
Raffi melihat laptop Arkan yang terbuka menampakkan Chat di akun sosial medianya bersama teman lawan jenisnya. Gadis berambut pirang, hidung yang mancung, mata kecoklatan, dan berkulit putih nampak di terlihat di foto profilnya.
Raffi membaca semua chat Arkan dengan gadis itu. Gadis bule tapi bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Raffi tidak menyangka, adiknya sudah berani chat mesra dengan cewek dari negara lain.
“Ya Allah, Arkan .... Dia sudah tahu pacaran? Aku saja mau mengajak serius Kak Alin deg-degannya Masya Allah, ini anak masih bau kencur, Chatnya lope-lope an gak jelas,” ucap raffi lirih.
Raffi harus bisa menegur Arkan dengan cara sehalus mungkin. Dia tidak mau adiknya terjerumus dengan pergaulan yang tidak baik. Apalagi dia sudah berani chat dengan cewek dari luar negeri. Ya, Raffi tahu sendiri, bagaimana pergaulan di luar negeri. Contohnya saja Dio, semenjak dia di Berlin, dia berani berpacaran dengan Najwa menjurus ke dalam. Raffi takut Arkan akan seperti itu. Sebisa mungkin, dia harus mencegah adiknya agar tidak seperti itu.
Arkan baru selesai keluar dari kamar mandinya. Sudah jam 4 sore dia segera Sholat Ashar dan setelah itu pergi futsal dengan teman-temannya. Raffi sudah berada di luar kamar Arkan, dia bingung bagaimana cara menasihati Arkan agar tidak terlalu fokus pacaran.
Raffi melihat adiknya sudah bersiap untuk pergi futsal dengan teman-temannya. Dia mengambil helm kesayangannya dan mengambil kontak sepeda motornya.
“Arkan, kamu mau futsal?” tanya Raffi.
“Iya, kak,” jawab Arkan.
“Kakak boleh ikut?”
“Ehm ... Arkan pakai motor tapi,”
“Kita berangkat pakai mobil saja, ya?”
“Ya sudah,”
Arkan tahu, kalau kakaknya juga gemar bermain futsal. Malah Raffi dan Ozil sering ikut turnamen sepak bola. Namun, sekarang setelah mereka sibuk dengan perusahaan masing-masing, mereka jarang menyentuh lagi si kulit bundar nya itu.
“Kakak pasti kangen pengen main bola lagi,” ucap Arkan yang mengusik kesunyian di dalam mobil.
“Ya seperti itu,” jawab Raffi.
“Kamu tahu? Dulu kakak ingin sekali menjadi pemain Timnas Indonesia. Impian kakak tinggi sekali, ya? Lucu sekali kalau kakak ingat itu,” ucap Raffi.
“Namanya juga cita-cita kak, boleh setinggi langit, dan boleh kesampaian boleh tidak,” ujar Arkan.
“Arkan, kakak mau tanya sama Arkan, tapi kakak mau Arkan jawab yang jujur, ya?” ucap Raffi dengan nada yang lembut.
“Kakak mau tanya apa?” tanya Arkan.
“Ehm ... kamu jangan marah, ya? Kakak bicara seperti ini,” jawab Arkan.
“Iya, kakak mau bicara apa sih? Bikin Arkan penasaran saja,” ucapnya.
“Tadi kakak lihat laptop kamu yang sedang menyala. Terus kakak lihat ....”
“Lihat foto Felicia? Gadis bule itu?” tukas Arkan.
“Iya benar, itu pacar kamu?” tanya Raffi dengan ragu dan gugup. Dia tidak mau adiknya merasa di interogasi lebih dalam. Dia ingin keterbukaan secara kekeluargaan.
“Iseng-iseng saja, kak. Lagian masa Arkan mau sama orang bule. Cantik sih, tapi gak mungkin lah,” jawab Arkan.
“Tapi chat kamu seperti orang dewasa saja, kamu belum cukup umur, Arkan,” ujar Raffi.
“Kak, Arkan sebenarnya sudah punya pacar, di sekolahan Arkan.” Arkan kali ini tidak mau menutup-nutupinya lagi, karena memang dia sudah pacaran dengan teman satu kelasnya.
