
"Ran, boleh aku memelukmu?" pinta Dio.
"Iya." Rania menundukkan kepalanya karena matanya sudah digenangi air mata seusai selesai sidang keputusan cerai mereka.
Tepat 40 hari setelah Reno meninggal, Rania dan Dio resmi bercerai. Proses perceraian yang mereka sepakati akhirnya selesai dengan cepat. Rania dan Dio kini sudah berada di dalam mobil. Memang mereka pergi menggunakan mobil Dio untuk ke pengadilan agama memenuhi undangan sidang keputusan.
Dio memeluk Rania, dan kini Rania menangis di pelukan Dio yang tak lain adalah mantan suaminya. Status Dio sudah berubah menjadi mantan suami setengah jam yang lalu setelah di putuskan oleh hakim pada saat sidang tadi.
"Ran, maafkan aku. Aku sudah menuruti semua permintaanmu. Aku mohon, jika masih ada kesempatan, sebelum masa iddah kamu selesai, aku ingin kita rujuk kembali, Rania," ucap Dio.
"Maaf Dio, aku tidak bisa. Lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing. Meski kamu masih harus berada di rumahku karena ibu yang meminta itu," jawab Rania.
"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu, kamu berhak bahagia bersama laki-laki lain selain diriku, Ran. Maafkan aku, telah menggores luka di hidupmu selama kurang lebih hampir 17 bulan," ucap Dio.
"Aku ingin fokus pada ibu. Aku ingin mengurus ibu, kalau masalah laki-laki, aku tidak tahu, Dio. Sudah ayo pulang, kasihan ibu sendirian di rumah," ucap Rania.
"Iya, Ran." Dio mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Rania.
Dio benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat pada Rania, hingga Rania memilih berpisah darinya.
"Memang, ada batasan kesabaran dalam diri setiap orang. Mungkin rasa sabar Rania sudah pupus karena egoku. Karena aku selalu menyakiti dia lagi dan lagi," gumam Dio yang terlihat menyeka air matanya
Rania melihat Dio yang sedang menyembunyikan air matanya. Namun, jelas di mata Rania kalau Dio sedang menangis. Rania tahu, Dio sangat menyesali keadaan ini. Dia menyesali perbuatannya yang telah ia lakukan pada dirinya.
"Dio," panggil Rania.
"Iya, Ran. Ada apa?" tanya Dio pada Rania dengan suara parau.
"Tidak usah di sesali, tidak ada gunanya kamu menyesali semua ini di saat sudah berakhir," jawab Rania.
Dio menepikan mobilnya dan menghentikannya. Rania menatap Dio, begitu juga Dio menatap Rania dengan tatapan sendunya. Dio menarik tubuh Rania dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku laki-laki bodoh, Ran. Kamu wanita baik, tapi aku menyia-nyiakan kamu seperti ini. Ran, aku mohon jika kamu masih mencintaiku, aku ingin kita rujuk, aku mencintaimu, Rania." Dio memeluk Rania dengan erat dan memohon pada Rania agar mau rujuk dengannya.
Baru hitungan jam saja Dio sudah tidak bisa hidup tanpa Rania. Apalagi harus selamanya, karena Rania menolak untuk rujuk dengan Dio.
"Aku tidak bisa, Dio. Aku tidak bisa kembali padamu, karena jika Najwa kembali, aku akan kembali menanggung sakit ku lagi," ucap Rania.
"Itu tidak akan Rania, aku tidak akan kembali lagi bersama Najwa. Aku janji itu." Dio meyakinkan Rania agar dia kembali rujuk dengannya.
"Jangan menjanjikan sesuatu, jika hatimu belum siap menempatkan satu hati untuk kamu cintai, Dio. Kamu boleh bicara kalau kamu mencintaiku, tapi hati kamu tidak bisa mencintai wanita selain Najwa. Aku yakin itu," ucap Rania dengan meregangkan pelukan Dio.
"Ran, apa kamu tidak percaya padaku? Harus dengan apa aku membuktikan semua itu, Rania, kalau aku mencintaimu? Setiap hari, selama 40 hari kita bersama. Aku semakin yakin kamu wanita yang aku cintai, Ran," ucap Dio.
