu. Tapi, entahlah. Aku menuruti apa kata ayah dan ibu, kalau Dio yang terbaik untuk Rania, ya sudah. Rania akan memantapkan hati ini, untuk menerima Dio," ucap Rania.


"Gitu dong, masa sudah beli cincin tidak jadi, dan di tolak Dio nya?" ucap Reno.


"Ih, kok ayah tahu? Rania tadi di ajak Dio beli cincin?" tanya Rania.


"Iya, Dio yang bilang pada ayah," jawab Reno.


"Oh … dia bilang?"


"Iya, sayang. Sudah kamu istirahat, besok kamu tidak usah ke kantor, ibu mau ajak kamu ke butik Najwa. Memilih gaun untuk kamu, bersama bunda dan Dio juga," ucap Ana.


"Ayah tidak di ajak?" tanya Reno.


"Tidak usah," jawab Ana.


"Oke, tidak apa-apa. Sudah putri ayah yang cantik, yang sebentar lagi mau menikah, tidurlah. Apa mau ayah bacakan dongeng? Sebelum kamu menjadi wanita Dio seutuhnya?" ucap Reno.


"Ayah, masa di bacain dongeng? Ngarang. Ini Rania mau istirahat. Ayah dan ibu juga istirahat," ucap Rania.


"Mimpi indah juga, ayah. Selamat malam," ucap Rania.


Reno dan Ana keluar dari kamar Rania. Rania masuk ke kamar mandinya, dia mencuci mukanya sebelum tidur. Setelah dari kamar mandi, dia merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia kembali memikirkan Dio yang terus saja mengganggu seisi otaknya.


"Bertahun-tahun Dio, aku mencoba melupakanmu, tapi itu susah sekali. Dan sekarang, kamu akan menikahi aku? Tapi, aku tidak tahu, apakah kamu masih mencintaiku seperti dulu, Dio?" gumam Rania.


Rania mencoba memejamkan matanya, dan melupakan tentang Dio yang masih mencintainya atau tidak.


^^^^


Annisa duduk bersama Dio di teras belakang dekat kolam renang. Annisa tahu, Dio terpaksa dengan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, Dio sudah memutuskan akan melamar Rania besok malam. Bahkan dia sudah menyiapkan segala keperluannya, termasuk besok memilih gaun di butik Najwa.


"Dio, bunda tanya sekali lagi pada kamu, Nak. Apa kamu terpaksa melakukan ini semua?" tanya Annisa.


"Bunda, Dio tidak terpaksa, Dio benar-benar ingin menikahi Rania. Dan, bukankan ini sudah di bicarakan bunda dan Abah jauh-jauh hari, bahkan saat Dio masih SMA kalian sudah semangat menjodohkan kami," jawab Dio.


"Iya, memang seperti itu. Tapi, kamu tidak mencintai Rania, kan? Apa kamu tidak mencoba mencari wanita lain, dan memantapkan mencintai wanita lain saja, nak?" Annisa menyarankan seperti itu pada Dio.


"Bunda, aku mengenal wanita, yang pertama aku kenakan adalah bunda, yang kedua, Rania, dan terakhir Najwa. Iya, saat ini aku masih sangat mencintai Kak Najwa. Tapi, itu tidak mungkin bunda. Dan, Rania, dulu memang Dio sempat kagum padanya, tapi setelah itu … ah … sudah jangan bahas yang dulu, bunda. Intinya Dio tidak terpaksa melamar Rania. Dan, Dio akan mencoba mencintai Rania lagi," ujar Dio.


"Nak, cinta bukan permainan, dan pernikahan itu hal yang sakral. Jangan menikah karena terpaksa, Dio. Bunda ingin kamu bahagia," tutur Annisa.


"Jujur, bahagia Dio adalah Najwa, Bunda. Tapi, keadaan yang tidak bisa menyatukan kita. Dia Kekasihku yang Haram untuk kunikahi. Dan, jika aku tidak menikah dengan Rania, sampai kapan aku akan sendiri? Toh, aku sampai kapanpun tidak bisa menikahi Najwa," ujar Dio.


"Iya, bunda tahu itu. Tapi, apa kamu tidak mau mencoba mencari selain Rania?"tanya Annisa.


