
Arkan masih memikirkan apa yang akan Lily bicarakan padanya. Setelah dia mengantar Thalia pulang, dia masih belum bisa memejamkan matanya, meski sudah larut malam. Arkan sedikit penasaran apa yang akan di katakan Lily padanya. Tapi, dia selalu ingat kata-kata Fajar, kalau Lily kemungkinan besar akan menebaknya.
“Ah... kenapa aku memikirkan Lily? Ingat Arkan! Dia sudah membuat kamu sakit berkali-kali. Cinta memang harus butuh logika, jangan mau diperbudak cinta, jika cinta itu terus menyakiti kita. Ingat itu!” Arkan merutuki dirinya sendiri.
Arkan memejamkan matanya dan mencoba menepis semua pikirannya tentang Lily. Dia juga mematikan ponselnya agar dia tidak terganggu oleh Lily yang masih saja mengirim pesan dan kadang dia mencoba menelepon Arkan.
^^
Keesokan harinya, Arkan sudah berada di kelas dan duduk di bangku Thalia, karena teman sebangku Anya belum datang. Lily melihat Arkan yang sudah berada di dalam kelas bersama Thalia. Dia langsung mendekati Arkan dan berbicara soal semalam.
“Arkan bisa kita bicara?” tanya Lily.
“Boleh, silakan,” jawab Arkan.
“Kita ke belakang kelas saja,” ajak Lily.
“Mau apa? Di sini saja, aku sudah nyaman duduk di samping Lia,” ucap Arkan dengan melirik Thalia yang sedang sibuk membaca buku.
“Aku butuh bicara berdua saja, Arkan,” pinta Lily.
“Berdua? Kamu siapa? mau bicara berdua saja denganku?” ucapnya dengan nada kesal.
Mata Lily berkaca-kaca mendapat ucapan dari Arkan yang membuat hatinya sakit.
“Iya, aku bukan siapa-siapa kamu, tapi aku butuh kamu, Arkan!” teriak Lily.
“Butuh untuk? Mempertanggung jawabkan perbuatan Sandi padamu?” ucapnya dengan sarkastik.
Lily hanya menunduk dan terdiam, mendengar Arkan berkata seperti itu. Thalia melihat Arkan yang juga diam karena dia sudah habis kesabarannya. Thalia memegang bahu Arkan dan mengusapnya, dia tahu Arkan saat ini sedang emosi dengan Lily. Arkan memegang tangan Thalia, dia menggenggam tangan Thalia. Thalia mengisyaratkan pada Arkan untuk bicara dengan Lily.
“Aku tidak mau Thalia,” ucap Arkan.
“Selesaikan masalah kalian,” ucap Thalia dengan pergi dari bangkunya, tapi Arkan kembali menarik tangan Thalia.
“Jangan pergi.”
“Lepaskan!” Thalia menepis tangan Arkan.
“Lia, sekali melangkah kamu akan tahu akibatnya!” ancam Arkan.
“Aku tidak takut!” tukas Thalia.
“Oke, semuanya yang berada di kelas, mohon perhatiannya!” teriak Arkan sambil berdiri.
Semua siswa menoleh ke arah Arkan yang sedang berdiri di samping Thalia. Thalia menghunuskan tatapan tajam pada Arkan.
“Kalian tahu cewek ini?” ucap Arkan dengan menunjuk ke arah Lily. “Jawab! Tahu tidak?!” ucap Arkan sekali lagi dengan berteriak.
“Iya tahu,” jawab semua siswa yang ada di kelas, Angel dan lainnya juga sudah berada di dalam kelas. Ya, semua sudah berada di kelas.
“Kalian tahu, bagaimana dia mempermalukan aku dulu?”
“Dia memutuskan aku di depan kalian semua, mempermalukan aku, di depan kalian. Ya, jujur saja, meski dia memutuskan aku, aku masih mengejar dia, hingga akhirnya aku sadar, ternyata dia tidak sebaik yang aku pikir. Sekarang, dia ingin aku kembali, meski dia tidak mengungkapkan langsung, aku tahu dia masih membutuhkan balasan dari saya, kalau kalian tidak percaya, silakan baca pesan dia semalam yang begitu berisik menggangguku.”
Arkan memberikan ponselnya pada Rangga, Rangga membaca semua pesan dari Lily yang mengatakan dia ingin kembali pada Arkan. Rangga tertawa sinis pada Lily. Lily benar-benar merasa malu di depan kelas. Dia mengepalkan tangannya, dia marah dengan perlakuan Arkan yang mempermalukan dirinya di depan kelas.
