
"Apa ini sudah nasibku? Harus melihat orang yang aku cintai melamar perempuan lain, yaitu sahabatku sendiri?" gumam Najwa sambil bergelayut manja di bahu abahnya.
Najwa menyandarkan dirinya di bahu abahnya. Mereka ada di dalam mobil dan sedang menuju ke rumah Rania. Najwa memilih duduk bersama abahnya di belakang. Dengan menahan sesak di dadanya dia berusaha tenang menghadapi semua ini.
Semenjak Dio berencana melamar Rania, semenjak itu juga Najwa semakin dekat dengan Abah dan opanya. Dua laki-laki yang dari dulu selalu menyayanginya. Yang selalu mengerti akan dirinya.
Mobil mereka sudah sampai di depan Rumah mewah Reno. Mereka semua turun dan di sambut dengan hangat oleh Reno dan Ana. Mereka masuk ke dalam rumah Reno. Ana memanggil Rania yang sedang merias diri di kamarnya.
Rania terlihat sedang memakai jilbabnya di depan cermin. Dia terlihat begitu anggun dan cantik memakai gaun dari butik Najwa. Yang sebenarnya gaun itu adalah milik Najwa.
"Kamu sudah siap, Nak?" tanya Ana di balik pintu kamar Rania.
"Emm … sudah, Bu," jawab Rania.
"Ibu, apa keluarga Dio sudah datang?" tanya Rania.
"Sudah, ayo keluar," jawab Ana seraya mengajak Rania keluar dari kamarnya.
"Bunda, apa Dio mencintaiku? Apa benar Dio menginginkan semua ini?" tanya Rania lagi pada Ana.
"Nak, cinta itu tidak butuh alasan, apa dulu ayahmu mencintai ibu? Tidak, Rania. Ayahmu sama sekali tidak mencintai ibu, dan kita menikah karena di jodohkan juga. Berbeda dengan kamu, Dio dan kamu mengenal lebih dulu, sering surat menyurat, dan sering bersama. Sedangkan ibu dengan ayahmu, 1 kali bertemu, 3 hari setelahnya ayah melamar ibu, dan 1 minggu setelah melamar, menikah. Namun, seiring berjalannya waktu, kami saling mengerti, saling membutuhkan, dan akhirnya kami bisa saling mencintai," tutur Ana.
"Tapi ini beda, ibu. Dulu mungkin Dio mencintai Rania, tapi Rania masih sedikit janggal, dengan perubahan sikap Dio, yang dingin, dan sekarang dia mau di jodohkan dengan Rania. Padahal, Rania tahu Dio sekarang tidak suka Rania," ujar Rania.
"Jangan seperti itu, mungkin Dio berubah sikapnya karena sesuatu hal yang lain, Nak. Sudah yuk, keluar. Itu semua sudah menunggu kamu," ajak Ana.
"Ibu, do'akan Rania selalu, ya? Rania sayang ibu, sebentar lagi Rania tidak bersama ibu. Rania akan ikut Dio." Rania memeluk ibunya. Matanya sedikit berkaca-kaca, karena mungkin sebentar lagi dia akan menikah dengan Dio dan akan tinggal bersama Dio.
"Do'a ibu selalu untukmu, sayang. Sudah, jangan menangis. Nanti cantiknya hilang," tutur Ana.
Rania keluar dari kamarnya dengan di Ana. Mereka menuruni anak tangga satu per satu. Rania terlihat begitu anggun dan cantik malam ini. Rania duduk di tengah-tengah ayah dan ibunya. Dan berhadapan dengan Dio. Dio sesekali memerhatikan wajah Rania yang malam ini terlihat begitu cantik sekali. Sesaat mereka beradu pandang, saat mereka mencuri-curi pandang. Namun, mereka langsung mengedarkan pandangannya lagi ke sembarang arah.
"Emm … baik, kita mulai saja acaranya, bagaimana, Syad?" tanya Reno.
"Baik," jawab Arsyad.
"Bismillahirrahmanirrahim, maksud kedatangan keluarga kami ke sini adalah ingin mewujudkan niat baik anak kami, yaitu Dio, untuk melamar putri anda, Rania Pratiwi," ucap Arsyad.
