
Nuri sibuk sekali menyiapkan rumah untuk di singgahi sahabat dari sepupunya. Beruntung sebelah rumah Opa Wisnu ada rumah yang jarang di pakai. Ya, rumahnya sering di gunakan hanya untuk pertemuan saja, atau menjamu para tamu yang akan menginap di rumah Opa Wisnu. Kata Opa Wisnu, sayang kalau menyewa hotel mending di rumahnya saja. Oleh sebab itu Habibi menuruti Opa Wisnu agar temannya dan saudaranya menempati salah satu rumah Opa Wisnu saat liburan di Budapest.
“Temanmu kapan ke sini, Ki?” tanya Nuri.
“Mungkin lusa mereka sampai di sini,” jawab Habibi.
“Siapa sih teman kamu itu?” tanya Nuri.
“Kamu pasti kenal, Nuy. Dia dulu kuliah di sini. Pernah menempati rumah ini juga, makanya Opa menyuruh dia menempati rumah ini dengan saudaranya,” jawab Habibi.
“Siapa sih? Teman kamu itu banyak yang nempatin rumah ini. Hingga Yas ....”
“Stop! Jangan bahas dia. Aku sudah bersusah payah melupakan dia, tolong jangan sebut nama dia lagi, Nuy. Aku mohon,” ucap Habibi.
“Sampai kapan kamu menyembunyikan ini dari Najwa, Ki? Jangan sampai dia tahu dari orang lain, Ki. Jelaskan padanya, dia juga berani menjelaskan semua masa lalunya pada kamu. Masa kamu mau menutupi semua itu dari Najwa?” jelas Nuri.
“Belum saatnya, Nuy.” Habibi mengembuskan napasnya dengan kasar. Sejenak ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di tangan-tangan sofa.
“Untung Ainun tidak di sini, Nuy. Aku minta tolong, jangan bahas nama itu lagi, Nuy. Suatu saat pasti aku jelaskan pada Ainun,” ucap Habibi.
Habibi memejamkan matanya. Mengingat sebuah nama yang hampir di ucapkan Nuri tadi. Sesak rasanya saat mengingat nama itu. Ya, dua tahun dia melupakan sebuah nama yang pernah singgah di hatinya. Setelah menemukan Ainun dia benar-benar seperti menemukan hidupnya kembali.
“Lupakan dia Akmal, lupakan! Hidup barumu akan di mulai dengan Ainun. Kamu jangan melukai hati Ainun.” Habibi bergumam dalam hatinya.
Ainun berjalan menuju ke arah Habibi yang sedang merebahkan diri di sofa. Dia baru saja pulang dari rumah singgah untuk menjenguk anak-anak yang menderita sakit kanker bersama Papah Erlangga. Ainun mengusap lembut kepala Habibi yang masih berbantal tangan-tangan sofa.
“Kamu ketiduran?” Ainun mengusap kepala Habibi dan mencium keningnya.
“Kamu sudah pulang, Sayang?” tanya Habibi dengan suara paraunya.
“Sudah, mana Nuri?” tanya Ainun.
“Lagi di kamar mandi, tadi baru selesai beres-beres dia mandi,” jawab Habibi.
“Memang temanmu kapan ke sini?” tanya Ainun lagi.
“Mungkin lusa,” jawab Habibi dengan malas-malasan dan masih tiduran di sofa.
“Kamu sedang tidak enak badan?”
“Mungkin kecapean saja, sini duduk. Aku ingi tidur di pangkuan mu,” pinta Habibi.
Ainun duduk di sofa. Dia mengangkat kepala Habibi. Habibi tidur di pangkuan Ainun. Dia menggenggam tangan Ainun dan menciumnya. Dia merasakan kenyamanan saat bersama Ainun, sama seperti saat bersama seseorang yang hampir 10 tahunan menemaninya.
__ADS_1
“Kamu kenapa Habibi? Ada masalah dengan pekerjaanmu? Atau kenapa? Tumben sekali kamu tidak ada semangat hari ini, Sayang?” Ainun mengusap lembut kening Habibi.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya kecapean saja, Sayang. Kamu bagaimana tadi dengan papah?” tanya Habibi.
“Ya semua senang dengan kedatanganku. Dan, mereka semua antusias mendengarkan dongeng yang aku bawakan. Kadang aku merasa iri dengan mereka, Sayang,” jawab Ainun.
“Iri bagaimana?” tanya Habibi.
“Mereka begitu tabah menjalani semua yang menimpa pada mereka. Mereka tidak pernah tahu, hari ini atau esok mereka akan menghadap Tuhan, tapi mereka selalu semangat untuk sembuh dan membahagiakan orang-orang yang mereka cinta dengan senyumannya dan kekuatannya melawan sakit. Padahal aku tahu sakitnya seperti apa mereka. Sedangkan aku, aku masih sering mengeluh, dan kadang aku menyerah, tidak ingin melanjutkan hidupku lagi,” jawab Ainun.
