
Hari ini adalah hari pernikahan Raffi dan Alina. Pernikahan Raffi di gelar di rumah Almira. Halaman rumah Almira kini sudah di sulap menjadi pelaminan megah. Alina sudah berada di kamar milik Arsyad dan Almira dulu. Kamar yang sangat luas, yang di desain oleh Almira serba putih. Raffi tidak mengubah sedikit pun tatanan kamar tersebut.
Alina ditemani oleh Naila dan Najwa. Ya, Najwa memang sudah berada di Indonesia, karena Akmal meminta pada Opa Wisnu untuk kembali ke Indonesia. Najwa memang dekat dengan Alina dan Naila dari dulu. Dulu mereka yang sering menemani Najwa bermain saat dia masih kecil. Tidak menyangka Alina akan jadi adik iparnya. Padahal Alina umurnya jauh lebih dewasa dari Najwa.
Namun, wajah Alina masih terlihat seumuran dengan Najwa, Rania, dan Shifa. Padahal Naila juga sudah terlihat seperti ibu-ibu. Mungkin karena Naila sudah memiliki 3 anak, sedangkan Alina belum memiliki anak.
“Kak Alin, cantik sekali,” ucap Najwa.
“Kok Kak Alin? Dia akan jadi adik iparmu, sayang,” ucap Naila.
“Meski jadi adik iparku, aku sudah terbiasa memanggil kakak, Kak Naila,” jawab Najwa.
“Kamu belum hamil, sayang?” tanya Naila.
“Belum kak, doakan saja,” jawab Najwa.
Dia masih setia menemani Alina dari tadi, hingga dia lupa tidak bergabung dengan Rania, Shifa, dan Rana. Najwa sangat rindu sekali pada Naila dan Alina. Dia sudah menganggap 2 wanita itu seperti kakaknya sendiri.
^^^^^
Kata SAH dari para saksi terdengar, Raffi dan Alina kini sudah sah menjadi suami istri. Semua memberi selamat pada Raffi dan Alina.
“Raf, selamat sayang, kamu sudah menjadi seorang suami. Jangan pernah sakiti istrimu, jadilah suami yang selalu menyayangi istri dan bertanggung jawab. Semoga kamu dan Kak Alin bahagia.” Najwa memeluk erat adiknya. Dia mencium pipi adiknya. Dan memeluk Alina juga.
“Terima kasih, kak. Kak Najwa juga harus bahagia dengan Kak Akmal.” Raffi mengeratkan pelukannya. Dia merasa tubuh kakaknya semakin kurus.
“Kakak sedang sakit?” tanya Raffi.
“Tidak,” jawab Najwa.
“Kok sepertinya kakak kurusan,” ucap Raffi.
“Kata siapa?”
“Perasaan Raffi saja mungkin, tadi meluk kakak kok sepertinya kurus sekali.”
“Kamu itu,”
Najwa turun dari pelaminan, dia bergabung dengan suaminya dan lainnya. Dia memang agak kurusan, tidak hanya Raffi yang bilang. Suaminya juga bilang seperti itu.
Raffi masih memandangi kakaknya dari pelaminan. Dia merasa Akmal sungguh mencintai dan menyayangi kakaknya. Tapi, dia juga merasa kalau kakaknya menyimpan sesuatu, dan sekarang malah terlihat kurus.
“Raf, kenapa melihat Kak Najwa seperti itu?” tanya Alina.
“Gak apa-apa, aku hanya memikirkan saja, kak Najwa bahagia tidak sama Kak Akmal. Sepertinya Kak Najwa menyembunyikan sesuatu,” jawab Raffi.
“Jangan seperti itu, kalau tidak bahagia pasti Akmal juga tidak terlihat sebahagia itu,” ucap Alina.
^^^^^
Pesta pernikahan Raffi dan Alina berjalan dengan lancar. Semua tamu juga satu persatu pulang. Arsyad duduk di ruang tengah sendirian, memandang foto Almira bersama dirinya dan foto bersama anak-anaknya. Dengan tatapan sendu Arsyad melihatnya. Dia begitu merindukan sosok istri pertamanya yang akhir-akhir ini selalu datang di mimpinya.
Arsyad memejamkan matanya, dan merebahkan di sofa yang berada di ruang tengah. Hanya bayangan Almira yang ia rasakan saat ini. berada di rumah Almira dia merasakan kehadiran Almira di dekatnya lagi.