"Baik, saya terima lamaran dari putra anda, dan kami serahkan semuanya pada putri kami, apa Rania akan menerimanya atau tidak," ucap Reno
"Bagaimana, Nak?" tanya Reno pada Rania.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan restu dari ayah dan ibu. Saya bersedia menerima lamaran dari Dio," ucap Rania.
"Alhamdulillah,"
Annisa memasangkan cincin pada jari manis Rania, tanda bahwa Rania sudah terikat dengan Dio. Dan Annisa memasangkan kalung di leher Rania.
"Selamat sayang," ucap Annisa memeluk dan mencium Rania.
"Terima kasih bunda," ucap Rania.
Dio hanya menatap Rania. Dio tidak tahu harus senang, bahagia, atau mungkin sedih. Reno memeluk Dio, menepuk punggungnya.
"Kamu akan jadi menantu ayah, ayah titip Rania, saat nanti kalian sudah menikah, terima kasih Dio." Reno mengeratkan pelukannya.
"Iya, ayah. Dio akan menjaga Rania, terima kasih, ayah sudah mengizinkan dan merestui hubungan Dio dan Rania," ucap Dio.
__ADS_1
Dio malam ini sudah resmi melamar Rania. Setelah acara inti selesai. Mereka melanjutkan membicarakan tanggal pernikahan Dio dan Rania.
"Bagaimana kalau bulan depan saja?" tanya Reno.
"Bagus, lebih cepat lebih baik. Memang sebenarnya jangan menunda-nunda niat baik, Ren," ujar Arsyad.
"Papah, bagaimana kalau bulan depan?" tanya Arsyad pada Rico.
"Boleh-boleh, tanya dengan Dio dan Rania nya juga, bagaimana? Kalian sudah siap?" tanya Rico pada Rania dan Dio.
"Kalau Rania, terserah dengan abah dan ayah, opa," jawab Rania.
"Iya, Dio juga. Memang lebih cepat lebih baik, ayah," ucap Dio.
"Oke, kalau begitu, bulan depan kalian akan menikah, nanti pernikahan kalian akan di gelar di ballroom hotel," ucap Reno.
"Kenapa tidak di rumah saja, Ren?" tanya Arsyad.
"Aku ingin pesta pernikahan anakku semeriah mungkin, karena dia anakku satu-satunya, Syad," ucap Reno.
"Justru itu, di rumah saja, rumahmu luas, dan bisa menampung tamu undangan banyak, Ren. Jadi kan ada kesannya, Ren," tutur Arsyad.
"Jadi gini, Syad. Akad nikah di rumah, lalu resepsi nanti diadakan di ballroom," ujar Reno.
"Oke, terserah pihak dari wanita saja. Saya kan tinggal mengikutinya," ucap Arsyad.
"Jadi ini bulan depan sudah deal?" tanya Reno.
"Iya, ayah, bulan depan." Dio yang menjawabnya dengan tegas.
"Ayah, bisa saja," ucap Dio.
Setelah mereka menentukan hari dan tanggal pernikahan Dio dan Rania, serta menentukan di mana tempatnya, Reno mengajak mereka menikmati hidangan ala kadarnya. Mereka berada di ruang makan dan menikmati hidangan makan malam yang di suguhkan keluarga Reno.
Arsyad dari tadi memerhatikan wajah Najwa. Najwa benar-benar begitu tenang dan tegar mengahadapi ini semua. Tidak terlihat wajah sendu dalam diri Najwa, walaupun hatinya saat ini hancur berkeping-keping. Najwa juga terlihat begitu menikmati makan malamnya saat ini.
"Eits … ingat kata Habibi, jangan makan pedas," Rico mencegah tangan Najwa yang akan mengambil sambal yang sangat menggiurkan di lidah Najwa.
"Opa, sedikit saja, please," pinta Najwa.
"Oke opa ambilkan." Rico mengambilkan sambal untuk Najwa, tapi sedikit sekali, yang membuat raut wajah Najwa menjadi merengut.
"Ini mah mending gak usah makan sambal kalau segini sambalnya, opa," ucap Najwa.
"Sedikit saja," ucap Opa.
"Opa gak asik, ah," ucap Najwa dengan kembali menikmati makan malamnya.
"Opa kan bertugas menjaga kamu, Habibi yang menyuruhnya,", ujar Arsyad.
"Lagian kalian menuruti saja," ucap Najwa.
"Sudah, makan dulu, jangan banyak bicara," ujar Annisa.
