
Sudah hampir Ujian Kenaikan Kelas, Arkan dan Thalia semakin akrab. Thalia juga setiap hari menemani Arkan di bengkel. Kadang sampai malam dia masih menemani Arkan bekerja.
Sebenarnya Annisa sedikit keberatan mereka terlalu dekat dan sering bersama. Bagaimanapun juga, mereka laki-laki dan perempuan. Meski ada Donni dan Wahyu di bengkel yang juga mengawasi mereka Annisa masih tetap khawatir dengan mereka. Dia takut anaknya melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan dulu. Annisa belajar dari peristiwa Dio dulu dengan Najwa.
Annisa hari ini akan kembali menegur Arkan agar tidak membawa Thalia ke bengkel lagi. Meski Thalia di sana hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengerjakan tugas sekolahnya saja, tetap saja ada rasa khawatir pada diri Annisa, begitu juga Arsyad.
Annisa terlihat sedang menata sarapan. Annisa dan Arsyad sudah kembali ke rumahnya, setelah 6 bulan mereka menempati rumah Opa Rico. Mereka memutuskan untuk tinggal di rumahnya lagi, begitu juga dengan Shita daan Vino. Tapi, setiap satu atau dua minggu semua keluarga kumpul di sana. Mungkin karena sudah tradisi di keluarga Alfarizi kalau weekend pasti berkumpul bersama.
Arkan sudah terlihat rapi dengan seragam putih abu-abunya. Dia mendekati bundanya yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas.
“Pagi bunda,” sapa Arkan dengan mencium pipi bundanya.
“Pagi sayang, anak bunda sudah tampan sekali, tumben wangi juga,” ucap Annisa dengan membalas mencium pipi Arkan.
“Iya dong, malu dan enggak Pede Bunda, kan Thalia bonceng Arkan setiap hari, kalau gak wangi, kasihan Lia, nanti bau,” ucap Arkan.
“Ada-ada saja kamu.” Annisa tersenyum dengan mengusap rambut Arkan.
Dia tidak menyangka Arkan sekarang sudah dewasa dan semakin tampan. Perpaduan wajah Arsyad dan Arsyil menyatu menjadi satu. Dan, sungguh tampan sekali. Bukan Annisa membanding-bandingkan dengan yang lain, dari Dio dan Raffi, memang yang paling menonjol ketampanannya adalah Arkan.
“Tidak salah abahmu dan alamrhum opamu memberimu nama Arkan Alfarizi, semua yang berawlan huruf A dan R dalam keluarga Alfarizi memiliki ketampanan yang tidak di miliki oleh pria yang lainnya. Ya, Arsyad Alfarizi, Arsyil Alfarizi, dan Arkan Alfarizi. Tiga pria tampan yang aku miliki dalam hidupku,” gumam Annisa.
Annisa masih mentap putranya yang semakin monojol sekali ketampanannya. Dia tidak menyangka, akan ada Arsyil kedua lagi. Meski Arkan mirip dengan abahnya, tapi banyak miripnya dengan Arsyil.
“Bunda, ada yang salah dengan Arkan? Kok natapnya gitu banget?” tanya Arkan.
“Tidak, tidak ada yang salah, kamu tampan sekali, mirip sekali dengan Ayahnya Kak Dio,” jawab Annisa.
“Kan ayahnya Kak Dio adiknya abah, bunda. Gak apa-apa mirip Omnya, asal jangan mirip om-om di jalanan saja,” jawab Arkan dengan tertawa.
“Dasar anak nakal!” Annisa mencubit pipi Arkan dan menciumnya.
“Oh iya Arkan, apa Thalia setiap hari ikut kamu ke Bengkel?” tanya Annisa pada putranya.
“Iya bunda,” jawab Arkan, karena memang seperti itu adanya.
“Nak, jangan sering bawa dia ke bengkel. Bunda takut kalian semakin hari semakin dekat saja, apa kalian pacaran?” tanya Annisa.
“Bunda ada-ada saja, aku dan dia tidak pacaran. Dia itu suka di rumah bunda, karena banyak buku-buku bunda yang bagus, apalagi dia suka sekali sama buku-buku ummi Almira, makanya betah. Kadang juga dia aku tinggal di taman baca sama Kak Alina, kalau dia butuh buku yang lainnya. Nanti baru aku jemput ke sana setelah pulang dari bengkel,” jawab Arkan dengan tersenyum pada bundanya dan mencium pipi bundanya.