“Kamu jahat, Arkan!” ucap Lily dengan meneteskan air mata.
“Sebenarnya aku tidak ingin membalas ini. Tapi, kamu sudah benar-benar keterlaluan, Ly. Kamu sendiri yang pergi, kamu sendiri yang memutuskan, kamu yang meninggalkan, dan sekarang? Apa mau kamu? Coba katakan di depan kelas, apa maumu?”
Lily hanya menangis. Sisil yang melihatnya, dia mendekati Lily. Sisil tahu, Lily diputuskan Sandi, dan Sisil mengetahui kalau Lily saat ini sedang bingung karena belum juga datang bulan.
“Arkan, kamu seharusnya jangan seperti ini,” ucap Sisil dengan merangkul Lily.
“Jangan seperti ini bagaimana? Aku capek, semalaman dia tidak ingat waktu, chat terus, untuk apa coba? Dia siapanya aku? Hanya teman sekelas saja, tidak lebih, kalau mau bicara, apa tidak bisa bicara lewat Chat,harus gitu ketemu berdua? Maaf, aku juga sudah memiliki pandangan ke depan, Sil. Aku tidak mau mengurusi yang namanya mantan yang sudah membuat aku hampir hancur karena memikirkan dia. Aku bukan lelaki yang mau di perbudak cinta, Sil. Mencintai itu sewajarnya, dan jika yang dicintai kita sudah tidak mencintai, lalu pergi meninggalkan, untuk apa kita mencintainya lagi?”
“Jangan bodoh karena cinta. Jalan kita masaih panjang, orang tua kita mati-matian cari uang untuk pendidikan kita, untuk apa mengurusi cinta yang tidak ada gunanya?” jelas Arkan.
“Dan, untuk kamu Lily, jangan melimpahkan masalah kamu dengan Sandi padaku. Karena aku tahu Sandi melakukan apa lagi pada kamu. Kalau kamu sampai mengusik ketenanganku lagi, orang tua Sandi yang akan jadi taruhannya, camkan itu! karena aku tidak pernah main-main dengan ucapanku sekarang,” ancam Arkan.
Arkan masih memegangi tangan Thalia dari tadi. Dia memang sengaja agar Thalia tidak pergi dari kelas. Dia juga ingin mengumumkan kalau Thalia lah yang dia cintai sekarang, tapi dalam hatinya masih ragu, karena takut Thalia menolaknya. Apalagi dia tahu, Thalia orangnya jutek dan galak. Tapi, Arkan akan mencoba mengatakannya, meski nantinya Thalia akan marah. Bagi Arkan tak masalah kalau Thalia marah, karena dia tahu, apa yang harus ia lakukan kalau Thalia marah.
“Oh ya satu lagi, kalian semua harus tahu, gadis yang saat ini aku pegang tangannya, dia adalah calon istriku. Ya, mungkin aku konyol berkata seperti ini, tapi akan aku buktikan pada kalian, suatu saat dia akan menjadi milik Arkan seorang,” ucap Arkan.
“Arkan....!” Thalia sedikit menaikan suaranya saat menyebut nama Arkan.
“Kalian jangan dengarkan kata Arkan, dia memang seperti itu, kita hanya berteman saja,” ucap Thalia.
__ADS_1
“Yakin kita berteman saja?” tanya Arkan pada Thalia.
“Iya yakin, kamu temanku, saudaraku, sahabatku,” jawab Thalia.
“Dan, suatu saat kamu akan jadi taman hidupku, Thalia,” sambung Arkan.
“Ngawur! Sudah lepasin tanganku,” ucap Thalia.
“Nanti aku butuh pegangan, agar aku tidak tersesat,” ucap Arkan dengan mengulas senyuman manisnya di depan Thalia.
“Ini di kelas, bukan di hutan! Lepakan, atau aku timpuk kepalamu pakai buku!” ancam Thalia dengan melayangkan buku di dekat kepala Arkan.
“Coba saja kalau berani, ayo timpuk,” ucap Arkan.
Thalia yang kesal dengan Arkan dia meletakkan bukunya di meja dan langsung menarik telinga Arkan.
“Sakit Thalia!” ucap Arkan dengan memegang telinganya.
“Kamu harusnya diginiin, enggak kamu, enggak Tita, sama saja kalau dibilangin!”
“Dasar Jutek!”
“Dasar Galak!”
“Nenek Gayung!”
“Cowok Gila! Gak waras!”
“Hei kalian malah berantem, sudah duduk, sudah bel masuk, Arkan,” lerai Rangga.
