
Menjelang sore hari cuaca sangat mendung di kawasan Vila yang Arsyad dan Annisa temati. Annisa membuka pintu belakang di kamarnya. Dia melihat rintik hujan yang turun dari langit. Annisa duduk di kursi yang berada di teras belakang kamar. Dia menikmati aroma bau tanah yang menyegarkan otaknya. Walaupun sedikit kecewa karena tidak bisa jalan-jalan sore di sekitar Vila dan taman bunga, Annisa tidak masalah karena di belakang kamarnya juga menyuguhkan pemandangan yang indah. Annisa mengusap lengannya, dia merasakan hawa dingin menyerang tubuhnya karena hujan semakin deras.
Arsyad melihat Annisa dari dalam kamarnya yang terus saja mengusap lengannya karena kedinginan. Arsyad mendekati istrinya, dan duduk di samping Annisa.
"Nis, masuk yuk. Dingin di sini, kakak lihat kamu sudah kedinginan,"ucap Arsyad sambil duduk di samping istrinya.
"Iya kak. Dingin sekali, beda dengan suasana di vila ibu ya, kak." Annisa semakin mengeratkan kedua tangannya di atas perutnya.
"Ya sudah ayo masuk,"ajak Arsyad.
Annisa ikut suaminya masuk ke dalam kamar lagi. Wajah Annisa sedikit kecewa, karena dia tidak jadi jalan-jalan sore di sekitar taman bunga.
"Kakak,"panggil Annisa dengan manja dan wajah yang cemberut.
"Apa Nisa?"tanya Arsyad sambil menata tempat tidurnya yang agak berantakan.
"Hujannya tambah deras,"jawab Annisa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kalau tambah deras kenapa? Itu bibir kamu bisa di kuncir lho, Nis,"ucap Arsyad sambil tersenyum.
"Ih…kakak! Annisa kan ingin ke taman bunga,"ucapnya dengan kesal.
"Besok pagi-pagi, kalau sekarang, nanti kamu sakit lagi, kamu tau kan, kalau kamu sakit, nanti buat dedeknya tertunda,"ucap Arsyad lembut dengan menyelipkan rambut Annisa ke belakang telinganya.
"Kakak, mulai nih, nakal." Annisa memukul dada Arsyad lirih.
"Awwww….sakit Annisa, sakit sekali." Arsyad memegang dadanya, dia merasakan kesakitan di bagian dadanya.
"Kak, kakak, yakin sakit, kak?"tanya Annisa panik.
"Sakit, Nis."suara Arsyad melemah dan masih memegang dadanya.
"Kak, kakak jangan gini, aku takut." Annisa menangis di depan suaminya, dia sangat cemas dan takut melihat Arsyad yang semakin kesakitan.
Arsyad terjatuh di lantai, Annisa benar-benar cemas sekali. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Arsyad yang tergeletak di lantai, dan menepuk wajah Arsyad.
"Kakak! Bangun sayang!" tangis Annisa pecah seketika. Dia terkulai lemas dan duduk di samping Arsyad sambil menangis dengan sesegukan.
"Jangan sampai kedua kalinya suamiku meninggal dengan seperi ini, Ya Allah,"ucap Annisa lirih.
Annisa mencoba bangun dari duduknya, walaupun sangat lemas sekali. Dia ingin keluar meminta pertolongan dengan penjaga vila. Arsyad membuka matanya dengan senyum penuh kemenangan sudah mengerjai istrinya. Arsyad lupa, Annisa memiliki trauma saat di tinggal Arsyil. Iya, dia di tinggal Arsyil dengan cara tiba-tiba. Arsyad menarik istrinya yang hendak bangun dari duduknya
"Aku hanya bercanda, aku tidak apa-apa,"ucap Arsyad sambil tersenyum dan bangun dari tidurnya.
"Aku bercanda Nisa, maaf, maafkan kakak." Arsyad menarik istrinya yang masih sesegukan menangis.
"Kakak jahat! Kakak keterlaluan bercandanya! Kakak tau, aku takut, aku takut sekali akan kehilangan orang yang aku sayangi kedua kalinya dengan cara seperti ini. Kakak jahat sekali, bercandanya," ucap Annisa dengan sesegukan, menangis di dada Arsyad.
"Maaf, maaf. Kakak lupa, kalau dulu Arsyil,"ucapan Arsyad terhenti karena Annisa mengehentikan ucapannya.