"Tidak Dio. Kamu seperti itu hanya karena kamu merasa bersalah dengan ku saja soal peristiwa di vila waktu itu. Dan aku yakin, hati kamu hanya untuk Najwa. Aku tidak butuh janji, aku hanya butuh kepastian, dan orang yang pasti mencintaiku, bukan orang yang selalu menarik ulur hatiku, Dio. Maaf, aku tidak bisa kembali lagi padamu, Dio," jawab Rania.
"Oke, jika itu mau kamu, Rania. Aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu, dan aku akan buktikan, kelak suatu saat nanti aku pasti akan kembali untuk meminang mu menjadi istriku lagi." Dio berkata dengan penuh keyakinan, jika suatu saat nanti dia akan kembali lagi pada Rania.
"Jika Tuhan menghendaki Dio, ayo kita pulang, kasihan ibu," ajak Rania.
Dio melajukan lagi mobilnya menuju ke rumah Rania. Dio tahu sebenarnya Rania masih sangat mencintai Dio. Namun, karena rasa kecewa yang sudah melekat di hatinya, Rania tidak bisa kembali pada Dio.
Rania masih bimbang dengan rasa dalam hatinya. Rania masih merasakan cinta yang sangat kuat untuk Dio, tapi Rania tidak mau menyiksa hatinya terlalu dalam lagi untuk tetap mencintai Dio. Rania sadar jika cinta itu tak bersyarat karena cinta tak harus memiliki.
"Aku masih mencintaimu, Dio. Sangat mencintaimu. Setiap napas yang ku embuskan, selalu namamu yang turut serta dalam embusan napas ku itu. Kamu laki-laki yang pertama yang manganyam rasa cinta di hatiku. Kamu satu-satunya alasanku kenapa aku masih kuat menghadapi semua ini. Aku mencintaimu Dio. Tapi, aku akan berusaha melupakan cinta ini untukmu. Aku juga butuh pendamping dan membutuhkan laki-laki yang benar-benar mencintaiku tanpa paksaan Dio," gumam Rania.
^^^^^
Anna melihat ada kejanggalan pada Rania dan Dio. Yang setiap hari semakin meregang hubungannya. Anna tahu kalau Rania akan bercerai dengan Dio, tapi dia tidak tahu kalau sebenarnya Rania dan Dio sudah bercerai resmi. Dan, sudah 2 minggu ini Rania di dalam rumah selalu memakai jilbab.
__ADS_1
"Ran, ibu lihat dari kemarin kamu di dalam rumah kok pakai jilbab terus?" tanya Anna.
"Pingin saja, Bu. Rania pingin Istiqomah dalam berhijab," jawab Rania sambil menata sarapan.
"Ran, mana Dio?" tanya Anna.
"Mungkin sedang mandi," jawab Rania.
"Kamu baik-baik saja dengan Dio?" tanya Anna lagi.
"Ya seperti biasa ibu. Kok ibu tanya seperti itu? Kan setiap hari aku dan Dio biasa saja, Bu," jawab Rania.
Rania mengambilkan sarapan untuk ibunya dan duduk di samping ibunya. Mereka menunggu Dio yang dari tadi belum keluar dari kamarnya.
Dio dari tadi masih berada di kamar, memilah-milah baju untuk pergi ke kantor. Selama dua minggu Dio tidur di kamar tamu, tapi dia diam-diam dari Anna. Dio keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang makan.
"Pagi," sapa Dio dan duduk di samping Rania.
"Pagi, Dio," jawab Rania.
"Ran, ambilin nasinya Dio, dong," titah Anna.
"Oh, iya. Silakan Dio." Rania memberikan nasi pada Dio. Rania memang semakin jauh dengan Dio. Dia memilih menjauh dari Dio, agar bisa melupakan Dio secara perlahan.
"Terima kasih, Ran." Dio mengambil piringnya dari tangan Rania.
"Dio, aku hari ini ada meeting ke luar kota bersama Evan dan lainnya. Dan pagi ini Evan akan menjemputku, tidak apa-apa, kan?"