“Yang namanya Lyli itu?” tanya Raffi.
“Ih ... Kak Raffi, kok tahu?”
“Tahu lah, kan kakak detektif,” jawabnya dengan mengusap kepala adiknya.
Raffi memang sering mengecek ponsel adiknya itu. Dia tidak ingin adiknya terjerumus dengan pergaulan bebas dan **** bebas. Karena di zaman sekarang ini, banyak sekali anak-anak SMA yang salah jalan. Meskipun dia terlihat cuek, tapi Raffi selalu memantau adik bungsunya itu. Dia sudah gagal melindungi Najwa, kakaknya. Jadi, dia tidak mau gagal lagi melindungi adiknya dari pergaulan bebas.
“Arkan, kamu tahu kan, pacaran tidak boleh dalam islam?” tanya Raffi.
“Iya, sih? Tapi teman-teman Arkan juga banyak yang pacaran, yang penting kan pacaran sehat, kak. Tidak aneh-aneh,” jawab Arkan.
“Iya sih, kakak khawatir saja, kamu ikut-ikutan gaya pacaran anak sekarang, boleh pacaran, tapi ingat batasannya. Apalagi kamu masih belum cukup umur. Masa depanmu juga masih panjang,” tutur Raffi.
“Kak, kakak jangan khawatir. Lyli anaknya tidak seperti itu. Boro-boro mau pacaran aneh-aneh. Menemui aku saja sama temannya,” ujar Arkan.
“Ya, pokoknya ingat pesan Kak Raffi, jangan aneh-aneh pacarannya. Kakak tidak mau kamu terjerumus ke pergaulan yang amburadul,” tutur Raffi lagi.
“Siap, kakak!” ucap Arkan dengan semangat.
“Kamu kakak antar ke tempat Futsal, lalu kakak ke rumah Kak Ozil dulu ya? Opa bayu katanya lagi sakit, Kakak mau menemuinya dulu.”
“Oke, nanti kalau Arkan sudah selesai chat kakak,”
Setelah mengantarkan Arkan ke tempat Futsal, Raffi langsung melajukan mobilnya ke rumah Rayhan. Dia ingin menemui Ozil dan menjenguk Opa Bayu yang sedang sakit. Bayu memang sering sakit-sakitan sekali sekarang. Bulan kemarin dia juga masuk ke rumah sakit dan dirawat cukup lama.
^^^^^
Keesokan harinya semua berkumpul di rumah Arsyad. Dio dan Rania akhirnya ikut juga bersama Fattah dan Shifa. Meski sering ada drama uring-uringan dengan Rania kalau mau makan. Semenjak kemarin pagi sarapan penuh drama hingga semua di keluarkan lagi, sekarang masih sama seperti itu. Setiap dia makan, baru satu suap saja dia sudah berhenti. Dio lebih memilih memakan buah atau cemilan yang lainnya.
Pagi ini Arsyad mengantar anak-anaknya ke Bandara. Mereka semua diajak Fattah pergi liburan ke Budapest. Raffi juga ikut ke sana, ya katanya menemani Arkan yang nanti hanya akan jadi obat nyamuk dua pasangan.
“Fattah, apa temanmu tidak merasa di repotkan?” tanya Arsyad.
“Tenang saja, Abah. Aku sama Kiki sudah seperti saudara sendiri. Malah opanya menyiapkan rumah buat tempat tinggal kami,” jawab Fattah.
Ya, teman Fattah adalah Kiki. Yang tak lain adalah Dokter Akmal atau Habibi. Dulu saat Fattah melanjutkan kuliah di sana, dia menempati rumah Opa Wisnu. Kata Opa Wisnu daripada rumah itu kosong dan untuk meminimalisasi pengeluaran Fattah, akhirnya dia menuruti Opa Wisnu untuk menempati rumahnya.
“Benarkah begitu?” tanya Annisa.
“Iya Bunda, dulu rumah itu Fattah tempati saat Fattah melanjutkan kuliah di Budapest,” jawab Fattah.
__ADS_1
“Oh, syukurlah kalau seperti itu,” ucap Annisa.
