
Keesokan harinya, semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Hanya Dio yang tidak berada di ruang makan. Dia memilih di ruang tengah menikmati roti selai dan buah yang sudah Rania ambilkan.
“Mana suamimu, Ran?” tanya Shifa.
“Di ruang tengah, dia tidak mau ikut gabung, katanya perutnya begah kalau lihat masakan, aneh sekali adik kamu, Shifa,” jawab Rania.
“Fix, ini benar kamu hamil, Ran,” sambung Fattah.
“Ikut Opa ke rumah sakit, ya? Nanti biar kamu sekalian periksa kandungan mu,” ajak Opa Wisnu.
“Tidak usah, Opa. Biar nanti saja kalau sudah pulang,” jawab Rania.
“Ya sudah nanti opa bawakan testpack kalau pulang dari rumah sakit,” ucap Opa Wisnu.
“Baiklah, opa,” jawab Rania.
Semua hening menikmati sarapan paginya. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar lirih. Rania merasa dirinya beruntung dipertemukan dengan orang-orang baik seperti sekarang.
Seusai sarapan, Habibi bersama Opa Wisnu dan Papah Erlangga berangkat ke rumah sakit. Ainun masih di rumah karena dia harus ke rumah singgah siangan. Dia harus menemani pasiennya yang hari ini operasi, jadi dia harus ke rumah sakit lebih awal.
“Sayang, aku tinggal ke rumah sakit, ya? Hari ini Rhys operasi, kamu tahu kan, dia dekat sekali dengan aku. Kamu di rumah saja dulu, tidak usah ke butik atau ke rumah singgah,” pamit Habibi yang sudah siap untuk ke Rumah Sakit.
“Aku siangan ke Rumah Singgah, Sayang. Salam buat Rhys, aku belum bisa menemuinya, nanti setelah pulang dari rumah singgah aku menjenguknya,” jawabnya.
“Oke, nanti aku sampaikan, kamu hati-hati ke rumah singgahnya, aku berangkat.” Habibi meninggalkan kecupan di kening Ainun.
“Kamu juga hati-hati,” ucap Ainun.
Memang seperti itu Habibi saat akan berangkat ke rumah sakit. Setelah Ainun aktif di rumah singgah, dia juga sibuk dengan pekerjaannya, mereka berangkat kerja sendiri-sendiri. Habibi sekarang sudah mengizinkan Ainun pergi keluar sendirian.
“Raf, titip kakakmu, Kak Akmal ke rumah sakit dulu,” ucap Habibi dengan Raffi.
“Siap, Kak!” jawabnya.
“Apaan sih, seperti setiap harinya aku tidak seperti ini, di titip-titipi,” ujar Ainun.
“Kali aja ada yang bawa kamu kabur,” ucap Habibi sambil mencubit pipi Ainun.
“Sudah, itu opa sama papah sudah menunggumu.” Ainun menyuruh Habibi untuk segera berangkat ke Rumah Sakit.
Ainun kembali masuk ke ruang tengah bergabung dengan saudaranya. Hari ini Fattah ingin mengajaknya pergi menikmati kota Budapest. Tapi, dia urungkan, karena Habibi, Nuri, dan Najwa pagi sampai sore sibuk, jadi mereka akan keluar nanti malam.
“Ayo dong, katanya mau jalan-jalan,” ajak Shifa.
“Nanti malam saja, ya? hari ini kan Najwa sama Kiki tidak bisa, Nuri juga sibuk. Kalau nanti malam kita sudah kumpul semua aku ajak kalian jalan-jalan,” jawab Fattah.
“Iya Shifa, nanti malam saja, enak nanti malam lho, kalau siang kurang indah pemandangannya,” ujar Najwa.
“Hemm ... ya sudah,” ucap Shifa.
“Sabar, kita nanti jalan terus Video Call sama abah, bunda, dan opa. Biar tahu kita di sini dengan siapa,” ujar Raffi.
“Kenapa tidak sekarang saja?” sambung Arkan.
“Nanti malam saja,” sahut Dio.
Najwa hanya diam saat mereka membahas akan menelepon abahnya. Dia masih merasa sangat bersalah sekali dengan abahnya. Dia belum berani menatap abahnya. Meskipun dia sangat merindukan abahnya. Dai belum berani bicara dengan abahnya. Mendengar abahnya di sebut wajah Najwa menjadi sendu. Dia berusaha menahan air matanya yang nyaris keluar, karena dia tidak mau menangis di depan saudaranya.
“Aku ke kamar dulu, mau siap-siap ke rumah singgah,” ucap Najwa dengan suara yang sedikit parau karena menahan tangisnya.
“Kak, Kak Najwa sehat, kan?” tanya Raffi.