"Sudah, jangan bicara lagi, aku tidak mau mengingat lebih dalam. Kasihan Arsyil. Kakak juga, bercanda kelewatan. Jangan ulangi lagi, aku gak mau kakak pergi." Annisa semakin mengeratkan pelukannya pada Arsyad.
"Iya, maaf. Maafkan kakak, sayang." Arsyad mengusap lembut rambut Annisa dan mencium kepala Annisa berkali-kali.
Arsyad menggendong tubuh Annisa, dia merasakan Annisa benar-benar ketakutan. Dia menidurkan Annisa di tempat tidurnya, Arsyad tidur di sebelah Annisa. Annisa menenggelamkan wajahnya di dada suaminya. Dia masih saja menangis dan memeluk erat Arsyad.
"Sudah, jangan menangis. Kakak tidak pergi ke mana-mana. Kakak di sini, jangan takut dan cemas lagi. Maafkan kakak, sayang. Maafkan kakak." Arsyad mencium kening Annisa.
Arsyad menatap wajah Annisa yang basah karena air matanya masih saja mengalir dari sudut mantanya. Arsyad mengecup kelopak mata Annisa dengan lembut dan membelai pipi Annisa.
"Nisa sayang, sudah jangan menangis, maafkan kakak ya?" Arsyad berkata lembut dan mengecup kilas bibir Annisa.
"Jangan ulangi lagi, dan jangan pergi dariku, kak,"pinta Annisa.
"Iya, kakak tidak akan mengulanginya, dan kakak janji, akan menemani kamu hingga kita menua bersama,"ucap Arsyad sambil mengecup bibir Annisa.
Arsyad semakin dalam mengecup bibir Annisa, hingga mereka berdua mersakan pasokan oksigennya berkurang. Annisa melepaskan kecupan Arsyad, dia menghirup oksigen dan setelah itu, dengan sangat lembut Annisa kembali menautkan bibirnya dengan bibir Arsyad. Tangan Arsyad dan Annisa tidak hanya diam. Mereka mencari titik lemah mereka masing-masing. Leguhan liriih terlepas dari mulut Annisa yang membuat Arsyad semakin memanas menyentuh setiap inci tubuh Annisa.
Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka. Arsyad dan Annisa membuang bajunya ke segala arah. Kegiatan mereka semakin memanas, hawa dingin yang terasa di dalam kamar, berubah menjadi hangat dan semakin memanas.
"Annisa, boleh kan kakak melakukan lagi?"tanya Arsyad pada Annisa yang masih menikmati sentuhan lembut suaminya.
"Hmmm…iya, kak," jawab Annisa dengan suara parau.
Annisa menggigit bibir bawahnya saat tangan Arsyad mulai lagi bergerilya di setiap inci tubuh Annisa.
"Jangan gigit bibirmu, ini sungguh menggemaskan, sayang," bisik Arsyad di telinga Annisa.
"Kak Arsyad.…." ucap Annisa manja saat Arsyad memulai permainannya.
"Iya, sayang," ucap Arsyad dengan lirih.
"Nis," panggil Arsyad dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, kak," jawab Annisa dengan manja.
Arsyad sejenank menghentikan permainannya. Dia mencium lembut pipi Annisa dan berbisik di telinga Annisa
"Kamu menjanda berapa tahun, sayang?"bisik Arsyad dengan senyuman nakal terurai di wajahnya.
"Kakak, hitung sendiri ah." Annisa mencubit lengan suaminya dengan lembut.
"Jawab kakak, mau kakak lanjutkan tidak?"tanya Arsyad dengan tubuhnya masih menindih Annisa sedikit menggerakkan tubuhnya.
"Kakak ada-ada saja, ih. Dua tahun kenapa?"ucapnya sambil menarik hidung Arsyad.
"Pantas saja, ini sangat luar biasa, sayang," ucapnya dengan semangat dan melanjutkan permainannya hingga berulang kali.
Hanya suara deritan tempat tidur dan merdunya suara dua insan yang sedang memadu kasih di kamar yang sangat luas itu. Annisa merasakan dirinya sudah di atas puncak. Annisa menggigit bibir bawahnya lagi, Arsyad yang melihatnya langsung mengecup bibir Annisa dengan lembut.
"Sudah aku katakan, jangan gigit bibir bawahmu Annisa, aku gemas sekali,"ucap Arsyad dengan suara parau dan napas terengah-engah seperti habis lari maraton.