"Aku mencarinya yang di restui bunda dan abah. Om Reno dan dan Tante Ana juga setuju, kan? Lalu kenapa aku harus susah-susah cari yang lain, Bunda? Toh, kalian semua menyetujuinya, dan menjodohkan kami," jawab Dio.


"Tapi, baru kemarin kamu memutuskan hubungan mu dengan Najwa, apa itu tidak terlalu cepat, Nak? Kamu jangan egois, jangan tutupi juga perasaanmu, kalau belum siap, jangan di paksa," tutur Annisa.

__ADS_1


"Mau menikah dengan Rania atau tidak dengan Rania, itu pasti akan menyakiti hati Najwa, Bunda. Dan, aku tidak mau menundanya. Untuk apa menunda, kalau tetap saja sakit, dan tidak bisa memiliki Najwa, bunda," ucap Dio.


"Dio, maafkan Abah, Nak," ucap Arsyad tiba-tiba muncul di belakang Dio dan Annisa yang sedang mengobrol.


"Abah, jangan seperti itu, ini karena keadaan. Sudah abah jangan merasa bersalah, ini semua sudah jalannya," ucap Dio.


"Kamu yakin akan menikah dengan Rania?" tanya Arsyad.


"Iya, Abah," jawab Dio dengan tegas.


"Lalu perasaanmu?" tanya Arsyad.


"Semua itu akan bejalan seiring dengan waktu, Abah," jawab Dio.


"Ya, sudah kalau itu sudah keputusan kamu, mau bagaimana lagi," ucap Dio.


"Iya, Abah. Kalau pun tidak dengan Rania, aku juga tidak bisa bersama Najwa, kan?" tanya Dio.


"Ya, seperti itu. Maafkan abah. Andaikan Abah memberitahu kamu dari dulu, tidak akan seperti ini kejadiannya, Dio," ucap Arsyad..


"Sudah Abah, jangan bicara seperti itu lagi," ucap Dio.


"Oh, iya Dio. Apa besok kamu akan mengajak Tante Ana ke butik untuk memilih gaun untuk Rania?" tanya Annisa.


"Iya, aku juga sudah bilang Najwa juga, bunda," jawab Dio.


"Oh, ya sudah. Lalu Najwa bagaimana?" tanya Annisa.


"Ya seperti itu, dia juga akan menunjukan desain gaun pernikahan terbaru katanya," jawab Dio.


Mereka bertiga melanjutkan mengobrol nya. Dan, saat mereka mengobrol Najwa datang karena mencari abahnya.


"Abah, aku cariin di sini," ucap Najwa dengan manja.


"Ada apa mencari, Abah?" tanya Arsyad.


"Besok antar Najwa ke Bandara, Abah," jawab Najwa.


"Untuk?" tanya Arsyad.


"Habibi minta aku datang ke sana, untuk melepas dia berangkat ke Budapest," jawab Najwa.


"Baiklah, besok Abah antar," ucap Arsyad.


"Bunda gak di ajak, nih?"tanya Annisa.


"Ya bunda ikut saja, nanti setelah dari Bandara langsung ke butik, jadi kan milih gaun buat Rania?" tanya Najwa.


"Oke, bunda ikut," jawab Annisa.


"Aku tidak di ajak, nih?" ucap Raffi yang sudah berada di belakang Najwa.


"Kalau mau ikut, ikut saja, Raf. Sebenarnya, aku sih males mau ke sana. Berhubung dia memaksa, ya sudah jadi aku mau," ucap Najwa.


"Aku sendiri ni, yang tidak di ajak?" Dio tiba-tiba bersuara dan ingin ikut juga.


"Emm ... boleh kalau kamu mau ikut sekalian," ucap Najwa.


"Oke, berarti besok ikut semua ini?" tanya Arsyad.


"Ya kalau kalian mau," jawab Arsyad.


Mereka berkumpul bersama di teras belakang hingga larut malam. Najwa sebenarnya sesak sekali dadanya. Mendengar Dio akan memilih baju pengantin untuk Rania. Tapi, apalah daya, dirinya dengan Dio tidak bisa bersatu.

__ADS_1


__ADS_2