“Iya, kakak sehat, kakak lupa nanti jam 11 ada tamu di Butik, kakak harus ke sana dulu sebelum ke Rumah Singgah,” jawab Najwa.
“Oh, ya sudah,” jawab Raffi.
Najwa masuk ke dalam kamarnya. Memang dari kemarin dia sudah membawa baju untuk tinggal di rumah Opa Wisnu. Karena Habibi akan kedatangan tamu spesial. Dan, ternyata tamu spesialnya adalah saudaranya sendiri. Najwa mengunci pintunya, dia duduk di tepi ranjang. Dia membuka galeri ponselnya dan melihat foto abah dan opanya. Dua lelaki yang ia rindukan.
Najwa menangis memandang foto abah dan opanya. Dia ingat akan kesalahannya selama ini. Dia membohongi mereka karena suatu cinta di dalam hatinya. Iya, cinta untuk Dio saat itu. Cinta yang menggebu, yang membuat semuanya hancur. Semuanya menjadi hancur karena hubungannya dengan Dio.
Dia di usir abahnya, Dio dan Rania juga bercerai. Semua juga membenci Dio, hingga Rana dan Shita ikut membencinya. Ini semua karena Cinta yang egois, yang diciptakan dirinya bersama Dio. Najwa menangis hingga sesegukkan mengingat peristiwa itu.
“Abah, maafkan Najwa, maafkan Najwa, apa abah benar merindukan Najwa? Apa abah memaafkan Najwa? Najwa merindukan abah, ingin memeluk abah dan opa.” Tangis Najwa semakin pecah.
Rania yang ingin menanyakan sesuatu pada Najwa, dia sedikit mendengar Najwa sedang menangis. Dia ragu untuk mengetuk pintu kamar Najwa, dia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Najwa. Tapi, dia harus tahu Najwa menangis karena apa. Siapa tahu Najwa butuh seseorang untuk bertukar pikir.
“Najwa, kamu baik-baik saja? Bisa buka pintunya, aku ingin meminta tolong sesuatu,” panggil Rania dari balik pintu kamar Najwa.
Najwa segera mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Dia ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air matanya. Meskipun dia sudah mencuci wajahnya, mata sembabnya masih sangat terlihat.
“Ada apa Rania?” tanya Najwa saat membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
“Bisa kita bicara sebentar?” pinta Rania.
“Ehm ... silakan masuk.” Najwa menyuruh Rania masuk ke dalam kamarnya.
Mereka duduk di atas tempat tidur. Rania melihat mata Najwa yang masih sembab. Rania tahu, setelah di luar tadi membahas ingin menghubungi Abahnya, wajah Najwa berubah menjadi sendu. Rania tahu, Najwa belum siap untuk berbicara pada abahnya. Apalagi bertatap muka.
“Najwa, kamu menangis?” tanya Rania.
Najwa hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rania. Dia menyeka air matanya yang sudah jatuh dari sudut matanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, hanya air mata yang jatuh membasahi pipinya.
“Najwa, aku tahu, kamu merindukan abah, kan?” Rania memeluknya dan membiarkan Najwa menangis dalam pelukannya.
“Aku sangat merindukan abah, Ran,” jawab Najwa.
“Pulanglah, abah juga merindukanmu, Najwa.”
“Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat ini, Ran.”
“Nanti malam kita mengobrol dengan abah, lewat Video Call, abah sangat merindukanmu, jangan siksa dirimu sendiri, Najwa. Kamu tahu, abah, opa, dan bunda sangat memikirkanmu. Abah sering masuk ke rumah sakit, kondisinya sering lemah, semenjak kamu pergi,” jelas Rania.
“Aku belum siap bicara dengan abah, Ran.”
“Jangan seperti itu, Najwa. Kalau kamu seperti ini, bagaimana kamu akan menikah dengan Habibi?” ujar Rania.
“Apa abah akan memaafkan kesalahanku, Rania?” tanya Najwa di sela-sela isak tangisnya.
“Pasti, Kak. Pulanglah, abah merindukan kamu. Kalau kamu seperti ini, kamu akan menyiksa dirimu sendiri, kak. Kak, kebahagiaan ada di tangan kamu, kalau kamu tidak berani, kamu akan terus terpuruk dalam kesedihan.” Dio masuk ke dalam kamar Najwa, dia dari tadi mendengar percakapan Najwa dan istrinya.
“Kamu tahu, Kak. Abah mendiamkan ku selama kejadian itu, hingga sekarang abah juga jarang menyapa aku, jika aku tak menyapanya dulu. Aku tahu abah kecewa dengan kita. Dengan kamu dan juga dengan aku. Tapi, kita sebagai anak, kita harus bisa mengambil hati orang tua kita kembali. Kembalikan kepercayaan abah, opa, dan bunda. Hubungan kita memang salah, tapi kita terus melangkah di jalan yang salah saat itu. Pulanglah, tidak ada orang tua yang tidak mau memaafkan kesalahan anaknya, Kak. Sebesar apapun kesalahan kita sebagai anak, orang tua pasti akan memaafkan kita. Aku yakin, abah akan memaafkan kamu, Kak.” Dio duduk di samping Najwa dan merangkulnya.