“Bunda, bunda takut Arkan akan macam-macam dengan Thalia? Kalaupun Arkan dan Thalia pacaran, masa iya Arkan akan melakukan hal yang lebih? Tidak lah, Arkan tahu bunda, batasannya pacaran bagaimana. Dan, Arkan belum kepikiran memiliki pacar lagi. Cukup kemarin dengan Lily yang menurut Arkan benar-benar menguras hati dan pikiran Arkan untuk selalu mengingat dia. Apalagi saat Lily memutuskan Arkan dan menjelekkan Arkan di depan kelas. Arkan kecewa saat itu, ingin marah juga, tapi apa gunanya, toh masa depan Arkan masih cerah untuk ke depannya,” jelas Arkan pada bundanya.
“Yakin nih, belum pacaran lagi?” tanya Annisa dengan menarik hidung Arkan yang mirip sekali dengan hidung Arsyil.
“Yakin lah, eh Arkan sudah punya pacar kok,” jawabnya’
“Katanya tadi belum?”
“Kan pacar Arkan, Bunda. Bunda wanitya yang paling Arkan cintai di hidup Arkan, tidak ada yang lain, hanya bunda,” jawab Arkan sambil memeluk bundanya yang sudah duduk di kursi.
“Bunda juga sayang sama Arkan, makanya jangan pacaran dulu, kamu mau kelas 3, dan sebentar lagi lulus, lalu kuliah, kamu harus bisa meraih mimpimu dulu,” tutur Annisa.
“Iya, bunda. Arkan akan meraih mimpi Arkan dulu, membesarkan satu-satunya peninggalan ayah Arsyil yang belum ada penerusnya,” jawab Arkan.
“Ya, bunda merestuinya, dan bengkel itu, kelak akan menjadi milikmu, dan besar di tanganmu,” ucap Annisa dengan mencium pipi putranya.
Arsyad keluar dari kamarnya, dia terlihat sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia akan kembali ke kantor mengurus perusahaan papahnya kembali. Bersama rekan kerjanya dulu, Rayhan.
“Kalian sedang apa? Seru sekali kelihatannya? Pagi-pagi sudah tertawa riang,” ucap Arsyad yang dari tadi sebenarnya sudah melihat kedekatan Annisa dengan Arkan. Dia sampai ingat dengan ibunya yang dulu sangat dekat dengan Arsyil dan dirinya.
“Ini nih, anaknya abah sudah punya pacar,” ucap Annisa.
“Ih...bunda jangan ngarang deh! Enggak abah, tadi enggak bahas itu kok,” ucap Arkan.
“Bahas Thalia, kan?” tanya Arsyad.
“Kok abah tahu?” tanya Arkan.
“Iya, abah dengar tadi, kalian bahas Thalia,” jawab Arsyad yang sebenarnya mengira-ngira Arkan dan Annisa membahas Thalia.
“Iya tau lah, kamu juga sering membawa Thalia ke Bengkel, kan?” tanya Arsyad.
“Iya, habis dia mau ikut terus, karena suka mojok di perpustakaan bunda, kalau tidak di sana ya ke Kak Alina, ke taman baca Ummi,” jawab Arkan.
“Kalian pacaran?” tanya Arsyad.
“Kok abah dan bunda ngomongnya aku pacaran sama Lia? Tidak Abah, aku hanya berteman, ya kalaupun ada kesempatan jadi pacarnya Lia, nanti saja, setelah aku bisa membesarkan Bengkel Ayah Arsyil,” jawab Arkan.
“Hmm... ini serius kamu akan terjun ke dunia otomotif?” tanya Arsyad pada putranya. Padahal Arkan harapan Arsyad terakhir untuk mengurus perusahaan besar papahnya. Setelah Dio lebih memilih meneruskan perusahaan Rania, Reno, dan perusahaan Annisa sekaligus. Raffi juga dia meneruskan perusahaan Kakenya, abah dari umminya, Almira.
“Iya serius lah, masa gak serius!” jawab Arkan dengan tegas.
“Lalu nanti perusahaan opa gimana?” tanya Arsyad.
“Kan ada Kak Dio dan Kak Raffi,” jawab Arkan.
“Arkan gak mau pusing ngurus perusahaan, ribet sekali sepertinya,” imbuh Arkan.