Arsyad sejenak berpikir soal Habibi yang berada di Budapest. Sudah lama sekali dia tidak menghubungi Habibi setelah Najwa pergi dari rumah. Arsyad juga berpikir, kalau menghubungi Habibi juga, pastinya Habibi menanyakan soal Najwa. Jadi dirinya lebih baik mengurungkan niatnya untuk menghubungi Habibi sejak itu.
^^^
Habibi sudah menyiapkan berbagai makanan untuk menjamu kedatangan sahabatnya, yaitu Fattah, suami dari Shifa. Habibi sengaja tidak memberitahukan Nuri kalau Fattah dengan istrinya akan datang. Habibi malas dengan kehebohan Nuri jika Fattah datang. Itu semua karena Nuri sangat merindukan Fattah yang ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Nuri terpaksa menutup butiknya hari ini. Dia membantu para pelayan yang menyiapkan jamuan untuk tamu yang kata Habibi spesial.
“Ki, Najwa belum pulang?” tanya Nuri.
“Sebentar lagi mungkin. Papah dan Opa juga sedang mampir ke rumah sakit dulu,” jawab Habibi.
“Sebenarnya siapa sih tamunya, Ki? Kok banyak sekali orangnya?” tanya Nuri lagi.
“Ada deh,” jawab Habibi.
Habibi menunggu kedatangan Fattah yang sedang di jemput sopir yang ia suruh tadi. Dua mobil menjemput mereka di Bandar. Habibi juga menunggu Ainun datang dengan papah dan opanya.
Memang Habibi dan Fattah sudah seperti kakak adik. Habibi kemarin tidak sempat untuk menghadiri pernikahan Fattah dan Shifa karena dia di sibukkan dengan kepindahannya ke Budapest. Begitu juga opa dan papahnya, karena sudah berada di Budapest lebih dulu, jadi mereka juga tidak menghadiri pernikahan Fattah saat itu.
Habibi sama sekali tidak tahu Shifa adalah istri Fattah. Dia tidak pernah bertemu Shifa, karena saat dia ke rumah Najwa, Shifa sudah ikut Fattah pindah. Dan selama itu Habibi juga fokus mengejar cinta Najwa dan sibuk dengan kepindahannya ke Budapest.
Dua mobil sudah berhenti di depan rumah Opa Wisnu. Habibi dan Nuri masih di dalam rumah. Fattah dan lainnya di persilakan masuk oleh sopir yang tadi menjemputnya. Fattah masuk ke dalam, dia sudah seperti masuk ke dalam rumah sendiri. Karena, dia bertahun-tahun menempati rumah ini.
“Kiki ... aku datang.” Fattah langsung masuk ke dalam ruang tengah, dan lainnya mengikuti Fattah di belakangnya
Habibi yang sedang cerita dengan Nuri di ruang tengah mendengar Fattah memanggil dirinya.
“Itu suara Kak Fattah, kan?” tanya Nuri menebaknya.
“Iya, dia yang ke sini, ayo temui dia,” ucap Nuri.
Nuri segera menemuinya. Dia memang merindukan Fattah, hanya merindukan saja. Karena, Nuri sudah menganggap Fattah adalah kakaknya setelah Habibi.
“Kak Fattah ....” Nuri langsung mendekati Fattah, tapi langkahnya terhenti saat dia melihat Shifa, Dio, Raffi, dan Arkan.
“Kalian?” Habibi dan Nuri kebingungan dan tidak menyangka semua keluarga Najwa di sini.
“Nuri, Habibi? Kalian?” ucap mereka.
“Ini kok kalian kenapa?” Fattah mulai bingung dengan keadaan ini.
“Kak Nuri, di mana Kak Najwa?” tanya Arkan.
“Kiki, bagaiman ini?”
“Nuy, aku gak tahu.”
“Ini kenapa kalian?” tanya Fattah bingung.
“Mana cucu opa yang sangat opa rindukan,” suara Wisnu menggema di ruangan.
Najwa penasaran siapa tamu yang katanya sahabat dekat Habibi. Najwa menghentikan langkahnya di belakang Opa Wisnu dan Papah Erlangga. Kakinya kaku untuk melangkah. Matanya membeliak melihat saudaranya ada di rumah Opa Wisnu.
“Ka—kalian ....” Suara Najwa bergetar dengan mata berkaca-kaca.
“Najwa?” semua menyebut nama Najwa.