“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kamu tahu, kamu adalah wanita yang paling tegar, yang pernah aku temui. Dengan kemelut nya masalah yang menimpamu, kamu masih bisa bangkit. Dan, aku mohon sama kamu, kamu harus bisa melawan rasa takutmu itu, demi kita. Kita akan menikah, aku mohon, kamu jangan takut dan jangan mengingat semua masalah yang membuat kamu sakit,” ujar Habibi.
“Asal kamu ada di sampingku aku bisa,” jawab Ainun.
“Aku akan selalu ada di samping kamu, Sayang. Apapun yang akan terjadi nanti, kita hadapi bersama,” ucap Habibi.
Bagaimana Ainun tidak nyaman dengan Habibi yang selalu membuat dia merasa di lindungi? Ainun selalu membutuhkan Habibi dalam setiap hal. Begitupula Habibi, dia juga selalu melibatkan Ainun dalam setiap hal.
“Ainun ....” panggil Habibi.
“Iya, ada apa?”
“Ainun, jika aku memiliki masa lalu yang dengan wanita, apa kamu mau menerima ku sebagai suamimu?” tanya Habibi.
“Iya, sih,” ucap Habibi dengan singkat.
“Apa karena kamu ingat masa lalumu, hingga membuat kamu tidak semangat seperti ini?” tanya Ainun.
“Kalau iya?”
“Ya, sudah, tutup rapat-rapat lagi. jangan di buka. Aku tidak peduli sekelam apa masa lalu kamu, Sayang. Kita hidup tak lepas dari masa lalu, jadi aku ingin kamu mendampingiku meraih masa depan kita, bukan mengingat masa lalu. Sudah ah, jangan seperti ini. Mana Habibiku yang selalu semangat dan selalu membuat aku tertawa? Kok jadi Habibi yang lemah seperti Ainun?” ujar Ainun.
Habibi tidak menyangka, Ainun sama sekali tidak membahas dan bertanya tentang masa lalu dirinya. Habibi yang mau cerita dan menjelaskan masa lalunya, akhirnya dia mengurungkan, karena Ainun tidak membahasnya lagi. Bagi Ainun, untuk apa mengungkit masa lalu seseorang yang jelas-jelas kita tidak tahu, dan kita belum tahu kehidupan orang tersebut dahulunya seperti apa. Yang terpenting bagi Ainun, Habibi sekarang adalah Habibi yang bisa menerima Ainun apa adanya, dan mencintai Ainun tanpa syarat.
“Aku tidak butuh kamu menjelaskan sekelam apa masa lalumu, sayang. Karena, dengan kamu mencintaiku tanpa syarat dan menerimaku apa adanya, itu sudah membuat aku jauh lebih berarti dalam hidupmu. Dan, aku adalah masa depanmu, jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan mengungkit semua masa silam mu. Asal kamu tidak masuk ke masa itu lagi,” jelas Ainun.
“Terima kasih, Ainun. Aku tidak salah memilih kamu untuk menjadi pendamping hidupku,” ucap Habibi.
“Dan, terima kasih, kamu adalah sosok yang menguatkan ku selama aku di sini,” balas Ainun.
“Kenapa kamu menceritakan semua masa lalumu dengan Dio padaku, Ainun?” tanya Habibi.
“Karena, kamu tahu aku saat aku masih dengan Dio. Kamu mengenal aku saat aku masih bersama Dio. Sedangkan aku, untuk apa aku menuntut kamu menceritakan kamu dulu seperti apa, aku kan belum tahu kamu dulu dengan siapa? Kehidupannya bagaiman? Iya, kan? Jadi aku tidak perlu itu, Habibi Sayang. Aku hanya butuh kamu yang sekarang,” jawab Ainun.
__ADS_1
Tanpa sadar percakapan mereka terdengar oleh Nuri yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nuri tidak menyangka, Ainun sama sekali tidak menuntut Habibi untuk menceritakan masa lalunya. Padahal masa lalu Habibi justru sungguh parah di bandingkan Ainun. Dan, seharusnya Ainun mau atau tidak mau di jelaskan, Habibi harus menjelaskan. Nuri takut dia kembali setelah mereka bahagia. Nuri tidak mau Ainun tersakiti oleh lelaki untuk kedua kalinya.
“Aku harus bagaimana? Apa kau yang harus menjelaskan? Tidak. Aku tidak mungkin menjelaskan, itu sama artinya aku mengadu domba hubungan mereka. Biarlah semua berjalan apa adanya, semoga saja dia tidak kembali di sini. Atau lebih baik dia mati saja di Belanda,” gumam Nuri.
^^^^^
Raffi masih bingung soal ajakan Fattah untuk berlibur ke luar negeri. Dia masih banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan dalam waktu dekat. Tapi, Shifa dan Arkan terus memaksa dia untuk ikut ke sana.