“Kamu harus belajar, Arkan. Dulu ayah Arsyil juga gitu, selain di bengkel dia mengurus perusahaan bunda dan membantu di perusahaan opa juga,” ucap Arsyad.
“Tapi aku ingin fokus ke bengkel saja, abah,” ucap Arkan.
“Ya terserah kamu, nak. Kalau semisal kamu mampu di beberapa bidang, itu lebih bagus lagi,” ujar Arsyad.
“Gitu ya, Bah. Oke nanti Arkan coba, kalau Arkan sudah selesai kuliah. Semoga saja bisa,” jawab Arkan.
“Itu baru anak abah.” Arsyad mengusap kepala putrnya dan mencium puncak kepalanya.
“Arkan berangkat dulu, Abah, bunda,” pamit Arkan.
“Kamu jemput Thalia, kan?” tanya Arsyad.
“Iya, Bah,” jawabnya dengan memakai jaket.
“Salam buat dia, suruh ke sini, abah kangen dengan Lia dan Tita,” ucap Arsyad.
“Oke.”
Arkan keluar mengambil sepeda motornya. Dia kali ini memakai motor milik Arsyil, karena sepeda motor milik omanya sedang berada di bengkel. Seperti biasa dia menghampiri Thalia ke rumahnya untuk berangkat bersama ke sekolahan.
Thalia sudah menunggu Arkan di teras rumah eyangnya dengan melihat eyangnya yang sedang menyirami tanaman dan memangkas ranting tanaman yang sudah memangjang.
__ADS_1
“Itu Arkan datang,” ucap eyang kakungnya.
“Kok pakai motor gede? Kan susah aku boncengnya,” ucap Lia dengan lirih, namun masih terdengar oleh eyang putrinya yang sedang menyapu teras.
“Pakai celana, nanti ganti di sekolahan kalau sudah sampai,” tutur eyang putri.
“Ah...ribet, uti,” jawab Thalia.
Arkan melepas helmnya dan turun dari motornya. Dia melihat Thalia yang masih berdiri di teras dengan mengerucutnya bibirnya.
“Pagi Eyang,” sapa Arkan dengan mencium tangan eyang kakungnya Thalia yang sedang memangkas ranting-ranting kecil.
“Pagi, kamu makin tampan saja seperti Arsyil,” ucap Eyang kakung.
“Eyang bisa aja, aku ke sana dulu Eyang.” Arkan menuju ke teras menemui Thalia yang sedang terlihat kesal.
“Kamu kenapa, Lia?” tanya Arkan.
“Sebel, kamu pakai sepeda motor itu,” jawab Thalia.
“Sepeda motor yang biasa ku pakai kan sedang aku perbaiki di bengkel, sudah pakai ini, ganti rok kamu dengan celana, nanti ganti rok lagi di sekolahan,” ujar Arkan.
“Kan, uti bilang apa, gak usah di buat ribet, sana pakai celana,” sambung eyang putri.
“Iya deh,” ucap Thalia lalu masuk ke dalam rumah.
Arkan dan Thalia pamit untuk ke sekolahan, Thalia juga sudah meminta izin langsung dengan eyangnya untuk ke taman baca, ia ingin di sana. kata Thalia belajar di sana sangat nyaman sekali, apalagi buku-buku di sana lengkap.
“Kamu yakin nanti aku tinggal di taman baca?” tanya Arkan.
“Iya, kenapa memangnya?” jawab Thalia.
“Gak apa-apa sih,” ucap Arkan.
Arkan sampai di sekolahannya. Dia memarkirkan sepeda motornya dan langsung menuju kelasnya. Banyak yang memandang Arkan memakai sepeda motor peninggalan Arsyil itu yang mewah namun clasic.
“Gitu lah, nampakin sedikit apa yang kamu punya, jadi tidak di lecehkan sama yang di sana sedang lihatin kamu,” ucap Rangga yang baru saja sampai di sekolahan dan memarkirkan sepeda motornya di samping Arkan.
“Ah kamu itu, ini saja aku terpaksa pakai motor ini, motornya oma lagi di bengkel,” ucap Arkan.
“Enak pakai matic tau, santai gak pegel di badan,” imbuh Thalia.
“Noh mereka matanya hijau kalau ada motor yang beginian!” tunjuk Rangga pada Lily dan lainny yang melihat Arkan dari kejauhan.
“Aku di putisin pacarku gara-gara motorku matic,” sambung Lia dengan tertawa.