“Ainun, tunggu...!” Habibi mengejar Najwa keluar dari rumah.
Najwa berlari keluar meninggalkan rumah dengan air mata berderai, dia tidak sanggup menemui mereka. Bayang-bayang dosanya kembali muncul. Dia belum siap bertemu mereka.
“Ini ada apa? Kenapa Kak Najwa ada di sini, Nuy?” tanya Fattah dengan bingung.
“Ceritanya panjang,” jawab Nuri.
“Sudah kita duduk dulu,” ajak Opa Wisnu.
Semua terdiam, tidak ada satu kata pun yang lolos dari mulut mereka. Mereka hanya saling memandang dan menunggu Habibi pulang bersama Najwa.
“Fattah, istri kamu saudara Ainun?” tanya Erlangga.
“Iya, Om. Shifa sepupu Najwa, maksudku Ainun. Dan itu Raffi adik kandung Najwa, sebelahnya Arkan, adik Najwa, dan itu Dio, di sampingnya adalah Rania, istri Dio,” jelas Fattah.
“Jadi kamu yang bernama Dio?” tanya Opa Wisnu.
“Iya, Opa,” jawab Dio dengan menundukkan kepalanya.
Wajah Dio memucat, hal yang ia khawatirkan terjadi juga. Dia bingung harus berkata apa dengan Najwa nanti. Rania melihat kegelisahan pada wajah Dio. Dia berusaha membuat Dio tenang, walaupun hati dia juga gelisah. Dia juga masih takut kalau Dio akan kembali dengan Najwa. Tapi, melihat Dio yang ketakutan dan panik, dia menjadi tidak berpikiran macam-macam lagi.
^^^^^
Habibi memeluk Ainun yang masih menangis. Beruntung Habibi langsung mendapatkan Ainun yang berlari belum cukup jauh dari rumahnya.
“Ainun, jangan seperti ini, Sayang. Kamu jangan lari dari kenyataan. Kamu harus bisa hadapi semuanya, sayang.” Habibi memeluk Ainun yang masih menangis.
“Aku malu, Habibi. Kenapa kamu tidak bilang kalau sahabatmu Fattah, suami Shifa?” tanya Ainun dengan suara serak.
“Aku tidak tahu kalau Fattah suami dari Shifa, dan aku juga belum pernah bertemu Shifa. Sayang, ayo pulanglah, aku tidak enak dengan Fattah. Kamu harus bisa menghadapi ini. Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? kamu juga butuh mereka, kamu masih ingin menikah denganku?” Habibi terus membujuk Ainun agar dia mau kembali ke rumah Opa Wisnu.
“Dampingi aku, aku malu untuk bicara dengan mereka,” pinta Ainun yang semakin mengeratkan pelukannya pada Habibi.
“Itu pasti, Sayang. Ayo kita pulang,” ajak Habibi. Ainun menganggukkan kepalanya. Dia berjalan di samping Habibi.
__ADS_1
Habibi menggandeng tangan Ainun dia berjalan beriringan. Rasa takut dan malu masih bersarang di dalam diri Ainun. Ingin rasanya Ainun menghindar, tapi semakin ia menghindari, masalahnya tidak akan selesai sampai kapanpun.
“Aku harus bisa, aku jangan seperti anak kecil yang harus menghindari kenyataan. Ini saatnya aku meminta maaf pada Rania dan semuanya. Aku juga rindu Raffi dan Arkan, juga Shifa. Dia ke sini, dan tidak sengaja kita bertemu,” gumam Ainun.
Habibi semakin menggenggam erat tangan Ainun. Dia kembali meyakinkan Ainun untuk menghadapi semuanya. Dia tidak mau masalah ini berlarut-larut dan tanpa ujung. Habibi juga membutuhkan Ainun. Dia ingin sekali menikahi Ainun. Dia tidak mau kehilangan Ainun. Dia benar-benar mencintainya. Bukan sekedar untuk menutupi masa lalunya dulu.
“Aku mencintainya, sungguh aku mencintai Ainun. Aku ingin dia seutuhnya menjadi milikku. Dia wanita yang aku cintai, hingga akhir napas ku,” gumam Habibi.