"Kakak….."ucap Annisa manja.
"Lepaskan, sayang….." Arsyad memberikan kecupan lembut di bibir Annisa.
"Annisa……." Arsyad melepaskan hasratnya bersamaan dengan Annisa yang juga mecapai pelepasan.
Annisa masih menggigit bibir bawahnya yang membuat Arsyad semakin gemas melihatnya.
"Dasar anak bandel, di bilang jangan gigit, gigit terus,"ucap Arsyad sambil mengusap bibir Annisa dengan jarinya.
"Habis kakak, sih. Perih, kakak," ucap Annisa manja.
"Maaf, kakak terlalu bersemangat,"ucap nya sambil memeluk Annisa dan tidur di samping istrinya.
"Salah sendiri milikmu sungguh luar biasa,"imbuh Arsyad.
"Maksud kakak?"tanya Annisa.
"Ya sampai kakak susah gerakinnya, takut kamu sakit," ucap Arsyad.
"Iya emang sakit, milik kakak juga, luar biasa,"bisik Annisa.
"Kalau di ukur dengan ukuran baju?"tanya Arsyad menggoda istinya.
"Extra Large, kakak,"jawab Annisa dengan malu dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
"Kakak juga, dosen nakal," ucap Annisa.
"Kalau kamu Extra Small, nis,"ucap Arsyad sambil menggoda istrinya lagi.
"Apanya? Ini pakai cup yang gede lho, Pak Dosen nakal,"ucapnya
"Bukan itu, kalau itu, aku tau, Annisa,"ucapnya.
"Lalu?"tanya Annisa.
"Yang sedang merasakan perih dan sakit itu, sayang,"ucap Arsyad manja.
"Oh…itu, kamu bisa saja, sih. Dasar dosen nakal." Annisa mencubit pipi suaminya.
"Aku bisa nakal gara-gara mahasiswaku yang nakal ini,"ucapnya.
"Hmm…seperti itu, kah?"tanya Annisa dengan menggoda.
"Iya,"jawab Arsyad.
"Kakak mau lagi?"tanya Annisa.
"Mau, berkali-kali lagi kakak juga mau,"ucapnya.
"Masih kuat, kah? Sudah 4 kali lho?"goda Annisa.
"Kamu menantang kakak?" Arsyad kembali menyentuh tubuh Annisa.
"Emmm….kalau mau, lakukaknlah, sayang,"ucap Annisa yang sudah merasakan hangatnya sentuhan Arsyad.
"Masih perih, kan?"tanya Arsyad.
"Sedikit, untuk kakak apa yang tidak, kalau kakak mau lagi, Annisa siap. Annisa juga ingin lagi, kak….."ucapnya manja.
"Dasar anak nakal, berani sekali membuat suamimu ini berkali-kali." Arsyad semakin gemas dengan istrinya. Dia menggigit hidung Annisa dengan lembut.
"Kaka juga nakal, ya sudah mau lagi tidak? tanya Annisa lagi.
"Mau, satu kali lagi, ya? Ehh…dua, ya?"pinta Arsyad.
__ADS_1
"Terserah kakak,"ucapnya.
Arsyad dan Annisa kembali melanjutkan permainannya hingga berkali-kali, mereka mencapai puncak bersama. Suara deritan temoat tidur semakin nyaring di telinga mereka. Sungguh Arsyad benar-benar terlalu semangat melakukannya tanpa menghiraukan Annisa yang sudah semakin perih dan kesakitan. Mereka menyudahi permainannya hingga berkali-kali. Arsyad tidur di samping istrinya dan memeluknya.
"Kakak, perih sekali, aku baru merasakan hubungan intim hingga sakit, tapi aku sangat menikmatinya. Suamiku kuat sekali, ampun deh,"gumam Annisa.
"Annisa, kamu benar-benar membuat aku ingin lagi dan lagi, milikmu sungguh luar biasa, Annisa," gumam Arsyad.
"Terima kasih, sayang,"ucap Arsyad.
"Iya, kak. Sama-sama," jawab Annisa sambil menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.
"Kakak, ke kamar mandi, yuk,"ajak Annisa.
"Iya, ayo kita mandi,"ucap Arsyad.