“Awas kamu, aku tinggal pulangnya!” ancam Arkan.
“Biarin, banyak OJOL, banyak Taksi, sekalian Jet Pribadinya aku, aku akan bawa!” jawab Thalia dengan kesal.
“Silakan!”
“Iya. Aku bukan cewek manja yang harus diantar jemput kamu!” teriak Thalia.
“Lia, sudah jangan gini ah, kalian aku tunggu romantisnya malah bertengkar,” ucap Anya teman sebangku Thalia.
Thalia duduk dengan napas yang masih tidak beraturan karena dia sangat marah pada Arkan. Thalia memang sengaja seperti itu, karena bagi Thalia, tidak seharusnya Arkan seperti tadi. Mengatakan dia adalah yang suatu saat akan menjadi teman hidupnya di depan kelas. Tapi, ada rasa sedikit bahagia karena Arkan seperti itu.
Tidak sengaja, tatapan mereka saling bertemu, di saat Thalia melirik ke arah Arkan, Arkan juga melirik ke arah Thalia. Dengan bersamaan mereka memasang wajah garangnya lagi. Saling melotot dan mengepalkan tangannya.
Arkan masih berpikir bagaimana caranya agar Thalia tidak marah lagi. dan, seharusnya tadi dia tidak marah seperti itu pada Thalia. Arkan masih memikirkan bagaimana caranya nanti mengajak bicara Thalia lagi saat istirahat atau di saat akan pulang.
“Kenapa endingnya jadi ngeselin, sih? Harusnya kan aku sama Thalia jadian gitu, terus satu kelas tahu kalau aku dan Thalia pacaran, malah jadi seperti ini. Ah... payah! Harus bagaimana ini? Kalau nenek gayung masih marah, aku harus gimana?” gumam Arkan.
^^^
Sisil dan lainnya mengajak Lily berbicara di belakang kelas. Tempat di mana mereka sering nongkrong saat jam istirahat. Memang tempat itu sepi, hanya Angel dan lainnya yang sering berkumpul di belakang kelas.
“Lo sebenarnya ada apa sih, Ly?” tanya Sisil.
“Gue putus sama Sandi. Gue enggak tahu juga, gue bingung, Sil. Gue, emang salah mutusin Arkan, gue nyesel,” jawab Lily.
“Ly, lo yang minta dikenalin Sandi. Lo juga bilang, Arkan tidak gaul, Arkan tidak macho, Arkan tidak punya motor gede. Dan, lo juga bilang, Arkan tidak bisa diandalkan, memikirkan kerja saja, dan lain sebagainya. Gue yang jadi sahabat elo, gue jelas gak tega lah, lo punya cowok model Arkan yang gak bisa ngajal lo ngemol, jalan, dan lain-lain. Karena gue juga gak tahu, kalau Arkan ternyata, ya seperti itu,” ucap Sisil.
“Iya, Ly. Gue juga minta maaf, gue udah mendesak elo mutusin Arkan. Ya, itu semua karena elo selalu ngeluh, lo bilang Arkan inilah, itulah, ya gue gak tega juga, punya temen yang cowoknya gak ngertiin lo, dan malah mentinginkerjaan yang katanya buat nambahin uang jajan,” imbuh Angel.
“Jelas lah, gue jugua gak tega lo punya cowok yang gak bisa bahagiain elo,” sambung Vanya.
“Gue bener-bener gak tahu, kalau Arkan seperti itu,” jawab Lily.
“Gue sekarang mau tanya sama elo, kenpa lo ngebet banget mau ketemu Arkan?” tanya Angel.
“Iya kenapa lo? Mau balikan?” imbuh Vanya.
“Iya, gue pengen balikan sama Arkan, dan gue juga butuh tanggung jawab. Gue belum datang bulan, hampir 2 bulan, Nya, Njel,” jawab Lily dengan menangis.
“Gila lo! Jadi lo mau Arkan yang tanggung jawab? Elo sadar gak, sih? Siapa Arkan, dan bagaimana keluarganya? Gue gak mau ikut-ikutan terlibat soal ini!” Sisil yang tahu siapa Arkan, dia sangat marah pada Lily saat Lily dengan entengnya bicara seperti itu.
“Bener juga kata Sisil. Gue juga hal mau ikut-ikutan. Eh, sebentar, lo sudah test belum?” tanya Angel.
“Belom Njel, gue takut. Gue udah beli testpack, tapi gue takut,” jawab Lily dengan mengusap air matanya.
“Payah Lo, Ly! Mainnya kurang cantik, Lo!” ucap Vanya.