Sosok wanita yang menemani dia kurang lebih sepuluh tahun, wanita yang mampu membuat dirinya menutup rapat cinta pertamanya. Sosok wanita yang penyabar dan manja.
Arsyad semakin larut mengenang mendiang istri pertamanya. Dia masih memejamkan matanya, dan semakin hanyut dalam kenangan bersama Almira.
“Mas, bunganya bagus, ya?”
“Iya, cantik seperti kamu.”
“Mas, mau tidak selalu memberi bunga ini padaku setiap hari?”
“Apapun yang kamu inginkan aku akan memenuhinya, Almira.”
“Janji?”
“Iya, janji.”
“Kamu mau ke mana?”
__ADS_1
“Mas, di sini saja, aku pergi, ya? aku selalu menanti kamu menaruh bunga ini di sini.”
“Almira....! tunggu....!”
Arsyad terbangun dari tidurnya. Tidak di rasa, dia tertidur karena mengingat Almira. Dan, Almira kembali hadir dalam mimpinya.
“Abah kenapa?” tanya Annisa.
“Bunda dari tadi di sini?”
“Iya. Abah mimpi Kak Mira lagi?”
“Iya, bunda. Mana anak-anak?”
“Sudah pulang dengan papah, Kak Shita, dan Kak Vino.”
“Om Bayu dan lainnya juga sudah pulang?”
“Sudah, tapi Rayhan masih di sini bersama Naura. Sedang menunggu Ozil membujuk anaknya. Dia masih saja belum mau pulang.”
Annisa terdiam menatap suaminya yang dari tadi mentap foto yang berada di dinding. Ya, foto Almira bersama Arsyad, Najwa, dan Raffi. Annisa tahu, kalau suaminya sangat merindukan mendiang istrinya.
“Kak Mira sangat cantik ya, Bah?”
“Bunda juga cantik.”
“Ke makam Kak Mira yuk pulang dari sini?”
“Iya, sekalian ke makam Arsyil, ibu, dan mamah. Lama sekali aku tidak mengunjungi makam mereka.”
“Iya, kita pamit pulang dengan Raffi dulu, abah.”
“Bunda,” panggil Arsyad saat istrinya akan pergi dan pamit dengan Raffi.
“Iya, ada apa, Abah?” tanya Annisa.
“Abah merindukan Almira,” jawabnya.
“Bunda tidak marah aku sangat merindukan Almira?” tanya Arsyad.
“Abah, masa bunda marah. Bunda paham dengan abah, apa salahnya merindukan sosok wanita yang pernah mengisi hidup abah, aku pun sama. Aku setiap hari sangat merindukan Arsyil. Apalagi, Arkan selalu saja terlihat seperti Arsyil. Gaya bicaranya, senyumnya, semuanya mirip dengan Arsyil,” jelas Annisa.
“Iya, Arkan benar-benar mirip dengan Arsyil. Apalagi sepeda motor Arsyil sekarang dia pakai. Abah seperti memiliki Arsyil kembali. Arsyil seperti hidup kembali, Bunda,” ucap Arsyad dengan mata berkaca-kaca.
Ingatan Almira belum juga luntur dari ingatannya, kini dia pun merindukan sosok adik laki-lakinya yang sangat ia sayangi. Arkan benar-benar mirip dengan Arsyil, yang membedakan adalah Arkan tidak suka humor, dia lebih serius dan sedikit angkuh seperti abahnya. Tapi, semuanya mirip dengan Arsyil. Wajahnya, cara bicaranya, dan senyumnya juga mirip dengan Arsyil.
Arsyad menyeka air matanya, dia ingat dulu waktu dia tahu kalau dia menyukai gadis yang sama dengan adiknya. Ya, Annisa lah gadisnya. Dia mengalah, karena dia sangat sayang dengan adiknya. Apalagi papahnya selalu saja memojokkan adiknya, dan selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Arsyil. Kadang, yang tidak terima Arsyad, saat papahnya membanding-bandingkan Arsyil dengan dirinya, papahnya selalu mengharuskan Arsyil untuk seperti dirinya. Dia yang dengan sabar berbicara dengan papahnya, dan menyuruh papahnya agar Arsyil mencari jati dirinya.