Di tengah gelapnya malam, hanya lampu temaram di pinggir jalan yang menghiasi malam ini. Habibi melepas mantelnya. Dia memakaikan mantelnya pada Ainun yang sudah merasa kedinginan.
^^^^^
Habibi sampai di rumahnya bersama Ainun. Mereka masuk ke dalam ruang tengah menemui semuanya yang sudah berkumpul di ruang tengah. Ainun semakin menggenggam erat tangan Habibi.
“Ainun, sini Nak, duduk samping opa.” Opa Wisnu menyuruh Ainun duduk di sampingnya.
“Iya, Opa,” jawan Ainun lirih.
Ainun di apit oleh Habibi dan Opa Wisnu. Satu tahun sudah, dia baru bertemu dengan saudaranya lagi. Dia memang merindukan semuanya. Terutama pada Raffi.
“Ini semua saudra kamu, Nak. Kalau kamu menghindarinya, kapan selesai masalahnya? Sekarang tidak bertemu pun, kamu sudah janji dengan Opa bulan depan kamu akan pulang, untuk menemui keluarga kamu dan membicarakan pernikahan kamu,” ujar Wisnu.
“Maaf, Opa. Ainun Shocked melihat mereka. Ainun takut, Ainun malu,” ucapnya dengan berlinang air mata.
“Kalau kamu seperti itu terus, kapan akan selesai masalah kamu. Jangan siksa diri kamu, Nak. Sekarang kita selesaikan bersama. Mereka saudara kamu, Ainun,” imbuh Erlangga.
“Iya, Pah,” jawab Najwa.
Najwa mencoba berdamai dengan masa lalunya. Dia mencoba memulai berbicara dengan semuanya. Dia juga tidak mau berlarut dalam masalah ini.
“Raffi, Kak Najwa kangen kamu.” Raffi mendekati kakanya dan memeluknya. Tangis mereka berdua pecah saat saling memeluk. Mereka melepaskan rindu. Rindu yang tersimpan kini semua tercurahkan malam ini. Shifa dan Arkan juga ikut memeluk Najwa. Hanya Dio yang masih duduk terpaku di samping istrinya dengan tangannya tak lepas menggenggam tangan Rania.
“Kak, sudah. Ini semua sudah berlalu. Jangan meminta maaf lagi. Kami sudah memaafkan kakak. Kami sayang kakak. Kakak tahu, abah dan opa kurus sekali sekarang, memikirkan kamu, Kak.” Raffi mengusap air mata kakanya dan menjelaskan semuanya. Karena dari tadi Najwa tidak berhenti mengucapkan kata maaf.
Najwa melihat Rania yang masih mencoba membuat Dio tenang. Wajah Dio saat itu memang terlihat pucat sekali. Najwa mendekati Rania dan memeluk sahabatnya yang telah di sakiti hatinya,
“Maafkan aku, Rania. Maafkan aku.” Najwa berkali-kali mengucapkan kata maaf pada Rania. Najwa tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Rania.
“Aku sudah memaafkanmu, Najwa. Kamu baik-baik saja di sini?”
“Iya, aku di sini baik-baik saja.”
“Sayang, kamu katanya mau bicara dengan Najwa,” ucap Rania.
Dio hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Najwa. Rania duduk di antara Dio dan Najwa. Belum ada satu katapun yang keluar dari mulut Dio dan Najwa.
“Kak Najwa. Aku minta maaf. Aku sudah mengahancurkan semuanya. Aku sudah merusak semuanya. Merusak keharmonisan keluarga kita, menorehkan luka pada semuanya, terutama Rania dan Kak Najwa. Kak, aku minta maaf. Bukan aku lelaki pengecut yang membiarkan kamu pergi. Bukan aku egois saat itu. Aku hanya tidak ingin Kak Najwa terluka lagi karena aku. Sekali lagi, maafkan Dio. Jika kakak tidak mau menganggap Dio adik sepupu kakak lagi, Dio terima,” ucap Dio dengan suara serak karena menahan tangisannya.
Najwa menarik napasnya dalam-dalam. Dia menatap Habibi yang duduk di depannya. Habibi mengisyaratkan pada Najwa agar dia memaafkan Dio dan menyelesaikan maslahnya.
“Dio, aku sudah memaafkan kamu. Dan aku juga minta maaf. Aku sudah masuk ke dalam kehidupanmu bersama Rania,” ucap Najwa.
“Terima kasih, jika Kak Najwa mau memaafkan Dio,” ucap Dio.
“Aku mohon, jangan ada lagi masalah dalam keluarga kita. Aku tidak mau Kak Najwa pergi lagi. Pulanglah, Kak. Abah, opa, bunda, dan semuanya merindukan kakak,” ucap Raffi.
“Belum saatnya kakak pulang, Raf,” jawab Najwa.
“Bulan depan aku akan mengajak kakakmu pulang, tenang saja,” sahut Habibi.
“Kamu sudah janji padaku, papah, dan opa, kalau kamu akan pulang ke Indonesia bulan depan, kamu ingat, kan?” tanya Habibi.
“Iya, aku ingat, Habibi,” jawab Ainun.
“Semua sudah selesai. Opa mau kalian akur kembali, kalian saudara, jadi jangan ada perselisihan lagi,” ujar Opa Wisnu.
Najwa dan Dio menghindari dan menjaga pandangannya. Dio merasa malu jika harus melihat Najwa, begitu juga Najwa. Najwa hanya ada sedikit takut dan trauma saat melihat Dio. Karena bayang-bayang kejadian di Vila masih menghantuinya setiap hari. Apalagi sekarang Dio berada di depannya.
Opa Wisnu mempersilakan semua menikmati jamuan yang sudah di sediakan. Dia memang merindukan Fattah, dari tadi Opa Wisnu bercanda dengan Fattah setelah menyelesaikan semuanya. Fattah sudah di anggap seperti cucunya sendiri.
“Ayo kita makan dulu, sudah jangan tegang lagi. Ayo Fattah, opa sudah menyuruh pelayan memasak masakan kesukaan kamu,” ajak Opa Wisnu pada semuanya
Semua sudah duduk di depan meja makan untuk menikmati makan malam. Najwa benar-benar merindukan dua adik laki-lakinya, yaitu Raffi dan Arkan. Dia duduk di tengah-tengah Raffi dan Arkan. Habibi kali ini merasa tersaingi, dan dia terpaksa duduk di samping Raffi.
“Hmmm ... aku ambil nasi sendiri, nih? Ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga harus mengalah duduk di sampingmu Raf,” ujar Habibi.
“Malam ini saja, kamu tidak makan di samping Ainun saja heboh, Ki,” celah Nuri,
“Ki, Kak Najwa kan masih kangen sama adiknya, sini kamu dekat aku, katanya kamu kangen sama aku,” ujar Fattah dengan bercanda.
“Sana, tuh kali aja mau suap-suapan sama Kak Fattah,” ujar Nuri.
“Idih, geli banget di suapin dia, mending disuapi istriku,” jawab Fattah.
“Sudah, kalian bertiga kalau bertemu pasti ribut, sudah Ki kamu mengalah sama adiknya. Ainun masih di sini juga, seperti Ainun ke mana,” ujar Erlangga.
“Ya sudah, Raffi ngalah deh, sini Pak Dokter duduk di samping Kak Najwa,” ucap Raffi.
“Sudah kamu di sini, saja. Kita makan, oke...” ucap Najwa.
Semua menikmati makan malam. Ada rasa bahagia dalam hati Najwa, bisa berkumpul dengan keluarganya lagi, walaupun tanpa abah, opa, dan bundanya. Rasa canggung masih ada dalam diri Najwa pada Rania dan Dio. Dia masih saja mengingat kesalahannya pada Rania kala itu.
Begitupun Dio, dia dari tadi hanya diam di samping Rania. Seperti tadi pagi, Dio makan hanya sedikit saja. Rania lagi-lagi di buat kesal dengan suaminya, karena makanannya tidak di habiskan lagi.
“Sayang, tidak habis lagi?” tanya Rania dengan lirih.
__ADS_1
“Aku kenyang, Sayang. Aku mau makan buah saja,” pinta Dio.
Rania mengdengus kesal dan mengambilkan buah untuk suaminya. Keanehan Dio saat makan muncul lagi. Rania hanya melihat suaminya yang lahap memakan anggur yang di ambilkan dirinya.