__ADS_1
“Van...! loe itu!” tukas Angel.
“Ups...maaf,” ucap Vanya.
“Gini deh, Ly. Nanti pulang sekolah, kita main ke rumah elo, elo test, kalau misal lo hamil, gue akan bantu untuk bicara dengan Sandi,” usul Sisil.
“Tapi, lo ngelakuin itu sama Sandi, kan? Dan, lo gituan sama Sandi yang pertama kalinya? Sebelum dengan Sandi lo gak gituan, kan?” tanya Sisil.
“Gue, sebenarnya...gue pertama kalinya bukan dengan Sandi, Sil,” jawab Lily.
“Gila! Jangan bilang sama Arkan? Lo jangan gila, Ly! Jangan fitnah Arkan!” ucap Sisil dengan nada sedikit menekan.
“Bukan, bukan dengan Arkan. Tapi, dengan sepupu gue, dulu saat gue SMP,” jawab Lily.
“Dan, Sandi mutusin gue, karena Sandi enggak percaya gue ngelakuin sama Sandi saja, karena Sandi sempat kecewa, kalau gue bukan pertama kalinya dengan Sandi. Dia mengira aku dengan Arkan pertama kalinya,” jelas Lily.
“Ini rumit, Ly. Gue bingung. Sudah, pokoknya lo harus test dulu. Kalau positif, gue tahu caranya giman supaya luntur, dan kalau negtatif, lo langsung beli obat yang biasa aku minum kalau aku telat, tapi tidak positif,” ucap Vanya.
“Gue bingung...” ucap Lily dengan terisak.
“Sudah, lo jangan nangis, Ly. Kita akan bantu,” ucap Sisil dengan mengusap kepala Lily yang bersandar di bahunya.
^^
Di dialam kelas, Arkan mencoba bicara baik-baik dengan Thalia. Dia meminta maaf pada Thalia soal tadi, tapi Thalia masih saja mendiami Arkan yang dari tadi berusaha menjelaskan padanya.
“Lia, maafkan aku,” ucap Arkan.
“Hmm...” jawab Lia dengan berdehem saja.
“Nanti ke toko buku, ya? mau tidak?” ajak Arkan.
“Gak, aku mau pulang naik taksi saja,” jawab Thalia.
“Ya sudah kita naik taksi bareng ke toko buku,” ucap Arkan.
“Kamu bawa motor, Arkan.”
“Aku tinggal, yang penting kamu tidak marah, kamu memaafkan aku, dan kita pulang bersama.”
“Aku tidak marah, kesel saja sama kamu,” ucap Thalia.
“Aku minta maaf, Lia,” ucap Arkan dengan menarik tangan Thalia.
“Kamu hobi ya? Narik-narik tangan aku yang sedang membaca,” ucap Thalia dengan menghunuskan tatapan kesal pada Arkan.
“Maafin aku, Please...” Arkan memohon pada Thalia.
“Oke, aku maafin, tapi ada syaratnya,” pinta Thalia.
“Apa?” tanya Arkan.
“Aku mau beli buku sepuasku,” jawab Thalia.
“Iya, silakan. Mau beli buku apa saja, asal kamu maafin aku, dan kamu mau kita berangkat dan pulang sekolah bersama lagi,” jawab Arkan.
“Oke, aku maafkan,” ucap Thali.
“Terima kasih,” ucap Arkan sambil mengusap kepala Thalia.
Rangga yang melihat mereka sudah akur kembali, langsung mendekati mereka yang sedang bercanda. Memang mereka seperti “Tom and Jerry” yang kadang akur kadang bertengkar, tapi banyak bertengkarnya daripada akurnya.
“Cie...baikan lagi...pasti jadian,” ucap Rangga.
“Ih, Kepo...!” jawab mereka.
“Cie kompak...” ledek Anya.
“Sudah...sudah...kalian mau ikut tidak?” tanya Arkan.
“Kemana?” tanya Rangga.
“Ke toko buku, ngantar Lia. Katanya dia mau beli buku sama tokonya sekalian dibeli,” jawab Arkan dengan tangannya masih mengusap kepala Lia.
“Aku kira mau di traktir,” ucap Anya.
“Iya nanti aku traktir. Kita nanti mampir ke cafe sepupuku,” ucap Arkan.
__ADS_1
“Oke, kita ikut,” ucap Rangga dan Anya.
Rangga memang sedang mendekati Anya akhir-akhir ini. Tapi, Anya masih saja menganggap Rangga hanya sebatas teman saja.