
(Di depan masjid)
Wanita berhijab Syar'i dan bercadar itu kembali duduk di depan masjid, dia terlihat menyerah memanggil manggil mobil Arsyad.
"Mira, kamu kenapa tadi?" Tanya Naila
"Ini aku menemukan tasbih, milik seorang pemuda yang tadi sudah berlalu pergi. Aku teriak di belakanh mobilnya untuk memberikan tasbih ini, tapi tak menghiraukannya." jawab Mira
.
"Almira.....kamu itu aneh, biarlah taruh saja tasbih itu di sana biar di gunakan siapa saja yang mau menggunakan Mir, selesai kan?"
"Bukan seperti itu Nai, mungkin saja ini tasbih benar benar hidup nya Dia untuk Berdzikir."
"Hmmmm Mira....Mira....ayo ah kita pulang, sudah tak ada yang kamu cari lagi kan? Kapan kamu ke kairo?"
"Sudah, ayo pulang, mungkin akhir bulan, aku hanya sebentar saja disana."
"Kamu beruntung ya Mir, ayahmu pengusaha sukses, tajir melintir tapi kamu boleh memakai pakaian seperti ini. Aku iri Mir, sedangkan aku pakai hijab panjang seperti ini saja ayah ibuku tiap hari bilang, jangan terlalu seperti itu berpakaiannya."
"Sabar Nai, itu ujianmu untuk lebih meyakinkan kedua orangtuamu bahwa berhijab yang sebenarnya Bukan perihal sekedar menutup rambut saja dan memakai pakaian panjang. Mungkin ibu dan ayahmu belum mendapat Hidayah, jika nanti sudah tau pasti kamu boleh memakai seperti ku. Sabar dan ikhlas adalah kunci segala hal Nai, ayo pulang."
"Thanks Mir, kamu sahabatku yang terbaik."
"Bisa saja kamu Nai."
Naila dan Almira berjalan keluar dari halaman Masjid menuju jalan raya untuk mencari Taxi.
Setelah mendapat Taxi mereka pulang, karena rumah mereka sejalan jadi mereka satu taxi bersama.
"Mir....tasbih nya kamu tinggal di Masjid?"
"Tidak aku bawa ini, biarlah barangkali nanti bertemu dengan orangya aku kasihkan. Sayang di tinggal di Masjid, mending di pakai aku saja."
"Kali aja pemuda itu jodohmu Mir."
"Ahhh kamu bisa saja Nai."
Akhirnya Naila sampai di depan rumahnya. Dia turun terlebih dahulu.
"Mira...aku duluan ya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sopir taxi melajukan taxinya lagi menuju kerumah Almira.
__ADS_1
Almira masih saja memanandangi tasbih yang ia temukan tadi di Masjid. Iya tasbih itu sebenarnya milik Arsyad, dia tadi gugup saat memakai sepatunya dan tasbihnya jatuh dari saku celananya namun dia tak menyadarinya dan tasbih itu di temukan oleh Mira, saat mau memberikan pada Arsyad, Arsyad langsung mengendari mobilnya dengan cepat.
"Semoga saja bertemu lagi dengan pemuda tadi, bagaimanapun ini miliknya yang harus aku kembalikan, andai saja aku tau rumahnya aku segera kembalikan tasbih ini." Gumam Almira dalam hati.
Almira memang jarang di Indonesia semenjak dia di Kairo. Dia lebih suka menetap di sana, karena di sana Dia lebih nyaman belajar ilmu agamanya di banding di Indonesia. Dia juga lulusan Al Azhar Kairo, namun lebih dulu Almira dengan Arsyad.
Almira sampai di rumahnya. Rumahnya benar benar besar bak istana, orang tua Almira adalah seorang pengusaha sukses.
"Assalamualaikum." ucap Almira.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Abah Almira
.
"Abah sudah pulang dari kantor?"
"Sudah, putri Abah yang cantik dari mana saja?"
"Cari buku bah, bosan dirumah tak ada bahan bacaan. Mana ummi Bah?"
"Ada di belakang, kamu sudah makan?"
"Abah lupa ini Hari senin?"
"Iya Abah."
"Kamu akan ke Kairo lagi?"
"Mungkin bulan depan Bah."
"Oh....yasudah masuklah ke kamar mu, nanti malam ada waktu, Abah dan Ummi mau bicara denganmu."
"Baiklah Bah."
Almira masuk kedalam kamarnya, dia menata buku buku yang baru dibelinya di dalam rak buku yang ada di pojok kamarnya.
(Di AR Caffe)
Sepulang dari toko buku shita tampak senang sekali, setelah berbulan bulan menunggu buku yang di inginkannya terbit dia akhirnya mendapatkannya.
"Akhirnya aku dapat juga buku ini, untung tadi ada mbak mbak yang berbaik hati memberikan buku ini padaku." Gumam Shita dalam hati sambil membaca bukunya.
"Shita kelihatannya kamu senang sekali sepulang dari toko buku." ucap Andini yang dari tadi memperhatikan anak perempuannya bahagia sekali.
"Iya bu, Shita mendapat buku yang Shita inginkan dari kemarin."
__ADS_1
"Ibu kira apa, habis senangnya begitu seperti habis bertemu Vino."
"Lebih malah bu senangnya. Ibu tau kalau saja tidak ada mbak mbak Bercadar yang mungkin wajahnya cantik sekali, Shita tak dapat buku ini bu."
"Kok mungkin cantik?"
"Kan bercadar ibu, ya seperti nya cantik wanita itu bu. Mungkin seumuran kak Arsyad, baik sekali bu orangnya, sudah lembut banget tutur bicaranya, dan baik pula mau memberikan buku ini pada Shita. Padahal dia menginginkan buku inj juga. Andai aku punya kakak perempuan seperti dia."
"Kamu itu, jelas lah namanya juga perempuan itu bercadar, sudah pastu tutur katanya lembut Ta."
"Belum tentu ibu, ada yang seperti itu penampilannya tapi sarkas kalau bicara."
"Iya sih."
"Coba kak Arsyad istrinya seperti itu, damai sekali mungkin bu."
"Kamu ketinggian kalau menghayal, sudah ibu mau ke belakang, kamu mau makan apa?"
"Apa saja deh yang penting ibu yang buatkan."
"Oke.."
Andini masuk ke dalam dapur caffenya. Dia membuatkan makan siang untuk anak perempuan semata wayangnya.
Sedangkan Shita, dia sedang asik dengan buku barunya.
"Wanita itu cantik sekali, semoga kak Arsyad menemukan jodoh seperti dia. Damai hidup ini Mempunyai kakak ipar yang lembut sekali tutur katanya. Ahhh surga dunia sekali." Gumam Shita dengan membaca bukunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥Happy Reading♥
__ADS_1