Baru kali ini dia menyentuh Najwa lagi, selama satu tahun sejak kejadian itu. Dio sadar begitu besar luka yang ia goreskan pada Najwa. Rania terus membujuk Najwa agar dia mau menghubungi abahnya.
“Kak, kalau kamu seperti ini terus, kapan kamu meraih bahagia. Lupakan masa lalu kita. Belajarlah bersahabat dengan masa lalu, Kak. Aku yakin kamu pasti bisa. Maafkan aku, yang membuat hidupmu menjadi hancur seperti ini. Kita harus mengembalikan kepercayaan abah pada kita, Kak. Aku sudah mendapat kehidupanku yang baru. Sekarang, tinggal kamu, jangan terpuruk dalam keadaan ini.”
“Iya, Dio. Maafkan aku juga, karena aku kamu dan Rania berpisah, dan hubungan kamu dengan abah merenggang,” ucap Najwa.
“Sekarang kamu jangan seperti ini. Nanti malam kita hubungi abah. Pasti abah senang melihat kamu dan Habibi,” ujar Rania.
“Bagaimana kabar Om Reno?” tanya Najwa.
“Ayah ....” ucapan Rania terhenti, mendengar Najwa menanyakan ayahnya.
“Maksud kamu?” tanya Najwa.
“Ayah meninggal 3 bulan setelah kamu pergi meninggalkan rumah, dan ibu menyusulnya 3 bulan setelah ayah meninggal,” jawab Dio.
Najwa sempat Shocked mendengar penuturan Dio yang memberitahukan orang tua Rania sudah meninggal dunia.
“Apa semau itu benar, Ran?” tanya Najwa.
“Iya, aku sudah tidak punya siapa-siapa, Najwa,” jawab Rania.
“Jangan berkata seperti itu, Ran. Kami semua keluargamu,” ucap Najwa.
Semua perkataan Rania dan Dio berhasil Najwa cerna dengan baik. Memang, jika kita tidak bisa bersahabat dengan masa lalu, hidup kita akan berhenti di situ saja. Tidak bisa melangkah maju. Jangankan untuk meraih bahagia, kita saja masih berhenti bernaung dengan masa lalu yang kelam.
Najwa juga tidak menyangka, Rania ternyata sosok wanita yang benar-benar penyabar. Dia juga mampu melawan segala cobaan yang menerpanya. Seharusnya dia juga bisa seperti Rania.
^^^^^
Malam harinya, Najwa, Akmal, dan Nuri menyusul Fattah dan lainnya yang sedang menikmati pemandangan kota Budapest di malam hari. Fattah sudah memberitahukan Akmal di mana lokasi dia berada.
Akmal menemui Fattah yang sedang berkumpul di sebuah Cafe. Akmal, Najwa, dan Nuri bergabung bersama mereka.
“Maaf kami lama, kalian sudah lama?” tanya Akmal.
“Tenang Ki, semua masih betah di sini, ya sudah 30 menitan kita di sini,” jawab Fattah.
“Kalian mau pesan minuman atau makanan apa?” tanya Fattah.
“Apa sajalah,” jawab Akmal.
Seperti yang di bicarakan mereka tadi pagi kalau mereka akan menghubungi Arsyad, akhirnya Raffi bertanya kembali pada Najwa, setuju atau tidak menghubungi abahnya. Dengan dorongan Habibi akhirnya Najwa mau menghubungi Abahnya.
“Gitu dong, jangan takut terus. Abah pasti merindukan kamu, Sayang,” ucap Habibi.
Dengan izin Najwa Raffi menghubungi abahnya lewat video call. Mungkin di sana sudah tengah malam, tapi Raffi tahu kalau abahnya tidak pernah mematikan pomselnya meskipun sedang tidur. Apalagi sekarang mengurus kantor karena Raffi menyerahkan semua pekerjaan kantor pada abahnya. Jadi,Raffi tahu kalau abahnya belum tidur. Video Call terhubung pada Arsyad. Dan, benar Arsyad langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Abah,” ucap Raffi.
“Wa’alaikumusslama,” jawab Arsyad.
__ADS_1
Najwa meneteskan air matanya mendengar suara orang yang dia sayangi dan ia rindukan. Rasanya ingin sekali dia memeluk abahnya dn memohon maaf pada abahnya, berlutut di depannya.
“Kamu tega sekali baru menghubungi kami, Raf,” ucap Arsyad.