“Apaan sih, gak lucu, Lia,” ucap Arkan sambil mencubit pipi Lia.
“Sakit Arkan!” Thalia mengusap pipinya.
Arkan, Rangga, dan Thalia berjalan ke arah kelas. Mereka berjalan di belakang Lily dan Sisil yang juga akan masuk ke dalam kelas.
“Kalian jadian, ya?” tanya Rangga.
“Aku sama Lia?” tanya Arkan.
“Iya lah, masa kamu sama yang lain?” ujar Rangga.
“Apaan sih, kamu jangan ngada-ngada, deh. Jadian gimana?” ucap Thalia.
“Iya jadian, jadi teman, dan partner bisnis mungkin nantinya. Atau Partner dalam mengurus anak kita kelak,” celetuk Arkan.
“Ngarang!” tukas Thalia.
“Jangan dengerin Arkan, dia suka ngawur kalau ngomong,” imbuh Thalia.
“Lagian siapa juga yang mau sama nenek gayung?” ucap Arkan.
“Jiah, siapa juga yang mau sama cowok galak!” Thalia langsung meninggalkan mereka dan ke toilet untuk mengganti celanya dengan rok abu-abunya.
Thalia masih terngiang soal jawaban Arkan tadi saat Rangga bertanya dia dan Arkan jadian atau tidak. Jawaban Arkan membuat dada Lia berdegub kencang. Mungkin, dirinya memang terlalu berharap untuk menjadi orang yang berarti dalam hidup Arkan.
“Andai saja jawaban itu benar-benar dari hatimu, Arkan,” gumam Thalia sambil melipat celananya dan memasukan ke dalam tas.
Thalia keluar dari toilet, sebelum keluar dia merapikan rambut yang berwarna kecoklatan itu dan menyisirnya. Rambut yang bergelombang dan lembut itu sudah selesai ia rapikan.
“Eh ada Lia,” ucap Sisil yang masuk ke dalam toilet dengan Lily.
“Eh Sisil, Lily,” ucap Thalia.
“Hmmm...ada yang baru jadian nih,” sindir Sisil.
“Siapa, Sil?” tanya Lily.
“Lia lah, sama mantan kamu!” ucap Sisil dengan nada penuh penekanan.
“Kalian itu, aku sama Arkan itu sebatas teman saja. Kami memang dekat, aku memang selalu ikut Arkan saat dia kerja di bengkel, karena di rumah bundanya Arkan, samping bengkel ada perpustakaan pribadi. Dan, kalian tahu kan, aku istirahat juga labih suka di perpustakaan. Kadang juga, aku di rumah Almarhum ummi nya Arkan, di sana ada taman baca untuk umum. Kalian juga boleh mampir ke sana, buku-bukunya lengkap kok. Lagian orang tuaku sama orang tua Arkan kan sahabatan dari dulu. Ya, seperti ini kami,” ucap Thalia dengan merapikan rambutnya di depan cermin lagi.
“Tadi Arkan bilang kalian jadian waktu di tanya Rangga?” tanya Sisil.
“Kalian percaya Arkan? Dia itu jago bohong sekarang,” kelakar Thalia.
“Sudah aku mau ke kelas,” pamit Thalia dengan tertawa lirih dan meninggalkan mereka.
“Kalau belum tahu Arkan seperti apa, tidak usah sok mutusin, nyesel, kan?” ucapnya lirih, dan di dengar oleh Arkan yang ternyata dia berada di belakang Thalia.
“Siapa yang nyesel, Lia?” tanya Arkan.
“Arkan...? Kamu di sini?” tanya Thalia dengan membulatkan mata peraknya.
“Iya, kenapa? Siapa yang nyesel?” tanya Arkan lagi.
“Mantan kamu, yang kepo sama aku. Tanya-tanya aku sudah jadian sama kamu belum. Dia pasti menyesal mutusin kamu, apalagi dia melihat kamu pakai sepeda motor ayahnya Kak Dio,” jawab Thalia.
“Biarin, sudah ayo ke kelas.” Arkan menggandeng tangan Thalia dan berjalan menuju ke kelas dengan bercanda. Seperti itu mereka kalau bersama, tidak heran kalau semua siswa tahunya mereka berpacaran.
^^^^
Bel panjang sudah berbunyi, Thalia bersiap-siap untuk pulang dengan Arkan. Tapi, dia ke toilet dulu karena dia harus berganti celan sebelum pulang ke taman baca.