Arsyad beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mengambil handuk dan bathrobe milik Annisa. Annisa memakai bathrobenya dan beranjak dari tempat tidurnya. Arsyad menuju ke kamar mandi terlebih dahulu. Annisa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun, langakahnya terhenti karena dia merasakan saki di pangkal pahanya. Annisa berteriak memanggil suaminya yang sudah di depan pintu kamar mandi. Bagaimana tidak sakit, Arsyad melakukannya tanpa ampun, apalagi milik Arsyad lebih besar di bandingan milik laki-laki pada umumnya.
"Kakak….! Sakit…!" seru Annisa.
Arsyad menghentikan langkahnya dan berjalan cepat menuju ke arah Annisa yang mendudukan kembali dirinya di tepi ranjang. Arsyad berjongkok di depan Annisa dan melihat wajah Annisa yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Apanya yang sakit, sayang?"tanya Arsyad.
"Pangkal paha Annisa, kakak,"jawab Annisa
"Apa sangat sakit sekali, sayang?" tanya Arsyad dengan cemas dan berjongkok di depan Annisa.
"Iya, kak, sakit sekali, perih juga,"ucap Annisa dengan menundukkan kepalanya karena merasakan sakit dan perih.
"Maafkan kakak, kakak janji, nanti malam kakak tidak melakukannya lagi, maafkan kakak,"ucap Arsyad dengan menyesal.
"Jangan bicara seperti itu, nanti juga sembuh sakitnya, kak. Janga khawatir." Annisa menyentuh wajah Arsyad dan mengusapnya dengan lembut.
"Maafkan kakak ya, sayang." Arsyad mencium tangan istinya. Annisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kak, gendong," pinta Annisa dengan manja.
"Iya, kakak gendong." Arsyad menggendong Annisa ke kamar mandi untuk membersihka diri.
Annisa dan Arsyad sudah selesai mandi. Mereka sekalian mengambil air wudhu dan setelah itu mereka sholat Asahr bersama.
Annisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah selesai sholat, dia benar- benar lelah sekali hari ini karena memanjakan suaminya berkali-kali. Annisa yang merasa lelah, dia dengan cepat memejamkan matanya dan tertidur pulas. Arsyad melihat istrinya sudah tertidur pulas, dia menaikan selimut tebal di tubuh Annisa. Dia melihat jam dinding, dan sudah menunjukan jam setengah lima sore.
"Padahal tidak baik tidur jam segini, tapi kamu pasti lelah, sayang. Tidurlah, maafkan kakak,"ucapnya lirih sambil mencium keninga Annisa.
Arsyad keluar dari kamarnya, dia mencari penjaga vila dan pelayanh untuk menyiapkan dinner berdua dengan suasana romantis bersama istrinya. Semua pelayan tau apa yang harus mereka siapkan. Arsyad juga ikut membantu dan menyiapkan semua. Taman samping Vila telah di sulap menjadi nuansa romantis. Dengan dekorasi serba putih, membuat suasana romantis semakin kental. Arsyad yang membuat konsepnya itu dan pelahan hanya menuruti apa yang Arsyad inginkan.
Arsyad kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia masih melihat istrinya tertidur pulas. Arsyad merangkak naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Annisa. Dia mengusap kepala Annisa dan mencium kening Annisa. Arsyad memerhatikan wajah istrinya yang ayu itu.
"Malam ini, aku akan memberikanmu kejutan Annisa. Terima kasih, kamu sudah menyerahkan semuanya untukku hari ini. Aku janji, Annisa, aku akan selalu berada di sampingmu, membahagiakan aku dengan caraku. Dan untuk tadi, aku minta maaf karena sudah membuat kamu kesakitan. Aku tidak tau, aku bergairah sekali dan ingin lagi dan lagi untuk melakukannya denganmu,"gumam Arsyad.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
Hay.....maaf ya Author lama up nya. Author sibuk sekali.
Oh iya, ini masih nuansa lebaran, ya. Author mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin
Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah Ta’ala menerima amal kami dan amal kalian) Selamat Hari Raya idul Fitri 1441 H
Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa – dosa kita, menerima amal kebaikan kita dan kita dipertemukan Dengan Bulan Ramadhan yang akan datang.
Dan Setelah Ramadhan ini berakhir ,Semoga kita Semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan di berikan keistiqomahan..
Aamiin.
jangan lupa like dan vote nya ya.
__ADS_1
budayakan Like Sesudah/sebelum membaca.😘😘😘