"Aku antar kamu," ucap Dio.
"Tidak usah Dio, aku bersama Astrid juga kok," tolak Rania.
"Tidak usah ibu, Rania dengan Astrid juga kok nanti tidak berduaan dengan Evan. Lagian kamu hari ini ada meeting penting juga kan, Dio?" jawab Rania pada ibunya sembari bertanya pada Dio.
"Iya, tapi itu bisa aku atur Rania," jawab Dio.
"Jangan seperti itu, bekerja itu harus profesional Dio, jangan mengecewakan Klien," sanggah Rania.
"Ya sudah, kamu dengan Astrid saja, aku tidak usah mengantar, aku percaya kamu, kok. Kamu pergi dengan Evan untuk masalah pekerjaan," ucap Dio.
"Gitu dong, jangan cemburu gitu," ucap Rania dengan menggenggam tangan Dio.
Itu semua Rania lakukan karena biar ibunya percaya kalau hubungan Rania dan Dio baik-baik saja. Rania menoleh ke depan, karena ada suara laki-laki yang menyapanya. Iya, Evan, siapa lagi kalau bukan dia. Meski Rania sudah menikah, Evan masih sering ke rumah saat Reno masih ada. Evan masih berhubungan baik dengan keluarga Rania. Apalagi dengan Anna, dia sudah menganggap Anna seperti ibunya sendiri. Dan, sejak Rania menikah dengan Dio, Evan menganggap Rania buka wanita yang ia cintai lagi, meliankan adik atau sahabatnya.
Hingga detik ini Evan tidak tahu, kalau Rania dan Dio sudah bercerai. Yang tahu hanya Dio dan Rania juga keluarga Dio. Evan juga tahunya rumah tangga Dio dan Rania baik-baik saja hingga sekarang. Hanya saja mereka belum di beri keturunan.
"Selamat pagi semua," sapa Evan.
"Pagi, Van, kamu sudah sarapan?" ucap Anna.
"Sudah Tante. Tante sehat, kan?" tanya Evan.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat," jawab Anna.
"Ran, kamu sudah siap?"
"Sudah, dong. Nanti ke kantor jemput Astrid dulu, ya?" jawab Rania dan meminta menjemput Astrid terlebih dahulu, padahal Evan tahunya hanya mereka berdua saja untuk pergi ke luar kota.
"Kenapa jemput Astrid?" tanya Evan
__ADS_1
"Kita jangan berduaan, nanti yang ketiga setan, Van," jawab Rania.
"Ayo sudah kita berangkat, nanti telat, prerjalanan kita ke sana 2 jam lho," ajak Rania.
"Oke, siap!" Evan pamit dengan Anna dan Dio.
"Maaf pinjam istrimu dulu," pamit Evan pada Dio.
"Hmmm … hati-hati bawa istri orang," jawab Dio.
Anna dan Dio mengekori Rania dan Evan yang berjalan ke luar untuk berangkat ke kantor. Entah kenapa melihat kedekatan Evan dengan Rania Dio sangat marah sekali. Apalagi Rania masih belum selesai masa Iddah nya. Harusnya Rania tahu, dia harus jaga jarak dulu dengan laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah rekan bisnisnya. Tapi, Dio juga tak bisa melarang, karena memang Rania dengan Evan partner kerja yang baik dari dulu. Dio mematung melihat Rania berjalan keluar di samping Evan dengan tertawa lepas saat Evan sedikit memberi candaan pada Rania.
"Kenapa hati ini sakit sekali melihat mereka dekat seperi itu, apalagi Rania bisa tertawa lepas dengan Evan," gumam Dio.
Dio masih terpaku berdiri di teras rumah hingga mobil Evan hilang dari pandangannya. Anna yang melihat Dio seperti itu tahu kalau Dio sedang di landa cemburu karena Rania dekat dengan Evan.
"Jangan cemburu, ibu tahu Evan dan Rania memang dekat, tapi ibu sedikit bingung dengan sikap Rania dua minggu ini. Dia di rumah berhijab terus Dio, dan sekarang dengan Evan sedikit ada bercandanya, padahal dari dulu mereka akrab Rania tidak seceria tadi," ucap Anna.
"Mungkin Rania moodnya sedang baik, Bu. Ya sudah Dio berangkat," pamit Dio.
Anna tahu kalau Dio masih menahan cemburu pada Rania dan Evan. Anna memanggil Dio dan dengan segera Dio menghentikan langkahnya.
"Ada apa ibu?" tanya Dio.
"Dio, duduk sebentar, ibu mau bicara," pinta Anna. Dio duduk di samping Anna di kursi teras
"Ibu mau bicara apa?" tanya Dio.
"Dio, apa pernikahan kalian baik-baik saja?"tanya Anna.
"Emm … baik, ibu," jawab Dio.
"Kalian berbohong, kan?" Anna memberikan surat undangan dari pengadilan dan bukti pengambilan akta cerai pada Dio yang ia temukan di kamar Rania.
"Jelaskan pada ibu, ini apa, Dio!" Anna marah sekali dengan Dio karena sudah dua minggu ini Dio dan Rania menyembunyikan perceraiannya.
"Maafkan Dio, ibu. Dio terpaksa, ini semua Rania yang meminta," ucap Dio dengan suara serak.
"Ibu sudah tahu semua, sejak kalian berdebat di rumah sakit ibu dengar semua, Dio. Apa benar kamu dengan Najwa….." ucapan Anna terhenti saat Dio berlutut di kaki Anna.
"Maafkan Dio, Ibu. Ini salah Dio. Maafkan Dio. Hukum Dio ibu, Dio bukan laki-laki yang baik untuk Rania." Dio menangis dengan memeluk kaki Anna
"Ibu tidak menyangka kamu seperti itu dengan Rania, Dio. Ibu kecewa dengan kamu!" Anna semakin marah dengan Dio. Tapi, dia juga menyadari dan memahami keputusan mereka untuk bercerai.
"Nanti malam ibu ingin bicara dengan kalian, ibu harap kamu bisa kembali dengan Rania, nak. Hanya kamu yang Rania cintai," ucap Anna sambil memeluk Dio.
"Ibu, Dio ingin sekali rujuk dengan Rania, tapi Rania tidak mau, ibu. Maafkan Dio, Dio gagal menjadi seorang suami." Dio masih menangis memeluk Anna.
Anna tahu, bagaimana sakitnya hati Rania karena suaminya mendua. Dia tahunya Dio hanya mendua saja, dan tidak tahu Rania tidak di sentuh oleh Dio selama 15 bulan.
"Sudah, nanti malam kita bicarakan, kita cari jalan keluar yang baik," ujar Anna.
Dio hanya menganggukkan kepalanya saja di pelukan Anna. Dia masih menentramkan hatinya di pelukan Anna, wanita yang sudah di anggap Dio seperti ibunya sendiri. Dio berpamitan pada Anna untuk ke kantor. Anna mencoba menenangkan hati Dio sebelum Dio berangkat ke kantor.
Dio masuk ke dalam mobilnya saat hatinya sudah sedikit tenang. Dia tidak menyangka Rania akan secoroboh itu menaruh bukti-bukti perceraian mereka di kamarnya. Memang Dio sudah jarang masuk ke kamar Rania semenjak bercerai. Dia masuk ke kamar Rania saat Anna belum tidur, dan setelah Anna masuk ke kamarnya, dia baru berpindah ke kamar tamu.
"Aku takut, ibu ngedrop lagi. Aku harus bagaimana? Apa aku harus bicara dengan Rania soal sakit ibu? Iya, nanti malam akan aku bicarakan. Ini semua tidak bisa di diamkan, semakin hari aku melihat ibu semakin memburuk kesehatannya. Aku harus bilang pada Rania," ucap Dio lirih sambil menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya ke kantor.
Ingin sekali Dio mengikuti Rania pergi ke mana bersama Evan, tapi karena tadi ibu mengajak berbicara, dia jadi kehilanan jejak Evan dan Rania. Tidak mungkin Dio bertanya Rania dan Evan sedang di mana.
__ADS_1