“Aku ke toilet ya, Kan?” pamit Thalia.
__ADS_1
“Iya,” jawab Arkan sambil mengobrol dengan Rangga.
“Besok jangan pakai sepeda motor yang itu lagi, ribet tau,” ucap Thalia.
“Lagian kamu cewek apa sih, Lia? Noh cewek yang lain pada mepet cowok yang pada punya motor gede, sampai kadang rela tuh tubuhnya di sentuh-sentuh sama cowoknya, hanya karena sebuah motor yang gede, agar terlihat keren punya pacar motor gede. Kamu malah mintanya motor jadul,” ucap Rangga.
“Wah, jangan salah kamu. Motor boleh jadul, tapi mesin di jamin 100 persen oke,” ucap Thalia.
“Lagian, apa punya cowok harus di ukur dari punya motor gede? Ingat, itu milik orang tua! Cowok dewasa, lebih mementingkan otak untuk mencari uang, daripada meminta orang tua. Cari pacar itu yang smart, Rangga. Bukan yang selalu menengadahkan tangannya ke orang tuanya,” jelas Thalia.
“Pinter juga kamu,” ucap Arkan.
“Buat apa kalau di sekolahin gak pintar, Arkan!” ucapnya sambil menarik pipi Arkan.
“Calon yang tepat,” ucap Arkan.
“Calon?” tanya Thalia.
“Iya, kamu calonku, calon teman bisnis nanti, sampai anak cucu kita,” ucapnya dengan mengulas senyuman yang manis.
“Jiah...sudah jangan manis-manis, mas, rayuanmu gak mempan. Buat aku penyakitan aja, jadi diabetes tau!” ucap Thalia sambil berjalan keluar menuju toilet.
Arkan dan Rangga melihat Thalia yang berjalan keluar dengan tersenyum. Rangga baru melihat cewek seperti Thalia yang super cuek dan tidak terlalu terbawa oleh perasaanya. Meski Rangga tahu, sebenarnya Thalia memang suka dengan Arkan.
“Bro, cewek langka itu. Harus gercep sebelum ada yang ngambil,” ucap Rangga.
“Halah paling kamu yang mepet, berani mepet nih!” ucap Arkan dengan bercanda menunjukan kepalan tangannya pada Rangga.
“Gak, aku takut, apa milik Arkan itu harus dimiliki Arkan. Lalu kapan, mau mengikat hati dia?” tanya Rangga.
“Belum saatnya, tenang saja. Semua akan tahu kalau kita nanti udah jadian. Semua di sekolahan ini harus tahu, kalau Thalia milik Arkan,” jawab Arkan.
“Halah...jangan ngomong aja, buktikan!”
“Siap...!”
Dari tadi Lily dan lainnya masih di dalam kelas, dan mendengar semua apa yang di bicarakan Rangga dan Arkan, bahkan ucapan Thalia tadi juga di dengar oleh mereka. Thalia kembali masuk ke dalam kelas untuk mengambil tasnya dan mengajak Arkan untuk mengantarkan ke taman baca.
Arkan menggandeng tangan Thalia dan berjalan ke tempat parkir. Mereka berjalan dengan diiringi gelak tawa dan candaan. Ya, memang mereka seperti itu.
“Arkan, tunggu...!” Lily menghentikan langkah Arkan yang sedang berjalan untuk pulang bersama Thalia.
“Ada apa, Ly?” tanya Arkan.
“Ehm...kamu mau langsung pulang?” tanya Lily.
“Iya, aku mau pulang, mau antar Thalia ke rumah Kakakku. Dan, aku mau kerja setelah itu,” jawab Arkan.
“Ehm...aku sebenarnya mau minta tolong, ibuku sakit, Sandi tidak bisa menjemput, aku mau minta tolong kamu mengantar aku pulang,” ucap Lily.
“Oh, iya sebentar,” jawab Arkan sambil memandang Thalia yang sudah menampakkan wajah setengah kesal.
Arkan mengambil ponselnya, entah mau apa dia mengusap-usap layar ponselnya.
“Ayo Ly, katanya mau aku antar,” ajak Arkan.
“Arkan...! aku gimana?!” tanya Thalia dengan kesal dan jiwa jutek juga galaknya keluar bersamaan.
“Ya ayo kita pulang,” ajak Arkan.
“Kamu mau sama Lily, kan?” tanya Thalia dengan kesal.