Setelah selesai makan malam, mereka menikmati makanan penutup, dan sembari berbincang-bincang.
"Dari tadi kalian bahas Habibi, siapa Habibi?" tanya Reno.
__ADS_1
"Calon suami Najwa, ayah," jawab Rania.
"Rania…." tukas Najwa.
"Bukan, om," ucap Najwa.
"Ya, semoga saja, dia menjadi menantuku, Ren. Tapi, sekarang dia bertugas di Budapest, baru saja tadi siang berangkat. Kalau memang jodohnya Najwa, ya Alhamdulillah," ucap Arsyad.
"Di Budapest?" tanya Reno.
"Iya, dia dokter anak, dia bertugas di rumah sakit yang baru saja di dirikan oleh papahnya dan ikatan dokter di sana," jawab Arsyad.
"Wah … keponakanku mau bersuami dokter? Senangnya, mendengar kalian akan berbesanan dengan keluarga ahli medis. Ini pasti akan bersejarah dalam keluarga opa," ucap Reno.
"Ya, semoga impianku memiliki cucu menantu dokter terkabul," ucap Rico.
"Aamiin," sahut Najwa dengan mengembangkan senyum yang meneduhkan itu.
Dio tidak menyangka, Najwa bisa sekuat ini menyaksikan dia melamar Rania. Dio tahu hati Najwa hancur malam ini. Namun, dia masih terlihat baik-baik saja malam ini.
"Kamu wanita hebat, Najwa. Di balik hatimu yang rapuh, kamu bisa mengurai senyum yang indah malam ini. Dan kamu seperti menikmati semua hidangan malam ini," gumam Dio.
Najwa melihat Dio yang dari tadi memperhatikannya. Mereka beradu pandang sejenak. Najwa yang melihat Dio menatap lekat dirinya. Najwa memalingkan wajahnya dan beranjak dari pergi ruang makan.
"Najwa ke toilet dulu, tante, Najwa permisi ke toilet bisa?" ucap Najwa.
Najwa berjalan ke toilet menahan tangisnya yang hampir terjatuh di depan Dio dan semuanya. Dia masuk ke kamar mandi dan menumpahkan semua air matanya.
"Ya Allah, kuatkan aku, demi Rania, sahabatku. Aku tau ini sangat berat untuk ke depannya. Aku tidak kuasa melihat tatapan Dio yang begitu menghujam hatiku. Sakit sekali rasanya, Ya Allah," lirih Najwa di sela-sela Isak tangisnya.
Najwa menghapus air matanya. Matanya masih terlihat sembab dan memerah. Dia mencoba menetralkan lagi perasaannya yang masih tidak karuan menahan sakit dan sedih karena orang yang di cintai ya sudah resmi melamar sahabatnya.
Najwa keluar dari toilet, dia menuju ke arah Rania yang sedang duduk di ruang tamu. Najwa mendudukkan dirinya di samping Rania dan mengucapkan selamat pada Rania.
"Rania, selamat. Kamu cantik sekali malam ini," ucap Najwa dengan memeluknya.
"Terima kasih, Najwa. Ini juga karena gaun kamu yang indah ini," ucap Rania.
"Iya dong, siapa dulu yang membuat," ucap Najwa dengan sedikit sombong dan bercanda.
"Kamu memang desainer ter the best, pokoknya," ucap Rania sambil memeluk Najwa.
"Sayang tidak ada Shifa, dia sekarang sibuk ikut suaminya," ucap Rania.
"Begitulah, kalau wanita yang sudah memutuskan untuk mengabdi dengan suaminya, Ran. Nanti juga kamu merasakan sebentar lagi," ucap Najwa.
"Kalian itu kalau sudah gabung melupakan aku," ucap Dio yang tiba-tiba duduk di tengah-tengah Najwa dan Rania.
"Apaan sih, ganggu saja," ucap Najwa.
"Gak apa-apa dong, kalian lagi bicara apa sih, serius sekali,"ucap Dio
"Ada deh, mau tau aja kamu," tukas Najwa.
Mereka bertiga mengobrol cukup lama. Rania merasa lega karena Dio dari tadi mengajaknya berbicara dan sedikit bercanda. Sesekali mereka juga foto bertiga di ponsel mereka masing-masing.
"Dio, semoga jika nanti kita bersama, kamu bisa seperti ini, tidak mendiamkan aku," gumam Rania.
__ADS_1