“Ayolah, Kak Raffi. Masa kakak tidak ikut, mumpung kita bisa liburan bareng-bareng, Kak.” Arkan terus membujuk Raffi agar Raffi ikut dengan Fattah dan Shifa berlibur ke luar negeri.
“Kan, kakak masih banyak pekerjaan, bagaimana, ya?” ucap Raffi yang masih saja bingung, mau ikut atau tidak. Dio dan Rania pun ikut memaksa dia dari kemarin,
“Ikutlah, sesekali kamu berlibur, biar kantor abah yang urus, kan ada Om Rayhan juga. Abah rindu suasana kantor, dan lama sekali tidak bertukar pikir dengan Om kamu,” ucap Arsyad yang tiba-tiba datang menemui Raffi dan Arkan yang dari tadi ribut soal liburan.
“Tuh, abah juga mengizinkan Kak Rafi, masa iya gak mau ikut,” rengek Arkan lagi.
“Kak Raffi gak mau ikut, sebenarnya bukan maslah kanor, Arkan. Dia tidak mau sehari tidak melihat kekasihnya. Ini liburan sampai satu minggu lho, jelas lah Kak Raffi mikir-mikir. Mau ninggalin sang pujaan hati,” ujar Shifa yang duduk di samping abahnya.
“Betul itu,” sahut Arsyad.
“Kalian itu sok tahu, iya deh, iya. Aku ikut.” Raffi dengan terpaksa ikut mereka untuk berlibur ke luar negeri.
Memang di samping pekerjaan juga Raffi tidak mau ikut karena Alina. Dia memang tidak ingin jauh-jauh dari Alina. Wanita yang setiap hari mengisi harinya. Walaupun hanya memandang saja dan jarang mengobrol dengan Alina, dai sudah merasa bahagia. Bahkan, bertukar pesan lewat WhatsApp saja dia jarang sekali.
Raffi juga ingat dengan kakaknya. Di saat semua akan berkumpul dan liburan bersama, hanya kakaknya yang tidak ikut. Dan, hingga sekarang kakaknya juga belum pulang ke rumah. Dia benar-benar sedih sekali di saat seperti ini, tapi orang yang paling ia sayangi setelah orang tuanya tidak berada di dekatnya. Iya, Najwa. Kakak perempuan Raffi satu-satunya, yang sangat ia sayangi.
“Aku bukan hanya memikirkan Alina. Aku memikirkan Kak Najwa, andai Kak Najwa ada di sini, dan tidak ada masalah dengan Dio, pasti akan bahagia. Kita akan liburan bersama,” gumam Raffi.
”Memang ada acara apa sih, Fattah mengajak kami liburan, Fa?” tanya Raffi.
“Dia itu mau menemui sahabatnya. Ya, katanya sahabat rasa keluarga. Opa dan papahnya juga sudah menganggap Fattah seperti anaknya. Ya seperti itu, dia kangen katanya. Waktu mereka di sini, Fattah kan sibuk terus. Jadi, meskipun jauh, Fattah ingin menemuinya,” jawab Shifa.
“Apa tidak apa-apa membawa orang banyak?” tanya Arsyad.
“Mereka justru senang dengan kedatangan kami, Abah. Kemarin Fattah mengundurkan kedatangannya ke sana saja, mereka kecewa,” jawab Shifa.
Arsyad hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya, sesekali anak-anaknya berlibur jauh. Tidak di negeri sendiri saja. Sejenak Arsyad mengingat anak sulungnya. Putri sulungnya yang sudah lama tidak pulang. Hampir satu tahun dia tidak pulang. Di saat seperti ini, Arsyad benar-benar merindukan Najwa. Saat semua akan berlibur bersama, hanya Najwa yang tidak ada.
“Kamu di mana, Nak. Abah merindukanmu. Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya,” gumam Arsyad.
Bukan hanya Arsyad yang merasakan semua ini. Kadang Annisa yang benar-benar merasa bersalah sekali dengan keadaan ini. Dia lebih merasa bersalah, karena semua penyebab ini adalah putranya sendiri. Dan, dia selama ini juga harus menanggung beban bersalahnya karena masalah kepergian Najwa dari rumah. Apalagi Arsyad dan Rico sekarang juga tidak sedekat lagi dengan Dio.
Rico juga tidak menyangka, keluarganya yang harmonis kini berubah menjadi keluarga yang sendiri-sendiri. Shita juga jarang menemui dirinya di rumah Arsyad. Kadang malah Rico yang mengalah ke rumah Shita karena dia kangen dengan Farrel dan Rana. Sejak kejadian itu, Shita juga tidak lagi dekat denga Dio dan juga Annisa. Hanya sekedar saja mereka bicara, kalau sedang berkumpul bersama. Dan, itupun tanpan sengaja berkumpul.
__ADS_1