“Kami sibuk jalan-jalan, Abah. Lihat saja, kami di sini masih di luar. Abah sedang apa? Mana bunda dan opa?” tanya Raffi.
“Itu opa masih melihat pekerjaanmu selama ini, dan bunda sama, masih mengecek pekerjaan Dio, kalian sibuk jalan-jalan, kami semua di bikin riweh,” jawab Arsyad.
“Sekali-kali, abah,” ucap Raffi.
“Abah sedang merindukan seseorang?” tanya Raffi.
“Iya, abah selalu merindukan ummi, Om Arsyil, dan Oma. Dan satu lagi, kakakmu,” ucapnya.
“Abah, abah mau bicara dengan calon menantu abah?” tanya Dio.
“Menantu? Siapa? Alina?” tanya Arsyad.
“Mana mungkin Kak Alin ikut, Abah,” jawab Dio dan Raffi.
“Calon menantu abah yang seorang Dokter. Abah mau tidak bicara dengan dia?” tanya Shifa.
“Maksud kalian? Siapa?” Arsyad mulai bingung dan penasaran.
“Hallo abah.” Rafii mengarahkan kameranya pada Habibi.
“Habibi? Dokter Akmal?” Arsyad benar-benar di buat kaget dengan adanya Habibi yang duduk di samping Fattah.
“Ini lho abah, sahabat Fattah,” ucap Fattah.
“Jadi sahabat kamu, Habibi?” tanya Arsyad.
“Iya abah,” jawab Habibi dan Fattah.
“Abah, mana opa sama bunda?” tanya Habibi. Arsyad memanggil Rico dan Annisa.
“Hai Opa, Bunda,” sapa Habibi.
“Dokter Akmal?” mereka terkejut melihat Akmal di layar ponsel Arsyad.
“Iya, opa, bunda, ini Akmal. Oh iya, tadi abah kangen Kakaknya Raffi? Siapa abah? Apa itu Najwa?” tanya Akmal.
“Iya, abah merindukannya. Maafkan abah, tidak bisa menjaganya, Akmal,” jawab Arsyad.
“Tidak apa-apa, aku yang menjaga Najwa sekarang,” ucap Akmal.
“Maksudmu?” tanya Arsyad dan Rico.
“Kalian tutup mata, aku ingin memberi abah, opa, dan bunda kejutan,” pinta Habibi.
Habibi menutupi lensa kamera ponselnya. Habibi memberikan ponsel Raffi pada Najwa, dan mereka membiarkan Najwa meleburkan rindunya pada abah, opa, dan bundanya. Mereka semua tahu, kalau abah, bunda dan opanya juga merindukan Najwa.
“Abah, opa, bunda,” panggil Najwa.
“Najwa ...!” Mereka membeliak melihat layar ponselnya yang menunjukkan Najwa.
“Iya, ini Najwa. Abah, opa, bunda, maafkan Najwa,” ucap Najwa dengan berderai air mata.
“Nak, pulanglah,” ucap mereka.
“Iya, nanti Najwa pulang.”
“Pulanglah bersama Raffi, Nak,” pinta Rico.
Arsyad hanya menangis di depan Najwa dengan memeluk Annisa. Dia benar-benar bahagia karena bisa melihat putrinya lagi.
“Najwa masih banyak pekerjaan di sini, jadi bulan depan Najwa dan Akmal baru bisa pulang,” jawab Najwa.
“Abah merindukanmu, Nak. Pulanglah,” pinta Arsyad dengan berderai air mata.
“Abah jangan menangis, Najwa akan pulang bulan depan, Abah. Setelah semua pekerjaan Najwa dan Akmal selesai,” ucapnya.
“Kamu di situ baik-baik saja, Nak?” tanya Arsyad.
“Baik, alAbah. Abah harus jaga kesehatan, tidak usah berpikiran macam-macam. Najwa pasti pulang.”
“Maafkan abah, Nak,” ucap Arsyad.
“Najwa juga minta maaf, Abah.”
Mereka melepas rindu melalui Video Call. Air mata Arsyad dan Najwa sama-sama mengalir deras. Tak di pungkiri, meski Arsyad marah dengan Najwa, dia sama sekali ingin putrinya kembali ke rumahnya. Sekarang rumah Arsyad menjadi sangat hampa sekali semenjak kepergian Najwa. Dan, dia begitu bahagia mendengar Najwa akan pulang, meskipun bulan depan Najwa baru bisa pulang. Apalagi dia mendengar Habibi akan menikahi Najwa. Tunai sudah impian Opa Rico untuk memiliki cucu menantu seorang Dokter. Dan, tidak sia-sia doa yang selama ini Opa Rico rapalkan, untuk memberikan Najwa seorang suami yang baik, terutama seorang Dokter.
__ADS_1