“Sudah ayo, ah...jangan ngambek! Aku cium nih,” ucap Arkan.
“Ogah, nanti hamil!” ucapnya dengan memukul lengan Arkan.
“Kayak Tita saja, di kerjain seperti itu mau, ayo pulang, sini tangannya.” Arkan menggenggam tangan Thalia.
Lily bingung dengan Arkan, dia mau mengantar pulang dirinya, tapi mengajak Thalia pulang juga.
“Ly, ayo ikut aku ke depan,” ajak Arkan. Thalia sejenak menghentikan langkahnya saat Arkan mengajak Lily ke depan pintu gerbang.
“Lia, ayo ikut, masa aku harus sendiri, nanti jadi fitnah ini kalau aku sama Lily berduaan,” ucap Arkan.
Thalia berjalan di samping Arkan. Arkan kembali meraih tangan Thalia untuk di gandengnya. Arkan mendekati seorang pria yang sedang duduk di atas motornya. Pria itu memakai jaket Ojek Online xxx. Arkan mendekatinya.
“Mas, aku Arkan,” ucapnya.
“Oh, iya mas, ayo ini Helmnya.” Tukang ojek online itu memberikan helmnya pada Arkan.
“Mas, ini yang mau naik, bukan aku, tolong antar ke alamat yang tadi, ya?” ucap Arkan dengan membarikan helm pada Lily.
“Jadi aku pakai Ojek, Kan?” tanya Lily.
“Iya lah, sama-sama motor kok, tenang aku yang bayarin. Dan, maaf, aku sudah terkontrak dengan Thalia, mungkin sampai kita kakek nenek nanti. Dia calon istriku, tidak mungkin kan, aku memboncengkan cewek lain selain dia,” jawab Arkan.
“Ini mas, kembaliannya buat mas. Dan jangan lupa, ini cewek cantik lho mas, harus sampai di tempat tujuan dengan selamat,” ucap Arkan pada kang ojek.
“Siap mas! Mari saya antarkan nona ini dulu,” pamit kang ojek.
Arkan tersenyum melihat Thalia yang masih kesal dengan Arkan. Dia membenarkan helai Rambut Thalia yang sedikit ke pipinya, dan membawanya ke belakang telinga.
“Jangan cemberut, dia sudah aku limpahkan ke kang ojek. Ayo aku antar ke Kak Alin,” ucap Arkan.
“Kok kamu gitu?” tanya Thalia.
“Gitu gimana?” Arkan balik bertanya.
“Itu sama Lily seperti itu. Dia kan minta diantar kamu, Arkan,” jawab Thalia.
“Thalia, OJOL aja banyak, ngapain aku repot-repot ngantar. Sudah aku tidak mau bahas Lily lagi. Dia itu hanya alasan saja,” ucap Arkan.
“Ya sudah,” ucap Thalia dengan lega dan berjalan di samping Arkan dengan bergelayut manja pada lengan Arkan.
Sisil, Ange, dan Vanya melihat Arkan masih bersama Thalia dan bercanda di depan sekolahan. Sisil memang yang menyuruh Lily untuk mendekati Arkan lagi. Ya, karena sepanjang jam pelajaran Lily melamun dan tidak bersemangat, entah karena apa. Dan, Sisil mengira Lily seperti itu karena Arkan yang dekat dengan Thalia. Sisil, Angel, dan Vanya mendekati Thalia dan Arkan, lalu menanyakan Lily pulang dengan siapa.
“Arkan, bukannya kamu mengantar Lily?” tanya Sisil.
“Oh, sudah aku pesankan OJOL tadi. Aku kan sudah paten sama Thalia, tidak bisa di ganggu gugat,” jawab Arkan sambil meninggalkan Sisil.
Sisil hanya diam kebingungan, kenapa Arkan menjadi seperti itu. Dia hanya bisa membatin dan bertanya-tanya dalam hatinya. “Mungkin karena sudah terlanjur kecewa dengan Lily, atau memang mereka sudah pacaran? Ah...sudahlah aku enggak mau ikut-ikutan lagi. Takut dikeluarin dari sekolah.”
__ADS_1
Sisil berjalan ke depan mendahului Vanya dan Angel untuk menemui OJOL yang tadi ia pesan. Dia juga sudah jarang diantar jemput oleh pacarnya, karena pacarnya sudah semakin sibuk dengan jadwalnya untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi.