THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 79 "Cinta Tak Pernah Salah" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad benar-benar lega sekali melihat anak perempuannya berada di tengah-tengah orang yang menyayanginya. Hingga Arsyad tak bisa tidur karena berbalas pesan dengan putrinya yang sangat ia cintai. Ya, malam ini Najwa dan Arsyad saling bertukar pesan. Dengan bujukan Raffi tadi akhirnya Najwa mau menghubungi abahnya melalu ponsel pribadinya.


Annisa melihat suaminya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, seperti seseorang yang benar-benar merindukan kekasihnya yang  jauh di sana. Hingga pukul 2 malam Arsyad belum juga tidur karena masih ingin bertukar pesan dengan putrinya yang sudah hampir satu tahun pergi dari rumah.


“Abah, istirahat dulu, sudah jam 2 pagi ini, nanti besok kan abah ke kantor,” ujar Annisa.


“Bunda, abah bahagia sekali. Najwa mau memberikan kontaknya pada abah. Abah sangat merindukan Najwa, Bunda,” ucap Arsyad.


“Bunda tahu, Abah. Tapi abah harus tahu, ini sudah dini hari. Abah harus istirahat, besok di sambung lagi, abah kan kemarin baru saja check-up, kata dokter jangan begadang dulu,” ujar Annisa.


“Iya, sayang. Sini peluk.” Arsyad meletakan ponselnya dan memeluk Annisa.


“Abah jangan salah paham, ya? Bunda menghentikan abah berbalas pesan dengan Najwa. Bunda hanya tidak mau abah sakit lagi,” ucap Annisa dengan mengusap kepala Arsyad yang berada di dadanya.


“Iya Sayang, aku tahu. Abah bahagia, anak-anak kita kumpul di sana. Apa yang Raffi inginkan, terpenuhi sudah. Dia ingin Najwa ikut liburan, dan ternyata Najwa di sana. Dan, bulan depan dia akan pulang dengan Habibi dan keluarga Habibi,” ucap Arsyad


“Semoga saja Najwa benar-benar berjodoh dengan  Akmal ya, Bah?”


“Aamiin, semoga saja. Ayo tidur sayang.” Arsyad kembali memeluk istrinya. Dan, seperti biasa, mereka melakukan ritualnya sebelum tidur.


^^^^^


Fattah dan lainnya baru saja sampai rumah. Mereka baru pulang menikmati keindahan malam di kota Budapest. Semua terlihat bahagia, karena mereka benar-benar berkumpul bersama.


“Rania,” panggil Opa Wisnu.


“Iya, opa,” jawab Rania.


“Ini testpack nya, besok pagi-pagi kamu coba tes. Opa penasaran sekali kamu hamil atau tidak.” Opa Wisnu memberikan Testpack untuk Rania.


“Terima kasih, Opa. Besok Rania akan tes,”


“Kamu yakin mau tes?” tanya Dio.

__ADS_1


“Yakin tidak yakin, sih. Aku coba saja besok, kalau aku hamil ya itu rezeki kita di kasih momongan cepat, Dio. Kalau tidak yaa....


“Kita rajin lagi buatnya,” tukas Dio.


“Maunya,” jawab Rania.


“Iya lah mau,” jawabnya dengan senyum yang genit.


“Sudah, kalian istirahat, besok katanya mau jalan-jalan lagi, kan besok aku dan Ainun libur. Nanti kita ajak jalan-jalan kalian,” ujar Habibi.


Habibi sengaja menghentikan kemesraan Dio dan Rania di depan semuanya. Dia melihat Ainun yang sedikit tidak enak melihat mereka mesra di hadapannya. Habibi tahu, pasti masih ada sisa cinta untuk Dio di hati Ainun, meskipun Ainun bilang sudah melupakannya dan tidak mencintainya.


Hati perempuan sungguh rumit. Hati perempuan mudah sakit, apalagi Ainun adalah orang yang perasa. Habibi tahu kalau masih ada sisa cinta di hati Ainun untuk Dio. Sama halnya dengan dia dulu, saat melupakan seseorang yang sangat ia cintai. Habibi hingga menghindari wanita-wanita yang mencintainya dengan tulus, karena hatinya masih mencintai wanita yang sudah lama singgah di hatinya.


Dua tahun lebih dia berusaha melupakan. Hingga suatu hari hatinya terbuka dan bertemu Ainun di depan mini market. Ainun benar-benar mengubah hidupnya, mengalihkan dunianya. Habibi yang dulu angkuh, dingin, dan tidak mudah akrab dengan orang. Setelah dia ditinggalkan seseorang yang mampu membuatnya gila, akhirnya dia sadar, dunia masih bisa membuatnya menjadi baik, apalagi di tambah sosok wanita yang ia temui malam itu, yaitu Ainun.


Semua kembali ke kamarnya, karena malam sudah semakin larut. Hanya Habibi yang memilih keluar dari kamarnya lagi. Dia belum bisa tidur. Dia masih memikirkan Ainun. Dia masih terbayang wajah Ainun tadi, saat melihat kemesraan Dio dan Rania. Habibi keluar dari kamarnya menuju ke teras belakang dengan membawa secangkir matcha yang ia buat.


Dia duduk ditemani dinginnya malam dan secangkir matcha di teras belakang. Membayangkan wajah Ainun tadi. Dia merasa Ainun masih belum menerima dia sepenuhnya.


^^^


Najwa merasa ada yang mengganjal di hatinya. Meskipun dia sudah mencoba berdamai dengan masa lalunya, tetap saja dia merasa tidak enak hati pada kemesraan Dio dan Rania. Hati wanita siapa yang tak luka, setelah dibuai dengan sesuatu yang manis, tiba-tiba langsung di hujam kepahitan.


Najwa merasa Dio begitu cepat melupakan apa yang Dio lakukan pada dirinya. Dia sedikit kecewa, dia merasa hanya untuk pelampiasan Dio saat itu. Karena kesalahpahaman Dio dan Rania, dirinyalah yang menjadi kambing hitam karena rasa kecewa Dio pada Rania.


“Sudah Najwa. Masa depanmu ada di depan mata. Habibi orang yang baik, apa belum cukup pengorbanan Habibi selama ini? kebaikan Habibi selama ini? Najwa, Dio milik wanita lain. Jangan merusak kebahagiaan orang lain. Ciptakan bahagia mu sendiri, Najwa, dengan seseorang yang bena-benar tulus mencintaimu. Jangan menjadi wanita yang bodoh lagi hanya karena sebuah cinta.” Najwa merutuki dirinya sendiri dan mencoba menyemangati dirinya.


“Aku harus melupakan Dio. Anggap dia adalah seseorang yang mampir dan singgah sebentar saja. Aku harus membuang luka ini. Dan, aku ingin mencoba mencintai Habibi,” ucap Najwa lirih.


Najwa keluar dari kamarnya. Dia ingin mencari udara untuk menenangkan hatinya yang gundah karena melihat kemesraan Dio. Dia keluar ke teras belakang, dia duduk di bangku yang jauh dari Habibi. Dia tidak menyadari ada Habibi juga di teras. Lampu yang temaram di teras belakang membuat Najwa tidak melihat Habibi yang sedang duduk di bangku yang agak jauh dari dirinya.


Najwa terus berpikir dan merutuki dirinya sendiri, karena masih saja mengingat Dio. Apalagi mengingat masa-masa indah dengan Dio. Itu membuat hati Najwa semakin rapuh dan terpuruk.

__ADS_1


^^^


Habibi tahu kalau Najwa sedang memikirkan Dio. Habibi juga tahu, kalau Najwa tadi merasa tidak enak hati melihat kemesraan Dio dan Rania. Habibi membiarkan Najwa menenangkan dirinya tanpa mengusik dia. Habibi hanya memperhatikannya dari kejauhan. Sinar lampu temaram sedikit membias wajah ayu Ainun yang menampakkan kesedihan pada Ainun.


Habibi mendekati Ainun, yang dari tadi terlihat sedang menyeka cairan bening yang keluar dari sudut matanya.


“Menangislah, jika menangis membuat hatimu tenang,” ucap Habibi yang menyadarkan lamunannya.


“Kamu di sini, Sayang?” tanya Ainun.


“Aku di sini sebelum kamu ke sini, Ainun,” jawab Habibi.


Habibi mengembuskan napasnya dengan sedikit berat dan duduk di samping Ainun yang menyembunyikan wajahnya.


“Aku tahu, kamu belum sepenuhnya melupakan Dio. Hatimu sakit melihat Dio dan Rania tadi, kan?” tanya Habibi.


“Jangan sok tahu,” tukas Ainun.


“Sorot matamu tidak bisa bohong, Ainun. Aku mengenal kamu sudah lumayan lama, jadi aku tahu apa yang sedang kamu rasakan,” ucap Habibi. Ainun hanya diam Habibi berkata seperti itu.


“Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan Ainun. Melupakan orang yang sangat kita cintai itu sulit. Aku pernah berada di posisimu. Aku pernah merasakan. Aku yang lelaki saja susah melupakan kenangan bersama seseorang yang dulu pernah hidup dalam hatiku. Apalagi kamu, Ainun. Kamu seorang wanita yang mudah rapuh hatinya saat terluka.”


“Ainun, satu pesanku, kamu harus bahagia. Sebesar apa pun cinta kamu dengan Dio, kamu tidak akan bisa bersatu, karena kamu dan Dio saudara satu susuan. Apa cintaku tidak bisa menggantikan cinta Dio yang ada di hati kamu, Ainun?”


“Bukan seperti itu Habibi. Aku hanya merasa, aku dulu pelampiasan Dio saja. Saat dia dan Rania ada kesalahpahaman, Dio lari kepadaku. Dan, memang aku yang bodoh, dan aku ....” Ainun tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena dadanya terasa sesak. Habibi membawa Ainun dalam pelukannya. Dia mencium puncak kepala Ainun.


“Jangan menyalahkan dirimu, cinta tak pernah salah, hanya waktu saja yang salah menempatkannya.” Habibi berkata dengan mengusap kepala Ainun yang sedang menangis dalam pelukannya.


“Maafkan aku Habibi. Aku mencintaimu, aku malu dengan kamu. Aku tidak utuh Habibi. Aku sudah ....”


“Jangan di teruskan, tidurlah, ini sudah malam. Ayo masuk.” Habibi menukas ucapan Ainun, dan menyuruh Ainun masuk kemabli ke dalam kamarnya untuk istirahat.


Ainun sadar, Habibilah yang pantas mendapatkan hatinya  sekarang. Hanya Habibi yang tahu dengan keadaannya sekarang. Ainun masuk ke dalam, dan masuk ke dalam kamarnya. Habibi mengecup kening Ainun sebelum Ainun masuk ke dalam kamarnya. Ada sepasang mata yang melihat Ainun dan Habibi saat Ainun di kecup keningnya oleh Habibi. Dan, sepasang mata itu juga menyaksikan dan mendengarkan apa yang tadi Habibi dan Ainun bicarakan di teras belakang.

__ADS_1


“Akmal, boleh kita bicara?” ucap seseorang yang dari tadi mengetahui apa yang Habibi lakukan dan Habibi bicarakan dengan Ainun.


__ADS_2