Arsyad yang selalu membela, saat Arsyil di marahi papahnya karena Touring tidak pamit. Dia yang selalu membela adiknya saat di marahi papahnya dan ibunya. Hingga dia pun mengalah melepas gadis yang ia cintai untuk adiknya, karena saat itu memang Annisa kekasih Arsyil.
“Kok abah nangis?”
“Abah ingat dulu dengan Arsyil. Abah tidak menyangka, dia begitu cepat meninggalkan kami.”
“Allah lebih sayang dengan Ayahnya Dio, Bah. Aku pun sama, mana mau aku ditinggalkan dia. Pagi-pagi aku siapkan baju kerja untuknya, baru saja dia meminta aku untuk mengenakan hijab, alhamdulillah aku menurutinya, tidak biasanya dia mengajak aku liburan berdua saja, dia mengajak aku ke mana pun aku mau. Aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk dia, dia sudah meninggalkan aku dengan dua malaikat kecilku saat itu. Aku merasa saat itu Allah tidak adil padaku. Semua orang yang aku sayangi satu persatu meninggalkan aku,” ucap Annisa dengan berlinang air mata.
Arsyad memeluknya, dai tahu apa yang istrinya rasakan saat ini. memang sakit saat mengenang kebersamaan dengan orang yang sangat di cintai, dan kini meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hanya sebuah kenangan indah yang selalu terukir di ingatannya.
“Sudah, Arsyil dan Almira, mereka sudah bahagia di surga. Kita hanya bisa mengirim doa untuk mereka, sayang. Jangan menangis lagi.” Arsyad mencium kening istrinya.
Arsyad dan Annisa pamit pada Raffi dan Alina. Dia ke depan menemui Raffi dan Alina yang sedang menemui tamu di depan. Annisa memanggil mereka, karena dia dan suaminya akan pamit.
“Ada apa, abah?” tanya Raffi.
“Abah mau pamit pulang,” jawabnya.
“Ini benar, abah gak menginap di sini?” tanya Raffi.
“Mungkin kakak kamu nanti yang akan menginap di sini,” jawab Arsyad.
“Iya, katanya Kak Najwa mau menginap ke sini, tapi dia sedang keluar dengan Kak Akmal ke rumah sakit,” ucap Raffi.
__ADS_1
“Ya sudah, abah pulang. Kamu sudah menjadi seorang suami, tanggung jawab suami bukan pada memberi nafkah lahir batin saja, kamu juga harus bisa menjadi suami yang bisa memberikan kenyamanan pada istrimu. Dan, ingat jangan menduakan Alina, apapun nanti keadaannya. Abah tidak mau kamu seperti Farrel. Meski dia menjalani secara sayriat hukum islam untuk berpoligami, tidak mungkin sang istri tidak merasa cemburu, pasti ada rasa cemburu dan mungkin kesal. Pokoknya abah pesan, jauhi kata poligami,” pesan Arsyad.
“Iya abah, Siap!” ucap Raffi.
“Ya sudah, selamat menikmati malam pertama. Awas nanti ada Zombie,” ledek Arsyad.
“Ah....abah ingat Zombie aja sukanya.”
“Kamu kan Zombie,” ucap Annisa.
“Gak nyangka Zombie nya Bunda, udah punya istri. Selamat sayang.” Annisa memeluk Raffi dan mencium keningnya.
“Iya, bunda. Titip abah dan opa, ya?”
“Iya, sayang,” jawab Annisa.
“Ayo, Lin. Abah dan bunda pulang, ya? Abah titip Raffi. Kalau dia macem-macem bilang abah,” ucap Arsyad.
“Iya, abah. Kalau dia berani macem-macem, nanti Alin suruh tidur di pos satpam saja,” jawab Alina.
“Bagus,” ucapnya sambil mengusap kepala menantunya.
Arsyad dan Annisa pulang dari rumah Raffi. Ya, Rumah Almira dulu akan di tempati Raffi dan Alina. Itu semua karena Raffi lebih dekat ke kantornya kalau dari rumah Almira, dan Alina bisa lebih leluasa mengurus taman baca peninggalan Almira.
^^^^^
“Bunda, mampir ke toko bunga, ya?” ucap Arsyad.
“Iya, aku juga mau membeli bunga untuk ke makan Arsyil,” jawabnya.
Arsyad ingin sekali membeli bunga Edelweis dan bunga Lily untuk di bawa ke makam Almira. Sesuai yang mendiang istri pertamanya minta lewat mimpi. Ya, Almira selalu hadir dalam mimpi Arsyad sedang menata bunga Edelweis dan bunga Lily.
Arsyad memarkirkan mobilnya di depan toko bunga langganannya. Dia mencari bunga Edelweis dan bunga Lily. Dan Annisa dia mencari bunga mawar merah dan putih. Bunga yang dulu sering Arsyil berikan pada dirinya setiap pulang dari kantor. Hingga rumahnya di hiasi bunga yang Arsyil beri.
Arsyad melajukan mobilnya menuju ke makam Almira dulu setelah memberi bunga.
“Abah tidak beli bunga mawar?” tanya Annisa.
“Almira maunya ini. Dari kemarin dia selalu muncul di mimpi abah, dengan membawa bunga ini,” jawab Arsyad.
“Kak Mira sepertinya suka sekali bunga Lily, seperti ibu,” ucap Annisa.
“Iya, benar, dia seperti ibu, sukanya bunga Lily,”
Mereka sudah sampai di tempat pemakaman Almira. Arsyad menggandeng Annisa berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke makam Almira. Arsyad melihat sudah ada bunga Lily dan Edelweis yang masih segar di samping nisan Almira.
“Ini ada bunga, dan bunganya masih segar,” ucap Annisa.
“Sepertinya Najwa baru saja ke sini,” jawab Arsyad.
“Ya, mungkin saja,” ucap Annisa.
Arsyad menaruh bunganya di samping batu nisan yang bertuliskan nama Almira. Dia mengusap batu nisan itu dan menciumnya.
“Aku mencintaimu, meski sekarang ada seseorang yang ada di sampingku menemaniku setiap waktu, aku masih selalu mencintaimu, Almira. Doaku selalu menyertaimu, bahagia lah di surga,” ucap Arsyad.
“Terima kasih, Kak Mira sudah menitipkan lelaki yang Kak Mira cintai, lelaki yang baik, dan aku akan menjaganya hingga Allah memisahkan kami berdua. Semoga Allah memberikan tempat terindah untuk Kak Mira,” ucap Annisa dengan mengusap batu nisan Almira.
Mereka berdua pulang dari makam Almira. Arsyad langsung melajukan mobilnya ke makam adiknya, serta ibunya dan mamah Dinda. Makam Almira memang terpisah, karena dia ingin di makamkan di sisi makam orang tuanya. Itu adalah permintaan Almira pada Arsyad dulu sebelum meninggal.
^^
Arsyad dan Annisa turun dari mobilnya, dia berjalan menuju makam Arsyil. Annisa menaruh bunga yang ia bawa untuk di letakan di makam mendiang suami pertamanya.
“Syil, aku datang dengan kakakmu yang sangat menyayangimu. Aku bahagia, terima kasih, kamu sudah memberikan sosok penggantimu yang sangat mencintaiku. Tapi, kamu jangan khawatir, rasa cinta ini tak akan pernah padam untukmu, dan doa untukmu selalu aku kirimkan setiap waktu. Aku mencintaimu.” Annisa mencium nisan yang bertuliskan nama Arsyil.
“Syil, bahagia lah di surga. Aku sudah menepati janjiku padamu, untuk menjaga, menyayangi, dan mencintai wanita yang ada di sampingku ini. Aku mencintainya, Arsyil, terima kasih, kamu sudah memberikan cinta pertamaku lagi. Bahagia lah di surga bersama ibu dan mamah, juga Almira,” ucap Arsyad.
Mereka juga berdoa di depan makan Adinda dan Andini. Dua wanita yang pernah hidup dengan papahnya. Ya, mereka adalah istri-istri Rico. Dua makam yang selalu di hiasi kelopak bunga mawar merah dan melati yang Rico taburkan setiap hari.
Rico memang sekarang setiap hari tidak pernah absen mengunjungi makam istrinya dan anak bungsunya. Setiap pagi dia selalu diantar oleh sopir pribadinya untuk mengunjungi makam kedua istrinya. Ya, makam Adinda dan Andini. Dua wanita yang pernah hadir menemaninya, memberikan kehidupan baru untuk Rico, hingga kini dia di kelilingi oleh anak, menantu, cucu, cucu menantu, dan cicitnya yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Semua karena Adinda. Ya, mungkin jika Adinda tidak menyuruh Rico menikahi Andini, dia tidak akan pernah merasakan bahagianya di kelilingi anak dan cucu yang menyayanginya.